Claim Missing Document
Check
Articles

Found 45 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Usulan Interval Waktu Perawatan Dan Penilaian Biaya Ketidakandalan Excavator Kobelco Sk200 Menggunakan Metode Risk Based Maintenance (rbm) Dan Cost Of Unreliability (cour) Di Po Rajawali Project Syahda Bintarum; Judi Alhilman; Nurdinintya Athari SUPRATMAN
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PO Rajawali Project merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan alat berat. Kobelco SK200 merupakan excavator yang paling banyak disewa karena merupakan tipe excavator yang terbaru. Frekuensi kerusakan Kobelco SK200 lebih tinggi dibanding excavator lain karena jumlah jam operasi yang lebih besar. Frekuensi kerusakan yang tinggi memengaruhi risiko dan biaya yang ditanggung perusahaan. Perlu adanya kegiatan perawatan yang optimal untuk menurunkan risiko dan biaya akibat ketidakandalan. Excavator memiliki enam subsistem, yaitu bucket, arm, boom, cabin, under carriage dan upper structure. Dari keenam subsistem tersebut kemudian dipilih subsistem yang paling kritis dengan menggunakan risk matrix. Berdasarkan risk matrix terpilih tiga subsistem kritis yaitu bucket, arm dan upperstructure. Setelah diperoleh subsistem kritis, selanjutnya menentukan usulan interval perawatan dengan menggunakan metode Risk Based Maintenance (RBM) dan menghitung biaya yang ditanggung perusahaan karena ketidakandalan mesin menggunakan metode Cost of Unreliability (COUR). Hasil perhitungan metode RBM didapatkan nilai risiko sebesar Rp16.532.685 dengan persentase risiko 3,73% dan kriteria penerimaan 2%. Persentase risiko hasil perhitungan melebihi batas kriteria penerimaan, sehingga dibuat usulan interval perawatan. Usulan interval perawatan mampu menurunkan risiko menjadi 1,98% sehingga dibawah kriteria penerimaan. Untuk hasil perhitungan COUR, biaya akibat ketidakandalan yaitu sebesar Rp52.685.611 dari corrective COUR dan Rp115.453.015 dari downtime COUR. Kata Kunci – risk matrix, risk based maintenance, cost of unreliability Abstract PO Rajawali Project is company in rental of heavy equipment. Kobelco SK200 is most hired excavators because the newest excavator type so that it is always be choice of tenants. Number of operating hours is greater than the other, so excavator frequency breakage of Kobelco SK200 is also higher than the other. Need an optimal interval time maintenance to lower risk and cost of unreliability. Excavators have six subsystems, namely boom, arm, bucket, cabin, under carriage and the upper structure. Then selected the most critical subsystems using Risk Matrix. Based on Risk Matrix, selected three critical subsystems namely bucket, arm and upperstructure. Further define the proposed maintenance intervals using Risk Based Maintenance (RBM) method and calculate the costs because of unreliability of the excavator using Cost of Unreliability (COUR) method. The results of the calculation method of the RBM obtained value risks amounting to Rp 16.532.685 with percentage risk of 3.73% and 2% of acceptance criteria. Percentage calculation result exceeds the limits of acceptance criteria, so that the created interval maintenance. Proposed maintenance intervals, able to lower risk becoming 1.98% and below the acceptance criteria. Costs from unreliability is Rp52.685.611 from corrective COUR Rp115.453.015 and Rp from downtime COUR. Keywords – risk matrix, risk based maintenance, cost of unreliability
Analisis Serta Usulan Kebijakan Warranty Pasca Overhaul Pada Pompa Residue (12-p-101) Dengan Pendekatan Model Kerusakan Satu Dimensi Di Pt Pertamina (persero) Refinery Unit Vi Balongan -jawa Barat Mohamad Rizky Utomo; Judi Alhilman; Rd. Rohmat Saedudin
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perawatan mesin produksi sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan produksi. Warranty dibutuhkan untuk memberikan jaminan kualitas suatu produk (mesin) yang dibeli ataupun di-maintenance. PT Pertamina (persero) RU VI Balongan merupakan perusahaan BUMN yang berkencimbung dalam produksi penyulingan minyak dengan kapasitas produksi 125.000 Barrel per hari. PT Pertamina (persero) menggerakan mesin-mesin produksi salah satunya adalah pompa residue 12-P-101 dimana mesin ini berfungsi mengaliran fluida residue. Mesin yang digunakan untuk produksi memerlukan pemeliharaan mesin dimana pemeliharaan mesin tersebut dilakukan untuk mempertahankan tingkat optimalitas proses produksi. Pemeliharaan yang telah selesai dilaksanakan perlu ada jaminan kualitas yang disebut warranty. Warranty yang diterima oleh PT Pertamina hanya diberikan oleh pihak vendor tanpa dasar kapabilitas, kondisi dan karakter mesin 12-P-101. Mesin 12-P-101 merupakan mesin yang terbilang sering mengalami kerusakan dimana kerusakan tersebut terjadi 37 kali selama periode lima tahun terakhir. Dari 37 kali kerusakan tersebut terdapat 26 kali kerusakan pada ciritical part pompa 12-P-101 yaitu rotor. Dari beberapa kerusakan tersebut terjadi setelah masa warranty dimana warranty tersebut hanya disediakan selama 500 jam. Berdasarkan hasil penghitungan mean time between failure dan mean time to repair dapat diketahui bahwa durasi warranty optimal selama 2125.67 jam dan mesin ini membutuhkan 14 hari untuk dilakukan perbaikan. Kata kunci : Critical part, maintenance, MTBF, MTTR, dan warranty
Usulan Kebijakan Pengelolaan Spare Part Pada Mesin Autoloader Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Spares (rcs) Dan Inventory Probabilistik Muhammad Rifki Fadil; Judi Alhilman; Endang Budiasih
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu industri besar dalam pembuatan mie instan adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk. Ada 3 jenis mie yang diproduksi pada perusahaan ini yakni Normal Noodles, Cup Noodles dan Dry Noodles. Dalam proses produksi mie instan sering kali terjadi hal yang tidak diinginkan pada perusahaan yang dapat mengganggu jalannya proses produksi, salah satunya adalah tidak tersedianya spare part ketika terjadi kerusakan sehingga menimbulkan downtime. Untuk mencegah hal tersebut maka perusahaan melakukan kegiatan maintenance, dalam pelaksanaan kegiatan maintenance juga tidak jarang terdapat komponen yang apabila terjadi kegagalan atau kerusakan tidak dapat diperbaiki, melainkan harus diganti (replace). Oleh karena itu dibutuhkan komponen pengganti atau cadangan (spare part), sehingga komponen tersebut dapat diganti dan sistem dapat terus berjalan sebagaimana mestinya. Metode Reliability Centered Spares (RCS) adalah salah satu metode analisis spare part management dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti kebutuhan maintenance apa yang dibutuhkan oleh mesin, akibat yang terjadi jika spare part tidak tersedia, antisipasi kebutuhan spare part, jumlah stock holding spare part yang dibutuhkan, Lalu Inventory Probabilisik yang digunakan untuk menentukan kebijakan persediaan seperti penentuan re-order point dan re-order quantity. Kata Kunci: Inventory Probabilistik, Reliability Centered Spares, Spare Part Abstract One of the big industries in making instant noodle is PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk. There are 3 types of noodles produced in this company that is Normal Noodles, Cup Noodles and Dry Noodles. In the process of instant noodle production often happens undesirable things to companies that can disrupt the production process, one of which is the unavailability of spare parts when damage occurs causing downtime. To prevent this, the company does maintenance activities, in the implementation of maintenance activities are also not uncommon there are components that in case of failure or damage can not be repaired, but must be replaced (replace). Therefore it takes a replacement or spare part, so that the component can be replaced and the system can continue to run properly. Reliability Centered Spares (RCS) method is one of spare part management analysis method by considering some aspect such as maintenance requirement what is needed by machine, consequence if spare part is not available, anticipate spare part requirement, stock stock spare part needed, Then Inventory Probabilisik used to determine the inventory policy such as the determination of re-order point and re-order quantity. Keywords: Inventory Probabilistic, Reliability Centered Spares, Spare Part
Penilaian Kinerja Pada Mesin Mori Seiki Nh4000 Dcg Dengan Menggunakan Metode Reliability Availability Maintainability (ram) Analysis Dan Overall Equipment Effectiveness (oee) Di Pt Pudak Scientific Muhamad Rafif Arrahman; Judi Alhilman; Nurdinintya Athari
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Pudak Scientific merupakan perusahaan di bidang manufaktur yaitu memproduksi komponen pesawat. PT Pudak Scientific memiliki demand yang tinggi dari perusahaan subkontrak. Perusahaan sering mengalami loss revenue karena adanya kerusakan pada mesin sehingga proses produksi yang berlangsung menjadi terhenti. Kondisi seperti ini memperkuat perusahaan untuk menilai dan mengevaluasi kinerja dari mesin Mori Seiki NH4000 DCG. Cara yang dilakukan adalah menilai kinerja mesin dengan metode Reliability Availability Maintainability (RAM) Analysis dan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Data yang digunakan berupa MTTR dan MTBF dari seluruh subsistem penyusun dari mesin. Berdasarkan perhitungan dengan metode RAM Analysis, dibuatlah model reliability block diagram (RBD) sehingga sistem diperoleh nilai reliability sebesar 47% pada waktu 672 jam berdasarkan analytical approach. Selanjutnya perhitungan maintainability dengan metode RAM analysis, didapatkan bahwa sistem memiliki peluang diperbaiki dalam interval satu sampai 27 jam untuk kembali ke kondisi semula dengan peluang sebesar 100%. Nilai inherent availability dari sistem adalah 99,274% berdasarkan pada analytical approach dan operational availability dari sistem adalah 97,145%. Nilai Overall Equipment Effectiveness yang diperoleh dari tiga parameter yaitu availability, performance, dan quality sebesar 71,76%. Dari pehitungan six big losses, faktor utama yang paling mempengaruhi kinerja mesin menjadi kurang baik khususnya pada performance adalah idling and minor stoppages. Kata kunci : Reliability, Availability, Maintainability, RBD, OEE, Six Big Losses
Penentuan Optimasi Umur Mesin Dan Jumlah Maintenance Set Crew Dengan Menggunakan Metode Life Cycle Cost (lcc) Dan Reliability Availability Maintainability (ram) Analysis Pada Mesin Filling R125 Di Pt Sanbe Farma Lestari Atika Putri; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Judi Alhilman
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  PT Sanbe Farma merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, yang secara resmi didirikan pada tanggal 28 Juni 1975 oleh Drs. Jahja Santoso, Apt. Pabrik pertama di Jl. Kejaksaan no.35 Bandung. Produk pertama yang diproduksi adalah Kapsul Colsancetine. Salah satu produk terbesar yang dihasilkan oleh Water for Injection adalah cairan infusion yang diolah melalui Plant Large Volume (LVP). Produk yang dihasilkan oleh LVP berupa irrigation solution, alkes, dan infusion. PT Sanbe Farma harus memproduksi kebutuhan dari sejumlah rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan pasien yang membutuhkan cairan infusion, sehingga dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan produktivitas dan penggunaan teknologi yang tinggi berupa fasilitas dan mesin. Mesin filling R125 memiliki jumlah kerusakan yang tinggi yaitu sebanyak 184 kerusakan pada tahun 2017, sehingga mesin tidak dapat bekerja secara optimal. oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut dilakukan kegiatan maintenance pada mesin filling shinva. Metode yang digunakan adalah metode life cycle cost (LCC) untuk mengetahui umur mesin dan jumlah maintenance crew yang optimal. Metode lain yang digunakan adalah Reliabiliy, Availability, dan Maintainabiliy (RAM) Analysis. Berdasarkan metode LCC, total nilai terendah sebesar Rp 1,759,855,453.09 dengan umur optimal mesin selama sembilan tahun dan jumlah maintenance crew sebanyak 2 orang dalam satu shift. Untuk perhitungan RAM analysis menggunakan pemodelan reliability block diagram (RBD), sistem memiliki nilai reliability 39.26% pada jam ke 160 berdasarkan analytical approach. Nilai inherent availability sebesar 97.89% dan operational availability sebesar 96.03%. berdasarkan Word Class Maintenance Key Performance Indicator (KPI), indicator dari leading dan lagging availability sudah mencapai target indicator yang diberikan.    Kata kunci: Life Cycle Cost, Reliability, Availability, Maintainability, Word Class Maintenance Key Performance Indicator     Abstract  PT Sanbe Farma is one of the largest pharmaceutical companies in Indonesia, officially established on June 28, 1975 by Drs. Jahja Santoso, Apt. The first factory on Jl. Kejaksaan no.35 Bandung. The first product produced was the Colsancetine Capsule. One of the largest products produced by Water for Injection is infusion fluid that is processed through Plant Large Volume (LVP). Products produced by LVP are irrigation solution, alkes, and infusion. PT Sanbe Farma has to produce the needs of a number of hospitals to fulfill the needs of patients in need of infusion fluids, thereby increasing the need for productivity and the use of high technology facilities and machinery. The R125 filling machine has a high number of failures which is 184 in 2017 so the machine doesn’t work optimally. So to solve this problem the company has to do maintenance activities on the machine filling shinva. The method used is life cycle cost (LCC) method to know the age of machine and the number of optimal maintenance crew. Other methods used are Reliability, Availability, and Maintainability (RAM) Analysis. Based on the LCC method, the lowest total of value is Rp 1,759,855,453,09 with the machine's optimal life for nine years and the number of maintenance crew of 2 persons in one shift. For calculation of RAM analysis using reliability block diagram (RBD) modeling, the system has a value of 39.26% reliability at 160 hours based on analytical approach. Inherent availability value of 97.89% and operational availability of 96.03%. based on Word Class Maintenance Key Performance Indicator (KPI), indicator of leading and lagging availability has reached the target of indicator given.   Keywords: Life Cycle Cost, Reliability, Availability, Maintainability, Word Class Maintenance Key Performance Indicator
Optimalisasi Kebijakan Pengelolaan Suku Cadang Pada Alat Berat Excavator Sk200 Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Spares (rcs) Dan Inventory (studi Kasus : Po Rajawali Project) Shabrina Fauzani; Judi Alhilman; Nurdinintya Athari
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PO Rajawali Project merupakan salah satu perusahaan jasa perseorangan yang bergerak di bidang sewa alat berat konstruksi. PO Rajawali Project memiliki beberapa alat berat untuk disewakan, diantaranya forclift, buldozer, tandem roller, excavator, dump truck, dan crane. Diantara alat berat tersebut, excavator merupakan alat berat yang paling sering disewa. Untuk mencapai kepuasan konsumen atas jasa yang ditawarkan, maka perusahaan harus menunjang alat excavator dengan performansi kinerja mesin yang baik. Terdapat enam subsistem penyusun excavator yaitu bucket, arm, boom, cabin, upper structure, dan under carriage. Masing-masing subsistem terdiri lagi dari beberapa komponen penyusun. Suku cadang komponen memiliki peran penting dalam peningkatan kinerja sebuah mesin. Saat ini perusahaan belum memiliki sparepart management, sehingga diperlukan manajemen spareparts yang optimal agar kegiatan pemeliharaan dan operasional alat berat tidak terhambat. Yang perlu dilakukan dalam pengelolaan suku cadang yaitu pemilihan subsistem kritis menggunakan risk matrix. Berdasarkan hasil perhitungan risk matrix, terpilih tiga subsistem kritis yaitu bucket, arm, dan upper structure. Selanjutnya ditentukan pula komponen kritisnya menggunakan reliability centered spares worksheet (RCS worksheet). Hasil yang didapat berdasarkan perhitungan RCS worksheet yaitu terpilih 3 komponen kritis diantaranya komponen tooth bucket, seal arm, dan v-belt. Setelah itu, dihitung kebutuhan komponennya selama satu tahun menggunakan poisson process. Dari setiap komponen selanjutnya dilakukan perhitungan kebijakan inventory yang optimal sehingga didapat total biaya inventory yang dikeluarkan selama satu tahun sebesar Rp 16.752.771. Kata kunci : Inventory, Risk Matrix, Reliability Centered Spares Abstract PO Rajawali project is one of the individual service companies engaged in the sale of construction equipment. The Rajawali PO project has several heavy equipment for rent, for forklifts, bulldozers, tandem rollers, excavators, dump trucks, and cranes. Among these heavy equipment, excavators are the most commonly hired heavy equipment. To achieve customer satisfaction on the services offered, the company must support the excavator with a good engine performance. There are six subsystem of the excavator that is bucket, arm, boom, cabin, top structure, and under carriage. Each subsystem consists of several constituent components. Spare parts have an important role in the machine. Currently the company does not have sparepart management, so the optimal spare part management is required in order that activities and equipment are not hampered. The initial stage that needs to be done in the management of spare parts is the selection of critical subsystems using risk matrix. Based on the calculation of risk matrix, three critical subsystems are bucket, arm, and upper structure. Also apply critically by using spares-centered worksheets (RCS worksheets). The results obtained from the calculation of the RCS worksheet include 3 crtitical components are tooth bucket, a seal arm, and a vbelt. After that, the calculation of component requirement for one year using poisson process. From each component then done the calculation of optimal inventory policy. Total inventories incurred during one year amounted to Rp 16,752,771. Keywords: Inventory, Risk Matrix, Reliability Centered Spares ISSN
Perancangan Aplikasi Analisis Rcm (reliability Centered Maintenance) Dan Rcs (reliability Centered Spares) Dalam Menentukan Kebijakan Maintenance Dan Persediaan Spare Part Fatwa Anggayana Basanta; Judi Alhilman; Ahmad musnansyah
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Reliability Centered Maintenance (RCM) proses untuk menentukan apa yang harus dilakukan agar setiap aset fisik dapat terus melakukan fungsinya. Tujuan utama dari RCM adalah untuk mempertahankan fungsi sistem dengan cara mengidentifikasi mode kegagalan (failure mode) dan memprioritaskan kepentingan dari mode kegagalan kemudian memilih tindakan perawatan pencegahan yang efektif dan dapat diterapkan. Dalam menunjang kegiatan perawatan, hal yang perlu diperhatikan adalah spare part. Ketika suatu sistem mengalami shut down karena komponen yang rusak, nilai down time dapat dikurangi jika semua spare part yang dibutuhkan untuk mengganti komponen yang rusak tersebut tersedia. Reliability Centered Spares (RCS) adalah suatu pendekatan untuk menentukan inventory level suatu spare part berdasarkan trough-life costing dan kebutuhan peralatan dan operasi maintenance dalam mendukung inventory. Proses dalam analisis RCM dan RCS sangatlah panjang dan kurang efisien jika dikerjakan menggunakan perhitungan manual terutama jika equipment yang diteliti berjumlah banyak. Seorang maintenance analyst perlu menggunakan berbagai macam software yang sudah ada untuk membantu proses pengerjaan. Oleh karena itu, dibangun sebuah software yang dapat digunakan untuk menganalisis RCM dan RCS dan mempunyai fitur yang lebih lengkap sehingga memudahkan maintenance analyst dalam melakukan tugasnya. Dengan adanya software yang dibuat, akan memudahkan proses perhitungan dan penyimpanan hasil output dari RCM dan RCS. Kata Kunci: Aplikasi, Reliability Centered Maintenance, Reliability Centered Spares, Manajemen Spare Part
Usulan Kebijakan Perawatan Optimal Pada Hydraulic Lubrication Pneumatic (hlp) System Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (rcm) Dan Risk Based Maintenance (rbm) Di Pt Krakatau Steel (persero), Tbk Nadia Ulfa; Judi Alhilman; Nopendri Nopendri
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri baja merupakan salah satu bagian dari industri strategis di Indonesia. PT Krakatau Steel (Persero) merupakan salah satu perusahaan penghasil baja terbesar di Indonesia. Hot Strip Mill merupakan fasilitas produksi perusahaan yang memiliki kapasitas produk tertinggi sebesar 1,55 juta ton, yang menghasilkan Hot Rolled Coil (HRC) dan Hot Rolled Plate (HRP). Hydraulic Lubrication Pneumatic (HLP) berfungsi dalam menghilangkan scale selama proses pembuatan HRC dan HRP, sehingga HLP harus mampu dioperasikan secara optimal guna mencegah terjadinya kerusakan yang menghambat proses produksi. Dari hasil perhitungan menggunakan metode Risk Priority Number, Water System terpilih sebagai subsistem kritis yang perlu ditentukan kebijakan perawatan yang sesuai dengan karakteristik kerusakan dengan menggunakan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) serta konsekuensi dan risiko yang ditimbulkan akibat kerusakan menggunakan metode Risk Based Maintenance (RBM). Hasil pengolahan didapatkan kegiatan preventive maintenance yang tepat yaitu 12 scheduled on-condition tasks, 14 scheduled restoration tasks, dan 1 scheduled discard tasks. Interval waktu perawatan tiap subsistem berbeda-beda sesuai dengan task yang diperoleh. Hasil dari metode RBM diperoleh nilai risiko sebesar Rp Rp 70.465.063.812,86. Total biaya perawatan usulan didapatkan berdasarkan interval waktu yang optimal yaitu sebesar biaya perawatan usulan adalah sebesar Rp 227.703.139.578,47. Kata kunci: Maintenance, Preventive Maintenance, Reliability Centered Maintenance, Risk Based Maintenance
Usulan Kebijakan Preventive Maintenance Mesin Mori Seiki Nh4000 Dcg Dengan Metode Reliability Center Maintenance (rcm) Dan Risk Based Maintenance (rbm) (studi Kasus Pt Pudak Scientific) Fachri Husaini; Judi Alhilman; Nurdinintya Athari
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Pudak Scientific merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan part pesawat terbang. Namun target produksi yang sering tidak tercapai menyebabkan loss revenue pada perusahaan. Penyebabnya yaitu breakdown mesin yang berakibat pada product reject, target produksi tidak tercapai, sehingga loss revenue pada perusahaan. Salah satu mesin yang sering mengalami breakdown yaitu Mori Seiki NH4000 DCG. Mori Seiki NH4000 DCG merupakan mesin bagian finishing untuk produk Blank fork End. Breakdown mesin yang cukup tinggi menyebabkan target produksi setiap bulannya sering tidak terpenuhi. Kegiatan perawat an yang tidak efektif dan efesien juga mengakibatkan biaya maintenance cukup besar. Berdasarkan hasil analisis risiko, system performance loss yang ditimbulkan cukup besar yaitu Rp 286.891.212 atau 3,773% dari kapasitas produksi mesin setahun. Angka ini melebihi kriteria penerimaan risiko oleh perusahaan yaitu sebesar 2% . Oleh karena itu perlu dilakukan kebijakan perawatan tepat untuk mesin Mori Seiki NH4000 DCG. Pendekatan yang dilakukan yaitu menggunakan Reliability Centered Maintenance dan Risk Based Maintenance. Berdasarkan dua pendekatan diatas didapatkan kebijakan interval waktu perawatan yang tepat sehingga kegiatan perawatan lebih efektif serta dapat meningkatkan efesiensi perawatan dengan menekan biaya perawatan yang sebelumnya Rp167.506.286 per tahun, menjadi Rp139.994.493 per tahun. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi breakdown mesin dan performance loss yang ditimbulkan. Kata kunci : Preventive Maintenance, Reliability centered maintenance, risk based maintenance, Performance loss
Optimasi Kebijakan Maintenance Dan Pengelolaan Spare Part Pada Mesin Caulking Line 6 Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (rcm) Dan Reliability Centered Spares (rcs) (studi Kasus : Pt Dns) Terrin Eliska; Endang Budiasih; Judi Alhilman
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT DNS merupakan salah satu industri manufaktur yang menghasilkan spark plug. Banyaknya mesin dibagian produksi PT DNS diperlukan kegiatan pemeliharaan agar mesin yang ada dapat bekerja tanpa menghambat proses produksi, oleh karena itu diperlukan kegiatan preventive maintenance yang tepat. Mesin caulking yang ada pada line 6 mengalami seringnya terjadi kerusakan. Mesin Caulking merupakan salah satu mesin yang harus selalu siap pakai dan mampu beroperasi secara optimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Reliability Centered Maintenance (RCM) serta kebutuhan komponen pengganti cadangan (spare part) optimal yang harus tersedia di perusahaan dengan menggunakan metode Reliability Centered Spares (RCS). Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan metode RCM diperoleh kebijakan maintenance untuk subsistem kritis pada mesin Caulking adalah scheduled on-condition task sebanyak 6, Scheduled Discard Tasks sebanyak 3 dan Scheduled Restoration Tasks sebanyak 2. Interval waktu perawatan diperoleh berbeda-beda berdasarkan task masing-masing dan biaya perawatan usulan diperoleh Rp 2.321.757.069,00 dimana biaya tersebut lebih kecil dari biaya perawatan existing. Dan hasil dari metode RCS diperoleh kebutuhan spare part buat empat tahun kedepan yaitu untuk subsistem kritis Solenoid Valve Up-Down sebanyak 84 buah, subsistem kritis Piston Pump sebanyak 12 buah dan subsistem kritis Hydraulic Cylinder sebanyak 104 buah. Kata kunci : Preventive Maintenance, Reliability Centered Maintenance, Reliability Centered Spares