Dwi Haryanti
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Ascidians Outbreak: A Threat For Coral Reefs in Panjang Island, Jepara Dwi Haryanti; Diah Permata Wijayanti; Bambang Yulianto; Mada Triandala Sibero; Lutfillah Arief Ghinaa Shabrina
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.13140

Abstract

Eutrophication and sedimentation have become a major threat to coral reefs in nearby areas with anthropogenic activities. These threats are often accompanied by shifting ecosystems from coral-rich to fast-growing algae-dominated water, and high prevalence of coral disease. In Panjang Island, Jepara, we observed the outbreak of photosynthetic ascidians along with a high sedimentation at the eastern part of the island. The ascidians were seen overgrowing most substrates including corals, macroalgae, dead-coral-algae, and rubbles in April to May 2019. In July and August 2019, observation and data collection using quadrant transect were conducted to monitor the outbreak. The result showed that ascidians were still present in the area, despite becoming pale and smaller. This report shows that the outbreak of these photosynthetic ascidians was not persistent, however, the effect on coral reef health should not be overlooked.
Prevalensi Penyakit Karang di Pulau Menjangan Besar Karimunjawa Nining Nursalim; Agus Trianto; Muhammad Syaifudien Bahry; Dwi Haryanti; Raden Ario; Raja Aditia Sahala Siagian; Akhmad Tri Prasetyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 1 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i1.13208

Abstract

Coral disease can cause coral damage on Menjangan Besar Island, Karimunjawa. Floating net cages adjacent to coral reefs can affect coral health. Floating net cages can affect water quality by adding nutrients, such as nitrate (205.6 and phosphate 39.2/ton fish production). Nutrients and environmental factors can trigger and cause coral disease. The purpose of this study was to determine the effect of the existence of floating net cages on the prevalence of coral disease on Menjangan Besar Island, Karimunjawa. The research was conducted using a survey method, data collection using a proportional method, the results of the data will be analyzed descriptively. The results of the study found Black Band Disease, Brown Band Disease, Ulcerative White Pox, White syndrome, Yellow Bloch Disease, Pigmentation responses, White Plague and White Band Disease. Water parameters such as temperature ranged from 30.71-30.750C, salinity 32.7-33.20/00, current velocity 0.03-0.06 m/s, nitrate 0.586-1,128 mg/L and phosphate 0.064-0.133 mg/ L. The most common disease is Ulcerative White Pox. The prevalence of coral disease is influenced by the presence of floating net cages, it can be seen in A1, A2 and A3 with prevalence values (39.85, 43.61 and 33.14) which are higher than B1 and B2 (14.41 and 10,6).  Penyakit karang dapat menyebabkan kerusakan karang di Pulau Menjangan Besar Karimunjawa. Karamba jaring apung yang berdampingan dengan terumbu karang dapat mempengaruhi kesehatan karang. Karamba jaring apung dapat mempengaruhi kualitas air dengan menambah nutrien, seperti Nitrat (205,6 dan fosfat 39,2/ton produksi ikan. Nutrien dan faktor lingkungan dapat menjadi pemicu dan penyebab penyakit karang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh keberadaan karamba jaring apung terhadap prevelensi penyakit karang di Pulau Menjangan Besar Karimunjawa. Penelitian dilakukan dengan metode survei, pengambilan data dengan metode porposif, hasil data akan disanalisis secara deskiptif. Hasil penelitian ditemukan penyakit Black Band Disease, Brown Band Disease, Ulcerative White Pox, White syndrome, Yellow Bloch Disease, Pigmentation responses, White Plague dan White Band Disease. Parameter perairan  seperti temperatur berkisar 30,71-30,750C, salinitas 32,7-33,20/00, kecepatan arus 0,03-0,06 m/s, nitrat  0,586-1,128 mg/L dan fosfat 0,064-0,133 mg/L. Penyakit paling banyak ditemukan adalah Ulcerative White Pox. Prevelensi penyakit karang dipengaruhi oleh keberadaan karamba jaring apung, dapat terlihat pada A1, A2 dan A3 dengan nilai prevalensi (39,85, 43,61 dan 33,14) yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan B1 dan B2 (14,41 dan 10,6).
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA NYAMUK, KECAMATAN KARIMUNJAWA MELALUI TEKNOLOGI PEMBUATAN GARAM MENGGUNAKAN BAKTERI HALOFILIK DAN TEKNIK ULIR FILTER (TUF) Wilis Ari Setyati; Diah Permata Wijayanti; Dwi Haryanti; Andri Cahyo Kumoro
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2022
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v6i3.14622

Abstract

Nyamuk Island is located in the west part of the Karimunjawa islands where most of the local people are fishers who depend on fisheries as their main livelihood. Due to limited knowledge and facilities, many fisheries commodities are not utilized optimally. One of the basic needs of the local community is salt. Salt is an essential food ingredient in life. Community service activities through a creative business development program on salt production are offered as a solution to overcome the problem of the lack of salt quality.  Ideally, salt would be produced using Thread Filter Technology (TUF) with the addition of halophilic bacteria to speed the crystallization process. The quality of seawater influences the success of making salt using halophilic bacteria. Old seawater (with a salt content of at least 20° Be) is an ideal material for manufacturing salt using halophilic bacteria. One method for obtaining old water is salt production through the Thread Filter Technology (TUF) method. The project results are the salt demplots that produce high-quality salt and the availability of alternative livelihoods for the locals in Nyamuk Village. In the long term, alternative livelihoods such as salt making and fisheries product diversification will reduce pressure on the environment and prevent fishing from being carried out extensively. The availability of good quality salt for fish processing can extend fish marketing distribution chain quality and create new job opportunities for homemakers/widows so that they are provided an opportunity to have an income. The project results concluded that the Community Leading Commodity Strengthening activity carried out in the Nyamuk Village was beneficial for the community's welfare and the environment. --- Pulau Nyamuk adalah salah satu pulau di kepulauan Karimunjawa dengan sebagian besar masyarakat menjadi nelayan dan memanfaatkan laut sebagai mata pencaharian utama. Namun karena keterbatasan pengetahuan dan fasilitas banyak hasil tangkap tidak dimanfaatkan secara optimal. Salah satu kebutuhan pokok makanan masyarakat setempat adalah garam. Garam merupakan bahan pokok makanan penting dalam kehidupan, untuk itu perlu upaya pemberdayaan masyarakat tentang pembuatan garam. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui program pengembangan usaha kreatif berbasis pembuatan garam ditawarkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ketiadaan garam berkualitas di Desa Nyamuk. Pembuatan  garam idealnya dilakukan dengan menggunakan penambahan bakteri halofilik yang bertujuan mempercepat proses kristalisasi garam. Keberhasilan pembuatan garam menggunakan bakteri halofilik dipengaruhi oleh kualitas air laut. Air laut tua (yang memiliki kadar garam minimal sama dengan 20° Be) merupakan bahan yang ideal untuk pembuatan garam dengan memanfaatkan bakteri halofilik. Salah satu metode untuk memperoleh air tua dalam pembuatan garam adalah melalui metode Teknologi Ulir Filter (TUF).  Hasil pengabdian ini merupakan alternatif tersedianya mata pencaharian bagi penduduk Desa Nyamuk. Hal tersebut merupakan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan jika terus-menerus dilakukan penangkapan ikan tanpa jeda buka tutup aktivitas penangkapan. Tersedianya garam berkualitas untuk pengolahan ikan diharapkan dapat memperpanjang kualitas ikan maupun rantai distribusi pemasaran ikan. Disamping itu juga tersedianya lapangan kerja baru bagi para ibu rumah tangga/janda sehingga memiliki peluang untuk memiliki penghasilan. Hasil pengabdian dapat disimpulkan bahwa kegiatan Penguatan Komoditi Unggulan Masyarakat (PKUM) yang dilaksanakan di Desa Nyamuk bermanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.       
Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Biologis Ekstrak Daun Rhizophora apiculata Asal Perairan Teluk Awur, Jepara Mirsa Septiana Mutik; Mada Triandala Sibero; Widianingsih Widianingsih; Subagiyo Subagiyo; Rudhi Pribadi; Dwi Haryanti; Ambariyanto Ambariyanto; Retno Murwani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14287

Abstract

Rhizophora apiculata is a type of mangrove that has the ability to adapt to extreme environmental conditions such as temperature, low oxygen levels, and high salinity. This adaptability affects the production of secondary metabolites. Information about the antibacterial activity of this mangrove against MDR (Multi-Drug Resistant) bacteria is still very limited. The content of secondary metabolites produced by mangrove R. apiculata is also expected to affect antioxidant activity against free radicals. The purposes of this study were to examine the presence of bioactive compounds by phytochemical tests and to evaluate the antibacterial activity against MDR bacteria such as Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Bacillus cereus, and Bacillus subtilis; and antioxidants property of R. Apiculata leaves that were collected from Teluk Awur, Jepara. The leaves were extracted using the multilevel maceration method with solvent sequence n-hexane, ethyl acetate and methanol. Metabolite finger printing using TLC method was carried out to detect the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, phenolics, quinones, steroids, and triterpenoids. The antibacterial test was carried out using agar well diffusion method while the antioxidant test was carried out using the DPPH method. The results of the phytochemical test showed that there were groups of alkaloids and steroids in the n-hexane solvent; alkaloids, phenolics, and steroids in ethyl acetate solvent; as well as alkaloids, flavonoids, phenolics, and saponins in methanol solvents. The results of this study indicate that R. apiculata from Teluk Awur Coastal Waters, Jepara had no potential as an antibacterial against MDR (Multi-Drug Resistant) bacteria, however the methanol extract has the potential to be used as an antioxidant with an IC50 value of 85.999 ppm. The bioautography showed that compounds from the phenol group, flavonoids, triterpenoids and b-carotene pigments acted as antioxidant agents in the leaf extract of R. apiculata.   Rhizophora apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem seperti suhu, kadar oksigen rendah dan salinitas tinggi. Kemampuan beradaptasi tersebut mempengaruhi produksi matabolit sekunder. Informasi mengenai kemampuan aktivitas antibakteri mangrove jenis ini melawan bakteri MDR (Multi Drug Resistent) masih sangat terbatas. Kandungan metabolit sekunder yang dihasilkan mangrove R. apiculata ini juga diharapkan dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan melawan radikal bebas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kandungan senyawa bioaktif serta aktivitas biologis berupa antibakteri melawan bakteri MDR Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Bacillus cereus dan Bacillus subtilis; dan antioksidan dari ekstrak daun mangrove R. apiculata asal perairan Teluk Awur, Jepara. Sampel diekstraksi menggunakan 3 pelarut berbeda (n-heksana, etil asetat dan metanol) dengan metode maserasi bertingkat. Analisis metabolit sidik jari dilakukan menggunakan plat KLT untuk mengetahui kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik, kuinon, steroid dan triterpenoid. Uji antibakteri dilakukan menggunakan metode sumuran sedangkan uji antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Hasil uji fitokimia menunjukkan terdapat golongan senyawa alkaloid dan steroid pada pelarut n-heksana; alkaloid, fenolik dan steroid pada pelarut etil asetat; serta alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin pada pelarut metanol. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa R. apiculata asal perairan Teluk Awur, Jepara tidak potensial sebagai antibakteri melawan bakteri MDR (Multi Drug Resistent), akan tetapi ekstrak metanol potensial digunakan sebagai antioksidan dengan nilai IC50 85,999 ppm. Tahapan bioautografi menunjukkan bahwa senyawa dari golongan fenol, flavonoid, triterpenoid dan pigmen b-karoten berperan sebagai agen antioksidan pada ekstrak daun R. apiculata.
Analisis Kandungan Mikroplastik pada Sedimen di Perairan Semarang, Jawa Tengah Faisal Tegar Ibrahim; Jusup Suprijanto; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.36506

Abstract

Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah serta menjadi pusat bisnis, ekonomi, pendidikan, dan berbagai kegiatan sosial. Hal ini menyebabkan kota ini memiliki produksi sampah yang besar. Sampah plastik, yang merupakan salah satu jenis sampah yang sering ditemukan dapat mengalami degradasi menjadi potongan plastik lebih kecil yang dinamakan mikroplastik. Perairan Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena Kota Semarang merupakan daerah dengan aktivitas manusia yang tinggi dan menghasilkan banyak limbah plastik yang dapat mengendap dalam sedimen laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pencemaran mikroplastik pada sedimen di Perairan Semarang. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada bulan April, Mei, Agustus, dan September 2021 secara purposive sampling menggunakan alat sediment grab di tiga titik berbeda yaitu muara, pantai, dan laut. Sedimen sebanyak 50 gram direndam dalam 100 ml larutan ZnCl2 selama 24 jam. Partikel mikroplastik yang mengambang dipisahkan kemudian direndam dalam 50 ml larutan H2O2 30% selama 24 jam dan disaring dengan menggunakan kertas saring MN (Macherey Nagel). Mikroplastik yang diperoleh diamati menggunakan mikroskop dan dianalisis bentuk, warna dan kelimpahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna dan bentuk mikroplastik yang diperoleh yaitu, berdasarkan bentuknya antara lain fragmen, pelet, film, dan fiber, berdasarkan warnanya antara lain hitam, coklat, merah, kuning, putih, hijau, dan ungu. Kelimpahan mikroplastik pada Bulan April sebanyak 2.577 partikel/kg, Bulan Mei sebanyak 2.058 partikel/kg, Bulan Agustus sebanyak 1.858 partikel/kg, dan Bulan September sebanyak 2.011 partikel/kg. Semarang City is the capital city of Central Java Province as well as being the center of business, economy, education, and various social activities.  Plastic waste, which is one type of waste that is often found, can experience degradation into smaller pieces of plastic called microplastics. Semarang Waters were chosen as the research location because Semarang City is an area with high human activity and produces a lot of plastic waste which will later settle in marine sediments. This research was conducted to determine microplastic pollution in sediments in Semarang Waters. Sampling was carried out 4 times in April, May, August, and September 2021 by a purposive sampling using a sediment grab tool at three different points, namely the estuary, beach, and sea. From each sample 50 grams of sediment was immersed in 100 ml of ZnCl2 solution for 24 hours. The floating microplastic particles were separated and then immersed in 50 ml 30% H2O2 solution for 24 hours and filtered using MN (Macherey Nagel) filter paper. The obtained microplastics were observed using a microscope and analyzed for shape, color and abundance. The results showed that these are microplastics in the shape of fragments, pellets, films, and fibers, with the colors of black, brown, red, yellow, white, green, and purple. The abundance of microplastics in April was 2.577 particles kg-1, in May 2.058 particles kg-1, in August 1.858 particles kg-1, and in September 2.011 particles kg-1. 
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Air, Sedimen, dan Lamun (Thalassia hemprichii) di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu Handi Cahyo Triyanto; Ria Tri Azizah Nuraini; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35263

Abstract

Pulau Kelapa Dua yang merupakan salah satu pulau destinasi wisata yang ada di Kepulauan Seribu, banyaknya mobilitas dari aktivitas manusia seperti jalur kapal menjadi sumber masalah pencemaran logam berat Timbal (Pb). Lamun menjadi salah satu bioindikator yang berfungsi sebagai penyerap dan pengakumulasi logam berat, salah satu jenis lamun yang banyak ditemukan di perairan Pulau Kelapa Dua yaitu Thalassia hemprichii. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan logam berat Timbal (Pb) pada air, sedimen, dan lamun T. hemprichii dengan menggunakan metode survei eksploratif. Analisis kandungan logam Pb menggunakan Atomic Absorption Spectophotometer (AAS) dengan metode destruksi basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan lamun T. hemprcihii di Pulau Kelapa Dua sudah termasuk dalam kategori tercemar Pb berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2021, sedangkan pada sedimen masih dibawah baku mutu yang ditetapkan oleh ANZECC (2000). Hasil kandungan logam Pb pada air berkisar 0,53–1,22 ppm, pada sedimen berkisar 0,06–0,41 ppm, pada akar lamun berkisar 4,2–10,4 ppm, dan hasil kandungan logam Pb tertinggi ditemukan pada daun lamun berkisar 14,5–28 ppm. Berdasarkan hasil tersebut, lamun T. hemprichii memiliki nilai tertinggi dalam mengakumulasikan logam berat dibandingkan sedimen dan air. Kelapa Dua Island is one of the tourists destination islands in the Kepulauan Seribu, and is heavily affected by human activities such as sea transportation that become source of heavy metal pollution problems. Seagrass is one of the bioindicators that functions as an absorber and accumulation of heavy metals. One of the most common seagrass found on Kelapa Dua Island is Thalassia hemprichii. This study was conducted to investigate the Lead (Pb) content in water, sediment, and seagrass (T. hemprichii) using explorative surveys. Lead content were analyzed using (Atomic Absorption Spectophotometer) AAS method with the use of wet destruction method. The research resulted that water and seagrass T. hemprichii on Kelapa Dua Island had already been polluted with Pb based on Indonesian Government Regulation No 22 of 2021. While the sediment are not polluted by Pb according to standards by ANZECC (2000). The result of heavy metal Pb content in the water ranging from 0,532 – 1,244 ppm, while sediment with value ranging from 0,006 – 0,41 ppm, and seagrass root scored between 4,2 – 10,4 ppm, highest level of Pb content was found on seagrass leaf with value ranging from 14,5 – 28 ppm. The results show that T. hemprichii has the highest absorption of Pb compared to sediment and water. 
Hubungan Jenis Lamun dengan Jenis Sedimen di Perairan Prawehan dan Pantai Marina, Jepara, Jawa Tengah Nur Ikhsan Setiawan Jody; Ita Riniatsih; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49327

Abstract

Padang lamun di ekosistem perairan dangkal memiliki beberapa fungsi penting, yaitu sebagai produsen primer, tempat tinggal bagi berbagai biota, menstabilkan dasar perairan, penangkap sedimen, dan pendaur zat hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan  jenis lamun dan substrat dasar di Pantai Prawehan dan Pantai Marina, Jepara, Jawa Tengah. Data  komposisi jenis dan persentase tutupan lamun dikumpulkan dengan metode line transect quadrat yang panjangnya 100 m pada jarak antara transek satu sama lainnya 50 m dengan pengulangan sebanyak 11 kuadran di satu line transect. Sementara itu, dilakukan analisis laboratorium untuk mengetahui nitrat dan fosfat menggunakan metode spektrofotometri, sedangkan bahan organik menggunakan metode pengabuan dan substrat dasar menggunakan analisis granolometri. Hasil menunjukkan di Pantai Prawehan rata-rata jumlah tutupan lamun sebesar 74,21% ± 14,12%; nitrat, fosfat, dan bahan organik tinggi dengan substrat dasar berjenis pasir. Sementara iitu, di Pantai Marina memiliki rata-rata jumlah tutupan lamun sebesar 56,26% ± 3,47%; nitrat, fosfat, dan bahan organik yang tinggi dengan substrat dasar berjenis pasir kasar. Hasil PCA menunjukan bahwa  Oceana  serrulata dan Cymodocea rotundata berkorelasi positif dengan lumpur dan nitrat. Thalassia hemprichii berkorelasi positif dengan bahan organik, tutupan, fosfat,pasir dan salinitas. Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium dan Enhalus acoroides. 
Kandungan Logam Berat Pb dan Cd dalam Sedimen di Pantai Trimulyo dan Pantai Tirang, Semarang Dinda Rizky Ayu Maulina; Delianis Pringgenies; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35038

Abstract

Kandungan timbal (Pb) dan kadmium (Cd) di sedimen sebagian berasal dari limbah industri yang masuk ke perairan dan terakumulasi di muara sungai. Pantai Trimulyo berada di pesisir Semarang, dekat dengan Kawasan Industri Terboyo yang berpotensi membuang limbah logam berat ke peraian. Pantai Tirang juga berpotensi tercemar limbah logam berat dari industri di Kecamatan Tugu yang masuk ke aliran Sungai Tapak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam Pb dan Cd pada sedimen di Pantai Trimulyo dan Pantai Tirang. Penelitian dilakukan dengan metode survei eksploratif dan penentuan lokasi pengamatan dengan metode purposive sampling. Sampel sedimen diambil sebanyak 3 kali pengulangan disetiap lokasi dengan sediment core. Sampel sedimen dianalisis di Laboratorium BBTPPI Semarang menggunakan alat Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) untuk menentukan kadar logam Pb dan Cd dalam sedimen. Hasil analisis kandungan logam Pb dalam sedimen menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat tertinggi ditemukan di Pantai Tirang sebesar 49,16 mg/kg dan Pantai Trimulyo memiliki kandungan Pb tertinggi 23,78 mg/kg. Hasil analisis kandungan logam Cd dalam sedimen di Pantai Trimulyo dan Pantai Tirang sebesar >0,050 mg/kg. Pengukuran parameter lingkungan (suhu, salinitas, pH, DO, kecepatan arus dan kecerahan perairan) secara in situ menunjukkan konstribusi terhadap kandungan logam berat pada sedimen. Secara keseluruhan, kandungan logam berat Cd pada sedimen di setiap lokasi penelitian tidak melebihi baku mutu, sedangkan kandungan logam berat pada sedimen yang melebihi atau mendekati baku mutu yaitu logam berat timbal.  The sediments contain lead (Pb) and cadmium (Cd) from industrial waste were often found to enter nearby waters and accumulates at river mouths. Trimulyo Beach is adjacent to the Terboyo Industrial Estate on Semarang's coast, which has the potential to dump heavy metal waste into the waters. Heavy metal waste from industry in Tugu District that enters the Tapak River might also pollute Tirang Beach. The aim of the study is to determine the Pb and Cd content of sediments at Trimulyo and Tirang beaches. The research was conducted by using an exploratory survey method, and the research site was determined using a purposive sampling method. Using the sediment core, sediment samples were taken three times in each location. The levels of Pb and Cd metals in sediment samples were analysed using an Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) at the Semarang BBTPPI Laboratory. The analysis of the metal content of Pb in the sediment showed that Tirang Beach had the highest concentration of heavy metal at 49.16 mg/kg, and Trimulyo Beach had the highest Pb content at 23.78 mg/kg. The results showed that the Cd metal content in sediments at Trimulyo Beach and Tirang Beach was >0.050 mg/kg. Environmental parameters measured in situ (temperature, salinity, pH, DO, current velocity, and water clarity) made a contribution to the heavy metal content in the sediment. Overall, the heavy metal content of Cd in the sediment at each research location did not exceed the quality standard, while the lead heavy metal exceeded or approached the quality standard.
Analisa Genetika Gastropoda Nudibranchia dari Pulau Panjang, Jepara Wilhelmina br Sinulingga; Diah Permata Wijayanti; Munasik Munasik; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.38661

Abstract

Gastropoda Nudibranchia memiliki karakteristik insang telanjang atau insang berbulu atau tanduk di punggungnya merupakan anggota Ordo Opisthobranchia, kelompok Gastropoda terbesar dengan anggota lebih dari 3.000 species. Nudibranchia diketahui hidup di Pulau Panjang, salah satu destinasi wisata terkenal di Jepara. Pergerakannya yang lambat dan bentuknya yang menarik, dapat mengganggu keberadaannya di habitat alaminya. Penelitian mengenai Nudibranchia belum banyak dilakukan di Indonesia, termasuk analisa genetiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman genetik Nudibranchia dari Perairan Pulau Panjang. Analisa DNA dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro, dengan metode PCR-sequencing menggunakan mtDNA-COI (cytochrome oxidase subunit I gene dari DNA mitokondrial). Primer yang digunakan pada penelitian yaitu primer forward: LCOI1490: 5'-GGTCAACAAATCATAAAGATATTGG-3 dan reverse: HCOI2198: 5'-TAAACTTCAGGGTGACC AAAAAATCA-3'. Rekonstruksi pohon filogenetik dan keragaman genetik dilakukan menggunakan software MEGA 6.06 (Analysis of the Evolution of Molecular Genetics). Hasil analisis sampel Nudibranchia berdasarkan susunan DNA mitokondria, ditemukan 2 spesies dengan 8 individu yaitu, spesies Jorunna funebris dan Chromodoris lineolata. Tingkat kesamaan (homologi) dalam analisa BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) sebesar 98 % - 100 %. Hasil analisis filogenetik secara menyeluruh memperlihatkan pengelompokan yang terjadi berdasarkan kemiripan genetiknya.Nudibranchia gastropods have the characteristics of naked gills or hairy gills or horns on their backs and are members of the Order Opisthobranchia, the largest group of Gastropods with more than 3,000 species. Nudibranchia are known to live on Panjang Island, one of the famous tourist destinations in Jepara. Its slow movements and attractive shape can disrupt its existence in its natural habitat. Not much research has been done on Nudibranchia in Indonesia, including genetic analysis. This research aims to analyze the genetic diversity of Nudibranchia from Panjang Island waters. DNA analysis was carried out at the Diponegoro University Integrated Laboratory, using the PCR-sequencing method using mtDNA-COI (cytochrome oxidase subunit I gene from mitochondrial DNA). The primers used in the research were forward primer: LCOI1490: 5'-GGTCAACAAATCATAAAGATATTGG-3 and reverse: HCOI2198: 5'-TAAACTTCAGGGTGACCAAAAAATCA-3'. Phylogenetic tree reconstruction and genetic diversity were carried out using MEGA 6.06 (Analysis of the Evolution of Molecular Genetics) software. The results of analysis of Nudibranchia samples based on mitochondrial DNA structure found 2 species with 8 individuals, namely, Jorunna funebris and Chromodoris lineolata species. The level of similarity (homology) in BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) analysis is 98% - 100%. The results of a comprehensive phylogenetic analysis show that grouping occurs based on genetic similarity.