Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Atrial Flutter pada Anak Wibisono, Stephanie; Kosasih, Adrianus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.721 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i9.865

Abstract

Latar Belakang: Atrial flutter merupakan tipe takikardi supraventrikuler akibat re-entri sirkuit di atrium kanan. Atrial flutter pada anak sangat jarang, umumnya setelah operasi jantung. Scar post-operasi merupakan substrat yang menginduksi atrial flutter. Laporan Kasus: Anak 13 tahun dengan keluhan berdebar-debar sejak 2 jam. Riwayat operasi jantung disangkal. Gambaran EKG pasien takikardi komplek lebar dengan rate 250 kali/menit, reguler. Pasien di challenge-test dengan adenosine untuk menyingkirkan diagnosis SVT (dengan aberansi), namun tidak respons. Setelah diberi amiodaron bolus, kembali ke sinus rhythm dan rate berangsur menurun. Echocardiography mendapatkan anatomi jantung normal dan kontraktilitas global left ventricle menurun (fraksi ejeksi 45%) karena takikardi. Simpulan: Atrial flutter dapat didiagnosis dengan EKG, diagnosis, dan akurasi karakteristik sirkuit menggunakan EP (electrophysiology) study.Background: Atrial flutter is a type of supraventricular tachycardia due to reentry circuits in the right atrium. Atrial flutter in children is rare, generally after cardiac surgery. Postoperative scar may induce atrial flutter. Case Report: A 13 year-old child with palpitations since 2 hours. History of heart surgery was denied. Electrocardiography shows wide complex tachycardia, rate 250/ minutes, regular. No response to adenosine challenge test to exclude SVT (with aberrant). Electrocardiography shows conversion to sinus rhythm and the rate gradually decreases after amiodarone bolus was given. Echocardiography featured normal heart anatomy and left ventricle global contractility decrease (ejection fraction 45%) due to tachycardia. Conclusion: Atrial flutter can be diagnosed by ECG, diagnosis, and accuracy characteristics of the circuit with EP (electrophysiology) study.
Penyuluhan Hipertensi dan Pelatihan Pemanfaatan Tanaman Obat untuk Mengontrol Tekanan Darah pada Masyarakat Nagrak dan Ciangsana Kurniasari, Kurniasari; Kalumpiu, Joice Viladelvia; Herwana, Elly; Kosasih, Adrianus
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 11 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v11i3.7296

Abstract

Hypertension is one of the non-communicable diseases with a high prevalence in Indonesia. This disease can cause various complications that lead to the death of the sufferer. Consumption of medicinal plants is one of the simple ways that ordinary people can do to control blood pressure. In this activity, counseling on hypertension and training on how to recognize and process native Indonesian medicinal plants so that they can be used to control blood pressure. Activity’s evaluation is carried out using questionnaires before (pre-test) and after (post-test) counseling and evaluation of the overall implementation. The results of the Wilcoxon signed rank test showed that the post-test results were significantly higher than the pre-test (p=0.046). After the training, participants became skilled in recognizing medicinal plants that are useful for controlling blood pressure as well as understanding how to process medicinal plant parts and the amount that must be consumed.
PENYULUHAN PENTINGNYA VITAMIN D DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG KEPADA PETUGAS PPSU DI KELURAHAN RAWA BUAYA, JAKARTA BARAT Wartono, Magdalena; Mediana, Dian; Samara, Tjam Diana; Kosasih, Adrianus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i1.21696

Abstract

Penyakit kardiovaskular terutama stroke dan kedua penyakit jantung koroner merupakan 37% penyebab kematian di Indonesia. Diketahui bahwa vitamin D memiliki pengaruh protektif terhadap sistem kardiovaskular. Defisiensi vitamin D terjadi pada hampir seluruh populasi di negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia, defisiensi berhubungan dengan diet makanan sumber vitamin D yang kurang dan perilaku berpakaian tertutup. Minimnya paparan kulit terhadap sinar matahari menyebabkan penyerapan ultraviolet untuk mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif akan berkurang. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Jakarta yang bekerja hampir sepanjang hari di luar ruangan belum terjamin memiliki kadar vitamin D yang cukup. Tujuan PkM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya vitamin D dalam kaitannya untuk pencegahan penyakit jantung koroner. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan yang disajikan dalam bentuk power point dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Peserta diberikan soal pre-test dan post-test guna mengukur keberhasilan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan kepada 80 orang petugas PPSU Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat pada 18 Oktober 2024. Hasilnya didapatkan peningkatan pengetahuan mengenai manfaat vitamin D dan pencegahan penyakit jantung koroner sebesar 17.67%. Kesimpulannya pengetahuan petugas PPSU Kelurahan Rawa Buaya akan manfaat vitamin D dan pencegahan penyakit jantung koroner telah meningkat.
PENYULUHAN: PENGENALAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENCEGAHANNYA Samara, Tjam Diana; Wartono, Magdalena; Mediana, Dian; Kosasih, Adrianus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i2.22889

Abstract

Kebersihan jalan raya tidak bisa dilepaskan dari petugas yang membersihkan. Jenis pekerjaan tersebut tidak terlepas dari risiko berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat pekerjaan tersebut. Salah satu penyakit yang dimaksud adalah penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi penyebab tertinggi penyebab kematian di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pemahaman tentang faktor-faktor yang menyebabkan PJK bagi petugas pembersih sarana umum (PPSU) dalam hal ini penyapu jalan agar dapat mencegah timbulnya penyakit tersebut. Saat penyuluhan peserta diberikan pretest, dilanjutkan pemberian materi penyuluhan, dan diikuti dengan tanya jawab dan posttest. Hasil yang didapatkan adalah terjadi kenaikan pemahamana sebanyak 37.5%. Masih pelru dilakukan tindak lanjut penyluhan berikutnya agar peserta dapat lebih memahami bagaimana memelihara kesehatannya terkait sistem kardiovaskular
PENYULUHAN DAN PELATIHAN POSISI KERJA ERGONOMIS BAGI PEKERJA PPSU DI DKI JAKARTA Sidarta, Nuryani; Kosasih, Adrianus; Setiawati, Lenny; Salma, Nabila Maudy
Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v6i2.22439

Abstract

Latar Belakang: Petugas PPSU memiliki peranan penting dalam memelihara prasarana dan sarana umum. Namun, pekerjaan mereka memiliki risiko yang tinggi. Cedera repetitif muskuloskeletal dapat berkembang hingga berakibat fatal. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan para petugas PPSU akan berbagai posisi tubuh ergonomis dalam bekerja. Melalui peningkatan pengetahuan dan penerapan posisi ergonomis ini petugas PPSU diharapkan dapat meminimalisir risiko cedera muskuloskeletal sehingga dapat meningkatkan performa muskuloskeletal dan performa kerjanya. Metode: PkM dilakukan pada petugas PPSU di kelurahan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Pelaksanaan PkM diawali dengan observasi kebutuhanpelatihan petugas PPSU. Pada hari pelaksanaan, petugas PPSU diberikan penyuluhan tentang posisi ergonomis dan pelatihan mengenai cara menerapkan posisi ergonomis tersebut. Pengukuran keberhasilan PkM dilakukan dengan menilai ada tidaknya peningkatan pemahaman serta kemampuan peserta melalui pretest dan posttest. Hasil: Dari hasil penilaian tersebut didapatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi ada pada kelompok dengan tingkat pendidikan SMA. Hasil rata-rata pre-test adalah sebesar 66 dan nilai rata-rata  post-test sebesar 84. Secara keseluruhan, terjadi peningkatan nilai pre-test  dan  post-test sebesar 26,72%. Kesimpulan: Penyuluhan dan pelatihan posisi kerja ergonomis pada petugas PPSU ini telah berhasil meningkatkan pengetahuan petugas PPSU akan pentingnya posisi ergonomis dan cara menerapkan posisi tersebut dalam pekerjaannya sehari-hari.
Penyuluhan Hipertensi dan Pelatihan Pemanfaatan Tanaman Obat untuk Mengontrol Tekanan Darah pada Masyarakat Nagrak dan Ciangsana Kurniasari, Kurniasari; Kalumpiu, Joice Viladelvia; Herwana, Elly; Kosasih, Adrianus
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 11 No 3 (2024): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v11i3.7296

Abstract

Hypertension is one of the non-communicable diseases with a high prevalence in Indonesia. This disease can cause various complications that lead to the death of the sufferer. Consumption of medicinal plants is one of the simple ways that ordinary people can do to control blood pressure. In this activity, counseling on hypertension and training on how to recognize and process native Indonesian medicinal plants so that they can be used to control blood pressure. Activity’s evaluation is carried out using questionnaires before (pre-test) and after (post-test) counseling and evaluation of the overall implementation. The results of the Wilcoxon signed rank test showed that the post-test results were significantly higher than the pre-test (p=0.046). After the training, participants became skilled in recognizing medicinal plants that are useful for controlling blood pressure as well as understanding how to process medicinal plant parts and the amount that must be consumed.
Korelasi antara Profil Metabolik Laboratorium dan Tekanan Darah Samara, Diana; Wartono, Magdalena; Kosasih, Adrianus
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2024.v7.61-70

Abstract

Background High blood glucose and cholesterol are risk factors for hypertension. This study aims to determine the correlation between blood glucose and cholesterol levels with blood pressure in the normal blood pressure (NBP), controlled hypertension (CHT), and uncontrolled hypertension groups (UHT). Methods The study used a cross-sectional design with analytic observations on subjects aged 36 years or older. Ninety-five subjects were divided into three groups: NBP, CHT, and UHT. Subjects were men and women, without chronic heart failure or chronic renal failure. Samples were taken by consecutive random sampling. Blood pressure, body mass index, random BG, and lipid profile (triglycerides, HDL, LDL, total cholesterol) were measured. Statistical test using Spearman correlation test with p-value <0.05 significantly. Results There were 95 subjects with a range age of 36-81 years old. There were 30 NBP subjects, 34 CHT subjects, and 31 UHT subjects. There was a weak positive correlation between HDL level and diastolic BP in the NBP group (r=0.391;p=0.032). There was no correlation between blood glucose and other lipid profiles with BP in the three groups. Conclusions The increase in HDL is accompanied by an increase in diastolic blood pressure in NT but not with random blood sugar and other lipid profiles in all three blood pressure groups.
PENYULUHAN TENTANG PENGENALAN SINDROMA METABOLIK DAN CARA MENGATASINYA Samara, Tjam Diana; Sidarta, Nuryani; Setiawati, Lenny; Kosasih, Adrianus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v3i1.24820

Abstract

Sindroma metabolik adalah sekelompok gangguan kesehatan yang terjadi bersamaan. Sindrom aini dapat meningkatkan risiko terjadi penyakit jantung koroner, serangan jantung, diabetes tipe 2. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan terdahap sindroma metabolik antara lain menerapkan pola makan yang baik, aktivitas fisik setidaknya 150 menit aktivitas sedang per minggu, dan menurunkan berat badan. Selain itu perlu dilakukan manajemen stres, berhenti merokok, dan cukup tidur yang berkualitas. Bila telah dilakukan hal-hal tersebut tidak juga mengurangi sindroma metabolik, maka perlu penanganan lebih lanjut oleh ahlinya. Masih banyak warga di Kelurahan Tomang yang belum memahami apa itu sindroma metabolik sehingga tidak mengetahui bahaya terhadap kesehatannya dan bagaimana mengatasinya. Oleh karena itu dirasakan perlu untuk dilakukan penyuluhan tentang sindroma meyabolik dan apa yang perlu dilakukan untukl mengurangi kejadian sindrom ametabolik. Kegiatan PKM ini disambut baik oleh warga Kelurahan Tomang. Warga mendapatkan pengetahuan tentang sindroma metabolik dan dapat memahami bagaimana cara mencegahnya.  Hal sederhana yang dapat dilakukan oleh warga dalam mencegah sindroma metabolik antara lain mengurangi makanan dan minuman manis dan sejenisnya, membatasi makanan tinggi lemak dan tinggi garam, memperbanyak sayuran dan buah-buahan segar serta protein tanpa lemak dan biji-bijian.
Relationship between Serum 25-Hydroxyvitamin D Levels and Cardiovascular Disease Risk among Road Sanitations Workers Wartono, Magdalena; Samara, Tjam Diana; Kosasih, Adrianus; Mediana, Dian
Althea Medical Journal Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v13n1.4570

Abstract

Background: Road sanitation workers are frequently exposed to sunlight during outdoor work, which may influence vitamin D status. Although several studies suggest that outdoor workers have a lower risk of vitamin D deficiency than indoor workers, evidence regarding the association between 25-hydroxy vitamin D [25-(OH)D] levels and cardiovascular disease (CVD) risk among sanitation workers remains limited. This study aimed to examine the relationship between serum 25(OH)D levels and CVD risk among road sanitation workers. Methods: This analytical cross-sectional study included 105 road sanitation workers in West Cengkareng District, Jakarta, Indonesia selected using consecutive random. The 10-year cardiovascular risk was calculated using the World Health Organization/International Society of Hypertension (WHO/ISH) risk charts. Serum 25-(OH)D levels were measured from peripheral venous blood samples. Data were analyzed using the chi-Square test and Fisher's exact test, with statistical significance defined as p<0.05.Results: Vitamin D deficiency was observed in 59.05% of participants, whereas 85.7% had low-to-moderate CVD risk.  No significant association was found between 25(OH)D levels and CVD risk (p=0.582). However, significant associations were identified between age (p=0.001), body mass index (p=0.003), blood pressure (p=0.037), smoking status (p=0.037) and cardiovascular disease risk.Conclusions: Vitamin D deficiency is not associated with increased CVD risk among road sanitation workers. However, regular monitoring of vitamin D status may support occupational health and overall well-being.