Erwin G. Kristanto
Department of Forensic and Medicolegal Science, Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi, Manado

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : e-CliniC

POLA LUKA PADA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN DI RS BHAYANGKARA MANADO PERIODE 2013 Molenaar, Emmanuela R.; Mallo, Nola T. S.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8382

Abstract

Abstract: Violence in a family shows a tendency to increase every year. Studies from other countries showed that the occurance of this violance was about 15-17%. Most of the victims are adult females and the culprits are mostly the husbands. There are several methods needed to detect such cases. Doctors and their medical staff must have the ability to identify the condition of the victim inlcuding psychological and physical condition as well as the types of wounds. Theis study aimed to obtain the pattern of wound types in female victims related to violence in family. This was a retrospective and descriptive study using reports of visum et repertum of Bhayangkara Hospital Manado as the secondary data. The results showed that of the 43 cases, the majority belonged to the group of age 31-32 years old (10 people), physical type of violance (93%), bruise as the type of wound (70%), and located at the forehead and the back part of the head (18.60%).Keywords: Violence, family, type of injuryAbstrak: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu kasus yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Studi dari berbagai negara menunjukkan angka kejadian KDRT berkisar antara 15-71%. Sebagian besar korban KDRT ialah perempuan dewasa dan pelaku biasanya ialah suami. Dalam pengungkapan kasus KDRT diperlukan metode-metode tertentu dari dokter atau tenaga kesehatan untuk mendektesinya. Dokter atau tenaga medis harus mampu mengetahui keadaan psikologis dan fisik, serta pola luka/cedera yang dialami korban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan meningkatkan kemampuan deteksi kasus KDRT terhadap perempuan bagi para dokter melalui pola luka. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari hasil visum dan dilaporkan menurut distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 43 kasus KDRT terhadap perempuan terbanyak ialah kelompok umur 31-32 tahun (10 orang), jenis kekerasan fisik (93%), jenis cedera memar (70%), letak cdera daerah sekitar dahi dan kepala bagian belakang (18,60%).Kata kunci: kekerasan dalam rumah tangga, pola cedera
Keragaman Kasus Forensik Klinik di RS Bhayangkara Tingkat III Manado dari Sudut Pandang SKDI 2012 Periode Juli 2015-Juni 2016 Lumente, Magdalya A.; Kristanto, Erwin G.; Siwu, James F.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.14780

Abstract

Abstract: Forensic clinic is a part of medical forensics which includes examination of living victim. The knowledge and skill of a doctor are needed in case of assisting the investigators and public prosecutors in proving of a criminal act. General practitioners are required to mastering all competence levels based on the National Standard Competency of Indonesian Medical Doctors 2012 (SKDI 2012). This study was aimed to obtain all kinds of forensics clinic cases at Bhayangkara Level III Hospital Manado from July 2015 to June 2016. This was a descriprive retrospective study using data obtained from the police inquest papers, visum et repertum, and medical records. The results showed that there were 38% of cases, that fulfilled the Standard Competence of General Practitioner. Conclusion: In this study, the majority of cases were blunt violent cases. It is suggested that Bhayangkara Level III Hospital Manado become a partnership of hospital education for future doctors.Keywords: forensic clinic, doctor competence, SKDI 2012 Abstrak: Forensik klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup pemeriksaan pada korban hidup. Ilmu pengetahuan dan keterampilan seorang dokter dibutuhkan dalam membantu tugas penyidik dan penuntut umum dalam pembuktian tindak pidana. Dokter umum diwajibkan menguasai semua tingkat kompetensi yang ada di dalam buku Standar Kompetesi Dokter Indonesia 2012. Penelitian ini merujuk pada RS Bhayangkara Tingkat III Manado dengan tujuan untuk mengetahui keragaman kasus Forensik Klinik di RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Juli 2015-Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Sumber data penelitian didapatkan dari surat permintaan visum, visum et repertum, dan rekam medis. Hasil penelitian mendapatkan 38% kasus yang mencukupi standar kompetensi dokter umum. Simpulan: Majoritas kasus dalam studi ini ialah kekerasan tumpul. Disarankan RS Bhayangkara Tingkat III Manado dipertimbangkan sebagai kepaniteraan rumah sakit pendidikan bagi dokter muda.Kata kunci: forensik klinik, kompetensi dokter, SKDI 2012
Pengaruh Kadar Hemoglobin Terhadap Lebam Mayat (Livor Mortis) Umboh, Reynaldo B.; Mallo, Nola T. S.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10987

Abstract

Abstact: Death can be identified by using advanced signs of death as follows: postmortem lividity (livor mortis), rigor mortis, decomposition, mummification, and adipocere. Postmortem lividity occurs right after clinical signs of death. Erythrocytes will accumulate to the lowest area of the body due to gravity, fill the veins and venules, and then form reddish purple spots called lividity. This study aimed to find the effect of hemoglobin level on colors indicating postmortem lividity and the time when the lividity vanishes due to pressure. This study used a cross-sectional design and was carried out at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from October to December 2015. In this study, pressure was given to the livor mortis of the deceased patients. Hemoglobin levels were obtained from the medical records. The results showed that there was a statistically significant effect of hemoglobin levels on the vanishing time of livor mortis (p<0.05, p=0.040), meanwhile there was no significant effect of hemoglobin levels on the colors indicating livor mortis (constant). Additional samples with more accurate instrument for measuring the differences in colors and periodical documentation with videos are recommended for further studies. Keywords: hemoglobin postmortem lividity (livor mortis) Abstrak: Kematian dapat dikenal pada seseorang melalui adanya tanda-tanda kematian lanjut berupa lebam mayat, kaku mayat, pembusukan, mumifikasi dan adiposera. Lebam mayat (livor mortis) terjadi setelah kematian klinis. Eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kadar hemoglobin terhadap warna lebam mayat dan hilangnya (detik) ketika diberi penekanan. Jenis penelitian potong lintang. Penelitian dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan Oktober – Desember 2015 dengan mengamati dan menekan lebam mayat pasien meninggal. Data rekam medis pasien ditelusuri untuk melihat kadar hemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh kadar hemoglobin terhadap hilangnya lebam mayat pada penekanan (p<0,05 atau p=0,040) dan tidak ada pengaruh kadar hemoglobin terhadap warna lebam mayat (livor mortis) = konstan. Disarankan untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan sampel yang lebih banyak dengan penggunaan alat ukur warna maupun alat ukur untuk melakukan penekanan serta melakukan dokumentasi foto ataupun video secara berkala.Kata kunci: hemoglobin, lebam mayat (livor mortis)
Pola Kekerasan Senjata Api di Sulawesi Utara Periode 2012-2017 Djaafara, Fauziyyah N.S.E; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18456

Abstract

Abstract: Injuries and deaths resulted from firearm violence are global public health issues. In Indonesia, many firearm violence cases are reported in areas with frequent conflicts. In North Sulawesi, especially in Manado City, reports of firearm violence have not been well documented. This study was aimed to determine the firearm violence pattern in North Sulawesi in the period of 2012-2017. This was andescriptive retrospective study. Data of gunshot wounds in North Sulawesi in the period of January 2012-July 2017 were obtained from visum et repertum of gunshot wound in death cases at the Department of Forensic and Medicolegal Prof. R. D. Kandou Hospital, medical records of patients in the Department of Surgery Prof. R. D. Kandou Hospital, and the Criminal Investigation Department of North Sulawesi Regional Police. There were 14 cases of gunshot wounds. All of the cases were males and dominated by productive age group. The highest number of gunshot cases occurred in Manado. From the visum et repertum and examinations, it was found that all cases had an entrance gunshot wound. Conclusion: In North Sulawesi, gunshot cases were found in males, most were in productive age, and had entrance gunshot wound.Keywords: firearms, gunshot wounds, North Sulawesi Abstrak: Cedera dan kematian akibat kekerasan senjata api menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat secara global. Di Indonesia, kasus kekerasan senjata api banyak dilaporkan di daerah yang sering mengalami konflik. Di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado laporan mengenai angka kejadian kekerasan senjata api belum tercatat dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola kekerasan senjata api di Sulawesi Utara pada periode 2012-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Dari hasil pengumpulan data kasus luka tembak di Sulawesi Utara kurun waktu tersebut melalui penelusuran hasil visum et repertum pada kematian akibat luka tembak di Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D Kandou, rekam medik pasien di Bagian Ilmu Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, dan Bagian Reserse Kriminal Umum (Bareskrimum) Kepolisian Daerah Sulawesi Utara tercatat 14 kasus luka tembak yang terjadi di Sulawesi Utara. Secara keseluruhan kasus luka tembak terjadi pada laki-laki dan didominasi oleh kelompok usia produktif. Kasus penembakan terbanyak terjadi di Kota Manado. Dari hasil pemeriksaan dan visum et repertum, didapatkan hasil bahwa seluruh kasus merupakan gambaran luka tembak masuk. Simpulan: Di Sulawesi Utara, kasus luka tembak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki, umumnya usia produktif, dengan luka tembak masuk.Kata kunci: senjata api, luka tembak, Sulawesi Utara
Motilitas spermatozoa pasca ejakulasi terkait kepentingan forensik pasca tindak kekerasan seksual Rondonuwu, Hermanus; Mallo, Johannis F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12116

Abstract

Abstract: The increasing number of sexual violence against women results in increasing number of requests from victims to prove that the sexual violence had occured. One of the examinations that is commonly used is sperm motility. This study aimed to determine the duration of spermatozoa motility post-ejaculation related to forensic importance. The results showed that there were as many as 30 samples of sperm after ejaculation. Microscopically, at the third hour it was clearly observed that half of the samples (50%) did not show any motility at room temperature. At the fourth hour, only 13% of samples (4 out of 30 samples) still showed spermatozoa motility. At the fifth till the eight hours all sperm samples did not show any spermatozoa motility. Conclusion: About 50% of spermatozoa could maintain their motility until 3 hours and a small part of them still showed motility until 4 hours at room temperature.Keywords: sperm motility, post ejaculation, sexual violence, forensic analysis. Abstrak: Semakin maraknya jumlah kekerasan seksual yang terjadi terhadap wanita maka semakin bertambah pula jumlah permintaan dari para korban untuk melakukan pemeriksaan guna membuktikan bahwa benar telah terjadinya kekerasan seksual. Salah satu jenis pemeriksaan yang sering digunakan ialah pemeriksaan motilitas spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya motilitas spermatozoa pasca ejakulasi terkait kepentingan analisis forensik. Hasil penelitian melibatkan 30 sampel sperma pasca ejakulasi. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa pada jam ke-3 sangat jelas terlihat setengah (50%) dari sampel yang ada sudah tidak menunjukkan kemampuan motilitas lagi dalam suhu kamar. Pada jam ke-4 jumlah sampel sperma yang masih motil hanya tersisa 13% (4 dari 30 sampel), sedangkan pada jam ke-5 hingga jam ke-8, keseluruhan sampel sperma sudah tidak motil lagi. Simpulan: Sekitar 50% spermatozoa mampu mempertahankan motilitas selama 3 jam, dan hanya sebagian kecil spermatozoa yang mampu mempertahankan motilitasnya maksimal selama 4 jam dalam suhu kamar. Kata kunci: motilitas spermatozoa, pasca ejakulasi, kekerasan seksual
Gambaran kasus asfiksia mekanik di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou periode tahun 2010 -2015 Robi, Marisna; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14348

Abstract

Abstract: Asphyxia is a condition characterized by the disturbance of gas exchange in the respiratory tract resulted in reduced oxygen accompanied by increased carbon dioxide in the blood. Mechanical asphyxia is suffocation that occurs when the airway was obstructed by various circumstances (which are mechanical), as follows: choking, smothering, strangulation by ligature, manual strangulation, and hanging. This study was aimed to obtain the profile of mechanical asphyxia cases at Forensic Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital period 2010-2015. This was a descriptive retrospective study. The results of the external examination and autopsy showed that there were 22 cases of death due to mechanical asphyxia. The highest percentage of asphyxia cases was in 2011 as many as 8 cases (36.5%). Most cases were in the age group of 17-25 years old (7 cases; 31.8%). Males (12 cases; 54.5%) were slightly more frequent than females (10 cases; 45.5%). The most cases of mechanical asphyxia were hanging (15 cases; 68.2%). The most common sign of asphyxia was congestion of the organs (19 cases; 86.4%).Keywords: asphyxia, mechanical asphyxia, forensic Abstrak: Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara dalam saluran pernapasan yang berakibat menurunnya oksigen dalam darah berkurang disertai dengan meningkatnya karbon dioksida. Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan terhalang memasuki saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan (bersifat mekanik), yaitu pembekapan, penyumpalan, jeratan, cekikan dan gantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus asfiksia mekanik di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode tahun 2010-2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil pemeriksaan luar dan autopsi. Hasil penelitian mendapatkan 22 kasus kematian akibat asfiksia mekanik. Kasus terbanyak pada tahun 2011 yaitu 8 kasus (36,5%). Kelompok usia terbanyak ialah 17-25 tahun dengan 7 kasus (31,8%). Jenis kelamin laki-laki sedikit lebih banyak yaitu 12 kasus (54,5%) dibandingkan perempuan yaitu 10 kasus (45,5%). Kasus asfiksia mekanik tersering ialah gantung dengan jumlah 15 kasus (68,2%). Tanda asfiksia yang sering ditemukan ialah pembendungan organ dalam yaitu 19 kasus (86,4%). Kata kunci: asfiksia, asfiksia mekanik, forensik
Hubungan tinggi kepala dengan tinggi badan untuk identifikasi forensik Poluan, Beatrice; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12110

Abstract

Abstract: Forensic identification is a method to provide assistance for investigators in fulfilling visum et repertum requests and to identify death bodies. Forensic anthropology assists the process of visum et repertum. Forensic anthropology is the application of physical anthropology science inter alia by using anthropometry; certain body parts are measured. Body height is one of the major point in identification and in forensic anthropology, body height is one of the main biological profiles. Head height can be used to determine body height because there is a significant correlation between these two biological profiles. This study aimed to obtain the relationship between head height and body height. This was an analytical study with a cross sectional design. Subjects were students of batch 2012 of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado, aged 21-22 years. The results showed a positive correlation r= 0.691 with a probablity value of 0.000. Conclusion: There was a significant correlation between head height and body height. Keywords: forensic identification, forensic anthropology, anthropometry. Abstrak: Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik dalam memenuhi permintaan visum et repertum untuk menentukan identitas seseorang. Antropologi forensik merupakan penerapan ilmu antropologi fisik dengan menggunakan antropometri yaitu salah satu metode pengukuran bagian tubuh. Tinggi badan merupakan salah satu ciri utama untuk proses identifikasi. Dalam antropologi forensik, tinggi badan merupakan salah satu profil biologis utama. Bagian tubuh yang dapat diukur untuk menentukan tinggi badan ialah antara lain tinggi kepala karena terdapat hubungan yang kuat antara keduanya. Tinggi badan dan tinggi kepala berbanding lurus karena setiap terjadi pertambahan tinggi badan, tinggi kepala juga bertambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tinggi kepala dan tinggi badan. Jenis penelitian ini analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian ialah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado angkatan 2012 yang berusia 21-22 tahun. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat korelasi positif yang signifikan antara tinggi kepala dan tinggi badan dengan nilai koefisien r = 0,691, dan nilai probabilitas 0,000. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tinggi kepala dan tinggi badan.Kata kunci: identifikasi forensik, antropologi forensik, antropometri
Gambaran Kasus Kematian dengan Asfiksia di Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado Periode 2013 - 2017 Kurniany, Nikita E.; Mallo, Johannis F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18460

Abstract

Abstract: Asphyxia was a condition cause by lack of oxygen and excess of carbon dioxide in the blood. There are three types of asphyxia: mechanical, non-mechanical, and pathologic asphyxia. This study was aimed to obtain the general description of death cases due to asphyxia in Manado North Sulawesi in the period 2013-2017. This was a descriptive retrospective study using the medical record of cases at Forensic and Medicolegal Department of Prof. Dr. R. D. Kandou. The results of visum et repertum showed that there were 26 death cases due to asphyxia. Most cases were in 2016 (10 cases, 38.5%). The most common cases were in age group of 17-25 years old (7 cases, 27%). Males (17 cases, 65%) were more frequent than females. Death due to mechanical asphyxia caused by drowning was the most common cases (11 cases; 42.3%). The most common sign of asphyxia was cyanosis (21 cases). Conclusion: Majority of the death cases due to asphyxia were males, age group 17-25 years, with mechanical asphyxia caused by drowning and cyanosis as the asphyxia sign.Keywords: asphyxia, mechanical asphyxia, non-mechanical asphyxia, pathology asphyxia, forensic Abstrak: Asfiksia adalah suatu kondisi yang disebabkan karena berkurangnya oksigen dan berlebihnya karbon dioksida dalam darah. Asfiksia terdiri dari tiga jenis klasifikasi yaitu asfiksia mekanik, non-mekanik, dan patologik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang kasus kematian dengan asfiksia di Manado Sulawesi Utara periode 2013-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil visum et repertum. Hasil penelitian mendapatkan 26 kasus kematian dengan asfiksia. Kasus terbanyak pada tahun 2016 yaitu 10 kasus (38,5%). Kelompok usia terbanyak ialah 17-25 tahun sebanyak 7 kasus (27%). Jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan yaitu 17 kasus (65%). Kematian akibat asfiksia mekanik dengan jenis tenggelam merupakan kasus terbanyak yaitu 11 kasus (42,3%). Tanda asfiksia yang sering ditemukan ialah sianosis (21 kasus). Simpulan: Sebagian besar kasus kematian akibat asfiksia berjenis kelamin laki-laki, kelompok usia 17-25 tahun, dengan jenis asfiksia mekanik akibat tenggelam, dan sianosis sebagai tanda asfiksia.Kata kunci : asfiksia, asfiksia mekanik, asfiksia non-mekanik, asfiksia patologi, forensik
Keragaman kasus patologi forensik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari sudut pandang SKDI 2012 periode Juli 2015-Juni 2016 Tololiu, Charity C.; Kristanto, Erwin G.; Mallo, Nolla T.S.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14347

Abstract

Abstract: Forensic pathology is a study that focuses on determination of death causes by examining the corpse, especially for investigation of criminal cases and civil law cases. Knowledge and skills are needed for a doctor to get an accurate result of examination. Therefore, the general practicioners are required to master all the level of competence by the National Standard Competencies of Indonesian Medical Doctors 2012 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia/SKDI). This study refered to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital as the main educational hospital for Medical Faculty of Sam Ratulangi University and also a tertiary health facility. This study was aimed to determine the diversity of cases in the Department of Forensic Pathology at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from the viewpoint of National Standard Competencies of Indonesian Medical Doctors 2012 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia/SKDI). This was a descriptive retrospective study. The result showed that the diversity of cases at Department of Pathology Forensic was 78% which was sufficient for standard competency requirements. Conclusion: Overall, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital is still eligible as the main educational hospital of Medical Faculty of Sam Ratulangi University. It is suggested to prolong the period of study in Forensic Department to increase the number of cases as well as to support the study with medical videos in order to increase the knowledge about the level 2 – competency cases.Keywords: forensic pathology, physician competence, SKDI 2012 Abstrak: Patologi Forensik adalah ilmu yang berkaitan dengan penentuan penyebab kematian melalui pemeriksaan pada jenazah, dilakukan terutama untuk membantu investigasi kasus kejahatan atau kasus perdata. Ilmu dan ketrampilan seorang dokter dibutuhkan agar hasil pemeriksaan akurat. Dokter umum diwajibkan menguasai seluruh tingkat kompetensi dalam buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Penelitian merujuk pada RSUP Prof. Dr. R. D Kandou sebab rumah sakit tersebut merupakan faskes tersier yang juga merupakan rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran UNSRAT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman kasus Patologi Forensik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari sudut pandang SKDI 2012 periode Juli 2015 – Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 78% keragaman kasus di bagian Forensik mencukupi untuk kebutuhan standar akreditasi. Simpulan: Secara keseluruhan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou masih layak sebagai rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Disarankan memperpanjang masa studi di Bagian Forensik agar dapat meningkatkan jumlah kasus dan pembelajaran dengan video medis dalam meningkatkan pengetahuan tentang kasus yang memiliki tingkat kompetensi 2. Kata kunci: patologi forensik, kompetensi dokter, SKDI 2012
Gambaran Kasus Kejahatan Kekerasan Seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2017-Desember 2019 Latjengke, Aditya P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30181

Abstract

Abstract: Rape or sexual violence is very prominent in this globalization era. This sudy was aimed to obtained the profile of sexual violence crimes in Forensic Department of RS Bhayangkara Tingkat III in the period of January 2017 to December 2019. This was a retrospective and descriptive study using visum et repertum. Data were presented in tables of frequency distribution. There were 305 cases of sexual violence crimes in this study; 152 cases were 12-16 years (teenagers). Most victims were females (304 cases); had occupation/education as students (184 cases); and lived in Manado (169 cases). Perpetrators of sexual violence crimes were friends of the victims (108 cases). In conclusion, the majority of sexual violence victims were 12-16 years old (teenagers), females, had occupation/education as students, and lived in Manado. Most perpetrators were friends of the victims.Keywords: sexual violence crimes, victims, perpetrators Abstrak: Fenomena kejahatan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada era globalisasi saat ini sangat menonjol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kasus kejahatan kekerasan seksual di Bagian Forensik RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2017-Desember 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan hasil visum dan dilaporkan menurut distribusi frekuensi. Hasil penelitian mendapatkan 305 kasus kejahatan kekerasan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual berusia 12-16 tahun (masa remaja awal) yaitu 152 kasus. Jenis kelamin korban yang terbanyak ialah perempuan yaitu 304 kasus. Pekerjaan/pendidikan korban ialah pelajar sebanyak 184 kasus. Alamat korban terbanyak berada di Kota Manado yaitu 169 kasus. Pelaku kejahatan kekerasan seksual yang terbanyak ialah teman korban yaitu 108 kasus. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas korban kasus kekerasan seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado berusia 12-16 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan/pendidikan sebagai pelajar dengan alamat di Kota Manado. Pelaku kekerasan seksual terbanyak ialah teman korban.Kata kunci: kejahatan kekerasan seksual, korban, pelaku