Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Effect of Different Cascara Tea Formulas on the Addition of Dayak Onion and Stevia Harahap, Risda Munarti Rusdy; Kasim, Anwar; Kasim, Fitriani
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v9i1.612

Abstract

Formulation in making tea is necessary to produce quality products with a distinctive taste and optimal health benefits. Cascara is a dried tea product produced from coffee skin waste. It has been reported to have potential as a natural antioxidant because it contains secondary metabolite compounds such as polyphenols. Dayak onion bulbs are reported to contain flavonoids that are useful for preventing and alleviating complaints due to degenerative diseases such as hypertension and controlling blood sugar levels. Stevia is a plant known as sugar leaves or non-calorie natural sweeteners whose dried leaves have 30 times the sweetness of sucrose. The purpose of this study was to combine coffee fruit skin (cascara), Dayak onion, and stevia in herbal tea formulations to explore health potential and see the effect of differences in cascara, dayak onion, and stevia tea formulations on pH values, moisture content, and ash content according to the Indonesian National Standard (SNI). This study used a Factorial Completely Randomized Design (CRD). The results of this study indicate that the moisture content of herbal tea bags ranges from 9.05%-11.48%, with certain formulations (C, D, E, and F) meeting SNI standards. The ash content of herbal tea bags ranges from 3.58%-7.35%, reflecting the mineral content, with higher stevia concentrations correlating with increased ash content. The pH value of the brewed herbal tea ranges from 4.34-5.12, indicating that higher concentrations of Dayak onion produce higher pH values while increasing stevia concentrations lower pH. Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 3: Good Health and Well-beingSDG 9: Industry, Innovation, and InfrastructureSDG 12: Responsible Consumption and ProductionSDG 15: Life on Land
Preparation of Celery Leaf Extract, Phytochemical Screening, and Nanoparticle Formulation in Antiaging Cream Development Wijaya, Mike; Kasim, Anwar; Kasim, Fitriani
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v9i1.615

Abstract

This study examines the preparation of bioactive extracts from celery leaves (Apium graveolens L.) and their transformation into nanoparticulate forms for potential application in antiaging formulations. The celery leaves were extracted using the maceration method with 96% ethanol. The phytochemicals of celery extract were examined using a unique reagent, which shows the celery extract contains flavonoids, alkaloid, and triterpenoid. These compounds are usually used as active agents in antiaging creams. We employed the ultrasonication probe-homogenizer to produce nanosized particles of celery extracts. The particle size analyzer data showed that the particle size significantly reduced from 6,757.2 nm (bulk) into nanoparticle when probe homogenization was employed, with average sizes of 583.8 nm (30 minutes homogenization), 219.9 nm (60 minutes homogenization), and 161.7 nm (90 minutes homogenization). These values indicate that within time, the bulk active compound in celery could be used to formulate an antiaging cream for the next applicationContribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 3: Good Health and Well-being SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure SDG 12: Responsible Consumption and Production
Karakteristik Fisikokimia Dadih Substitusi Susu Sapi dan Susu Kerbau Fadhal, Rakha Abyan; Dewi, Kurnia Harlina; Kasim, Fitriani
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.52

Abstract

Dadih merupakan salah satu makanan khas tradisional berasal dari Sumatra Barat dengan metode pembuatannya melalui fermentasi susu di dalam tabung bambu secara alami. Penggunaan susu sapi sebagai substitusi susu kerbau dapat menjadi alternatif dalam pembuatan dadih karena susu sapi mudah didapat dan terjangkau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  menganalisis bagaimana pengaruh variasi rasio susu yang digunakan dalam proses pembuatan dadih terhadap karakteristik fisikokimianya. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan A0 (susu sapi 0% : susu kerbau 100%), A1 (susu sapi 25% : susu kerbau 75%), A2 (susu sapi 50% : susu kerbau 50%), A3 (susu sapi 75% : susu kerbau 25%), A4 (susu sapi 100% : susu kerbau 0%). Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik ANOVA (Analysis of Variance) dan dilanjutkan dengan uji lanjutan DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi rasio susu berpengaruh nyata terhadap pH, total asam, kadar air, total padatan, kadar protein dan kadar lemak. Variasi rasio susu dapat meningkatkan kadar air dan total asam dadih serta dapat menurunkan nilai pH, total padatan, kadar protein dan kadar lemak seiring meningkatnya variasi rasio susu sapi yang ditambahkan.
OPTIMASI BLEACHING AMPAS TEBU PADA VARIASI KONSENTRASI HIDROGEN PEROKSIDA DAN SUHU Mega Wulandari; Deivy Andhika Permata; Fitriani Kasim
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas tebu merupakan limbah padat dari agroindustri yang mengandung selulosa tinggi dan berpotensi diolah menjadi pulp dan kertas. Adanya lignin menyebabkan kualitas pulp menjadi tidak baik, untuk itu perlu dilakukan delignifikasi dan bleaching. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsentrasi H2O2 dan suhu bleaching yang optimal agar menghasilkan pulp dengan kualitas terbaik. Optimasi dilakukan menggunakan metode Central Composite Design (CCD) dalam pendekatan Response Surface Methodology (RSM) dengan faktor konsentrasi H₂O₂ (15–40%) dan suhu bleaching (80–100°C). Respon yang diamati antara lain kadar air, kadar abu, rendemen, selulosa, holoselulosa, hemiselulosa, lignin, bilangan Kappa, dan derajat putih. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi H₂O₂ 30,13% dan suhu bleaching 98,26°C, yang menghasilkan pulp dengan kadar lignin dan bilangan Kappa yang lebih rendah, sedangkan kadar selulosa dan derajat putih yang tinggi. Hasil analisis gugus fungsi menujukan spektrum FTIR yang lebih sederhana setelah mengalami delignifikasi dan bleaching, karena berkurangnya struktur aromatik lignin pada pulp. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses bleaching dapat menghasilkan pulp berkualitas tinggi dari limbah biomasa ampas tebu.
Pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk Isolasi Nanoselulosa dengan Perbedaan Konsentrasi Asam Sulfat dan Lama Waktu Ultrasonifikasi dalam Proses Pembuatannya Devi Fitria; Fitriani Kasim; Deivy Andhika Permata
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber selulosa yang dapat diolah, salah satunya menjadi material nanoselulosa yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta pengaplikasian yang luas di bidang industri seperti dalam pembuatan komposit, kemasan, biomedis, dan elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pengaruh perbedaan konsentrasi asam sulfat dan lama waktu ultrasonifikasi dalam proses pembuatan nanoselulosa dari tandan kosong kelapa sawit serta mendapatkan konsentrasi asam sulfat dan lama waktu ultrasonifikasi terbaik yang menghasilkan rendemen nanoselulosa tertinggi dan karakteristik nanoselulosa terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor A: konsentrasi asam sulfat (10%, 20%, dan 30%), dan faktor B: waktu ultrasonikasi (30, 60, dan 90 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi asam sulfat dan waktu ultrasonikasi berpengaruh terhadap rendemen nanoselulosa yang dihasilkan yaitu: 89,46; 89,51; 89,52; 84,20; 85,23; 87.84; 78,94; 79,80; dan 81, 83%, dan berpengaruh juga terhadap karakteristik nanoselulosa berupa ukuran partikel nanoselulosa yang didapatkan 268,5; 239,3; 275,0; 224,4; 310,7; 218,9; 170,8; 260,9; dan 380,7 nm. Konsentrasi asam sulfat 10% dengan waktu ultrasonikasi 90 menit menghasilkan rendemen nanoselulosa yang tertinggi yaitu 89,52%. Dan konsentrasi 30% dengan waktu ultrasonikasi 30 menit menghasilkan karakteristik nanoselulosa berupa ukuran partikel nanoselulosa yang relatif kecil yaitu 170,8 nm. Nanoselulosa yang dihasilkan cocok digunakan sebagai biokomposit, karena berada pada rentang 100-500 nm. Kata kunci—asam sulfat, nanoselulosa, tandan kosong kelapa sawit, ultrasonikasi