Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PELAYANAN KESEHATAN BAGI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN Ilman Karyanus Zebua; Harmona Daulay; Faizal Madya
Jurnal Kebijakan Publik Vol 15, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkp.v15i1.8463

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran, analisis, dan penilaian menyeluruh terkait penyediaan layanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Gunungsitoli. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan pihak berwenang dan tahanan di lapas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan kesehatan di Lapas Kelas IIB Gunungsitoli masih belum memenuhi standar yang diharapkan. Terdapat hambatan-hambatan yang dapat diamati dalam lima dimensi utama kualitas layanan, termasuk ketidakterpenuhan standar fasilitas, ketersediaan obat yang tidak mencukupi, dan kekurangan tenaga kesehatan, terutama pada jam-jam tertentu. Tantangan signifikan juga terletak pada masalah kepercayaan, ketepatan waktu dalam layanan kesehatan, dan biaya perawatan medis tambahan yang belum ditanggung secara memadai. Kurangnya perhatian dan empati dari tenaga kesehatan juga menjadi masalah bagi para narapidana dan tahanan. Dengan demikian, untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, diperlukan tindakan untuk memperbaiki fasilitas, meningkatkan persediaan obat-obatan, memastikan keandalan dan daya tanggap layanan, serta menanggulangi kurangnya tenaga kesehatan professional.
FENOMENA BIAS GENDER PADA KOMUNITAS KPOPERS LAKI-LAKI: STUDI KASUS PADA MAHASISWA KPOPERS FISIP USU MEDAN Batubara, Nurshafa Ramadhani; Daulay, Harmona; Simanihuruk, Muba; Saladin, T. Ilham
Kafa`ah: Journal of Gender Studies Vol 13, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jk.v13i2.608

Abstract

This research is entitled The Phenomenon of Gender Bias in the Male Kpopers Community (Case Study on USU MEDAN FISIP Kpopers Students). This study explains the gender bias that K-Pop fanboys get which is caused by the “collision” of masculinity that society has with that exhibited by K-Pop. This study uses a qualitative research method with a case study approach with informants who are determined by snowball sampling. There were 12 informants in this study with 10 main informants and 2 additional informants. The results of the study show that K-Pop fanboys get gender bias in the form of stereotypes. K-Pop fanboys get gender bias by being labeled as effeminate, feminine, less male, feminine, less masculine, less macho, and gay. The construction of gender bias occurs as a result of the display of soft masculinity by K-Pop idols, the K-Pop market which is dominated by women, the collision of masculinity displayed by K-Pop with masculinity presents in societu (macho), inferiority of femininity, incongruity with gender views openness to femininity, not trapped in the construction of masculinity and the application of soft masculinity by K-Pop fanboys in everyday life simply in the sense that it is not too soft masculinity.
Konflik Peran Sosial Komunitas Persatuan Waria (Perwari) dalam Masyarakat Claudia Clara br. Ginting; Harmona Daulay; Ria Manurung; Badaruddin; Linda Elida
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 5 No. 6 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Oktober - November 2024)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v5i6.3079

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana eksistensi diri waria di Kota Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, karena penelitian ini termasuk dalam data dekskriptif kehidupan sosial waria. Keberadaan diri waria memiliki konsep yang cukup luas dalam suatu proses yaitu panggung depan dan panggung belakang dibentuk oleh imajinasi, emosi, dan kognisi. Kelompok waria adalah jenis orientasi seksual ketiga dari jenis orientasi seksual absolut dan seksualitas yang terbentuk melalui tekanan dan sosialisasi, kemudian diinternalisasi menjadi tindakan secara normal, karena orientasi seksualitas berjalan biasanya sesuai dengan jenis orientasi seksual telah dipilih.
THE CONSTRUCTION OF MASCULINITY IN SOCIAL MEDIA: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF SOFT MASCULINITY AND UBERSEXUAL IN INDONESIAN TIKTOK CONTENT Nabila, Clara Liza; Daulay, Harmona
Kafa`ah: Journal of Gender Studies Vol 15, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jk.v15i2.861

Abstract

Masculinity is the result of gender construction originating from societal culture, where each society has a different culture. So these differences blend and create diverse types of masculinity. This research discusses two types of masculinity, namely soft masculinity and ubersexual. Soft maculinity emerged as a reaction to traditional, rigid masculinity norms. This type of man prioritizes empathy, emotional sensitivity, and also the courage to express his emotions openly. The TikTok content creator represents soft masculinity is Fahmi Nasrulloh who challenges patriarchal norms by showing that men can cook too. Meanwhile, ubersexual desribes men who are intellectual, confident, principled, as seen in Irwan, who is a TikTok content creator in the fields of politics, economis, and business. Through his TikTok content, he voiced his concern about corruption in Indonesia which is increasingly becoming an emergency. This research uses a critical discourse analysis methode with a qualitative approach. This type of research is descriptive, located on the tikTok platform. The results of the research show that the differences between the two types of masculinity lie in the approach to appearance, the values adhered to, behavioral patterns, relationships, and emotional expression. These two types show an evolution in the understanding of the role of men in society, and provide an idea of how a man should behave and interact in his environment. This research was conducted to determine the development of the construction of masculinity and see how the differences between the types of masculinity between soft masculinity and ubersexual are described
Konflik Peran Sosial Komunitas Persatuan Waria (Perwari) dalam Masyarakat Claudia Clara br. Ginting; Harmona Daulay; Ria Manurung; Badaruddin; Linda Elida
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 5 No. 6 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Oktober - November 2024)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v5i6.3079

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana eksistensi diri waria di Kota Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, karena penelitian ini termasuk dalam data dekskriptif kehidupan sosial waria. Keberadaan diri waria memiliki konsep yang cukup luas dalam suatu proses yaitu panggung depan dan panggung belakang dibentuk oleh imajinasi, emosi, dan kognisi. Kelompok waria adalah jenis orientasi seksual ketiga dari jenis orientasi seksual absolut dan seksualitas yang terbentuk melalui tekanan dan sosialisasi, kemudian diinternalisasi menjadi tindakan secara normal, karena orientasi seksualitas berjalan biasanya sesuai dengan jenis orientasi seksual telah dipilih.
MEANING CONSTRUCTION OF STUNTING IN PREGNANT AND BREASTFEEDING WOMEN IN SUKA MAJU VILLAGE TANJUNG TIRAM BATU BARA Rizki Nanda Saputri; Nurman Achmad; Harmona Daulay
International Journal Of Health Science Vol. 2 No. 3 (2022): November: International Journal of Health
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/ijhs.v2i3.1001

Abstract

Stunting is a problem in child growth that is caused by malnutrition over a long period of time. Malnutrition can begin when the child is still in the womb. Stunting can cause a child's body to become stunted or short, the child's intelligence is low, so that the child is susceptible to disease. The stunting prevalence rate in Indonesia was 27.67% in 2019, with a percentage of 30.38% coming from North Sumatra. The causes of stunting are a lack of nutritional support and the presence of infectious diseases in children. In addition, knowledge of nutrition and knowledge of stunting also has an indirect impact on stunting. The phenomenon seen in Suka Maju Village, Tanjung Tiram District is that pregnant women and breastfeeding mothers do not know stunting well, some of them have never even heard of the term stunting, and some others know that stunting is a malnourished child but do not understand what causes it and the impact of children suffering from stunting. With this knowledge, there are no preventive activities carried out by pregnant women and nursing mothers in Suka Maju Village, including the parenting style they apply. Parenting practices that do not support stunting prevention are pregnant women who do not consume highly nutritious foods, provide complementary foods that are not varied, and do not cultivate exclusive breastfeeding.
Memutus Rantai Stereotip: Mengapa Kurikulum Berbasis Gender adalah Kunci Masa Depan Putri Napitupulu; Harmona Daulay
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini meneliti bagaimana stereotip gender dilanggengkan di ruang kelas dan bagaimana hal itu memengaruhi perkembangan identitas siswa dan peluang pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia. Studi ini, yang menggunakan metodologi kuantitatif berdasarkan analisis literatur ilmiah, menunjukkan bagaimana praktik-praktik umum seperti pembagian tugas, teknik penilaian guru, dan representasi gender dalam buku teks dan interaksi di kelas secara implisit memperkuat norma-norma konvensional tentang maskulinitas dan feminitas. Oleh karena itu, anak laki-laki dan perempuan seringkali dibatasi oleh harapan peran yang sesuai dengan konsepsi masyarakat yang diulang di ruang kelas, bukan oleh keterampilan mereka. Berdasarkan hasil tersebut, studi ini memberikan rekomendasi kebijakan, seperti mengadopsi indikator kesetaraan gender di tingkat lokal, meningkatkan peraturan sekolah anti-stereotip, melanjutkan pelatihan guru, dan memperbarui kurikulum untuk memasukkan sudut pandang gender yang substansial. Dalam hal ini, sekolah diharapkan berkembang menjadi lingkungan yang kritis dan transformatif yang membentuk generasi muda yang adil, berempati, dan tidak terikat oleh norma gender.
Keterbatasan Layanan Perdesaan dalam Melindungi Perempuan: Studi Awal di Wilayah Desa Sahru Azkiya Putra; Harmona Daulay
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perlindungan perempuan di wilayah perdesaan masih menjadi tantangan karena berbagai layanan yang tersedia belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab layanan perdesaan belum mampu memberikan perlindungan maksimal bagi perempuan serta mengidentifikasi bentuk-bentuk keterbatasan layanan yang dialami perempuan di desa. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif melalui penelaahan berbagai jurnal ilmiah, buku, laporan pemerintah, dan publikasi relevan yang terbit pada periode 2020–2025. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi pola temuan yang berkaitan dengan perlindungan perempuan dan layanan perdesaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa belum optimalnya perlindungan perempuan dipengaruhi oleh rendahnya kapasitas aparatur desa, keterbatasan sumber daya, lemahnya koordinasi antar lembaga, serta masih kuatnya budaya patriarki dalam kehidupan masyarakat desa. Selain itu, perempuan di wilayah perdesaan masih mengalami berbagai keterbatasan layanan, seperti terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan kesejahteraan, kurangnya pendampingan dan perlindungan hukum, rendahnya partisipasi dalam pembangunan desa, serta minimnya akses informasi mengenai layanan yang tersedia. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan perdesaan dan penguatan perspektif gender dalam pembangunan desa diperlukan untuk menciptakan sistem perlindungan yang lebih efektif, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan perempuan secara berkelanjutan.
Transgender In Achieving The Social Acceptability In Pematangsiantar Donny Paskah Martianus Siburian; Harmona Daulay; Junjungan SBP Simanjuntak; Rizabuana Ismail; Hadriana Marhaeni Munthe
Jurnal Pamator : Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Vol 16, No 1: 2023
Publisher : Universitas Trunodjoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/pamator.v15i2.18870

Abstract

Society expects men to behave in a masculine manner and fulfill traditional male roles, while women are expected to behave in a feminine manner and exhibit normal heterosexual behavior, such as engaging in sexual relations with the opposite sex. The existence of transgender individuals in society is often perceived as deviant. The purpose of this research is to examine the community's stereotypes towards transgender individuals in Pematangsiantar City and the adaptation strategies implemented by transgender individuals who are accepted in society. This research employs a mixed-method approach, with a focus on qualitative data analysis supplemented by quantitative data. The results of this study indicate that various negative stereotypes are associated with transgender individuals in Pematangsiantar City. Consequently, transgender individuals must use various strategies and make efforts to adapt and be accepted as themselves and as members of society. This research can serve as a reference for addressing social life and social status as a transgender individual amidst society.
TRANSFORMING MSME ECONOMIC PRACTICES THROUGH DIGITALIZATION: EVIDENCE FROM SAMOSIR REGENCY, INDONESIA Shanny Melanova Nainggolan; Harmona Daulay; Martino Martino
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 14, No 4 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v14i4.117052

Abstract

This study examines the digital transformation of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Samosir Regency from the perspective of economic sociology. Using a qualitative approach, the study explores how digitalization reshapes the socio-economic practices of MSMEs through an analysis of social interactions, institutional dynamics, and local community networks. The findings reveal that MSME digitalization is not merely a technological transition or the adoption of digital marketing tools but a broader transformation of socio-economic relations. Digital technologies have reshaped patterns of interaction, created new competitive fields, and shifted economic practices from traditional face-to-face transactions to digitally mediated exchanges. The study further shows that the success of digital transformation is strongly influenced by the embeddedness of economic activities within local social networks. Despite limited digital capabilities, MSME actors have adapted by relying on strong social capital, particularly kinship (marga) networks and local solidarity. Trust-based relationships within traditional communities have become essential resources for technological adaptation. In addition, the local government plays a strategic institutional role by enhancing digital capacity, expanding access to technology, and fostering an ecosystem that supports MSME participation in the digital economy. This study concludes that the digital transformation of MSMEs cannot be adequately explained solely through rational economic approaches emphasizing efficiency or marketing strategies. Instead, an economic sociology perspective demonstrates that social relations, habitus, and local social structures are the primary determinants of successful digital transformation. These findings contribute to the literature by highlighting that technological adoption is fundamentally a socially embedded process rather than merely a technological or economic phenomenon.