Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Antibacterial Activity of Fractions from Extract Ethanolic of Hylocereus Polyrhizus Peel Against E. Coli and S. aureus Tsania Khusnul Khotimah; Annisa Krisridwany; Salmah Orbayinah; Sabtanti Harimurti
Journal of Fundamental and Applied Pharmaceutical Science Vol 1, No 2 (2021): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jfaps.v1i2.11001

Abstract

Peel of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is one of the plants used as an antibacterial agent as it contains saponin triterpenoid compounds, flavonoid compounds, and alkaloid compounds which can have antibacterial activity. This research aims to determine the antibacterial effect of n-hexane, ethyl acetate, and ethanol fraction of red dragon fruit’s peel against Escherichia coli and Staphylococcus aureus by the concentration of 10mg/ml, 20mg/ml, 40mg/ml, 80mg/ml dan 160mg/ml. This research was conducted by using laboratory experiments. The simplicia was macerated with 96% ethanol and fractionated by n-hexane and ethyl acetate. The phytochemical screening of the fraction was n-hexane fraction containing saponin and alkaloid, while the ethyl acetate fraction contained saponin and flavonoid. Kanamycin was used as a positive control, while DMSO was used as a negative control. According to this research, the MIC value of ethanol fraction, n-hexane fraction, and ethyl acetate fraction were 80mg/ml, 20mg/ml, and 80mg/ml, respectively, for E. coli and all fractions were 10mg/ml for S. aureus. Based on the average diameter of the inhibition zone, the largest diameter zone in E. coli was ethyl acetate fraction with 160mg/ml concentration  that was  10,33mm. Meanwhile, in S. aureus n-hexane fraction, it was 160mg/ml, which was 11,20mm. This result showed that the n-hexane fraction has good gram-positive activity while the ethyl acetate fraction has good activity on gram-negative.
Formulasi Sediaan Gel Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry) Sebagai Antiseptik Tangan dan Uji Daya Hambat Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Iffani Fardan; Sabtanti Harimurti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.31 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v15i2.3001

Abstract

Kandungan utama dari minyak daun cengkah adalah eugenol yang mempunyai aktifitas sebagai antibakteri. Berdasarkan aktivitasnya tersebut, eugenol digunakan untuk membuat gel antiseptik dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan dengan harapan akan bisa dikembangkan sebagai gel antiseptik tangan alternatif, menggantikan gel antiseptik tangan yang ada di pasaran yang sebagian besar bahan utamanya adalah alkohol yang masih menjadi perhatikan karena sifat nonhalalnya bagi masyarakat muslim. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan eugenol menjadi gel antiseptik tangan yang memenuhi standar yang sudah ditentukan. Gel diformulasi dengan basis dasar CMC-Na dengan berbagai konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yaitu 0% (kontrol negatif), 1, 10, dan 20%.  Evaluasi gel yang dilakukan pada peneltian ini adalah sifat fisik gel seperti evaluasi organoleptik, homogenisitas, pH, daya lekat, daya sebar, dan viskositas. Selain itu dilakukan uji daya antibakteri untuk mengetahui seberapa besar konsentrasi minyak atsiri yang bisa digunakan untuk bisa menggantikan gel antiseptik tangan yang beredar di pasaran. Berdasarkan data penelitian, semakin besar konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yang digunakan, akan berpengaruh terhadap sifat fisiknya. Selain itu, dari penelitian ini diketahui bahwa konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yang mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus adalah sebesar 10%, karena pada konsentrasi ini daya hambat yang dihasilkan setara dengan daya hambat yang dihasilkan oleh gel antiseptik tangan yang dijual di pasaran.
Synthesis of Curcumin Derivative Assisted by Microwave Irradiation Sabtanti Harimurti; Winny Setyonugroho; Ardi Pramono; Rizky Hidayaturahmah
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.233 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v16i2.5878

Abstract

Synthesis of curcumin derivate is commonly conducted using conventional heating like heating mantel. The synthesis was usually done in the very long time. An experiment on finding an efficient synthesis method may be necessary to conduct, such as using microwave to replace the energy source. The synthesis of curcumin derivate 1,5-bis(4’-hydroxy-3’-metoxyphenyl)-1,4-pentadiene-3-one or gamavuton-0 assisted by microwave irradiation has been carried out. This synthesis was done on propose of cancer drug discovery to answer the search of new cancer drug on the increase of cancer incidence recently. The synthesis was done under microwave irradiation using vanillin and acetone as the starting material, and hydrochloric acid as the catalyst. Based on the experimental data, the microwave irradiation significantly reduces the reaction time. By using microwave irradiation, the synthesis can be done in a short time.
EKSTRAK METANOLIK BIJI MAHONI (Swietenia mahagoni (L) Jacq) : POTENSI ANTI BAKTERI TERHADAP Shigella flexneri Sabtanti Harimurti; Muhammad Fuad; Hari Widada; Puguh Novi Arsito
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.619

Abstract

Penyakit infeksi bakteri merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi. Tingginya angka kejadian disentri basiler di Indonesia merupakan akibat dari infeksi bakteri genus Shigella. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai bahan obat tradisional di Indonesia yaitu biji mahoni (Swietenia mahagoni (L) Jacq). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak metanolik biji mahoni terhadap Shigella flexneri. Ekstraksi pada penelitian ini menggunakan metode maserasi. Ekstrak yang didapat dibuat empat variasi konsentrasi (20%, 40%, 60% dan 80%) yang digunakan sebagai sampel untuk pengujian aktivitas antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi agar. Analisis kandungan senyawa alkaloid dan flavonoid yang diduga memiliki aktivitas antibakteri secara kualitatif menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukan bahwa ekstrak metanolik memiliki aktivitas antibakteri yang baik terhadap Shigella flexneri yang ditunjukkan dengan terdapatnya zona hambat berupa area bening pada biakan agar. Zona hambat pada konsentrasi ekstrak terendah 20% adalah 8,1 mm sampai konsenstrasi tertinggi 80% adalah 20,2 mm. Hasil uji analisis KLT menunjukan bahwa ekstrak metanolik biji mahoni memiliki kandungan senyawa alkaloid dengan ditunjukannya bercak berwarna coklat jingga pada sinar tampak setelah penambahan pereaksi Dragendorff dengan nilai Rf 0,77 dan flavonoid dengan bercak berwarna kuning pada sinar tampak setelah penambahan pereaksi Sitoborat dengan nilai Rf 0,48.
Oxytetracycline Mineralization inside a UV/H2O2 System of Advanced Oxidation Processes: Inorganic By-Product Anisa Ur Rahmah; Sabtanti Harimurti; Kiki Adi Kurnia; Abdul Aziz Omar; Thanabalan Murugesan
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2021: BCREC Volume 16 Issue 2 Year 2021 (June 2021)
Publisher : Masyarakat Katalis Indonesia - Indonesian Catalyst Society (MKICS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9767/bcrec.16.2.10308.302-309

Abstract

Oxytetracycline (OTC) was widely used antibiotic in agricultural industry. However, most of them were secreted from the body and entered the water stream, due to low absorption. The occurrence of the antibiotics in water stream may led to serious health hazards. Hence, finding the effective method that capable to achieve total mineralization of antibiotic-contaminated wastewater, followed by the production of benign inorganic and organic by-product, was necessarily deemed. Photochemical degradation method, such as: UV/H2O2 system, was capable to achieve total mineralization of OTC at its optimized condition. In this paper, inorganic by-products of OTC mineralization inside a UV/H2O2 system at its optimum condition were analyzed. The presence of nitrate, ammonium, chloride ions, and chlorine were detected at the sample solution after mineralization. The presence of these inorganic by-product has proven that the experimental setup chosen was capable to achieve total mineralization. In addition, possible routes of the inorganic by-products detachment from the OTC’s structure, were also presented. Copyright © 2021 by Authors, Published by BCREC Group. This is an open access article under the CC BY-SA License (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). 
Penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Margomulyo, Seyegan, Sleman Sania Nurul Qurrata; Amanda Chika Syavira; Fidelya Aimee Matsushita; Andi Martin; M Faizal Al Farizi; Melda Nurfadilah Rudiana; Destya Syafitri Sukmana; Qowina Liman Sari; Sabtanti Harimurti
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2023): Semnas PPM 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.61.1176

Abstract

Kejadian stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dengan prevalensi 30,8%, di mana angka ini masih berada di atas standar WHO yaitu 20%. Kasus stunting di DI Yogyakarta sendiri berada di angka 16,6%, meskipun angka ini berada di bawah angka nasional (30,8%) dan permasalahan stunting di Kabupaten Sleman termasuk rendah yaitu 6,88%, namun kita tetap harus waspada karena jika dibiarkan dampaknya sangat serius terhadap pembentukan kualitas sumber daya manusia. Tujuan program penyuluhan stunting adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Margomulya, Seyegan, Sleman tentang pencegahan dan penanganan stunting. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan masyarakat tentang stunting pada saat pre-test adalah 7,75 dan pada saat post-test meningkat menjadi 7,94. Dampak program ini adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan stunting dengan perbedaan nilai rata-rata skor pengetahuan peserta penyuluhan pada saat pre-test dan post-test dengan angka 0,19. Untuk itu disarankan kepada masyarakat khususnya pada ibu untuk melakukan pencegahan stunting dengan pemenuhan asupan gizi selama hamil, melahirkan dan anak sebelum usia 2 tahun.
Enhanced Antioxidant Gel Formulation with Papaya Leaf Extract and Virgin Coconut Oil: Optimization Approach Dyani Primasari Sukamdi; Sophia Farra Ileina; Rima Erviana; Vella Lailli Damarwati; Sabtanti Harimurti; Azura Amid
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 9 No. 2 (2026): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v9i2.9317

Abstract

Redness, pigmentation, premature aging, xerosis, and even the risk of cancer can result from excessive exposure to free radicals in the form of ultraviolet (UV) radiation, which can cause skin damage. Antioxidants, including β-carotene, α-tocopherol, ascorbic acid, and flavonoids, are present in papaya (Carica papaya) leaves and Virgin Coconut Oil (VCO). Therefore, these two components may mitigate skin imperfections caused by premature aging. This study aims to formulate and determine the antioxidant activity contained in C. papaya leaf extract gel and VCO. A laboratory-based experimental approach was implemented in this study. Using the infusion method, C. papaya leaves were extracted for 15 minutes to initiate the gel formation. The C. papaya leaf extract gel with VCO was divided into five formulations, with varying amounts of each ingredient. Organoleptic, homogeneity, viscosity, pH, spreadability, and antioxidant activity tests, conducted using the DPPH method, are included in the preparation testing process. The antioxidant activity test of C. papaya leaf extract gel with VCO in each formula yielded values of 91.32 ppm, 121.21 ppm, 80.19 ppm, 67.04 ppm, and 55.31 ppm, respectively. The results indicated that the quality of the gel preparation and the IC50 value of the C. papaya leaf extract gel were influenced by variations in VCO concentration.
Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Kandungan Boraks Pada Bakso Tusuk di Wilayah Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sabtanti Harimurti; Asep Setiyawan
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/farmasains.v6i2.2855

Abstract

Makanan adalah salah satu sumber energi bagi tubuh manusia. Makanan yang baik adalah makanan yang memiliki tingkat gizi yang tinggi sehingga berpengaruh pada kualitas kesehatan manusia. Salah satu makanan yang sedang digemari dan sering ditambahkan zat berbahaya adalah bakso tusuk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa lama bakso tusuk dapat dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang dan mengetahui ada tidaknya kandungan boraks pada bakso tusuk serta mengukur kadar boraks pada bakso tusuk di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif laboratorik dengan pemeriksaan laboratorium secara kualitatif dengan metode pembusukan, uji warna kertas tumerik dan nyala api sedangkan secara kuantitatif dengan metode titrasi asam basa. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah cluster sampling. Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif menunjukan seluruh sampel bakso tusuk di Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, positif mengandung boraks. Kadar boraks berkisar antara 0,34%–3,41%.
GERAKAN PENCEGAHAN DAN PENANGANAN STUNTING MELALUI PENYULUHAN TERHADAP MASYARAKAT DI KABUPATEN SLEMAN Sania Nurul Qurrata; Amanda Chika Syavira; Fidelya Aimee Matsushita; Andi Martin; M. Faizal Al Farizi; Melda Nurfadilah Rudiana; Destya Syafitri Sukmana; Qowina Liman Sari; Sabtanti Harimurti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20837

Abstract

Abstrak: Kejadian stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dengan prevalensi 30,8%, di mana angka ini masih berada di atas standar WHO yaitu 20%. Kasus stunting di DI Yogyakarta sendiri berada di angka 16,6%, meskipun angka ini berada di bawah angka nasional (30,8%) dan permasalahan stunting di Kabupaten Sleman termasuk rendah yaitu 6,88%, namun kita tetap harus waspada karena jika dibiarkan dampaknya sangat serius terhadap pembentukan kualitas sumber daya manusia. Tujuan program penyuluhan stunting adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Margomulya, Seyegan, Sleman tentang pencegahan dan penanganan stunting. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab. Peserta ceramah interaktif adalah Lurah Margomulya, Perwakilan Puskesmas Seyegan, Perwakilan LPM UMY, Perwakilan DPL KKN, Perwakilan Mahasiswa KKN, warga Padukuhan Sompokan, Ngemplaksari, Jamblangan, dan Jingin dengan jumlah sekitar 30 undangan… Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan masyarakat tentang stunting pada saat pre-test adalah 7,75 dan pada saat post-test meningkat menjadi 7,94. Dampak program ini adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan stunting dengan perbedaan nilai rata-rata skor pengetahuan peserta penyuluhan pada saat pre-test dan post-test dengan angka 0,19. Untuk itu disarankan kepada masyarakat khususnya pada ibu untuk melakukan pencegahan stunting dengan pemenuhan asupan gizi selama hamil, melahirkan dan anak sebelum usia 2 tahun.Abstract: The incidence of stunting in Indonesia is still high with a prevalence of 30.8%, where this figure is still above the WHO standard of 20%. Stunting cases in DI Yogyakarta itself are at 16.6%, even though this figure is below the national rate (30.8%) and the problem of stunting in Sleman Regency is low at 6.88%, but we still must be vigilant because if left unchecked the impact is very serious on the formation of the quality of human resources. The purpose of the stunting education program is to increase the knowledge of the people of Margomulya, Seyegan, Sleman about the prevention and management of stunting. The methods used are interactive lectures and question and answer. Participants in the interactive lecture were Margomulya Village Head, Seyegan Community Health Center Representative, UMY LPM Representative, KKN DPL Representative, KKN Student Representative, residents of Padukuhan Sompokan, Ngemplaksari, Jamblangan, and Jingin with a total of around 30 invitees. The results showed that the average score of public knowledge about stunting at the pre-test was 7.75 and at the time of the post-test it increased to 7.94. The impact of this service is an increase in public knowledge about stunting prevention and management with the difference in the mean score of knowledge of the extension participants during the pre-test and post-test with a figure of 0.19. For this reason, it is recommended to the public, especially mothers, to prevent stunting by fulfilling nutritional intake during pregnancy, childbirth and children before the age of 2 years.