Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Be Kepo (Bioetanol Ketela Pohon) Inovasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Solusi Sumber Energi Alternatif Terbaharukan Muhammad Alhada Fuadilah Habib; Wahyu Nita Kurrotaa'yun Nuriski; Rizal Zamzami
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol 10, No 1 (2022): EQUILIBRIUM JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.079 KB) | DOI: 10.26618/equilibrium.v10i1.6618

Abstract

Sumber energi yang berasal dari fosil merupakan sumber energi yang tidak terbaharukan. Sementara itu sampai saat ini, sumber energi utama yang digunakan oleh masyarakat Indonesia berasal dari fosil. Saat ini Indonesia berada dalam krisis energi karena sangat bergantung pada bahan bakar fosil terutama minyak bumi yang memberatkan APBN dan menguras devisa negara. Hal ini dikarenakan cadangan minyak bumi di Indonesia kian menipis dan harus mengimpor kebutuhan minyak bumi dari luar negeri, oleh sebab itu, Indonesia harus memiliki kemampuan (knowledge and technology) yang dipadukan dengan kearifan local (wisdom) untuk mengatasi permasalahan energi ini. Dari beberapa pilihan sumber energi alternatif terbaharukan, salah satu yang paling potensial dikembangkan di Indonesia adalah dengan teknologi bioetanol. Pengembangan sumber energi bioetanol ini sangat cocok dilakukan mengingat sumber energi ini berasal dari bahan nabati yang merupakan sumber daya alam yang mudah diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Kabupaten Blitar merupakan sebuah kawasan di Provinsi Jawa Timur yang tanahnya tergolong subur dan sangat potensial digunakan sebagai penghasil bahan baku pembuatan bioetanol. Sampai saat ini sebagian besar masyarakat di Kabupaten Blitar bekerja di sektor pertanian dan masih cukup banyak yang masuk dalam kategori masyarakat miskin. Kondisi ini dikarenakan produk hasil pertanian dijual mentah (tanpa diolah) dan memiliki harga jual yang relatif rendah, sementara itu biaya untuk perawatan tanaman pertanian cukup mahal. Kondisi ini mendorong inovasi pemberdayaan masyarakat di bidang teknologi bioetanol untuk memecahkan persoalan kelangkaan sumber energi fosil sekaligus sebagai solusi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Blitar.
Sejarah Agama Islam di Kerajaan Mataram pada Masa Penembahan Senapati (1584-1601) Rizal Zamzami
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.926 KB) | DOI: 10.30829/j.v2i2.1519

Abstract

Kerajaan Mataram merupakan Kerajaan Islam yang berada di pedalaman Jawa yang dipimpin oleh Panembahan Senapati pada tahun 1584-1601 M. Pada masa Panembahan Senapati Agama Islam sudah banyak dianut oleh penduduk di Kerajaan Mataram hanya saja pola keagamaanya cenderung sinkretis. Sebagai raja di Kerajaan Mataram, Panembahan Senapati menjadikan Agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. Secara garis besar pola kebijakan Panembahan Senapati terhadap agama di  Kerajaan Mataram Islam adalah mengangkat wali-wali Kadilangu sebagai penasihat dan pembimbing kerajaan, pengembangan tradisi Islam dan memberikan jawatan pemerintahan yang disebut Reh Pengulon (Lembaga Kepenghuluan). Obyek kajian keagamaan pada masa Panembahan Senapati diteliti dengan menggunakan pendekatan politik yang tentu tidak bisa lepas dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh para pemimpin, dalam hal ini Panembahan Senapati sebagai raja di Kerajaan Mataram. Selanjutnya metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian kepustakaan, yang berupa sumber tertulis, seperti artikel dan buku-buku, yang di dalamnya didapatkan data kuantitatif, dengan tanpa melewatkan proses verifikasi dan interpretasi. Tujuan penelitian ini adalah memahami kebijakan agama Panembahan Senapati terhadap Agama Islam di Kerajaan Mataram Islam.Key Words: Panembahan Senapati, Kerajaan Mataram, dan Agama Islam di Kerajaan Mataram. 
Sultan Hamengku Buwono IX: Manuver Stabilisasi dan Rehabilitasi Perekonomian Indonesia Awal Orde Baru Rizal Zamzami
heritage Vol. 2 No. 2 (2021): Heritage: Journal Of Social Studies
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/hrtg.v2i2.54

Abstract

Abstract The purpose of this paper is to describe the strategic steps for completing the stabilization and rehabilitation of the early New Order economy. The method used is a qualitative method using a historical approach and economic theory to examine the economic maneuvers of Sultan HB IX. The research method used is a historical research method in which there are 5 stages: topic selection, heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The result of this research is that after Sultan HB IX occupied strategic positions, namely Waperdam Ekubang, Menutama EKKU, and Minister of EKUIN in the government. Sultan HB IX issued his political-economic statement which also became a maneuver to solve problems in the economic field. From the results of these studies, it can be concluded that the solution to economic problems at the beginning of the new order was by taking actions at home and abroad which would provide a positive stimulus for the Indonesian economy.
SENI SEBAGAI PERANTARA MEDIA DOA DALAM MENGHADAPI AKULTURASI BUDAYA JAWA DENGAN AGAMA ISLAM DI DESA PLANDIREJO Nurul Baiti Rohmah; Rizal Zamzami; Nochita Yusma Intan
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2022): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnalrisalah.v8i2.284

Abstract

Penelitian ini berawal dari adanya masyarakat Desa Plandirejo yang tetap memegang teguh pada keberbedaan dengan tidak menciptakan kelompok baru demi terwujudnya keserasian bersama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana sejarah berdirinya Desa Plandirejo, bagaimana akulturasi budaya Jawa dengan agama Islam, dan bagaimana seni dijadikan sebagai media pemersatu akulturasi tersebut. Setiap tempat memiliki cerita tersendiri. Seperti halnya cerita asal usul Desa Plandisari yang erat kaitannya dengan tanaman petai cina atau mlanding. Dengan kondisi masyarakat yang heterogen mulai dari suku, bahasa, ras, dan juga agama, masyarakat di Desa Plandisari ini mampu hidup rukun berdampingan dengan tetap mengutamakan kebersamaan. Salah satu media yang digunakan untuk menghadapi keberbedaan yaitu kesenian meminta hujan yang di dalamnya terdapat upacara selamatan, seni gamelan, seni tari jaranan, dan seni jedhoran yang memuat nilai akulturasi budaya Jawa dengan agama Islam.
Sejarah Desa dan Islamisasi di Desa Serang Blitar Tahun 1892-1942 Anggrianto, Siska; Zamzami, Rizal
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 2 No 2 (2023): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v2i2.713

Abstract

Penelitian ini membahas tentang sejarah desa dan Islamisasi di Desa Serang yang berada di Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar pada tahun 1892 hingga 1942. Pada tahun 1880 Desa Serang merupakan Dusun Serang dibawah pemerintan Desa Bacem Kecamatan Lodojo dan di tahun 1892 Dusun Serang berganti status menjadi Desa Serang Kecamatan Lodojo. Desa Serang mengalami perkembangan dibidang mata pencaharian, pendidikan, keagamaan serta perubahan sosial-budaya. Tujuan penelitian ini untuk merekonstruksi sejarah desa serta Islamisasi di Desa Serang, mengidentifikasi karakter desa dan dijadikan dokumentasi terkait tulisan sejarah desa untuk Desa Serang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah terdiri dari heuristik, verifikasi, interpretasi dan histografi. Hasil penelitian ini pertama, sejarah Desa Serang berasal dari hutan yang membentuk pemukiman hingga menjadi Dusun Serang dari Dusun Serang berganti menjadi Desa Serang. Kedua, Desa Serang merupakan daerah pedalaman yang mempunyai pengaruh besar terhadap perekonomian Belanda karena pemasok jagung sehingga adanya pembangunan jalan dari Kali Gambang ke Desa Serang. Selain itu terdapat pembangunan jembatan dan pesanggrahan yang menjadi tempat penginapan orang-orang Belanda ketika mengunjungi teluk Serang. Ketiga, masuknya Islam di Desa Serang oleh Mbah Guru dan dikembangkan oleh Mbah Proyodongso meninggalkan situs sejarah seperti pusaka berupa keris dan Al-Qur’an kuno, hal tersebut menjadi bukti adanya kemajuan literasi serta peradaban masyarakat Desa Serang.
History and Dynamics of the Modern Boarding-School Darul Hikmah Tulungagung 1991-1998 Shofiyah Romadhoni; Rizal Zamzami
Journal of Islamic History Vol. 4 No. 1 (2024): Journal of Islamic History
Publisher : Nur Science Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53088/jih.v4i1.1090

Abstract

This article discusses the history of the development of the modern Darul Hikmah Tulungagung Islamic boarding school 1991-1998. Darul Hikmah modern cottage was founded by KH. Nurul Hadi Ridwan located in Tawangsari village, Kedungwaru, Tulungagung. The establishment of the modern Darul Hikmah Islamic boarding school began with the Arabic and English language course institute founded by KH. Nurul Hadi Ridwan was also encouraged by his father's will to use the waqf land as an Islamic boarding school. The aims of this research to determine the development of learning programs at the Darul Hikmah modern boarding school which uses a combination of the government curriculum and the KMI Gontor curriculum. The research method in this study uses a historical method which consists of four stages, namely heuristics, verification, interpretation and historiography. The results of this research include: first, the early history of the establishment of the Darul Hikmah modern cottage in Tawangsari village in 1991 and the figures who played a role in it. Secondly, the development of the modern Darul Hikmah Islamic boarding school in 1991-1998 started with the implementation of educational programs, activities and facilities within the Islamic boarding school. Third, the implementation of a bilingual program which has been designated as the official language for daily communication among students as well as the language of instruction for formal education at the Darul Hikmah modern boarding school.
Peran H. Ahmad Chusairi pada seni kentrung Sunan Drajat di Lamongan tahun 1991- 2019 Fauziah, Uut; Zamzami, Rizal
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i12024p75-92

Abstract

Abstract This study discusses the role of the characters in the creation and development of the Sunan Drajat Kentrung in Lamongan. Oral literature is a part of the performing art known as kentrung. Kentrung art is practiced in many areas, including Jepara, Tuban, Lamongan, Tulungagung, Blitar, and Sidoarjo. Each district has its own uniqueness in presenting a kentrung show; for example, Lamongan calls his kentrung by the name of Kentrung Sunan Drajat and often tells the story of one of the Walisongo, Sunan drajat. The famous character in the development of the Kentrung in Lamongan is H. Ahmad Chusairi, who, in addition to playing the role of the Dhalang ontang-anting Kentrong Sunan Drajat, is also the advocate of the founding of the Kentrungan Sunan Drajat. This research attempts to explain how H. Ahmad Chusairi contributed to the creation of the art of Sunan Drajat Kentrung in Lamongan. Includes the biography of H. Ahmad Chusairi, his contribution to the name of Kentrung Sunan Drajat, how he introduced the concept to the Lamongan people in particular and to various areas of Lamongan in general, as well as how H. Ahmed Chusauri made the art of the Sunan Drajat one of the arts of the Lamongan community as a medium of spread of Islam-based art. This research uses historical research methodologies that include historiography, verification, interpretation, and heuristics. Research findings indicate that H. Ahmad Chusairi played a role in the growth of Sunan Drajat in Lamongan between 1991 and 2019 by naming the Sunan Drajat Kentrung, introducing it to various areas, and making it a tool of praise in the field of art for the community.Abstrak Penelitian ini mebahasas peran tokoh dalam penciptaan serta perkembangan Kentrung Sunan Drajat di Lamongan. Sastra lisan atau seni tutur merupakan bagian dari seni pertunjukan yang dikenal sebagai kentrung. Seni kentrung banyak dipraktikkan di berbagai daerah, antara lain Jepara, Tuban, Lamongan, Tulungagung, Blitar, dan Sidoarjo. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam menyajikan pertunjukan kentrung; misalnya, Lamongan yang menyebut kentrungnya dengan nama Kentrung Sunan Drajat dan sering menceritakan kisah salah satu Walisongo, Sunan Drajat. Tokoh yang dikenal dalam perkembangan kentrung di Lamongan adalah H. Ahmad Chusairi yang selain berperan sebagai dhalang ontang-anting Kentrung Sunan Drajat, H. Ahmad Chusairi juga merupakan penggagas didirikannya Kentrung Sunan Drajat. Penelitian ini mencoba menjelaskan bagaimana kontribusi H. Ahmad Chusairi dalam penciptaan kesenian Kentrung Sunan Drajat di Lamongan. Meliputi biografi H. Ahmad Chusairi, kontribusinya terhadap nama Kentrung Sunan Drajat, bagaimana beliau memperkenalkan konsep tersebut kepada masyarakat Lamongan khususnya dan ke berbagai daerah Lamongan pada umumnya, serta bagaimana H. Ahmad Chusairi menjadikan kesenian Kentrung Sunan Drajat sebagai salah satu kesenian masyarakat Lamongan sebagai media penyebaran islam berbasis seni. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah yang mencakup historiografi, verifikasi, interpretasi, dan heuristik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa H. Ahmad Chusairi berperan dalam tumbuhnya kentrung Sunan Drajat di Lamongan antara tahun 1991 hingga 2019, dengan memberi nama Kentrung Sunan Drajat, memperkenalkannya ke berbagai daerah, dan menjadikannya sebagai alat dakwah dalam bidang kesenian bagi masyarakat. 
BANDAR KEMA:: JALUR ISLAMISASI DAN DOMINASI KOLONIAL (1824-1930) Zamzami, Rizal; Riyadi, Ahmad Syaf’i Mufadzilah; Azis, Muhammad Nur Ichsan
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.389

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis jalur islamisasi dan dominasi kolonial terhadap keberadaan Islam di Bandar Kema, Minahasa. Perkembangan islamisasi di Kema, tidak lepas dari aktivitas dan peran para penyebar Islam, baik ulama, pedagang, dan tokoh politik, sejak abad ke-19 M. Islamisasi di Bandar Kema mengalami signifikansi pada pertengahan abad ke-19, melalui relasi politik dan aktivitas niaga maritim. Metode sejarah yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan ilmu sosial yang menggunakan teori islamisasi dan pengaruh kolonisasi di kawasan tertentu. Jalur islamisasi di Bandar Kema berimplikasi pada terbentuknya masyarakat muslim yang mendiami daerah pesisir. Di sisi lain, dominasi kolonial juga berdampak munculnya kelompok-kelompok muslim yang berusaha mempertahankan keberadaan mereka di tengah pengaruh tersebut yang berhubungan langsung dengan kebijakan politik dan ekonomi.
Perkembangan dan Dampak Industrialisasi di Gemeente Probolinggo 1918-1942 Suraiyah, Sitti Suraiyah; Zamzami, Rizal Zamzami
Lembaran Sejarah Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.96349

Abstract

This article examines industrialisation in Gemeente Probolinggo from 1918 to 1942. It aims to explain the developments in industrial activities before and during Probolinggo’s transition to a gemeente and its socio-economic impact on society. It reviews three main topics, namely: (1) the form of industries in Gemeente Probolinggo, (2) the development of this industrialisation, and (3) its societal impacts. It employs the historical method, which consists of five stages: topic selection, heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. It reveals that industrialisation in Gemeente Probolinggo included various plantation industries, particularly those for sugar cane along with tobacco and coffee plantations. The transportation services sector advanced, featuring trains, trams, and buses. Notable industrial developments also included the 1941 Leces paper factory, along with advancements in food production, textiles, machinery, shipbuilding, and utilities such as gas, electricity, water distribution, and construction services. The impacts of industrialisation on the socio-economic conditions of society were evident in the increasing social stratification between indigenous and European populations, especially concerning employment opportunities and wage disparities. The process of industrialisation significantly enhanced port activities, primarily due to its role as the principal conduit for imports and exports, which were essential for fostering industrial development.
PERAN K.H. DIMYATI DALAM PENYEBARAN ISLAM DI BARAN DESA PLOSO KECAMATAN SELOPURO KABUPATEN BLITAR 1950-1989 qoidah, ulfatul; Rizal Zamzami
FIHROS: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8 No 2 Agustus (2024): Fihros: Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63915/fihros.v8i2 Agustus.94

Abstract

This research discusses the role of K.H. Dimyati in the spread of Islam in 1950-1989 in Baran, Ploso village, Selopuro subdistrict, Blitar district. K.H. Dimyati is a ulama figure who has influenced the pace of increasing understanding of Islam in the Baran community. This research aims to explain the biography and role of K.H. Dimyati in the spread of Islam in Baran, Ploso Village, Selopuro District, Blitar Regency. This research uses a historical research method which consists of four stages, namely heuristics, verification, interpretation and historiography by utilizing oral data sources through interviews and library sources. The results of this research are K.H. Dimyati, as a cleric who is descended from kiai, has a role in spreading Islam and attracting the religious awareness of the Baran people, especially with his high level of humanity, holding Al-Qur'an sorogans, teaching the yellow book, holding regular recitations specifically for the elderly and teaching kanuragan science. The influence of K.H. Dimyati can be seen from the people who still use the grave of K.H. Dimyati as a pilgrimage destination and sacred.