Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

OUT-IN PROTOCOVID: UNDERSTANDING AND IMPLEMENTATION OF COVID-19 HEALTH PROTOCOL IN COMMUNITY Sabtanti Harimurti; Pinasti Utami; Nurul Maziyyah; Puguh Novi Arsito
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat MEMBANGUN NEGERI Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Membangun Negeri
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pkm.v6i1.1691

Abstract

The Covid-19 pandemic has been on its anniversary and it is not yet seen when it will end. Vaccination and health promotion have been carried out by the government. However, it seems that it has not been able to reduce or even stop the pandemic. An alternative way that is considered effective to prevent the transmission of the Covid-19 virus is to comply with health protocols. One of the health protocols that are considered very helpful in preventing the transmission of Covid-19 is the readiness of preparing personal equipment (Starter Kits), especially when outside of the house. In this paper, will be reported an analysis of community readiness regarding their readiness to prepare a Starter kit for foreign students at Khon Kaen Universiti (KKU) and also ordinary people in the Karangtalun, Wukirsari, Imogiri, Yogyakarta area. The evaluation was carried out by asking several questions about whether when leaving the house they spare a mask, hand sanitizer, own eating utensils, drinking bottles, and also their worship tools. Questions are given online or offline using a G-form or question sheet when socializing the Covid-19 pandemic. The results of the evaluation on the readiness of bringing the starter kits from all participants, totaling 44 people, 53.57% of people answered "yes", 25 % of people answered "sometimes", and 21.43% of people answered "no". Based on these results, it can be concluded that most people are aware of the importance of preparing a starter kit while outside the house to prevent the transmission of the Covid 19 virus.
Identifikasi Parasetamol dan Asam Mefenamat pada Jamu Pegel Linu dan Asam Urat yang Beredar di Daerah Istimewa Yogyakarta Sabtanti Harimurti; Syaripah Ulandari; Hari Widada; Vella lailly Damarwati
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v5i2.41929

Abstract

Jamu merupakan obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk mencegah atau membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Peningkatan minat masyarakat untuk mengkonsumsi jamu sering disalahgunakan oleh produsen dengan menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) untuk mendapatkan omzet yang lebih karena diyakini akan lebih cepat memberikan efek. Pencampuran BKO pada jamu dilarang oleh pemerintah Indonesia. Tingginya penggunaan jamu pegel linu dan asam urat di masyarakat luas, menginspirasi untuk melakukan identifikasi pencampuran BKO yang mempunyai efek sebagai penghilang rasa sakit seperti parasetamol dan asam mefenamat dalam jamu pegel linu dan jamu asam urat yang beredar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehingga, tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi pengunaan BKO pada jamu yang beredar di Yogyakarta. Metode analisis pada penelitian ini menggunakan KLT-Densitometri. KLT digunakan untuk analisis kualitatif. Pada pengujian menggunakan KLT, fase diam yang digunakan adalah silika GF254 dan fase gerak klorofrom-etanol dengan perbandingan 8:1. Identifikasi bercak menggunakan sinar UV pada panjang gelombang 254 nm. Kemudian untuk analisis kuantitatif digunakan densitometri. Berdasarkan hasil analisis KLT menunjukkan bahwa terdapat tiga sampel jamu yang mengandung parasetamol dari 14 sampel yang dikumpulkan dan tidak ada yang mengandung asam mefenamat. Sampel jamu yang mengandung parasetamol adalah sampel nomor 3, 7, dan 10. Ketiga sampel tersebut mengandung parasetamol 0,04% (b/v), 0,30% (b/v), dan 0,13% (b/v), secara berurutan.
Antibacterial Activity of Fractions from Extract Ethanolic of Hylocereus Polyrhizus Peel Against E. Coli and S. aureus Tsania Khusnul Khotimah; Annisa Krisridwany; Salmah Orbayinah; Sabtanti Harimurti
Journal of Fundamental and Applied Pharmaceutical Science Vol 1, No 2 (2021): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jfaps.v1i2.11001

Abstract

Peel of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is one of the plants used as an antibacterial agent as it contains saponin triterpenoid compounds, flavonoid compounds, and alkaloid compounds which can have antibacterial activity. This research aims to determine the antibacterial effect of n-hexane, ethyl acetate, and ethanol fraction of red dragon fruit’s peel against Escherichia coli and Staphylococcus aureus by the concentration of 10mg/ml, 20mg/ml, 40mg/ml, 80mg/ml dan 160mg/ml. This research was conducted by using laboratory experiments. The simplicia was macerated with 96% ethanol and fractionated by n-hexane and ethyl acetate. The phytochemical screening of the fraction was n-hexane fraction containing saponin and alkaloid, while the ethyl acetate fraction contained saponin and flavonoid. Kanamycin was used as a positive control, while DMSO was used as a negative control. According to this research, the MIC value of ethanol fraction, n-hexane fraction, and ethyl acetate fraction were 80mg/ml, 20mg/ml, and 80mg/ml, respectively, for E. coli and all fractions were 10mg/ml for S. aureus. Based on the average diameter of the inhibition zone, the largest diameter zone in E. coli was ethyl acetate fraction with 160mg/ml concentration  that was  10,33mm. Meanwhile, in S. aureus n-hexane fraction, it was 160mg/ml, which was 11,20mm. This result showed that the n-hexane fraction has good gram-positive activity while the ethyl acetate fraction has good activity on gram-negative.
Formulasi Sediaan Gel Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry) Sebagai Antiseptik Tangan dan Uji Daya Hambat Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Iffani Fardan; Sabtanti Harimurti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.31 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v15i2.3001

Abstract

Kandungan utama dari minyak daun cengkah adalah eugenol yang mempunyai aktifitas sebagai antibakteri. Berdasarkan aktivitasnya tersebut, eugenol digunakan untuk membuat gel antiseptik dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan dengan harapan akan bisa dikembangkan sebagai gel antiseptik tangan alternatif, menggantikan gel antiseptik tangan yang ada di pasaran yang sebagian besar bahan utamanya adalah alkohol yang masih menjadi perhatikan karena sifat nonhalalnya bagi masyarakat muslim. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan eugenol menjadi gel antiseptik tangan yang memenuhi standar yang sudah ditentukan. Gel diformulasi dengan basis dasar CMC-Na dengan berbagai konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yaitu 0% (kontrol negatif), 1, 10, dan 20%.  Evaluasi gel yang dilakukan pada peneltian ini adalah sifat fisik gel seperti evaluasi organoleptik, homogenisitas, pH, daya lekat, daya sebar, dan viskositas. Selain itu dilakukan uji daya antibakteri untuk mengetahui seberapa besar konsentrasi minyak atsiri yang bisa digunakan untuk bisa menggantikan gel antiseptik tangan yang beredar di pasaran. Berdasarkan data penelitian, semakin besar konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yang digunakan, akan berpengaruh terhadap sifat fisiknya. Selain itu, dari penelitian ini diketahui bahwa konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yang mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus adalah sebesar 10%, karena pada konsentrasi ini daya hambat yang dihasilkan setara dengan daya hambat yang dihasilkan oleh gel antiseptik tangan yang dijual di pasaran.
Synthesis of Curcumin Derivative Assisted by Microwave Irradiation Sabtanti Harimurti; Winny Setyonugroho; Ardi Pramono; Rizky Hidayaturahmah
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.233 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v16i2.5878

Abstract

Synthesis of curcumin derivate is commonly conducted using conventional heating like heating mantel. The synthesis was usually done in the very long time. An experiment on finding an efficient synthesis method may be necessary to conduct, such as using microwave to replace the energy source. The synthesis of curcumin derivate 1,5-bis(4’-hydroxy-3’-metoxyphenyl)-1,4-pentadiene-3-one or gamavuton-0 assisted by microwave irradiation has been carried out. This synthesis was done on propose of cancer drug discovery to answer the search of new cancer drug on the increase of cancer incidence recently. The synthesis was done under microwave irradiation using vanillin and acetone as the starting material, and hydrochloric acid as the catalyst. Based on the experimental data, the microwave irradiation significantly reduces the reaction time. By using microwave irradiation, the synthesis can be done in a short time.
EKSTRAK METANOLIK BIJI MAHONI (Swietenia mahagoni (L) Jacq) : POTENSI ANTI BAKTERI TERHADAP Shigella flexneri Sabtanti Harimurti; Muhammad Fuad; Hari Widada; Puguh Novi Arsito
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.619

Abstract

Penyakit infeksi bakteri merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi. Tingginya angka kejadian disentri basiler di Indonesia merupakan akibat dari infeksi bakteri genus Shigella. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai bahan obat tradisional di Indonesia yaitu biji mahoni (Swietenia mahagoni (L) Jacq). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak metanolik biji mahoni terhadap Shigella flexneri. Ekstraksi pada penelitian ini menggunakan metode maserasi. Ekstrak yang didapat dibuat empat variasi konsentrasi (20%, 40%, 60% dan 80%) yang digunakan sebagai sampel untuk pengujian aktivitas antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi agar. Analisis kandungan senyawa alkaloid dan flavonoid yang diduga memiliki aktivitas antibakteri secara kualitatif menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukan bahwa ekstrak metanolik memiliki aktivitas antibakteri yang baik terhadap Shigella flexneri yang ditunjukkan dengan terdapatnya zona hambat berupa area bening pada biakan agar. Zona hambat pada konsentrasi ekstrak terendah 20% adalah 8,1 mm sampai konsenstrasi tertinggi 80% adalah 20,2 mm. Hasil uji analisis KLT menunjukan bahwa ekstrak metanolik biji mahoni memiliki kandungan senyawa alkaloid dengan ditunjukannya bercak berwarna coklat jingga pada sinar tampak setelah penambahan pereaksi Dragendorff dengan nilai Rf 0,77 dan flavonoid dengan bercak berwarna kuning pada sinar tampak setelah penambahan pereaksi Sitoborat dengan nilai Rf 0,48.
Oxytetracycline Mineralization inside a UV/H2O2 System of Advanced Oxidation Processes: Inorganic By-Product Anisa Ur Rahmah; Sabtanti Harimurti; Kiki Adi Kurnia; Abdul Aziz Omar; Thanabalan Murugesan
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2021: BCREC Volume 16 Issue 2 Year 2021 (June 2021)
Publisher : Masyarakat Katalis Indonesia - Indonesian Catalyst Society (MKICS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9767/bcrec.16.2.10308.302-309

Abstract

Oxytetracycline (OTC) was widely used antibiotic in agricultural industry. However, most of them were secreted from the body and entered the water stream, due to low absorption. The occurrence of the antibiotics in water stream may led to serious health hazards. Hence, finding the effective method that capable to achieve total mineralization of antibiotic-contaminated wastewater, followed by the production of benign inorganic and organic by-product, was necessarily deemed. Photochemical degradation method, such as: UV/H2O2 system, was capable to achieve total mineralization of OTC at its optimized condition. In this paper, inorganic by-products of OTC mineralization inside a UV/H2O2 system at its optimum condition were analyzed. The presence of nitrate, ammonium, chloride ions, and chlorine were detected at the sample solution after mineralization. The presence of these inorganic by-product has proven that the experimental setup chosen was capable to achieve total mineralization. In addition, possible routes of the inorganic by-products detachment from the OTC’s structure, were also presented. Copyright © 2021 by Authors, Published by BCREC Group. This is an open access article under the CC BY-SA License (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). 
Penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Margomulyo, Seyegan, Sleman Sania Nurul Qurrata; Amanda Chika Syavira; Fidelya Aimee Matsushita; Andi Martin; M Faizal Al Farizi; Melda Nurfadilah Rudiana; Destya Syafitri Sukmana; Qowina Liman Sari; Sabtanti Harimurti
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2023): Semnas PPM 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.61.1176

Abstract

Kejadian stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dengan prevalensi 30,8%, di mana angka ini masih berada di atas standar WHO yaitu 20%. Kasus stunting di DI Yogyakarta sendiri berada di angka 16,6%, meskipun angka ini berada di bawah angka nasional (30,8%) dan permasalahan stunting di Kabupaten Sleman termasuk rendah yaitu 6,88%, namun kita tetap harus waspada karena jika dibiarkan dampaknya sangat serius terhadap pembentukan kualitas sumber daya manusia. Tujuan program penyuluhan stunting adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Margomulya, Seyegan, Sleman tentang pencegahan dan penanganan stunting. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan masyarakat tentang stunting pada saat pre-test adalah 7,75 dan pada saat post-test meningkat menjadi 7,94. Dampak program ini adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan stunting dengan perbedaan nilai rata-rata skor pengetahuan peserta penyuluhan pada saat pre-test dan post-test dengan angka 0,19. Untuk itu disarankan kepada masyarakat khususnya pada ibu untuk melakukan pencegahan stunting dengan pemenuhan asupan gizi selama hamil, melahirkan dan anak sebelum usia 2 tahun.
GERAKAN PENCEGAHAN DAN PENANGANAN STUNTING MELALUI PENYULUHAN TERHADAP MASYARAKAT DI KABUPATEN SLEMAN Sania Nurul Qurrata; Amanda Chika Syavira; Fidelya Aimee Matsushita; Andi Martin; M. Faizal Al Farizi; Melda Nurfadilah Rudiana; Destya Syafitri Sukmana; Qowina Liman Sari; Sabtanti Harimurti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20837

Abstract

Abstrak: Kejadian stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dengan prevalensi 30,8%, di mana angka ini masih berada di atas standar WHO yaitu 20%. Kasus stunting di DI Yogyakarta sendiri berada di angka 16,6%, meskipun angka ini berada di bawah angka nasional (30,8%) dan permasalahan stunting di Kabupaten Sleman termasuk rendah yaitu 6,88%, namun kita tetap harus waspada karena jika dibiarkan dampaknya sangat serius terhadap pembentukan kualitas sumber daya manusia. Tujuan program penyuluhan stunting adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Margomulya, Seyegan, Sleman tentang pencegahan dan penanganan stunting. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab. Peserta ceramah interaktif adalah Lurah Margomulya, Perwakilan Puskesmas Seyegan, Perwakilan LPM UMY, Perwakilan DPL KKN, Perwakilan Mahasiswa KKN, warga Padukuhan Sompokan, Ngemplaksari, Jamblangan, dan Jingin dengan jumlah sekitar 30 undangan… Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan masyarakat tentang stunting pada saat pre-test adalah 7,75 dan pada saat post-test meningkat menjadi 7,94. Dampak program ini adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanganan stunting dengan perbedaan nilai rata-rata skor pengetahuan peserta penyuluhan pada saat pre-test dan post-test dengan angka 0,19. Untuk itu disarankan kepada masyarakat khususnya pada ibu untuk melakukan pencegahan stunting dengan pemenuhan asupan gizi selama hamil, melahirkan dan anak sebelum usia 2 tahun.Abstract: The incidence of stunting in Indonesia is still high with a prevalence of 30.8%, where this figure is still above the WHO standard of 20%. Stunting cases in DI Yogyakarta itself are at 16.6%, even though this figure is below the national rate (30.8%) and the problem of stunting in Sleman Regency is low at 6.88%, but we still must be vigilant because if left unchecked the impact is very serious on the formation of the quality of human resources. The purpose of the stunting education program is to increase the knowledge of the people of Margomulya, Seyegan, Sleman about the prevention and management of stunting. The methods used are interactive lectures and question and answer. Participants in the interactive lecture were Margomulya Village Head, Seyegan Community Health Center Representative, UMY LPM Representative, KKN DPL Representative, KKN Student Representative, residents of Padukuhan Sompokan, Ngemplaksari, Jamblangan, and Jingin with a total of around 30 invitees. The results showed that the average score of public knowledge about stunting at the pre-test was 7.75 and at the time of the post-test it increased to 7.94. The impact of this service is an increase in public knowledge about stunting prevention and management with the difference in the mean score of knowledge of the extension participants during the pre-test and post-test with a figure of 0.19. For this reason, it is recommended to the public, especially mothers, to prevent stunting by fulfilling nutritional intake during pregnancy, childbirth and children before the age of 2 years.