Ni Ketut Lestari
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TANAMAN SERAI UNTUK MEMBUNUH NYAMUK Karang Adiseputra, I Gede; Eko Radityo, W; Lestari, Ni Ketut
IPTEKMA Volume 1 No.1 - Januari 2009
Publisher : Bidang Kemahasiswaan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.318 KB)

Abstract

Nyamuk adalah salah satu insekta yang merugikan manusia khususnya nyamuk betina yang makanannya adalah darah. Serangga ini dapat menjadi vektor penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria, juga mengganggu aktivitas menggigit manusia terutama di malam hari. Penyebaran nyamuk sebenarnya dapat ditekan dengan melakukan pencegahan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) yang gencar disosialisasikan berkaitan dengan wabah DBD. Ini dapat memotong siklus hidup nyamuk pada fase telur dan larva. Sedangkan cara yang banyak dilakukan orang adalah dengan membunuh nyamuk yaitu pada fase nyamuk dewasa. Hal ini dilakukan dengan menyemprot, menyalakan obat nyamuk bakar, dan mengoleskan lotion anti nyamuk. Obat nyamuk sintetis yang beredar di pasaran, disamping adanya dampak positif yang dihasilkan yaitu dapat membunuh nyamuk penular secara cepat, ada pula dampak negatif yang dihasilkan oleh bahan kimianya yaitu mampu mempengaruhi kesehatan pada manusia, hewan ternak, polusi lingkungan, dan hama (nyamuk) menjadi resistan. Penyemprotan menggunakan bahan kimia atau insektisida sintetis juga membutuhkan biaya. Obat anti nyamuk sintetis tentunya menggunakan bahan kimia berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan. Untuk menekan dampak negatif zat kimia, ada baiknya kita menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuhan yang ada di sekitar kita. Terdapat beberapa tumbuhan yang dapat dipakai untuk membunuh nyamuk salah satu contohnya adalah serai. Serai mengandung citronella yang dapat membunuh nyamuk. Penggunaan bahan alami ini tentunya relatif aman untuk digunakan.
Willingness To Use HIV Self-Testing and Its Association with Sexual Behavior Stigma Among Men Who Have Sex with Men In Padang, Indonesia Mahathir; Latifah, Sarah; Djamil, Mohd.; Safitri, Kiki Hardiansyah; Wenny, Bunga Permata; Yuliharni, Siti; Banowo, Agus Sri; Lenggogeni, Devia Putri; Sarfika, Rika; Randy Refnandes; Windy Freska; Fitra Yeni; Winbaktianur; Putra, Niko Destri; Ni Ketut Lestari
NERS Jurnal Keperawatan Vol. 21 No. 2 (2025): NJK Volume 21, Number 2
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.v21i2.392

Abstract

The provision of HIV prevention programs targeting key populations, particularly men who have sex with men (MSM), has been expanding rapidly. HIV self-testing (HIVST) has emerged as an accessible and convenient method for individuals to determine their HIV status independently. However, its utilization remains suboptimal, one potential barrier is the fear of stigma related to sexual behavior experienced by MSM. This study aimed to examine the association between sexual behavior stigma and willingness to undertake HIV self-testing among MSM. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted using a non-probability (accidental) sampling technique. The study included 83 MSM participants affiliated with non-profit organization in Padang City. Data collection was carried out from February to May 2025.Two instruments were employed: The Sexual Behavior Stigma (SBS) Scale to assess sexual behavior stigma and a structured questionnaire to measure willingness to perform HIV self-testing. Data were analyzed using Spearman’s rank correlation test. The results showed that the mean score of sexual behavior stigma was 4.15, while the mean score for willingness to undertake HIV self-testing was 0.458, indicating that 45.8% of respondents expressed willingness to perform HIVST. Statistical analysis revealed a significant correlation between sexual behavior stigma and willingness to undertake HIV self-testing (p = 0.000; r = 0.486; r² = 0.236). These findings suggest that higher levels of sexual behavior stigma are associated with lower willingness to perform HIV self-testing. Sexual behavior stigma will lower the success of achieving HIV eradication. It is crucial to reactivate stigma elimination programs to create a safe and supportive environment for MSM as key populations, enabling them to protect themselves from the risk of HIV transmission.