Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Penggunaan Bahasa Indonesia yang benar sebagai representasi kesantunan mahasiswa Dewi Ayu Anggraeni; Ananda Dwitha Yuniar
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 5 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.098 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i5p558-565

Abstract

In an educational environment, Lecturers apply the correct way of speaking in Indonesian to students as a sign of maintaining social and cultural values. Students are the younger generation who play an important role for the nation, so students are trained to be polite according to ethics, especially in language. So that students are expected to use the correct Indonesian language in communicating. The correct Indonesian language is used as a unifying language for the nation besides that it also functions as a form of language politeness for students. Therefore, this paper describes the representation of politeness of the State University of Malang Sociology students in using the correct Indonesian language. The research method used is qualitative and data collection techniques by interview. The results obtained are that for students using the correct Indonesian language is something important because lecturers are parents at campus, have high knowledge, have a lot of experience than students, and are older than students. To realize politeness towards lecturers, when students communicate with lecturers it is very necessary to use correct Indonesian so that students have a good image in front of the lecturer, so that the lecturer will label students as polite to lecturers. Dalam lingkungan pendidikan, Dosen menerapkan cara bertutur kata dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar kepada mahasiswa sebagai tanda untuk menjaga nilai sosial dan budaya. Mahasiswa adalah generasi muda yang berperan penting bagi bangsa, sehingga mahasiswa dilatih untuk bersikap santun sesuai etika terutama dalam berbahasa. Sehingga mahasiswa diharapkan menggunakan Bahasa Indonesia yang benar dalam berkomunikasi. Bahasa Indonesia yang benar digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa, selain itu juga berfungsi sebagai wujud kesantunan berbahasa bagi Mahasiswa. Oleh karena itu, tulisan ini menjelaskan representasi kesantunan mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Malang dalam menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan teknik pengumpulan data dengan wawancara. Hasil yang diperoleh yaitu bagi mahasiswa menggunakan Bahasa Indonesia yang benar adalah sesuatu yang penting karena dosen adalah orangtua di kampus, memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, memiliki banyak pengalaman daripada mahasiswa, serta lebih tua daripada mahasiswa. Untuk mewujudkan kesantunan terhadap dosen, ketika mahasiswa berkomunikasi dengan dosen sangat diperlukan menggunakan bahasa Indonesia yang benar agar mahasiswa memiliki citra yang baik didepan dosen, sehingga dosen akan memberi labelling sebagai mahasiswa yang santun terhadap dosen.
Interelasi kecerdasan sosial dengan interaksi sosial mahasiswa luar Jawa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Mochamad Ilham Akbar; Tasya Kartika Chandra; Riska Ayu Setyowati; Faizah Isnaeni; Safira Lailatuz Zahro; Ananda Dwitha Yuniar
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 5 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.487 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i5p598-604

Abstract

Social intelligence is an individual's ability to take action and mindset in living life as a social being. Social intelligence is used by individuals to interact and understand other individuals, phenomena or the environment around them. This social intelligence consists of basic empathy, listening, empathic accuracy, and social understanding or cognition. Meanwhile, this social facility consists of synchrony, self-presentation, influence, and care. At this time in the world of academia, it focuses more on critical thinking which tends to lead to intellectual intelligence. Social intelligence is very important for students in the world of academia and for their adjustment to the social environment which is useful as a support for social life. It is important for a student to have social intelligence so that his life is balanced between his intellectual and social abilities. Because with social intelligence, students will find it easier to build good relationships with the community. the importance of social intelligence for students needs to be studied in academia at this time. To study this, the researcher examined the interrelation of social intelligence with the social interaction of students outside Java at the Faculty of Social Sciences, State University of Malang. The research method used was a qualitative method with a descriptive approach. The data collection techniques used were observation and interviews. Kecerdasan sosial merupakan kemampuan individu dalam melakukan tindakan dan pola pikir dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial. Kecerdasan sosial digunakan oleh individu untuk berinteraksi dan memahami individu lain, fenomena atau lingkungan disekitarnya. Kecerdasan sosial ini terdiri dari empati dasar, mendengarkan, ketepatan empatik, dan pengertian atau kognisi sosial. Sedangkan fasilitas sosial ini terdiri dari sinkroni, presentasi diri, pengaruh, dan kepedulian. Pada saat ini dalam dunia akademisi lebih menitik beratkan pada pemikiran kritis yang cenderung mengarah pada kecerdasan intelektual. Kecerdasan sosial sangat penting bagi mahasiswa dalam dunia akademisi dan untuk penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial yang berguna sebagai penunjang kehidupan bermasyarakat. Kecerdasan sosial penting dimiliki oleh seorang mahasiswa agar kehidupannya seimbang antara kemampuan intelektual dan sosialnya. Karena dengan adanya kecerdasan sosial maka mahasiswa akan lebih mudah membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. pentingnya kecerdasan sosial bagi mahasiswa ini perlu untuk dikaji dalam dunia akademisi pada saat ini. Untuk mengkaji hal ini, peneliti mengkaji interelasi kecerdasan sosial terhadap interaksi sosial mahasiswa luar jawa di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang dengan metode penelitian yang peneliti gunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data.
Kesadaran mahasiswa terhadap etika berbahasa Grenada Tri Kardiana; Mita Nur Zahwa; Nurmalita Istifayza; Vina Aprilia; Windi Trisna Devi; Devi Melati Sari; Ananda Dwitha Yuniar
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 5 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.738 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i5p605-613

Abstract

Modernization also causes a shift in interaction patterns and changes in values in society. There are still many people who do not have ethics in the campus environment, such as speaking impolitely with peers or with elders. This research was conducted to find out how to ethically speak student language to lecturers in the Sociology Department. This Research uses qualitative research method with a descriptive approach. This data collection technique is done by means of interviews. The informants of this study were lecturers of the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences based on the criteria. The criteria used are different ages, namely senior lecturers and junior lecturers. In addition, informants were also obtained from active sociology students and came from different generations. The result of this study is that one of the factors that influence the language ethics of students is the difference of age between students and lecturers that not too far, so that students think of lecturers as their own friends, which makes them free to speak according to their wishes without thinking about who the interlocutor is and the solution for handling bad ethics is by holding activities that explain the importance of good ethics at campus since new students are in the campus environment. Modernisasi juga menimbulkan pergeseran pola interaksi dan berubahnya nilai-nilai dalam masyarakat. Masih banyak manusia yang tidak ber-etika di lingkungan kampus seperti cara berbicara yang kurang sopan baik dengan teman sebaya ataupun dengan yang lebih tua. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cara beretika dalam berbahasa mahasiswa kepada dosen yang ada di Jurusan Sosiologi. Di dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara wawancara. Informan penelitian ini adalah dosen jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dengan berdasarkan kriteria. Kriteria yang digunakan adalah umur yang berbeda yakni dosen senior dan dosen junior. Selain itu, informan juga didapatkan dari beberapa mahasiswa aktif dan berasal dari berbeda-beda angkatan. Hasil dari penelitian ini yaitu salah satu faktor yang mempengaruhi etika berbahasa mahasiswa adalah adanya perbedaan usia yang tidak terlalu jauh antara mahasiswa dengan dosen, sehingga para mahasiswa menganggap dosen seperti temannya sendiri yang membuat mereka bebas berbahasa sesuai dengan kemauannya tanpa memikirkan siapa lawan bicaranya dan solusi untuk menangani etika yang kurang baik adalah dengan mengadakan kegiatan yang menjelaskan pentingnya beretika yang baik di kampus sejak mahasiswa baru berada di lingkungan kampus.
Praktik masyarakat konsumsi online dalam perspektif Baudrillard Kalya Nabila Zuhdi; Hasna Bararah M; Nabilah Fina Aprilia; Pramana Herjati Putra Dionchi; Ananda Dwitha Yuniar
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 6 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.683 KB) | DOI: 10.17977/um063v1i6p681-687

Abstract

The presence of technology brings about a change in people's lives, with technology of all activities being more comfortable. Technological changes have taken place in the field of digital marketing, such as shop online. The presence of an online shop provides considerable comfort in shopping activities. But with that convenience, it can also establish higher consumption patterns. This consumption pattern was analyzed using the concept of the consumption of Jean Baudrillard. The study USES a descriptive qualitative approach with the data-collection technique of structured interviews. In the study two results have been found, the first of these is consensual behaviors among sociology students where they buy goods through online shops out of sheer need. The second result was that a sociology student was seeking to remain unaffected by the ease of shopping through online shops in order to avoid the form of consumer behavior. From such exposure it can be concluded that the concept of consumptive society by Jean Baudrillard is relevant to today's lives where people tend to satisfy the urge to buy things instead of the need. Kehadiran teknologi membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat, dengan adanya teknologi segala aktivitas dapat dilakukan dengan lebih nyaman. perubahan karena teknologi turut hadir dalam bidang digital marketing seperti hadirnya online shop. Kehadiran online shop cukup memberikan kenyamanan dalam aktivitas belanja. Namun dengan kenyamanan tersebut dapat pula membentuk pola konsumsi yang semakin tinggi. Pola konsumsi ini dianalisis menggunakan konsep masyarakat konsumsi dari Jean Baudrillard. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yakni wawancara terstruktur. Dalam penelitian ini ditemukan dua hasil, yang pertama adanya perilaku konsumtif di kalangan mahasiswa sosiologi dimana mereka membeli barang melalui online shop karena keinginan bukan kebutuhan. Hasil yang kedua yakni ditemukan adanya mahasiswa Sosiologi yang berusaha untuk tidak terpengaruh kemudahan berbelanja melalui online shop dengan tujuan agar tidak terbentuk perilaku konsumtif. Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep masyarakat konsumtif oleh Jean Baudrillard relevan dengan kehidupan saat ini dimana masyarakat cenderung memuaskan keinginan membeli suatu barang bukan atas dasar kebutuhan.
MEMBANGUN KARAKTER INKLUSIF SEJAK DINI (PENANAMAN SIKAP TOLERANSI TERHADAP PERBEDAAN BAGI SISWA SD) Alan Sigit Fibrianto; Ananda Dwitha Yuniar; Deny Wahyu Apriadi
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v5i2p54-60

Abstract

Inclusiveness has recently become an exciting topic of study to be discussed. Each local government seeks to design and implement inclusion policies. Discussions about inclusion always link people with disabilities. People with disabilities are discriminated against in their social environment, both in terms of their accessibility to public facilities as well as the negative labels attached to them. Therefore, this inclusive character is essential to be built in the next generation of the nation as early as possible. This research aims to instill an inclusive character early on for students at SD Laboratorium UM by using participatory methods or being directly involved in creating an inclusive learning process. The learning process is very significant in shaping the behavior patterns and character of children. Thus, inclusive education implemented in elementary schools (SD) can form an inclusive character for individuals from an early age. Several factors underlie inclusive education implemented at the elementary level, including: (1) at the individual development stage, SD is a very good level in the process of character building; (2) elementary school age is the most active stage in getting to know the social environment; (3) stage in understanding the role; (4) the experiences and insights they gain will be constructed through strong memories. These four factors underlie the formation of their personality into an inclusive character.Inklusifitas akhir-akhir ini menjadi topik kajian yang menarik untuk dibahas. Setiap pemerintah daerah berupaya merancang dan mengimplementasikan kebijakan inklusi. Pembahasan mengenai inklusi selalu mengaitkan penyandang difabel. Para difabel terdiskriminasi dari lingkungan sosialnya, baik aksesibilitasnya terhadap sarana publik, maupun label negatif yang melekat pada mereka. Maka dari itu, karakter inklusif ini sangat penting untuk dibangun pada generasi penerus bangsa sedini mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk menanamkan karakter inklusif sejak dini bagi siswa di SD Laboratorium UM dengan menggunakan metode partisipatoris atau terlibat langsung dalam menciptakan proses pembelajaran yang inklusif. Proses pembelajaran sangat signifikan dalam membentuk pola perilaku dan karakter anak. Sehingga, pendidikan inklusif yang diimplementasikan pada Sekolah Dasar (SD) mampu membentuk karakter inklusif bagi individu sejak dini. Ada beberapa faktor yang mendasari pendidikan inklusi diimplementasikan di tingkat SD antara lain: (1) pada tahap perkembangan individu, SD merupakan jenjang yang sangat baik dalam proses pembentukkan karakter; (2) usia jenjang SD adalah tahapan paling aktif dalam mengenal lingkungan sosialnya; (3) tahap dalam memahami peran; (4) pengalaman dan wawasan yang mereka peroleh akan terkonstruk melalui ingatan yang kuat. Keempat faktor itulah yang mendasari pembentukkan kepribadian mereka menjadi karakter yang inklusif.
DINAMIKA STRUKTURAL FUNGSIONAL DALAM EKSISTENSI USAHA PATUNG BATU ANDESIT DI DUSUN JATISUMBER, KABUPATEN MOJOKERTO Devy Agustin Sari; Ananda Dwitha Yuniar; Nur Hadi; Luhung Achmad Perguna
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i3.68760

Abstract

Most of the people of Jatisumber Hamlet work as craftsmen of andesite stone statues. However, the occurrence of various problems led to a decrease in the number of andesite stone sculpture craftsmen in Jatisumber Hamlet. The purpose of this research is to analyze the structural-functional dynamics in the existence of the andesite stone sculpture business in Jatisumber Hamlet. This study applies a qualitative research method with a descriptive approach. The research location is in Jatisumber Hamlet, Watesumpak Village, Trowulan, Mojokerto. Data collection techniques were obtained from non-participant observation, structured interviews, and documentation. The results of this study found that the decline in andesite stone sculpture craftsmen in Jatisumber Hamlet was caused by the 1st Bali bombing incident in 2002, the place where cast statues were made in Jatisumber Hamlet in 2005, and the global economic crisis in 2008. Craftsmen who did not continue their business could change professions or become sculptors andesite stone statues in other places of business, so that only a few of the andesite stone sculpture craftsmen remained who decided to survive. The craftsmen who survived implemented 10 adaptation strategies to overcome obstacles and maintain the andesite stone sculpture business. As with the structural-functional theory from Talcott Parsons that the decline of craftsmen forms a system in the andesite stone sculpture business, the roles of craftsmen and sculptors are interrelated in the system. So that part of AGIL is carried out so that the system can survive which includes: determining 10 adaptation strategies (adaptation), adaptation strategies are applied to achieve goals (goal attainment), implementation of adaptation strategies through cooperation (integration), maintaining andesite stone sculpture business by implementing strategies adaptation (latency).Keywords: Craftsmen, Adaptation Strategy, Andesite Stone Sculpture Business AbstrakSebagian besar masyarakat Dusun Jatisumber berprofesi sebagai pengrajin patung batu andesit. Namun terjadinya berbagai permasalahan menyebabkan semakin menurunnya jumlah pengrajin patung batu andesit di Dusun Jatisumber. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis dinamika struktural fungsional dalam eksistensi usaha patung batu andesit di Dusun Jatisumber. Penelitian ini menerapkan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian berada di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Trowulan, Mojokerto. Teknik pengumpulan data diperoleh dari observasi non partisipan, wawancara terstruktur, serta dokumentasi. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa penurunan pengrajin patung batu andesit di Dusun Jatisumber disebabkan karena insiden bom Bali 1 tahun 2002, tempat pembuatan patung cor di Dusun Jatisumber tahun 2005, serta krisis ekonomi global tahun 2008. Pengrajin yang tidak meneruskan usahanya dapat beralih profesi maupun menjadi pemahat patung batu andesit di tempat usaha lain, sehingga hanya tersisa beberapa dari pengrajin patung batu andesit yang memutuskan untuk bertahan. Adapun pengrajin yang bertahan menerapkan 10 strategi adaptasi untuk mengatasi kendala serta mempertahankan usaha patung batu andesit. Sebagaimana teori struktural fungsional dari Talcott Parsons bahwa penurunan pengrajin membentuk sistem pada usaha patung batu andesit, hal ini peranan yang dimiliki pengrajin serta pemahat saling berkaitan dalam sistem. Sehingga bagian dari AGIL dilakukan agar sistem dapat bertahan yang diantaranya meliputi: penentuan 10 strategi adaptasi (adaptation), strategi adaptasi diterapkan untuk mewujudkan tujuan (goal attainment), pelaksanaan strategi adaptasi melalui kerja sama (integration),  menjaga usaha patung batu andesit dengan menerapkan strategi adaptasi (latency).Kata Kunci: Pengrajin, Strategi Adaptasi, Usaha Patung Batu Andesit
DILEMA ANTARA KRISIS EKONOMI DAN TRADISI: EDUKASI MASYARAKAT DAMPAK PERNIKAHAN DINI DI DESA LUMBANG, KABUPATEN PASURUAN Faline Izza Nisa’u; Ananda Dwitha Yuniar; Fahim Syah; Florica Dwi Egadiantasari; Rizqi Ananda Alfita
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v6i2p120-127

Abstract

Early marriage is a form of phenomenon that is often found in Lumbang Village, this is motivated by various factors ranging from education, socio-culture, and economy. Efforts are needed to raise public awareness in preventing early marriage for adolescents and parents. Various efforts have also been made by village officials to help suppress early marriages that occur in Lumbang Village. So, this service aims to provide material on understanding the impact of early marriage from the health sector so that people become aware of the importance of health before deciding to get married and can reduce the number of early marriages that occur in Lumbang Village. The results of this field service concluded that most of the participants who attended the socialization still cared about their health, while among those who were married, based on social and economic factors, they were forced to choose early marriage. After this socialization activity, the implementing group monitored and reviewed the level of early marriage in Lumbang Village with marriage data through the Office of Religious Affairs (KUA) administrator.Pernikahan dini menjadi salah satu bentuk fenomena yang banyak ditemui pada Desa Lumbang. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai faktor mulai dari pendidikan, sosial budaya, dan ekonomi. Diperlukan usaha untuk menyadarkan masyarakat dalam mencegah terjadinya pernikahan dini, baik pada remaja dan juga orang tua. Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh perangkat desa untuk turut menekan pernikahan dini yang terjadi di Desa Lumbang. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk memberikan materi pemahaman dampak melakukan pernikahan dini dari bidang kesehatan agar masyarakat menjadi peduli akan pentingnya kesehatan sebelum memutuskan untuk menikah dan dapat menekan angka pernikahan dini yang terjadi di Desa Lumbang. Metode yang dilakukan dalam pengabdian ini yakni menggunakan metode partisipatoris, dimana penulis dapat memperoleh hasil berupa gambaran, arahan, dan respon mitra secara langsung. Hasil dari pengabdian ini menyimpulkan bahwa dari sebagian peserta yang hadir pada sosialisasi masih banyak yang peduli akan kesehatan mereka sementara itu mereka yang sudah menikah didasari karena faktor sosial dan ekonomi sehingga mereka terpaksa memilih menikah dini. Pasca kegiatan sosialisasi ini kelompok pelaksana melakukan monitoring dan meninjau tingkat pernikahan dini di Desa lumbang dengan data pernikahan melalui pengurus di Kantor Urusan Agama (KUA).
Literacy of Sexual Harassment and Abuse Toward Adolescent Protection Behavior Ananda Dwitha Yuniar; Ananda Nur Azahra; Adenia Qonitalillah; Anggaunitakiranantika
MUWAZAH : jurnal kajian gender Vol 14 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v14i1.495

Abstract

Cases of sexual harassment in Indonesia are increasingly prominent in the media when victims speak publicly. KOMNAS Perempuan notes that the spectrum of sexual abuse against women has increased by 800%. This seems to be a reminder for us, especially the young generation, to have the knowledge and ability to protect behavior from sexual abuse. This study aims to measure the extent of literacy of sexual harassment and violence on the level of self-protection by adolescents (15 – 21). A total of 120 young people consisting of men and women have participated in the online survey. Two-stage regression data analysis was carried out to measure each item. The sexual abuse literacy items (x) consist of Functional Literacy, Socio-Cultural Practice Literacy, Intellectual Empowerment Literacy, and The protection ability items (y) self-efficacy and self-defense. The results show that the higher the literacy level of adolescents against sexual abuse and harassment, the more they will be able to protect behavior from various threats.