Articles
RUANG PUBLIK KATUP PENYELAMAT PENDUDUK LANJUT USIA (STUDI GERONTOLOGI SOSIAL DI PONDOK SEPUH PAYAMAN MAGELANG)
Perguna, Luhung Achmad
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (25.583 KB)
Penduduk lanjut usia masih sering dianggap beban ketimbang aset terlebih makin masifnya industrialisasi. Industrialisasi menjadikan lansia kelompok rentan dan marginal. Merubah mindset lansia sebagai aset membutuhkan komitmen dan dukungan semua pihak termasuk keluarga dan kerabat lansia. Warga lansia harus disediakan ruang publik deliberatif dalam pembangunan, pelayanan sosial dan mental spiritual dalam menghadapi akhir hidupnya. Ruang publik yang mengakomodir pelayanan sosial untuk terus menghidupkan mental spiritual dibutuhkan lansia, Pondok Sepuh Payaman Magelang salah satunya. Tulisan ini memfokuskan pada kajian tentang gerontologi sosial dalam konteks marginalisasi lansia dalam pusaran industrialisasi sekaligus membahas pelayanan lansia dalam bentuk ruang publik yang ramah bagi mereka. Artikel ini menggunakan pendekatan naturalistik dengan wawancara dan observasi sebagai bagian tak terpisahkan dalam studi ini. Hasil penelitian menunjukkan pondok sepuh menjadi salah satu model ruang publik di Indonesia yang berfokus pada pelayanan sosial keagamaan yang nyaman bagi lansia. Prinsip kebebasan, kesamaan, dan kemerdekaan menjadi hal kunci pada pondok ini. Interaksi dan sosialisasi yang berlangsung didalamnya meningkatkan eksistensi dan kebermanfaatan ditengah marginalisasi kelompok lanjut usia baik di desa maupun kota.Kata Kunci: lanjut usia, industrialisasi, pelayanan sosial, pondok sepuh
Komodifikasi Wayang Suket Puspasarira di Kota Malang sebagai Upaya Pelestarian Wayang
Venia Ranita Sari;
Luhung Achmad Perguna
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 1 (2020): Volume 9 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i1.712
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perkembangan wayang suket dan strateginya di tengah arus globalisasi melalui upaya modifikasi dan komodifikasi agar dapat dipahami dan dinikmati oleh generasi milenial. Generasi milenial menjadi sasaran paling utama dalam mempertahankan wayang suket di Kota Malang. Penelitian ini dilakukan di Kota Malang dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara serta ditambahkan dokumentasi untuk memperkuat data-data yang sudah ada. Hasil dari penelitian ini yaitu wayang suket mengalami perkembangan dari tahun ke tahun hingga menjadi wayang suket sampai saat ini yang bisa dinikmati oleh generasi milenial. Upaya melalui modifikasi alur cerita yang relevan bagi kalangan milenial dan modifikasi wayang suket lewat souvenir dilakukan salah satunya melalui media sosial.
DUA KAKI PEREMPUAN LANSIA ANTARA DISKRIMINASI GANDA DAN MENCARI PAHALA (Studi Kasus di Pondok Sepuh Kabupaten Magelang Indonesia)
Luhung Achmad Perguna
Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Vol 18, No 1 (2019): Marwah
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/marwah.v18i1.7170
Pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia meningkat dari waktu ke waktu, utamanya perempuan lansia. Fenomena terjadinya peningkatan ini disebabkan oleh pelayanan sosial, ekonomi, kesehatan dan agama yang membaik. Pelayanan yang terus meningkat seharusnya menjadi peluang besar kalau mereka mempunyai kualitas yang tangguh. Lansia perempuan dapat menjadi sumber daya yang sangat potensial bagi pembangunan bila dikelola dengan baik. Salah satu model manajemen pelayanan agama khusus bagi lansia adalah Pondok Sepuh. Pondok ini seolah menjadi oase bagi lansia, karena nyaris tak ada pondok yang disediakan khusus bagi lansia. Pada kondisi yang makin menua lansia ingin mencari bekal untuk kehidupan berikutnya. Pondok menjawab kebutuhan lansia sebagai sarana aktualisasi diri sekaligus pada saat yang bersamaan bentuk manifestasi pahala. Penghuni pondok (santri) banyak diisi oleh perempuan lansia. Sayangnya, diskriminasi ganda (sebagai lansia dan perempuan) dan kekerasan simbolik masih kerap dialami oleh perempuan lansia meski berada pada lembaga keagamaan
Kampung, Tato, dan Identitas: Studi Dekonstruksi Makna Simbolik Kampung Tato
Dini Anisa Sasqia;
Luhung Achmad Perguna;
Abd Latif Bustami
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/sb.v17i2.9914
Identitas kampung tato diambil dari sebuah kebiasaan yang dilakukan masyarakat setempat sejak ±40 tahun yang lalu. Kebiasaan yang dilakukan dari waktu ke waktu ternyata menghasilkan konstruksi yang dapat memberikan label maupun cap kepada pelaku pencipta realitas. Artikel ini fokus kepada dekonstruksi makna kampung tato. Dengan menggunakan metode kualitatif yang didukung teknik pengumpulan data purposive sampling. Hasil dari data yang telah didapat dengan observasi, wawancara, dan dokumen maka akan dipaparkan sebuah tulisan dan gambar. Didukung pula dengan sebuah teori dari Jacques Derrida yaitu Dekonstruksi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini yaitu terdapat dua aspek yang mempengaruhi adanya dekonstruksi. Pertama dari setting sosial masyarakat kampung tato. Dimana penamaan istilah kampung tato lahir dari masyarakat luar yang memandang kampung tato sebagai basis tato. Alih-alih menghindari stigma tato, masyarakat setempat justru terang-terangan menyatakan bahwa desanya merupakan basis tato. Kedua dari oposisi biner, ditunjukkan dengan pelaku tato membongkar penafsiran makna tato atas dasar ketidaksadaran, bukan pertimbangan dan bukan karena organisasi. Dari realitas yang terus diciptakan menjadikan kampung tato kelas dua, kelas yang dikesampingkan. Meskipun pelaku tato telah berusaha untuk keluar jurang masa lalu tetapi mereka tetap dicap kurang baik. Disinilah oposisi biner menjadi keniscayaan.
Ruang Publik Katup Penyelamat Penduduk Lanjut Usia (Studi Gerontologi Sosial di Pondok Sepuh Payaman Magelang)
Luhung Achmad Perguna
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (321.991 KB)
Penduduk lanjut usia masih sering dianggap beban ketimbang aset terlebih makin masifnya industrialisasi. Industrialisasi menjadikan lansia kelompok rentan dan marginal. Merubah mindset lansia sebagai aset membutuhkan komitmen dan dukungan semua pihak termasuk keluarga dan kerabat lansia. Warga lansia harus disediakan ruang publik deliberatif dalam pembangunan, pelayanan sosial dan mental spiritual dalam menghadapi akhir hidupnya. Ruang publik yang mengakomodir pelayanan sosial untuk terus menghidupkan mental spiritual dibutuhkan lansia, Pondok Sepuh Payaman Magelang salah satunya. Tulisan ini memfokuskan pada kajian tentang gerontologi sosial dalam konteks marginalisasi lansia dalam pusaran industrialisasi sekaligus membahas pelayanan lansia dalam bentuk ruang publik yang ramah bagi mereka. Artikel ini menggunakan pendekatan naturalistik dengan wawancara dan observasi sebagai bagian tak terpisahkan dalam studi ini. Hasil penelitian menunjukkan pondok sepuh menjadi salah satu model ruang publik di Indonesia yang berfokus pada pelayanan sosial keagamaan yang nyaman bagi lansia. Prinsip kebebasan, kesamaan, dan kemerdekaan menjadi hal kunci pada pondok ini. Interaksi dan sosialisasi yang berlangsung didalamnya meningkatkan eksistensi dan kebermanfaatan ditengah marginalisasi kelompok lanjut usia baik di desa maupun kota. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i12016p047
Membaca Rasionalitas Masyarakat Islam Aboge dalam Penggunaan Sikep Penglaris di Dusun Tumpangrejo Kabupaten Malang
Novia Ayu Windarani;
Luhung Achmad Perguna;
Abd. Latif Bustami
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v5i1.15654
Tulisan ini menggali rasionalitas penggunaan tradisi sikep penglaris masyarakat Islam Aboge di dusun Tumpangrejo kabupaten Malang dalam perspektif Webberian. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam artikel ini dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Analisis data dengan mendeskripsikan secara mendalam data yang diperoleh melalui reduksi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Penelitian menemukan bahwa rasionalitas tradisional dan rasionalitas instrumental mengemuka dalam penggunaan sikep penglaris. Salah satu rasionalitas tradisional adalah sikep penglaris merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang sebelum membuka usaha. Tradisi ini menjadi kesadaran kolektif masyarakat Aboge. Secara instrumental, pilihan menggunakan sikep penglaris karena munculnya ketakukan akan gangguan magis yang menyebabkan kebangkrutan atau usahanya tidak berjalan seperti yang diharapakan. Menariknya antara satu sikep penglaris dengan lainnya memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut karena perbedaan guru spiritiual sekaligus media sikep penglaris. Bertahannya sikep penglaris tidak terlepas dari proses konstruksi yang terus berjalan secara dialektis dalam kehidupan sosial masyarakat Tumpangrejo. This paper explores the rationality of using the tradition of sikep penglaris in the Islamic community of Aboge in Tumpangrejo, Malang Regency, from a Webberian perspective. A qualitative descriptive approach is used with data collection techniques through observation and interviews in this article. Data analysis by describing in depth the data obtained through reduction, interpretation, and drawing conclusions. Research founds that traditional rationality and instrumental rationality come to the fore in the use of sikep penglaris. One of the traditional rationalities is that sikep penglaris is a tradition passed down from generation to generation before opening a business. This tradition has become the collective consciousness of the Aboge people. Instrumentally, the choice using sikep penglaris due to the fear of magical interference that will cause bankruptcy or the business does not well as expected. Interestingly, there are differences between one sikep penglaris cycle and another. This difference is due to differences in spiritual teachers as well as sikep penglais media. The persistence of sikep penglaris cannot be separated from the construction process that continues in the social life of the Tumpanrejo community dialectically.
MENGENALKAN LESSON STUDY MELALUI PELATIHAN GURU DI LINGKUNGAN MADRASAH ALIYAH KABUPATEN MALANG
Joan Hesti Gita Purwasih;
Luhung Achmad Perguna
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol. 1, No. 2, Oktober 2018
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (629.148 KB)
|
DOI: 10.17977/um032v0i0p80-86
Lesson Study merupakan cara yang cukup efektif digunakan untuk meningkatkan pembelajaran. Tiga tahapan berupa plan, do dan see menjadi karakteristik utama Lesson Study. Akan tetapi, Lesson Study belum banyak dikenal di lingkungan Madrasah Aliyah di Kabupaten Malang. Oleh karena itu, pengenalan Lesson Study diharapkan mampu memberikan wawasan bagi pendidik untuk bisa meningkatkan kualitas pembelajaran secara kolaboratif. Model pengenalan secara kolaboratif memberikan semangat dan antusiasme pendidik dalam mengenal Lesson Study. Semangat ini menjadi modal utama keberlangsungan Lesson Study pasca pelatihan, Kepedulian pihak sekolah, kelompok guru, dan akademisi dalam memfasilitasi praktik Lesson Study menjadi jalan untuk menuju penerapan dan pemanfaatan Lesson Study di waktu mendatang.
Pengalaman hidup kami “lansia” aset berharga negara (kajian gerontologi di Malang)
Aulia Pandora Yunita;
Gusti Rajendra;
Novitri Yanu Bauty Argono;
Luhung Achmad Perguna
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (617.842 KB)
|
DOI: 10.17977/um063v1i1p45-53
Indonesia masuk dalam periode bonus demografi beberapa tahun kedepan. Adanya dampak positif yang akan terjadi adalah penduduk dalam usia produktif yang memiliki jumlah lebih banyak daripada usia tidak produktif yang dapat memacu peningkatan dalam aspek ekonomi ini akan membawa dampak yang sangat menghawatirkan, yakni akan meningkatnya pula penduduk lanjut usia di Indonesia beberapa tahun kemudian. Menjadi beban atau aset bagi negara atas meningkatnya jumlah penduduk lansia ini akan tergantung pada bagaimana kita sebagai generasi muda menyikapinya. Malang merupakan kota dengan jumlah penduduk lansia yang cukup tinggi saat ini namun kesadaran masyarakat terutama pemerintah akan pentingnya mencegah permasalahan yang akan mengancam dimasa depan maka pemerintah mengantisipasinya dengan menerapkan konsep Kota Ramah Lansia. Data dikumpulkan dengan analisis studi dokumen, pengamatan dan wawancara mendalam. Dengan dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah teori Kependudukan oleh Karl Marx dan Fried Engels. Teori Kependudukan digunakan dalam tulisan ini untuk mengkaji mengenai gerontologi atas tingginya lansia di Kota Malang dan tingginya tingkat pertumbuhan penduduk lansia yang dapat diperdayakan melalui pengelolahan Pondok Lansia di Kota Malang seperti sekarang ini. Hasil dalam tulisan ini adalah ada beberapa program dan kebijakan dari pemerintah dan yayasan ramah lansia di Malang yang memiliki tujuan terwujudnya kenyamanan secara fisik dan psikologis para lansia ini di Kota Malang agar tetap produktif dan berperan dalam pembangunan nasional. Tingginya angka penduduk dalam usia lanjut tidak akan menjadi beban dalam keluarga, masyarakat, bahkan negara jika mereka diberdayakan dan diperlakukan dengan baik. Pengalaman, kearifan, jaringan, dan kreatifitas mereka dalam bertindak dan berfikir menjadi kelebihan yang akan menjadi aset berharga bagi lingkungan mereka dan juga bagi pembangunan nasional. Kelebihan yang sudah ada dalam diri mereka dapat diwariskan pada generasi muda untuk menghasilkan sumber daya manusia yang lebih baik untuk bekal di masa depan. Sehingga dimasa yang akan datang dan masa sekarang para lansia akan tetap produktif dan berperan dalam pembangunan.
Analisis teori kritis Jurgen Habermas: Agama dan kehidupan modern mahasiswa ibu kota Jakarta
Adinda Novalia R Putri;
Luhung Achmad Perguna
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (648.717 KB)
|
DOI: 10.17977/um063v1i2p194-203
Ibu Kota Indonesia, Jakarta, menjadi tempat strategis bagi arus globalisasi untuk membuka keran selebar-lebarnya. Globalisasi yang menjadikan budaya barat sebagai acuan gaya hidup ini kemudian melahirkan modernisasi. Modernisasi merupakan sebuah wujud transformasi kondisi yang sebelumnya kurang maju, menjadi berkembang ke sebuah kemajuan yang lebih baik. Segala pusat kehidupan cenderung didominasi pada kota Jakarta. Modernisasi yang terus memaparkan pengaruhnya ini kemudian memberi dampak kepada masyarakatnya juga, seperti berkembangnya paham hedonisme dan individualisme yang bertentanngan dengan ajaran agama. Agama sendiri merupakan sarana media penghubung antara manusia dan Tuhan. Kehidupan modern yang dijalani oleh mahasiswa di Jakarta ini mau tidak mau akan berdampak kepada cara atau pemahaman seseorang pada suatu hal termasuk agama. Setiap orang memiliki perspektif tersendiri akan suatu hal. Cara pandang mahasiswa dalam memandang partik agamanya pun sangat bervariasi dan memiliki latar belakangnya sendiri. Dalam penelitian ini banyak ditemukan jawaban dan temuan unik mengenai agama di dalam kehidupan mahasiswa Jakarta ini, serta pendapatnya mengenai agama di tengah-tengah kehidupan modern.
Peran identitas sosial budaya siswa kursus Kampung Inggris dalam pola interaksi dan pergaulan
Nesya Vashti Engracia;
Luhung Achmad Perguna
Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S) Vol. 1 No. 5 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.433 KB)
|
DOI: 10.17977/um063v1i5p639-645
Setiap individu dalam hidupnya pasti memiliki identitas sosial dan budaya. Sebagai contoh dalam memulai perkenalan, individu tidak akan lupa siapa dirinya. Hal ini menunjukan bahwa konsep diri individu dapat dilihat dari identitas sosial budaya nya. Artikel ini menunjukan sejauh mana peran identitas sosial budaya dalam melakukan interaksi dan menentukan pergaulan pada siswa kursus Kampung Inggris Pare. Dengan menggunakan metode studi pustaka, yaitu melalui penelitian terdahulu dan teori identitas sosial sebagai pelengkap, penulisan artikel ini menemukan 2 hasil. Pertama, identitas sosial budaya kurang berperan dalam melakukan interaksi sehari-hari antar siswa kursus Kampung Inggris Pare Kediri. Kedua, identitas sosial budaya berperan dalam menentukan pergaulan antar siswa kursus Kampung Inggris Pare Kediri.