Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Meningkatkan Resiliensi Akademik Peserta Didik melalui Pendekatan Solution Focus Brief Counseling (SFBC) Noviyanti Kartika Dewi; M. Ramli; Carolina Ligya Radjah
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 4 No. 2 (2021): Mei 2021
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Online learning presents a major challenge for the world of education. One of the impacts that can be felt in learning from is the unpreparedness of the education system and stakeholders (teachers and students). The rapid change from face-to-face learning activities to online / online-based learning is a reality that inevitably must be faced. The unpreparedness of students in responding to changes related to online learning presents its own problems in the world of education. In online learning, students are given flexibility in designing their learning activities. The ability of students to be able to respond adaptively to difficulties encountered during online learning is called academic resilience. Academic resilience is one of the determining factors for the learning success of students. Therefore, it is important to realize that in this new normal era, counselors need to help students to improve their academic resilience through short solutions focused counseling services (Solution Focus Brief Counseling / SFBC). Solution Focus Brief Counseling (SFBC) is an alternative counseling service that counselors can choose to help students improve their academic resilience skills. The results showed that the SFBC approach was quite effective in helping students improve their resilience abilities. The SFBC approach is effective in helping students solve their problems because this approach in the process emphasizes more on the focus of the solution, not the problem. So that the counselee can be faster in finding a solution to the problem.
stress Analisis Stress dan Faktor yang Mempengaruhi Stress Orang Tua dalam Mendampingi Anak Belajar Di Rumah Pada Masa Pandemi : faktor yang mempengaruhi stress Silvia Yula Wardani; Noviyanti Kartika Dewi; Ibnu Mahmudi
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 4 No. 4 (2021): November 2021
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa pandemic sekarang ini orang tua dituntut mampu mendampingi anak selama belajar di rumah. Tugas baru ini sedikit banyak menambah beban pikiran orang tua dan mendorong terjadinya stress pada orang tua. Stress merupakan reaksi fisiologis dan psikologis yang ditunjukkan seseorang ketika ia merasakan adanya ketidak seimbangan antara tuntutan yang dihadapi dan kemampuan yang dimiliki untuk mengamemenuhi tuntutan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat stress dan factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stress pada orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi. Penelitian ini menggunakan desain atau jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua atau wali murid siswa Aisyiyah Bustanul Atfal 7 Kota Madiun. Variabel penelitian dalam penelitian ini antara lain stress, usia, jumlah anak, pekerjaan dan tingkat pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar dari rumah, (2) tidak ada hubungan antara jumlah anak dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah, (3) tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah, (4) tidak ada hubungan pendidikan orang tua dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah.
ANALISIS INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN SOCIAL ENVIRONMENT TERHADAP PERILAKU FoMO Noviyanti Kartika Dewi; Imam Hambali; Fitri Wahyuni
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 5 No. 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena perilaku Fear of Missing Out  merupakan salah satu dampak dari perkembangan teknologi yang tidak bisa diremehkan. Perilaku ini biasanya ditandai dengan perasaan khawatir atau cemas ketika individu tidak mengetahui aktivitas orang tain atau orang yang diikuti. Untuk mengurangi perasaan cemas dan khawatirnya tersebut remaja biasanya akan sering mengkases media social untuk mencari informasi atau kegiatan orang-orang yang diikuti tersebut. Peningkatan konektivitas di media sosial yang dialami oleh individu membuka lebih banyak peluang untuk perasaan FoMO dan juga sering dikaitkan dengan perilaku penggunaan ponsel yang maladaptive. Dengan demikian penting kiranya untuk dilakukan penelitian guna  mengetahui bagaimana pengaruh intensitas pengunaan social media dan social envirotment terhadap perilaku FoMO. Adapun desain penelitian ini menggunakan expost facto. Sampel dalam penelitian ini sebesar 141 remaja. Sedangkan teknik sampling yang digunakan adalah dengan simple random sampling. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment dan regresi dua preditor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang simultan dan signifikan antara intensitas penggunaan medsos dan social envirotmet dengan perilaku FoMO. Hal ini terbukti dari hasil yang menunjukkan kedua variabel tersebut secara simultan memberikan sumbangan pengaruh sebesar 80,1% sehingga disimpulkan bahwa ada pengaruh antara intensitas penggunaan media sosial dan social environment terhadap perilaku FoMO
Choice Therapy Berbasis Falsafah Budaya Jawa Sebagai Alternatif Untuk Meningkatkan Survival Ability Korban Bencana Alam Noviyanti Kartika Dewi; Tyas Martika Anggriana
JURNAL KONSELING GUSJIGANG Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Konseling Gusjigang Desember 2018
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.59 KB) | DOI: 10.24176/jkg.v4i2.2931

Abstract

Bencana alam merupakan fenomena alam yang sulit untuk diprediksi serta membawa dampak pada seluruh aspek kehidupan manusia. Para korban yang selamat dari bencana alam berpotensi mengalami kecemasan, depresi dan trauma. Oleh sebab itu perlu dilakukan pertolongan pertama pada kondisi psikologis (Psychological First Aid) kepada mereka. Layanan konseling merupakan sebuah bantuan yang dapat diberikan. Layanan ini bertujuan untuk membantu korban bencana alam agar memiliki survival ability serta mampu memulai dan menata kembali kehidupannya. Adapun pendekatan koseling yang akan dibahas penulis disini adalah pendekatan choice therapy berbasis budaya Jawa.Pada choice therapy, penentu pilihan atas semua yang dilakukan oleh seorang individu -termasuk tentang penderitaan yang dialami- adalah dirinya sendiri. Orang lain hanya memberikan informasi. Namun semua itu tidak bisa membuat seorang individu melakukan atau merasakan apa-apa jika bukan dirinya yang memilih dan melaksanakan. Alasan dipilihnya budaya Jawa sebagai basis choice therapy karena budaya Jawa memiliki keunikan dalam pemikiran dan tindakan serta mendominasi berbagai aspek kehidupan di Indonesia.Falsafah budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam konseling dengan pendekatan choice therapy diantaranya adalah Nerima ing pandum; Semeleh; Sapa sing Kelangan Bakal Diparingi – Sapa sing Nyolong Bakal Kelangan; dan Urip Iku aja Digawe Sambat dan Dilakoni ae sak Mlakune. Falsafah tersebut diintegrasikan dengan  pendekatan choice therapy melalui sistem WDEP (Want, Doing, Evaluation, Plan). Pendekatan konseling choice therapy berbasis falsafah budaya Jawa tersebut diharapkan dapat meningkatkan survival ability korban bencana alam. Survival ability tersebut ditandai dengan kemampuan bertahan hidup, memiliki pikiran yang jernih, percaya diri serta disiplin dan perencanaan yang matang. Natural disasters are phenomena that are difficult to predict and have an impact on all aspects of human life. Survivors of natural disasters have the potential to be through an anxiety disorders, depression and trauma. Therefore it is necessary to do Psychological First Aid to them. Counseling is a help that can be given. Counseling aims to help survivors of natural disasters to have a survival ability and be able to continue their lives. The counseling approach that will be discussed here is choice therapy based on Javanese culture.In choice therapy, a person is the determinant of choice for everything done - including about the suffering experienced. Other people only provide information. That are cannot make someone do or feel anything if they do not choose and implement. The reason for choosing Javanese culture as a basis for choice therapy is because Javanese culture is unique in thought and action and dominates various aspects of life in IndonesiaThe Javanese cultural philosophy that can be applied in choice therapy includes Nerima ing pandum (sincerely accept the provisions of God); Semeleh (sincerity with all problems or burdens, allowing God to regulate and provide solutions); Sabar sareh mesti bakal pikoleh (a person must be patient, diligent and earnest so that he can reach his goal); dan Urip iku urup (life must be uplifting). The philosophy is integrated with the choice therapy approach through the WDEP system (Want, Doing, Evaluation, Plan). Therapy choice based on Javanese cultural philosophy is expected to increase the survival ability of survivors of natural disasters. Survival abilities are characterized by the ability to survive, have a clear mind, confidence and discipline and have a plan for the future.
PENINGKATAN LITERASI DALAM MENGGUNAKAN SOSIAL MEDIA PADA PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR Diana Ariswanti Triningtyas; Noviyanti Kartika Dewi; Suharni Suharni; Juwita Finayanti
PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP 2021
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.918 KB)

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah berupaya untuk meningkatkan literasi dalam menggunakan sosial media pada peserta didik sekolah dasar. Kegiatan pengabdian ini merupakan kolaborasi antara dosen dengan mahasiswa. Pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini terbagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yakni pra persiapan, pelaksanaan kegiatan, dan tahap akhir, adalah monitoring. Dalam tahap pelaksanaan kegiatan, dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, praktik baik dan latihan. Sasaran dalam kegiatan ini adalah peserta didik UPT SD Ngrejo 01, yang berjumlah35 orang siswa. Hasil dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu media sosial yang digunakan oleh peserta didik, khususnya dalam kegiatan  pengabdian pada masyarakat ini adalah whatsapp. Penggunaan media social, berupa whatsapp, dari peserta didik hanya sebatas untuk berkomunikasi dengan teman serta penerimaan informasi dalam pengerjaan maupun pengiriman penugasan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Pendampingan terhadap peserta didik dalam meningkatkan literasi mencakup aktivitas berikut, membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, aktivitas mendengar dan membaca, ruang pojok baca, mengoptimalkan perpustakaan, dan mengoptimalkan majalah dinding.
IMPLEMENTASI LESSON STUDY FOR LEARNING COMMUNITY (LSLC) PADA LAYANAN BIMBINGAN UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI Dahlia Novarianing Asri; Noviyanti Kartika Dewi; Rischa Pramudia Trisnani; Asroful Kadafi
Jurnal Abdimas Bina Bangsa Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Abdimas Bina Bangsa
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46306/jabb.v4i1.321

Abstract

Self-confidence is one of the human aspects that must be owned by every individual, especially students and students to achieve career success, family, education, and so on. However, there are still many students who do not have self-confidence, have not been able to find their strengths and weaknesses. Therefore self-confidence needs to be explored from a young age. High school students are at a developmental stage who are prepared to be immediately ready to work so they need to be instilled with confidence to choose and pursue a job that is in accordance with their field of expertise. To increase students' self-confidence, guidance and counseling services are needed through lesson study for learning community (LSLC) activities which include three stages, namely planning, implementation, and reflection. After being carried out for three cycles, it can be said that through the implementation of Lesson Study for Learning Community (LSLC) in guidance and counseling services, it can increase students' self-confidence. Based on the results of this activity, it will be followed up for lecture activities on campus with the aim of exploring and increasing student confidence
PERAN KONSELOR DALAM MENINGKATKAN PERILAKU LITERASI DIGITAL SISWA DI MASA PANDEMI COVID-19 Silvia Yula Wardani; Asroful Kadafi; Noviyanti Kartika Dewi
JBKI (Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia) Vol 8, No 2 (2023): Volume 8 Number 2, May 2023
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jbki.v8i2.3135

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa bagi tatanan kehidupan, tidak terkecuali di dunia pendidikan. Kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan dalam rangka memutus rantai penyebaran virus covid-19 membuat sekolah harus memiliki strategi pembelajaran yang efektif. Adanya himbauan untuk tidak melakukan kontak fisik membuat guru dan siswa memanfaatkan perkembangan IT dalam proses pembelajaran. Problematika ini perlu dikaji lebih mendalam terkait kompetensi literasi digital dan peran konselor dalam meningkatkan kompetensi tersebut. Penelitian ini menggunakan desain literature review, dengan menggali berbagai review yang mengangkat isu-isu literasi digital. Hasil penelitian menunjukan, bahwa kemampuan literasi digital sangat diperlukan oleh siswa terutama dalam memperoleh sumber informasi atau bahan pembelajaran. Kemampuan tersebut dapat ditingkatkan apabila ada support sistem salah satunya dari konselor sekolah. Konselor sekolah memiliki peran dan funsgi preventif, kuratif dan pengembangan dalam membantu siswa mencapai perkembangan yang optimal. Dalam upaya meningkatkan perilaku literasi digital maka konselor perlu memfasilitasi siswa untuk menyadari pentingnya kemampuan literasi digital bagi dirinya.
Pencegahan Kekerasan pada Anak Usia Dini melalui Metode Prompts berbasis nilai Religius Asroful Kadafi; Noviyanti Kartika Dewi; Silvia Yula Wardani; Beny Dwi Pratama; Suharni Suharni; Swasti Maharani
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 7, No 5 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v7i5.4993

Abstract

Kekerasan yang terjadi pada anak dapat mempengaruhi perkembangan anak, baik pada aspek akademik maupun non akademik. Berdasar permasalahan tersebut, maka penting untuk dilakukan upaya pencegahan terjadinya kekerasan pada anak usia dini. Upaya pencegahan dapat diupayakan melalui pendekatan yang tepat dan juga memperhatikan aspek religi. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode Prompts berbasis nilai religi untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan desain ekperimen. Rancangan penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain one group pre-test dan post-test design. Hasil penelitian menjukan nilai signifikansi sebesar 0,001 yang berarti terdapat perbedaan antara nilai pre-test dan post-test atau menunjukan adanya peningkatan pemahaman siswa tentang kekerasan yang berdampak pada kemampuan siswa untuk menghindari tindakan kekerasan pada dirinya yang Berkembang Sesuai Harapan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan pada sekolah lain terutama intervensi untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak maupun penelitian selanjutnya terkait kekerasan pada anak sesuai kebutuhan siswa dan memperhatikan nilai religius. 
INNOVATION OF FACE-TO-FACE LEARNING (PTM) IN CLASS XI STUDENTS TOWARDS SOCIAL ADJUSTMENT AT SMAN 1 NGLAMES Ayu Tri Widyaningrum; Silvia Yula Wardani; Noviyanti Kartika Dewi
SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA) Vol 1 (2022)
Publisher : SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Masalah dalam penelitian ini adalah pembelajaran kembali normal, siswa aktif dalam pembelajaran di sekolah. Agar tidak sulit menerima materi, mengingat pembelajaran yang biasanya dilakukan secara konvensional, mudah dan dipaksakan menjadi pembelajaran tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran dan inovasi baru dalam pembelajaran tatap muka (PTM) pada penyesuaian sosial selama pandemi COVID-19. Metode ini menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 7 mata pelajaran yaitu guru dan siswa kelas XI SMAN 1 Nglames Kabupaten Madiun.Siswa yang memulai pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka di sekolah selama pandemi COVID-19. Sistem pembelajaran juga mengubah siswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Oleh karena itu setiap guru, siswa dan tenaga pengajar membutuhkan suatu inovasi (inovasi) dalam pembelajaran. Hasil penelitian ini tatap dapat dilakukan dengan: perencanaan pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan kondisi pandemi, proses pembelajaran dengan penekanan pada penerapan materi dan penilaian harus sesuai dengan protokol protokol kesehatan. Kegiatan belajar tatap muka tetap berjalan dengan normal meskipun waktu yang tersedia terbatas sesuai dengan peraturan pemerintah.pembelajaran disesuaikan dengan kondisi pandemi, proses pembelajaran dengan penekanan pada penyampaian materi dan hal-hal harus sesuai dengan protokol kesehatan. Kegiatan belajar tatap muka tetap berjalan dengan normal meskipun waktu yang tersedia terbatas sesuai dengan peraturan pemerintah. pembelajaran disesuaikan dengan kondisi pandemi, proses pembelajaran dengan penekanan pada penyampaian materi dan hal-hal harus sesuai dengan protokol kesehatan. Kegiatan belajar tatap muka tetap berjalan dengan normal meskipun waktu yang tersedia terbatas sesuai dengan peraturan pemerintah. 
Studi Literatur Hubungan Sindrom Fear of Missing Out Terhadap Nomophobia Pada Mahasiswa Chindi Mileniar Maghfiroh; Silvia Yula Wardani; Noviyanti Kartika Dewi
SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA) Vol 2, No 1 (2023): Implementasi kurikulum merdeka menuju transformasi pendidikan dalam mempersiapka
Publisher : SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini merupakan salah satu perkembangan yang paling memajukan manusia. Perkembangan ini membawa salah satu dampak positif berupa munculnya ponsel pintar atau smartphone yang mampu memudahkan pekerjaan manusia. Hal ini pula yang mengubah gaya belajar hingga gaya hidup mahasiswa. Selain itu, perkembangan tersebut juga membawa dampak negatif berupa kecenderungan perasaan cemas yang dirasakan oleh mahasiswa yang tidak dapat menjauh dari jangkauan ponsel yang disebut dengan Nomophobia. Salah satu faktor yang mempengaruhi Nomophobia adalah Sindrom Fear of Missing Out (FoMO). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode kajian kepustakaan (library research). Pada kajian kepustakaan ini peneliti berusaha untuk mengkaji tingkat prevalensi FoMO dan Nomophobia serta bagaimana hubungannya pada remaja di Indonesia yang menggunakan berbagai sumber tertulis seperti artikel, jurnal, dan dokumen pendukung yang relevan. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan tingkat FoMO dan Nomophobia di kalangan remaja dan mahasiswa di Indonesia serta hubungan antara FoMO dan Nomophobia. Hasil kajian menunjukkan bahwa sindrom FoMO memiliki hubungan yang positif dengan Nomophobia. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi FoMO maka semakin tinggi Nomophobia.