Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU HAMILSEBELUM DAN SESUDAH KONSELING TENTANG PENTINGNYA NUTRISI IBU HAMIL DI KECAMATAN CISAYONG TAHUN 2017 chanty Yunie HR; Merry Dwijanti
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.328

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menggambarkan besarnya resiko kematian ibu pada fase kehamilan, persalinan dan masa nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka Kematian Ibu (AKI) nasional Indonesia tahun 2015 mencapai angka 305/100.000 kelahiran hidup (Dinkes RI, 2017). Gizi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kualitas seseorang termasuk ibu hamil. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sebelum dan sesudah satu kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Kecamatan Cisayong Tahun 2017.Sampel penelitian ini adalah sebagaian ibu hamil di Kecamatan Cisayong dengan teknik pengambilan sampling secara simple random sampling berjumlah 20 ibu hamil. Karakteristik responden pada 20 ibu hamil yaitu berdasarkan pekerjaan IRT memiliki proporsi paling banyak (75,0%) dibandingkan responden pedagang (25,0%).sedangkan berdasarkan umur menunjukkan bahwa responden yang berumur 16-20 tahun memiliki proporsi tertinggi (50,0), sedangkan responden yang berumur 21-25 tahun dan 26-20 tahun memiliki proporsi terendah (25,0). Hasil analisis bivariate menunjukkan ada perbedaan pengetahuan ibu hamil tentang nutrisi ibu hamil sebelum dan sesudah konseling.
GAMBARAN PERSEPSI KELIRU TENTANG GIZI PADA IBU HAMILYANG MEMILIKI BALITA STUNTING DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2019 chanty Yunie HR; Rita Ayu N
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 10 No. 1 (2019): Februari 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v10i1.332

Abstract

Budaya pada masa kehamilan dan persalinan di sebagian daerah telah terjadi pergeseran namun di sebagian lain masih dipertahankan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh O’Neil (2006) bahwa semua budaya yang diwariskan cenderung untuk berubah tetapi ada kalanya juga dipertahankan. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara singkat yang dilakukan di Di Wilayah Desa Cikunir Kabupaten Tasikmalayaterdapat ibu hamil yang memiliki kepercayaan-kepercayaan tentang acara makanan dan kebiasaan makan yang sudah turun-temurun dilakukan seperti contoh larangan untuk makan dipiring besar, makanan pedas, nanas, duren, tape dan yang lainya dengan alasan akan membahayakan kesehatan bayi. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil sebanyak 41 orang pada tahun 2018. jumlah sampel sebanyak 41 orang. Pengumpulan data primer diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur ibu hamil mengubah persepsi keliru tentang mitos gizi pada masa kehamilan sebagai upaya pencegahan kejadian stunting sebanyak 18 orang (43,9%), Yang Melakukan Budaya/Tradisi Syukuran Empat Bulanan dan Tujuh Bulanan sebanyak 32 yang melakukan (78,0%), Memiliki Pantangan sebanyak 12 pantangan (29,3%). Bagi ibu hamill hendaknya lebih memperhatikan kesehatan selama kehamilan, dengan cara mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang (makan makanan bergizi) dan tidak ada pantangan pada ibu selama kehamilan dan sering memeriksakan kehamilan kepada petugas kesehatan/bidan.
GAMBARAN PEMANFAATAN BUKU KIA DI MASA PANDEMIK PADA IBU HAMIL DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2020
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 1 (2021): Februari 2021
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v12i1.396

Abstract

Upaya pencegahan dari terlambatnya pengenalan adanya masalah yang bisa berlanjut pada keterlambatan rujukan lainnya. Sehingga AKI dapat ditekan melalui pemberdayaan ibu hamil dengan buku KIA. (Kemenkes, 2015). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Pemanfaatan Buku KIA Di Masa Pandemik Pada Ibu Hamil Di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2020. Jenis penelitian yang di gunakan adalah kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna berjumlah 87 orang. Teknik pengambilan sampel adalah dimana seluruh ibu hamil di jadikan sampel dalam penelitian. Instrumen penelitian yang diguanakan adalah kusioner yang mengukur Pemanfaatan Buku KIA Di Masa Pandemik Pada Ibu Hamil. Analisis data dilakukan dengan cara univariat yang disajiakan dalam bentuk table distribusi frekuensi dan di jelaskan dalam bentuk narasi. Mayoritas ibu hamil memiliki buku KIA, akan tetapi kurang dimanfaatkan, hal ini disebabkan karena 32,2% buku KIA tersimpan di Kader. Petugas kesehatan dan kader perlu berperan untuk mendorong ibu hamil memanfaatkan buku KIA agar dapat dideteksi secara dini permasalahan kesehata ibu dan anak supaya apat tercegah dari resiko kematian dan kesakitan.
KOMUNIKASI KONSELING DALAM PELAYANAN KEBIDANAN DI INDONESIA (LITERATURE REVIEW)
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 13 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v13i2.433

Abstract

Latar Belakang : Untuk mencapai tujuan keselamatan pasien dan mencapai pelayanan kesehatan yang maksimal, komunikasi yang efektif sangat penting, karena komunikasi adalah akar dari semua faktor lainnya Untuk memastikan kepuasan dan keselamatan pasien tersebut, maka komunikasi yang efektif harus ditekankan dalam semua program kesehatan dan diterapkan pada seluruh lini petugas yang bekerja di instansi kesehatan. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan penelitian literature review terhadap beberapa artikel yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan dalam kurun waktu 2017 sampai 2021. menggunakan metode kuantitatif deskriptif terhadap 3 jurnal yang berkaitan. Sumber data yang digunakan merupakan penelitian terdahulu yang dapat diakses melalui google scholar. Hasil Penelitian : Kualitas pelayanan mensyaratkan bagi suatu intansi/organisasi agar mampu melakukan penyajian pelayanan secara maksimal kepada konsumen dengan tujuan supaya konsumen memperoleh kepuasan dan pada akhirnya menjadi pelanggan yang setia. Berdasarkan hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa promosi kesehatan merupakan salah satu cara dalam mencapai komunikasi yang efektif bagi petugas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Strategi komunikasi interpersonal dengan promosi kesehatan dilakukan juga untuk mencapai tujuan dalam membantu peningkatan keterampilan konseling dan komunikasi petugas kesehatan. Sarana layanan kesehatan diharapkan memiliki komunikasi dengan baik agar khsusus menyampaikan informasi mengenai kesehatan dapat tersampaikan dengan baik dan jelas.
PEMBINAAN KADER POSYANDU WILAYAH KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2017 sinta Fitriani; chanty Yunie
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.133

Abstract

Kondisi pembangunan kesehatan diharapkan telah mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia, seperti meningkatnya derajat kesejahteraan dari status gizi masyarakat, meningkatnya kesetaraan gender, meningkatnya tumbuh kembang optimal, kesejahteraan dan perlindungan anak, terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk, serta menurunnya kesenjangan antar individu, antar kelompok masyarakat dan antar daerah dengan tetap lebih mengutamakan pada upaya preventif, promotif serta pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan. Salah satu bentuk upaya 2 pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah menumbuh kembangkan Posyandu (Menkes RI, 2011:2). Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Sejak dicanangkannya Posyandu pada tahun 1986, berbagai hasil telah banyak dicapai. Angka kematian ibu dan kematian bayi telah berhasil diturunkan serta umur harapan hidup rata-rata bangsa Indonesia telah meningkat secara bermakna (Menkes RI, 2011:2-3). Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari oleh untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Posyandu bertujuan memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Ditinjau dari aspek kualitas ditemukan banyak masalah di posyandu, antara lain kelengkapan sarana dan keterampilan kader yang belum memadai, cakupan kegiatan masih rendah, cakupan anak usia di bawah dua tahun masih di bawah 50%, sedangkancakupan ibu hamil hanya sekitar 20% (DepartemenKesehatan Rl, 2006). Masih sedikitnya jumlah posyandu mandiri saat ini menunjukkan belum optimalnya kinerja posyandu. Halini tampak dari strata posyandu di Indonesia (tahun2004) yakni 33,61% posyandu pratama, 39,86% posyandu madya, 23,62% posyandu purnama,dan posyandu mandiri (2,91 %). Berdasarkan data yang didapat dari profil Kabupaten Tasikmalaya Posyandu yang berada di Wilayah Kabupaten Tasikmalaya 2.282 unit, Posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Singaparna terdapat 40 posyandu tahun 2017. STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan pendampingan Kader Posyandu sebagai upaya peningkatan status gizi untuk dapat membantu terwujudnya kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan status gizi secara khususnya. Tujuan kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan peran kader posyandu dalam menjalankan tugas kadernya baik di hari pelaksanaan maupun di luar hari pelaksanaan.
KAMPANYE KB DI DUSUN MARGAMULYA DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Hapi Apriasih; annisa Rahmidini; Santi Susanti; chanty Yunie
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.138

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Ledakan penduduk ini terjadi karena laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Kondisi ini jelas menimbulkan dua sisi yang berbeda. Disatu sisi kondisi tersebut bisa menjadi salah satu kekuatan yang besar untuk Indonesia. Tetapi di satu sisi kondisi tersebut menyebabkan beban negara menjadi semakin besar. Selain menjadi beban negara juga menimbulkan permasalahan lain. Banyaknya jumlah penduduk yang tidak disertai dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang mampu menampung seluruh angkatan kerja bisa menimbulkan pengangguran, kriminalitas, yang bersinggungan pula dengan rusaknya moralitas masyarakat. Karena berhubungan dengan tinggi rendahnya beban negara untuk memberikan penghidupan yang layak kepada setiap warga negaranya, maka pemerintah memberikan serangkaian usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk agar tidak terjadi ledakan penduduk yang lebih besar. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menggalakkan program KB (Keluarga Berencana). Program KB pertama kali dilaksanakan pada masa pemerintahan Soeharto yaitu saat Orde Baru. Melalui KB masyarakat diharuskan untuk membatasi jumlah kelahiran anak, yaitu setiap keluarga memiliki maksimal dua anak. Tidak tanggung-tanggung, KB diberlakukan kepada seluruh lapisan masyarakat, dari lapisan bawah hingga lapisan atas dalam masyarakat. Oleh sebab itu laporan ini disusun untuk mengetahui seluk beluk mengenai penyelenggaraan KB di Indonesia, mulai dari sejarah, proses pelaksanaan, kelebihan dan kekurangan dari KB, serta dampak positif maupun dampak negatf dari pelaksanaan KB.
KEGIATAN PENYULUHAN PADA IBU BALITA TENTANG PENTINGNYA IMUNISASI BAGI BATITA DI Kp MARGAMULYA DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TASIKMALAYA TAHUN 2018 annisa Rahmidini; chanty Yunie
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.152

Abstract

Imunisasi dalam sistem kesehatan nasional adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Dasar utama pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama, dengan melakukan imunisasi terhadap seorang anak atau balita, tidak hanya memberikan perlindungan pada anak lainnya, karena terjadi tingkat imunitas umum yang meningkat dan mengurangi penyebaran infeksi (Ranuh dkk, 2011). Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi untuk mencapai kadar kekebalan di atas ambang perlindungan (Depkes RI, 2012). Jenis- jenis imunisasi dasar, yaitu: BCG, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit TBC. Kemudian imunisasi dasar Hepatitis B, yang diberikan untuk mencegah penyakit hepatitis B. Selanjutnya DPT, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Kemudian imunisasi dasar Campak, yang diberikan untuk mencegah penyakit campak dan yang terakhir imunisasi dasar Polio, yang diberikan untuk mencegah penyakit polio (IDAI, 2014). Salah satu dari 8 tujuan MDGs pada poin keempat adalah menurunkan angka kematian bayi dengan meningkatkan status imunisasi terutama imunisasi dasar lengkap pada bayi karena imunisasi merupakan hal yang wajib untuk melindungi bayi dari penyakit yang kerap menyerang. Namun, cakupan imunisasi dasar masih di bawah target (Priyono, 2010). Cakupan imunisasi dasar di Desa Cikunir sudah mencapai angkat 80-90%, akan tetapi target cakupan imunisasi dasar yaitu 100% sehingga seluruh batita yang ada di Desa Cikunir mendapatkan imunisasi dasar. Untuk meningkatkan cakupan target tersebut perlu adanya kesadaran dari ibu yang memiliki batita untuk dapat membawa batitanya ke posyandu sehingga mendapatkan imunisasi dasar sesuai dengan jadwal pemberiannya. Berdasarkan hal tersebut maka perlunya dilakukan penyuluhan kepada ibu yang memiliki batita tentang pentingnya imunisasi dasar dan jadwal imunisasi, sehingga setiap batita mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU HAMIL MELALUI DISKUSI KELOMPOK TENTANG PERSEPSI DAN TRADISI KELIRU PADA MASA HAMIL DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2018 chanty Yunie; annisa Rahmidini
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.155

Abstract

Kehamilan merupakan suatu keadaan dimana seorang wanita yang didalam rahimnya terdapat embrio atau fetus. Kehamilan dimulai pada saat masa konsepsi hingga lahirnya janin, dan lamanya kehamilan dimulai dari ovulasi hingga partus yang diperkirakan sekitar 40 minggu dan tidak melebihi 43 minggu (Kuswanti, 2014). Jumlah ibu hamil di Indonesia pada tahun 2017 tercatat sekitar 5.324.562 jiwa. Sedangkan di Jawa Tengah, jumlah ibu hamil mencapai 590.984 jiwa (Kemenkes RI, 2018). Kondisi kesehatan calon ibu pada masa awal kehamilan akan mempengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan serta kondisi status kesehatan calon bayi yang masih didalam rahim maupun yang sudah lahir, sehingga disarankan agar calon ibu dapat menjaga perilaku hidup sehat dan menghindari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi calon ibu pada masa kehamilan (Johnson, 2016). Sosial budaya dapat dilihat sebagai pola dalam suatu wilayah lokal, seringkali dipandang secara birokratis dan sesuatu yang terorganisir, berkembang, berbudaya termasuk teori pemikiran sistem kepercayaan dan aktivitas sehari-hari, hal ini dapat diterapkan dalam praktek keseharian. Terkadang sosial budaya digambarkan menjadi suatu yang tidak dapat ditangkap oleh akal sehat atau sesuatu diluar kemampuan panca indra (Cicourel, 2013). Kebudayaan memiliki unsur yang sama dalam setiap kebudayaan di dunia. Baik kebudayaan kecil bersahaja dan terisolasi maupun yang besar, kompleks dan dengan jaringan hubungan yang luas. Kebudayaan sangat mudah berganti dan dipengaruhi oleh kebudayaan lain, sehingga akan menimbulkan berbagai masalah yang besar. Dalam suatu kebudayaan terdapat sifat sosialis masyarakat yang didalamnya terdapat suatu ikatan sosial tertentu yang akan menciptakan kehidupan bersama (Sulismadi & Sofwani, 2011). Kebudayaan mencakup suatu pemahaman komprehensif yang sekaligus bisa diuraikan dan dilihat beragam vairabel dan cara memahaminya. Kebudayaan dalam arti suatu pandangan yang menyeluruh yang menyangkut pandangan hidup, sikap dan nilai. Pembangunan kebudayaan dikaitkan dengan upaya memperbaiki kemampuan untuk recovery, bangkit dari kondisi yang buruk, bangkit untuk memperbaiki kehidupan bersama, bangkit untuk menjalin kesejahteraan. Dalam hal inilah sosial budaya berperan untuk 3 memberikan solusi terbaik bagi beragam bidang kehidupan (Widianto & Pirous, 2009). Budaya pada masa kehamilan dan persalinan di sebagian daerah telah terjadi pergeseran namun di sebagian lain masih dipertahankan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh O’Neil (2006) bahwa semua budaya yang diwariskan cenderung untuk berubah tetapi ada kalanya juga dipertahankan. Ada proses dinamis yang mendukung diterimanya hal-hal dan ide-ide baru dan ada juga yang mendukung untuk mempertahankan kestabilan budaya yang ada. Hiller (2003) menyatakan bahwa ketika perubahan terjadi, maka terjadi destruksi nilainilai tradisional, kepercayaan, peran dan tanggungjawab, pendidikan, keluarga dan lain-lain yang hampir simultan dengan proses konstruksi cara baru sebagai pengaruh dari perubahan sosial. Nilai dan ritual yang baru ini menggantikan nilai dan ritual yang lama. Namun di sebagian masyarakat adakalanya terjadi kompromi yang mana nilai dan ritual baru dijalankan dengan tanpa menghilangkan nilai dan ritual lama. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara singkat yang dilakukan di Di Wilayah Desa Cikunir Kabupaten Tasikmalaya terdapat ibu hamil yang memiliki kepercayaan-kepercayaan tentang acara makanan dan kebiasaan makan yang sudah turun-temurun dilakukan seperti contoh larangan untuk makan dipiring besar, makanan pedas, nanas, duren, tape dan yang lainya dengan alasan akan membahayakan kesehatan bayi. STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul : Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil Melalui Diskusi Kelompok Tentang Persepsi Dan Tradisi Keliru Pada Masa Hamil Di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Tahun 2018
KAMPANYE TERBUKA “ASI SAJA SAMPAI USIA 6 BULAN” SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN GIZI PADA BAYI DI DUSUN GUNUNG KAWUNG DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 Hariyani Sulistyoningsih; chanty Yunie HR; Tupriliany Danefi; novi siti fatimah; aeni nooranisa
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i02.291

Abstract

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu fondasi kesehatan, perkembangan dan terutama kelangsungan hidup anak. Pemberian ASI eksklusif menghindari anak dari penyakit seperti diare, pneumonia dan gizi buruk yang merupakan penyebab umum kematian anak di bawah 5 tahun (WHO, 2017).World Health Organization (WHO) menyebutkan target pencapaian ASI eks-klusif tahun 2025 sebesar 50%, tetapi saat ini pencapaian secara global, hanya 38% bayi di bawah usia enam bulan yang disusui secara eksklusif (WHO, 2017). Target pem-berian ASI eksklusif di Indonesia tahun 2015 sebesar 55.7%, angka ini masih jauh dari target nasional yaitu 80%.Cakupan pemberian ASI di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 55,7% dan pada jika mengacu pada target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 39%, maka secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan telah mencapai target. Menurut provinsi, kisaran cakupan ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan antara 26,3% (Sulawesi Utara) sampai 86,9% (NusaTenggara Barat). Dari 33 provinsi yang melapor, sebanyak 29 di antaranya (88%) berhasil mencapai target renstra 2015 (Kemenkes RI, 2016).Sedangkan Pada tahun 2016 di Indonesia diketahui bahwa jumlah persentase bayi mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sebesar 29,5% dan bayi yang mendapat ASI usia 0-5 bulan sebesar 54,0% (Kemenkes RI, 2017).Pemberian ASI ekslusif di Jawa Barat sebanyak 349.968 Bayi umur 0-6 bulan dari 754.438 jumlah bayi 0-6 bulan (46,4%) gambaran ini masih dibawah cakupan nasional 52,3% terlebih Target nasional sebesar 80% walaupun demikian terdapat 2 kab/kota yang telah melampaui target nasional yaitu Kota Bandung 97,4% dan Kota Sukabumi 85,1% (Jawa Barat, 2016)Berdasarkan tabel profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya cakupan tidak diberikan ASI eksklusif sebanyak 76,64% (Dinkes Kab Tasikmalaya, 2016).Bayi yang tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif memiliki risiko kematian karena diare 3.94 kali (Ekawati et al., 2015). Estimasi37menunjukkan bahwa dalam praktik pemberian ASI eksklusif yang dapat mencegah kematian balita sebesar 11.6% (Black et al., 2013).Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan ibu, motivasi dalam memberikan ASI, kurangnya pelayanan konseling, kurangnya kampanye ASI eksklusif, peran petugas kesehatan, ibu bekerja, kampanye susu formula, sikap ibu, dan dukungan keluarga (Irma dan Kustati, 2013; Wulandari, 2015).Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan oleh mahasiswa PBL 1 Tahun 2018.terdapat bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif sebanyak 6 bayi (11,6%) di Dusun Gunung Kawung Desa Cikunir Kecamatan Singaparna pada tahun 2018. Dengan adanya program Indonesia sehat pendekatan keluarga yang bertujuan untuk meningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang di didukung dengan perlindungan financial dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakkat dengan memiliki 12 indikator yang diantaranya adanya pemberian ASI Eksklusif terhadap bayi. Oleh karena itu untuk upaya peningkatan sikap positif terhadap pemberian ASI Eksklusif, penulis melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan dengan metode penyuluhan dan metode kampanye terbuka.
OPTIMALISASI PERAN KADER POSYANDU MELALUI PELATIHAN UNTUK PENINGKATAN CAKUPAN ASI EKSLUSIF DI DUSUN PAMEUNGPEUK DESA CIKUNIR WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 chanty Yunie HR; novi siti patimah
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 02 (2020): Oktober 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i02.311

Abstract

ASI eksklusif menurut World Health Organization (WHO, 2011) adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin. Namun bukan berarti setelah pemberian ASI eksklusif pemberian ASI eksklusif pemberian ASI dihentikan, akan tetapi tetap diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 2 tahun. Berdasarkan data yang didapat dari profil Kabupaten Tasikmalaya Posyandu yang berada di Wilayah Kabupaten Tasikmalaya 2.282 unit, Posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Singaparna terdapat 40 posyandu tahun 2018. STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan Optimalisasi Peran Kader Posyandu Untuk Peningkatan Cakupan Asi Ekslusif Di Dusun Pameungpeuk Desa Cikunir Wilayah Kerja Puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2019 sebagai upaya peningkatan cakupan ASI Eksklusif untuk dapat membantu terwujudnya kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan status gizi secara khususnya.