Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH BRACING PADA BANGUNAN BERTINGKAT RANGKA BAJA YANG BERDIRI DI ATAS TANAH MIRING TERHADAP GEMPA Rienanda, Farren Evangelistha; Kumaat, Ellen J.; Windah, Reky S.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 6 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom pada bagian bawah struktur bangunan yang menopang bangunan pada tanah miring memiliki ketinggian yang berbeda. Kerusakan sering ditemui pada kolom pendek. Hal itu disebabkan adanya selisih yang besar dalam distribusi gaya untuk kolom pendek dan kolom panjang. Distribusi gaya dengan selisih yang besar tersebut menyebabkan struktur tidak stabil saat menerima beban sehingga perlu dihindari. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengkombinasikan struktur dengan bracing (elemen pengaku portal). Penelitian dilakukan dengan pemodelan struktur bangunan rangka baja yang terdiri dari 10 lantai yang berdiri di atas tanah dengan kemiringan 12,5  dan dilakukan variasi penempatan bracing yang akan ditempatkan bertahap dari lantai dasar sampai lantai 9 sisi luar struktur. Analisis dilakukan dengan alat bantu ETABS 2016. Respons struktur yang ditinjau adalah simpangan struktur, gaya geser dasar dan gaya geser pada kolom tingkat pertama struktur.Hasil analisis menunjukkan bahwa pemodelan struktur bangunan yang berdiri di atas tanah miring dengan pemasangan bracing pada lantai dasar (Model B) menghasilkan gaya geser pada kolom pendek paling kecil jika dibandingkan dengan pemodelan lainnya. Respons struktur yang dihasilkan oleh Model B seperti periode struktur, displacement dan simpangan antar tingkat juga telah memenuhi persyaratan yang ada. Kata Kunci: Bangunan Bertingkat, Baja, Tanah Miring, Bracing, Kolom Pendek
KAJIAN SIFAT MEKANIK BETON TAILING PADA PENGERJAAN BETON DALAM AIR LAUT (UNDERWATER–CAST CONCRETE) Simanjuntak, Jefri J. H.; Kumaat, Ellen J.; Sumajouw, Marthin D. J.; Dapas, Servie O.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 10 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tailing merupakan sisa dari pengolahan tambang yang tidak diperhatikan pengelolaannya oleh para penambang tanpa izin (PETI). Sehingga limbah tersebut hanya ditampung atau dialirkan ke sungai dekat lokasi penambangan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Untuk meminimalisasi dampak lingkungan dari tailing, maka dipilih tailing sebagai substitusi semen. Kandungan sifat kimia tailing berupa unsur silika yang cukup besar dapat digunakan sebagai substitusi parsial semen pada campuran beton. Untuk pengecoran dalam air masalah utama adalah terjadinya segregasi sehingga perlu perlakuan khusus antara lain dengan menambahkan zat additive Sikacrete-W yang mampu meningkatkan kohesi/daya ikat antar material penyusun beton.Dalam penelitian ini diselidiki pengaruh Sikacrete-W terhadap sifat mekanik beton tailing yaitu kuat tekan, kuat tarik belah dan kelecakan beton tailing yang dicor di dalam air, dengan kadar tailing 15%, Sikacrete-W 0%, 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, 18% dan 20% dari berat semen dan dibandingkan dengan nilai kuat tekan dan kuat tarik belah beton tailing pada kondisi normal. Komposisi campuran beton menggunakan metode ACI 211.1.91. Pengujian yang dilakukan adalah uji kuat tekan dan kuat tarik belah dengan menggunakan benda uji berbentuk silinder berukuran 10/20 cm yang dilakukan pada umur perawatan beton 7, 14 dan 28 hari, dan pengujian kuat tarik belah pada umur 28 hari. Perawatan benda uji yang dilakukan adalah perawatan basah dengan direndam dalam air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar kadar Sikacrete-W yang dipakai dalam pengecoran dalam air relatif menaikkan kuat tekan dan kuat tarik belah beton tailing, namun tidak melebihi konsentrasi optimum Sikacrete-W yaitu 16% dari berat semen. Kuat tekan beton tailing tertinggi yang dicapai pada kondisi underfreshwater-cast concrete dengan menggunakan konsentrasi Sikacrete-W optimum BTKS-16% hanya sebesar 54,96% dari kuat tekan beton tailing pada kondisi normal (non underfreshwater-cast concrete).Kata kunci: Pengecoran dalam air, beton tailing, Sikacrete-W, kuat tekan, kuat tarik belah.
PERBANDINGAN KUAT TEKAN ANTARA BETON DENGAN PERAWATAN PADA ELEVATED TEMPERATURE & PERAWATAN DENGAN CARA PERENDAMAN SERTA TANPA PERAWATAN Angjaya, Novi; Kumaat, Ellen J.; Wallah, Steenie E.; Tanudjaja, Hanock
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 3 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan beton/curing adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah kehilangan air pada beton segar dan membuat kondisi suhu didalam beton berada pada suhu tertentu segera setelah beton dicor. Salah satu cara perawatan beton yaitu dengan meningkatkan temperatur sehingga dapat mempercepat pencapaian kuat tekan beton dan mempersingkat waktu perawatan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari beberapa metode perawatan yaitu perawatan perendaman, perawatan oven 1 hari tanpa perendaman, perawatan oven 1 hari dengan perendaman, dan tanpa perawatan terhadap kuat tekan beton.Dari hasil penelitian didapatkan kuat tekan beton terhadap benda uji silinder 10/20 cm, berdasarkan 4 perilaku yang diterapkan, pada umur 3 hari perawatan oven 1 hari tanpa perendaman menghasilkan nilai kuat tekan yang paling tinggi dan pada umur 28 hari perawatan dengan perendaman menghasilkan nilai kuat tekan tertinggi.Kata kunci : perawatan, kuat tekan, perendaman, oven, beton
PENGARUH PENGGUNAAN STYROFOAM SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL AGREGAT KASAR TERHADAP NILAI KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK LENTUR BETON RINGAN Tarihoran, Eko; Kumaat, Ellen J.; Windah, Reky S.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 8, No 6 (2020): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton ringan merupakan salah satu contoh yang menunjukkan perkembangan teknologi dalam bidang konstruksi di era sekarang ini. Untuk memproduksi beton ringan pastinya memerlukan material campuran beton yang mempunyai berat jenis rendah. Styrofoam merupakan salah satu bahan yang bisa digunakan karena mempunyai berat jenis yang rendah. Penambahan Styrofoam pada campuran beton dilakukan dengan cara mensubtitusi terhadap agregat kasar dan diharapkan dapat mereduksi berat volume beton.Berdasarkan hal tersebut. dilakukan penelitian dilaboratorium yang menggunakan butiran styrofoam sebagai subtitusi parsial agregat kasar pada campuran beton sebesar 50%, 60%, dan 70% terhadap volume beton. Pengujian kuat tekan dan tarik lentur dilakukan pada umur perawatan 7, 14, dan 28 hari dimana mutu beton yang direncanakan adalah sebesar 25 MPa. Dan benda uji yang digunakan, yaitu silinder berukuran 10 x 20 (cm) dan balok berukuran 10 x 10 x 40 (cm).Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa subtitusi Styrofoam terhadap agregat kasar pada campuran beton berpengaruh pada karakteristik beton tersebut. Dimana subtitusi Styrofoam terhadap agregat kasar ini dapat mereduksi berat volume beton sebesar 26.92%. dan untuk nilai kuat tekan dan tarik lentur menunjukkan bahwa, akibat dari subtitusi Styrofoam terhadap agregat kasar dapat menyebabkan pada penurunan mutu beton.  Kata kunci: Beton Ringan, Styrofoam, Kuat Tekan, Kuat Tarik Lentur.
KEKUATAN LEKAT BETON DAN BAJA TULANGAN AKIBAT PEMANASAN Ellen Kumaat
Civil Engineering Dimension Vol. 5 No. 2 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.993 KB) | DOI: 10.9744/ced.5.2.pp. 103-108

Abstract

The combination of concrete and steel form economical and efficient composite material by means of the created cooperation through bond stress on the interface of both materials. Heating at varying temperature would result in behaviour change of the composite material, particularly regarding its bond stress performance due to the microstructure change of the concrete and steel. The uniaxial compression test indicated that the value of concrete compression strength on seven days if heated at 2000 C , 5000 C, and 8000 C temperature would decrease, varying from six to 100%, whereas the decrease of concrete compression strength on 28 days varying from ten to 90%. At 2000 C heating, the decrease of bond stress between steel and concrete on 28 days was approximately 30%. Heating at a higher temperature or at 5000 C would lead to 40% to 77% decrease. The decrease of concrete compression and that of bond stress due to heating was presented by a non-linear curve showing that there was a positive correlation between the two characteristics. Abstract in Bahasa Indonesia : Perpaduan antara material beton dan baja tulangan akan membentuk material komposit yang ekonomis serta efisien lewat hasil kerjasama yang tercipta melalui kekuatan lekat pada interface kedua material tersebut. Pemanasan dengan temperatur yang bervariasi akan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku material komposit tersebut, khususnya menyangkut kinerja kekuatan lekatnya akibat perubahan mikrostruktur pada material beton dan material baja tulangan. Dari hasil uji tekan uniaksial diperoleh nilai kuat tekan beton umur tujuh hari yang bila dipanaskan dengan temperatur 200oC, 500oC dan 800oC akan mengalami penurunan yang bervariasi antara enam hingga 100%, sedangkan penurunan kuat tekan beton pada umur 28 hari berkisar antara sepuluh hingga 90%. Pada tingkat pemanasan dengan temperatur 200oC, penurunan kekuatan lekat antara baja tulangan dan beton umur 28 hari adalah sekitar 30%, serta untuk pemanasan dengan temperatur yang lebih besar atau sama dengan 500oC akan terjadi penurunan sebesar 40% hingga 77%. Penurunan kuat tekan beton dan penurunan kekuatan lekat beton dengan baja tulangan akibat pemanasan dipresentasikan oleh kurva tidak linier serta menunjukkan adanya korelasi positif antara kedua karakteristik tersebu
Small-Scale Biogas Reactors Converting Organic Waste to Energy and Ferlilizer: A Case Study of Sam Ratulangi University Green Campus Project Kumaat, Ellen J.; Manembu, Indry S.; Mambu, Susan M.; Mangindaan, Glanny M. C.
Journal of Sustainability Perspectives Vol 2: Special Issue 2022
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.003 KB) | DOI: 10.14710/baf.%v.%i.%Y.40-47

Abstract

Organic Waste Management (OWM) has been a major problem worldwide in most of the cities among developing countries such as Indonesia. Sam Ratulangi University (UNSRAT) is located in the rural setting of the medium city of Manado, North Sulawesi, Indonesia, was committed to achieving minimum waste across all campus locations, by averting some waste through reduced consumption and diverting the rest through recycling, composting, or reusing. A large amount of yard waste such as grass, leaves, and branches is produced on campus in UNSRAT, which is a problem that needs to be effectively solved. Composting is a sustainable OWM practice that converts organic waste into valuable products such as liquid organic fertilizer and biogas. OWM and bioenergy production are complementary to each other, because the application of compost back into the soil can contribute to sustainable soil health, and biogas is the principal renewable energy source that manages potentially harmful organic wastes. Thus, in the present article, recycling of organic waste has recently become an important topic and the intensification of organic waste conversion strategies was elaborated and analyzed frequently. The result indicated that creating a small-scale biogas reactor is more cost-effective, eco-friendly, and presents a sustainable waste treatment method within UNSRAT campus into valuable products that promote the university as a green campus. Keyword: bioenergy; biogas reactor; organic waste; organic liquid fertilizer
Small-Scale Biogas Reactors Converting Organic Waste to Energy and Ferlilizer: A Case Study of Sam Ratulangi University Green Campus Project Kumaat, Ellen J.; Manembu, Indry S.; Mambu, Susan M.; Mangindaan, Glanny M. C.
Journal of Sustainability Perspectives Vol 2: Special Issue 2022
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.003 KB) | DOI: 10.14710/baf.%v.%i.%Y.40-47

Abstract

Organic Waste Management (OWM) has been a major problem worldwide in most of the cities among developing countries such as Indonesia. Sam Ratulangi University (UNSRAT) is located in the rural setting of the medium city of Manado, North Sulawesi, Indonesia, was committed to achieving minimum waste across all campus locations, by averting some waste through reduced consumption and diverting the rest through recycling, composting, or reusing. A large amount of yard waste such as grass, leaves, and branches is produced on campus in UNSRAT, which is a problem that needs to be effectively solved. Composting is a sustainable OWM practice that converts organic waste into valuable products such as liquid organic fertilizer and biogas. OWM and bioenergy production are complementary to each other, because the application of compost back into the soil can contribute to sustainable soil health, and biogas is the principal renewable energy source that manages potentially harmful organic wastes. Thus, in the present article, recycling of organic waste has recently become an important topic and the intensification of organic waste conversion strategies was elaborated and analyzed frequently. The result indicated that creating a small-scale biogas reactor is more cost-effective, eco-friendly, and presents a sustainable waste treatment method within UNSRAT campus into valuable products that promote the university as a green campus. Keyword: bioenergy; biogas reactor; organic waste; organic liquid fertilizer