Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PRODUK QARDH BERAGUN EMAS SECARA SYARIAH DALAM PERSPEKTIF SURAT EDARAN BANK INDONESIA NO. 14\7\DPbS PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA SYARIAH CABANG SEMARANG Irfan Rinaldi*, Ro’fah Setyowati , Islamiyati
Diponegoro Law Journal Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.045 KB)

Abstract

Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia yang mengatur tentang produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Hal tersebut merupakan bentuk respon dari BI terhadap masalah yang dihadapi nasabah dan Bank Syariah tentang kerugian yang diakibatkan penurunan harga objek jaminan disaat proses eksekusi terjadi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep dan implementasi Surat Edaran Bank Indonesia No. 14/7/DPbS tentang produk Qardh Beragun Emas pada Bank BRI Syariah Cabang Semarang dan bentuk perlindungan hukum nasabah yang menggunakan produk tersebut di Bank BRI Syariah Cabang Semarang.Metode yang digunakan dalam penulisan hukum ini adalah metode pendekatan yuridis empiris. Penelitian yang dilakukan dengan wawancara dengan berbagai narasumber khususnya pihak BRI Syariah dan MUI untuk mengetahui data lapangan. Penelitian ini juga mengkaji data-data sekunder sebagai objek kajian lainnya.  Berdasarkan analisis yang menggunakan ketentuan yang ada di SEBI No. 14/7/DPbS terhadap kegiatan produk Qardh Beragun Emas di Bank BRI Syariah Cabang Semarang, menyebabkan : a. Bank BRI Syariah Cabang Semarang dapat menerapkan beberapa poin yang dianjurkan oleh Surat Edaran Bank Indonesia tersebut; b. Bentuk perlindungan yang diberikan oleh Bank BRI Syariah terbagi menjadi dua jenis yaitu perlindungan secara preventif dan represif. Dalam proses pelaksanaan produk Qardh Beragun Emas ini terjadi permasalahan-permasalahan yang disebabkan oleh perkembangan pasar perbankan syariah. Hal tersebut dapat menyebabkan banyak kerugian yang dapat diderita oleh pihak nasabah maupun pihak Bank Syariah itu sendiri. Pemerintah pun belum mengeluarkan peraturan yang yang mengatur secara spesifik tentang perlindungan nasabah yang mengalami kerugian atas produk Qardh Beragun Emas ini.
MEKANISME KONSOLIDASI BANK SYARIAH ANAK PERUSAHAAN BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DARI PERSPEKTIF YURIDIS Nurma Gupitasari*, Rofah Setyowati, Muhyidin
Diponegoro Law Journal Vol 5, No 3 (2016): Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.384 KB)

Abstract

Perkembangan perbankan syariah semakin meningkat yang ditandai dengan bertambahnya pendirian unit usaha syariah dan bank umum syariah di Indonesia. Guna meningkatkan laju pertumbuhan perbankan syariah, Otoritas Jasa Keuangan berencana melakukan konsolidasi (peleburan) terhadap bank syariah anak perusahaan badan usaha milik negara yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank BRISyariah, dan Bank BNI Syariah. Bank BRISyariah dan Bank BNI Syariah merupakan bank syariah yang terbentuk dari spin off (pemisahan) atas unit usaha syariah sehingga hubungan antara spin off dengan konsolidasimerupakan salah satu permasalahan yang perlu dibahas. Pemilihan skema  konsolidasi akan berdampak pada aktivitas bank syariah hasil konsolidasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara spin off yang dilakukan bank umum konvensional terhadap unit usaha syariah dengan konsolidasi yang akan dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan terhadap 3 (tiga) bank umum syariah anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selain itu, penulisan skripsi ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme konsolidasi dari perspektif yuridis.
CHOICE OF FORUM PENYELESAIAN SENGKETA DALAM KLAUSULA AKAD PERBANKAN SYARIAH Raditya Tatag Sidiartama*, Ro’fah Setyowati, Muhyidin
Diponegoro Law Journal Vol 5, No 4 (2016): Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.779 KB)

Abstract

Adanya pelembagaan prinsip syariah sebagai satu prinsip yang melandasi sistem operasional kegiatan usaha perbankan merupakan satu bentuk perkembangan yang cukup signifikan dalam kegiatan ekonomi berdasarkan prinsip syariah.       Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai. Dalam Pasal 55 Undang-Undang tersebut timbul permasalahan mengenai pilihan forum (choice of forum) dalam menyelesaikan sengketa perbankan syariah. Dalam Pasal 55 ayat (1) penyelesaian sengketa merupakan kewenangan dari Pengadilan Agama, namun dalam ayat (2) justru memberikan kewenangan yang sama untuk menyelesaikan sengketa melalui Pengadilan Negeri. Penjelasan Pasal 55 tersebut menimbulkan tumpang tindih kewenangan dan hal ini bertentangan dengan Pasal 28 D  ayat (1) UUD NRI 1945, sehingga tidak memberikan kepastian hukum bagi para pihak. Adanya ketidakpastian hukum tersebut yang kemudian menimbulkan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Terbitnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-X/2012 memberikan kepastian hukum dalam penyelesaian sengketa perbankan syariah di mana memberikan kewenangan absolut kepada Pengadilan Agama.
AKIBAT HUKUM TERHADAP EKSEKUSI LELANG DENGAN TANPA ADANYA PUTUSAN PENGADILAN (Studi di Pengadilan Agama Semarang) A Hashfi Luthfi; Ro’fah Setyowati; Siti Malikatun Badriyah
LAW REFORM Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.662 KB) | DOI: 10.14710/lr.v12i2.15872

Abstract

Dalam penulisan ini membahas mengenai masalah eksekusi lelang pada sengketa ekonomi syariah di Pengadilan Agama Semarang. Penulisan hukum ini berusaha untuk mengetahui tentang bagaimana pelaksanaan eksekusi lelang hak tanggungan pada sengketa ekonomi syariah, hambatan apa saja yang dihadapi oleh Pengadilan Agama Semarang dan bagaimana penanggulangan terhadap hambatan-hambatan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh jawaban atas permasalahn yang ada bahwa eksekusi lelang pada sengketa ekonomi syariah dengan tanpa adanya putusan pengadilan dapat dilakukan parate eksekusi melalui balai lelang swasta atau dapat eksekusi berdasarkan title eksekutorial dengan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama. Eksekusi lelang melalui pelelangan umum cenderung lebih mudah dan tidak memakan banyak biaya daripada eksekusi dengan pertolongan hakim karena tidak memerlukan adanya perintah dari Ketua Pengadilan. Akan tetapi dalam hal adanya perlawanan debitor balai lelang swasta ataupun KPKNL tidak memiliki kewenangan untuk melakukan eksekusi pengosongan atas objek lelang yang sudah dibeli oleh peserta lelang. Hal tersebut terjadi karena Pengadilan menganggap bahwa terhadap Objek Lelang yang dijual oleh Balai Lelang Swasta tidak terdapat peletakkan sita (beslag) oleh badan Peradilan. Sementara prosedur hukum untuk melakukan eksekusi pengosongan mewajibkan harus adanya penetapan sita terlebih dahulu oleh Pengadilan. Hambatan yang dihadapi Pengadilan Agama Semarang dalam pelaksanaan eksekusi lelang Hak Tanggungan adalah karna adanya perlawanan dari pihak tereksekusi yang mencoba menghalangi proses lelang dengan cara premanisme dan adanya perlawanan dari pihak ketiga.
Halal certification mechanism for Sharia hotels in the development of Muslim-friendly tourism under Job Creation Law Allya Shifa Akhsanty; Ro'fah Setyowati; Aisyah Ayu Musyafa; Muthia Eka Destyana
Borobudur Law Review Vol 5 No 1 (2023): Vol 5 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/burrev.8766

Abstract

The development of the global halal industry is increasing and has received positive responses from various parties. Indonesia as a country that already has a culture that is attached to the halal lifestyle has the opportunity to develop its leading sector, namely Muslim-Friendly Tourism. Therefore, it requires attention and participation from stakeholders in the tourism sector such as the government and business actors in the tourism industry. In order to encourage the realization of economic improvement through Muslim-friendly tourism, halal certification instruments are needed in several units, one of which is a restaurant in a sharia hotel. The purpose of this study is to analyze the halal certification mechanism, especially in the Islamic hotel restaurant unit based on the Job Creation Law. In order to discuss this topic, this research uses normative juridical methods, utilizing secondary data, consisting of primary legal materials and secondary legal materials. This study found that there are fundamental changes related to the halal certification mechanism for business actors, including Islamic hotels under Job Creation Law. The changes referred to are in the mechanism and flow of issuing halal certification. Before the Job Creation Law, halal certification was processed over a long period of time and the applicant was charged a fee in the process. Meanwhile, under the Job Creation Law, the process of issuing halal certification is accelerated and services are expanded. This can encourage the development of Muslim-friendly tourism in Indonesia.
Fatwa DSN MUI In Managing The Dispute Settlement Of Sharia Economic In Indonesia Through Basyarnas Nunung Radliyah; Dewi Nurul Musjtari; Ro'fah Setyowati
Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 3 No. 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v3i2.1346

Abstract

Sharia Council is an institution that plays a role in securing the standard of Sharia in every Islamic Financial institution in the world. In Indonesia, the role is conducted by the National Sharia Council (DSN) established by the Indonesian Ulema Council (MUI) in 1998, strengthened by the Decree of the MUI Leadership Board. Kep-754/MUI/II/1999 dated February 10, 1999. The existence of MUI DSN in managing the settlement of sharia banking disputes has not been fully recognized by the people of Indonesia. It can be seen in the implementation of sharia contracting in sharia banking has not yet decided dispute resolution option through National Syariah Arbitration Board (BASYARNAS). The purpose of writing a paper is to know the legal basis of the binding force of the Fatwa DSN in arranging the settlement of dispute Sharia Economy in Indonesia through BASYARNAS and its consequences for the Islamic financial institutions (LKS) who disobey the fatwa DSN. This research is a normative research with the philosophical, juridical and sociological approach. Data analysis with qualitative descriptive. The results of this study indicate that the legal basis of the power of the DSN Fatwa in regulating the settlement of Sharia Banking disputes is Article 26 of Law No. 21 Th. 2008 and Article 31 of Decree of the Board of Managing Directors of Bank Indonesia Number 32/34/1999. There will a negative impact for LKS do not comply with the content of the DSN Fatwa, such as the difficulty in carry out its activities, aside of negatively influencing the performance and level of credibility of DPS in LKS.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEMASANGAN LAMPU TENAGA SURYA DI DESA KEBONDOWO (PROGRAM IDBU): SURVEI KEPUASAN DAN HAMBATAN R Rizal Isnanto; Heru Prastawa; Endang Purbowati; Ro’fah Setyowati; Meidiana Dwidiyanti; Fifiana Wisnaeni; Bagus Hario Setiadji; Dian Wijayanto; Dita Juni Kurnia
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 12 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i12.2950

Abstract

Global warming and the increasing demand for electricity have strengthened the urgency to introduce environmentally friendly technologies at the community level. Kebondowo Village, located in Banyubiru Sub-district, remains limited in nighttime lighting access and relies heavily on conventional electricity, indicating the need for an efficient and sustainable renewable-energy alternative. In response to this condition, Universitas Diponegoro initiated the Iptek Desa Binaan Undip (IDBU) program through the installation of solar-powered street lights across seven hamlets from July to August 2025 as an early effort to support the development of an environmentally friendly village. The objectives of this program were to improve the quality of village lighting, reduce dependence on conventional energy, increase community awareness of renewable energy use, and evaluate the level of public acceptance of the installed technology. The evaluation was conducted using surveys and semi-structured interviews with 40 adult residents, representing diverse professions and age ranges from 28 to 69 years old (mean age 48), to assess user perceptions, perceived benefits, and expectations for program sustainability. The results showed a highly positive response, with 97% of respondents agreeing with the installation of solar lighting and reporting direct benefits, including improved comfort, safety, and energy efficiency during nighttime activities. Furthermore, most residents expressed their expectation for the expansion of solar-powered street lights across all hamlets. These findings confirm that renewable-energy technology has a high level of social acceptance, effectively improves the community’s quality of life, and holds strong potential to be developed as a sustainable program based on rural community empowerment.  
Sharia Principles in the Financial Services Authority Regulation on Dispute Settlement Alternatives Ro'fah Setyowati; Bagya Agung Prabowo
Sriwijaya Law Review Volume 5 Issue 1, January 2021
Publisher : Faculty of Law, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/slrev.Vol5.Iss1.864.pp56-70

Abstract

There is a legal disharmony with the Sharia Banking Law in the regulation on alternative dispute resolution institutions. This problem arises because the regulation does not pay attention to sharia principles, as mandated by Article 55, Paragraph 3 of the Sharia Banking Law. Meanwhile, the application of sharia principles is a spiritual right of consumers which also requires legal protection. This research is intended to assess alternative dispute resolution institutions' regulations, particularly Financial Services Authority Regulation from a consumer protection perspective, particularly spiritual rights. This research is categorized as an empirical normative study, using a philosophical, historical approach and a content analysis of the Financial Services Authority Regulation. The results of this study indicate that the Financial Services Authority Regulation on Alternative Dispute Resolution Institutions has not accommodated spiritual rights in dispute resolution for the Islamic banking industry. A weak understanding of spiritual rights causes it in the context of dispute resolution. It also creates another problem in the form of a lack of attention and policies that support the protection of spiritual rights, both in regulatory and banking institutions. In the context of dispute resolution, there are general consumer rights, such as the right to get advocacy, while the application of sharia principles is a special right. Based on these findings, it is recommended that regulatory institutions, particularly the Financial Services Authority, pay adequate attention to the entire financial service industry under their respective characteristics. It is an important matter because the protection of spiritual rights supports the development of the Islamic finance industry both in Indonesia and globally.
ONLINE DISPUTE RESOLUTION (ODR) DALAM SENGKETA INVESTASI PASAR MODAL SYARIAH DI INDONESIA Aista Wisnu Putra; Ro'fah Setyowati; Rahandy Rizki Prananda; Hendro Saptono
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 3 No. 2 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v3i2.2707

Abstract

Transaksi pasar modal syariah di Indonesia termasuk menjadi kegiatan ekonomi yang berkembang pada beberapa tahun terakhir. Meningkatnya transaksi pasar modal syariah  menjadikan potensi sengketa antara investor dan pihak pasar modal menjadi tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan penyelesaian sengketa yang efektif, efisien, tidak menyita banyak waktu, dan fleksibel bagi para pihak. Pengadilan agama sebagai penyelesaian sengketa jalur litigasi dianggap kurang efektif karena waktu penyelesaian kasus yang lama dan masa tunggu yang lama. Arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa yang lain menjadi jalan keluar mengatasi pengadilan agama yang kurang efektif dan efisien. Dengan munculnya pandemi COVID-19 di Indonesia mengakibatkan arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan berisiko tinggi dalam menularkan virus tersebut. Oleh karena itu Online Dispute Resolution menjadi solusi bagi penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang perlu diteliti aturan hukum, kelebihan, dan kekurangannya dalam menangani sengketa pasar modal syariah di Indonesia.  Kata kunci: Online Dispute Resolution (ODR); Sengketa Pasar Modal; Syariah;