Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Karakteristik Individu dari Perspektif Modal Psikologis dan Kepribadian Proaktif Pegawai Badan Pendapatan Daerah di Kota Bengkulu Rahmat Perkasa; Slamet Widodo; Paulus Sulluk Kananlua
Student Journal of Business and Management Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to analyze the perspective of employees from the psychological capital and proactive personality of employees at Regional Income In Bengkulu City. This study uses a quantitative descriptive approach, respondents are all employees of the Bengkulu City Regional Opinion Board (Civil Servants) totaling 69 people. Data collection using a questionnaire survey in the form of a link from google form (https://forms.gle/ babAsZDKsBb3y2M28) is distributed through the Whataaps Group of employees in the Bapenda Bengkulu City environment. The method of analysis uses descriptive statistics, namely to analyze the frequency distribution and average value (mecm) of the respondent's responses. The results showed that the overall average value of respondents' responses to psychological capital was very high. The highest response from psychological capital is in the optimism dimension with an average value of 5.27 (very very high). These results indicate that respondents have hopes of having a better future. Respondents' responses to resilience with the lowest average value. These results indicate that respondents have a tendency to recover quickly from adversity or have the ability to bounce back, with a focus on goals and success. Respondents' responses to proactive personalities with high ratings. These results indicate that respondents can accept responsibility for their own behavior and take the initiative to make things happen and believe that they have the power to make positive choices that can change negative things. The lowest respondent's response is the dimension of employee professional growth. The lowest average score in this dimension is found in question ten, namely the desire of employees to improve performance, supported by superiors. These results indicate that not all respondents have received support from their superiors in their desire to improve their performance. Superiors' support is considered to be an important factor in influencing employee work results. Keywords: Psychological Capital, Proactive Personality. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif pegawai ditinjau dari modal psikologis dan kepribadian proaktif pegawai pada Pendapatan Asli Daerah Di Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, respondennya adalah seluruh pegawai Badan Pemeriksa Keuangan Daerah (PNS) Kota Bengkulu yang berjumlah 69 orang. Pengumpulan data menggunakan survei kuisioner berupa link dari google form (https://forms.gle/ babAsZDKsBb3y2M28) yang dibagikan melalui karyawan Whataaps Group di lingkungan Bapenda Kota Bengkulu. Metode analisis menggunakan statistik deskriptif, yaitu menganalisis distribusi frekuensi dan nilai rata-rata (mecm) tanggapan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan nilai rata-rata tanggapan responden terhadap modal psikologis sangat tinggi. Respon tertinggi dari modal psikologis adalah pada dimensi optimisme dengan nilai rata-rata 5,27 (sangat sangat tinggi). Hasil ini menunjukkan bahwa responden memiliki harapan untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Respon responden terhadap resiliensi dengan nilai rata-rata terendah. Hasil ini menunjukkan bahwa responden memiliki kecenderungan untuk cepat pulih dari keterpurukan atau memiliki kemampuan untuk bangkit kembali, dengan fokus pada tujuan dan kesuksesan. Tanggapan responden terhadap kepribadian proaktif dengan peringkat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa responden dapat menerima tanggung jawab atas perilaku mereka sendiri dan mengambil inisiatif untuk mewujudkan sesuatu dan percaya bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membuat pilihan positif yang dapat mengubah hal-hal negatif. Respon responden terendah adalah dimensi pertumbuhan profesional karyawan. Skor rata-rata terendah pada dimensi ini terdapat pada pertanyaan kesepuluh, yaitu keinginan karyawan untuk meningkatkan kinerja yang didukung oleh atasan. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak semua responden mendapat dukungan dari atasannya dalam keinginannya untuk meningkatkan kinerjanya. Dukungan atasan dinilai menjadi faktor penting dalam mempengaruhi hasil kerja karyawan. Kata Kunci: Modal Psikologis, Kepribadian Proaktif.
Pelatihan Andragogi 2 Hari untuk Penguatan Kapasitas SDM Koperasi Merah Putih di Kota Bengkulu Slamet Widodo; Nasution Nasution; Mukti Trio Putra; Fenny Evrita
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 6 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/t9bm4360

Abstract

Latar belakang: Program Koperasi Merah Putih (KMP) merupakan inisiatif strategis nasional yang secara administratif telah berhasil membentuk lebih dari 80.000 unit koperasi di seluruh Indonesia. Namun, kesenjangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pengurus, khususnya dalam administrasi keuangan dan tata kelola organisasi, menjadi hambatan utama operasionalisasi koperasi dan berisiko menimbulkan penyimpangan dana. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan kompetensi pencatatan buku kas harian dan administrasi simpan pinjam pengurus KMP di Kota Bengkulu; (2) memperkuat pemahaman pembagian tugas pokok (job desk) dan fungsi pengawasan antar pengurus; serta (3) menghasilkan dokumen Standar Operasional Prosedur (SOP) sederhana yang siap diimplementasikan. Metode: Pelatihan intensif 2 hari (Senin–Selasa) dengan pendekatan andragogi (30% teori singkat, 70% praktik langsung) diberikan kepada 30 pengurus inti (Ketua, Sekretaris, Bendahara, Pengawas) dari 10 KMP di Kota Bengkulu. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi proses, serta pendampingan daring selama 1 bulan pasca pelatihan. Hasil: Rata-rata skor kompetensi peserta meningkat dari 45,6 (pre-test) menjadi 78,4 (post-test) atau peningkatan sebesar 71,9% (p<0,001). Seluruh peserta (100%) berhasil menyelesaikan tugas praktik pengisian buku kas (tingkat kebenaran 87,5%) dan buku simpan pinjam (akurasi 85,2%). Sepuluh koperasi (100%) menghasilkan draft SOP sederhana. Setelah 1 bulan, 73,3% peserta masih mengimplementasikan keterampilan yang dipelajari. Kesimpulan: Pelatihan kilat 2 hari berbasis andragogi efektif untuk mengatasi kesenjangan kompetensi dasar pengurus koperasi dalam waktu terbatas. Model ini direkomendasikan untuk direplikasi pada koperasi lainnya.