Anon Dwi Saputro
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

YUNUS DAN BELAS KASIHAN ALLAH: ANALISIS NARATIF YUNUS 4 Petra Harys Alfredo Tampilang; Anon Dwi Saputro; Farel Yosua Sualang
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Vol. 7 No. 1 (2024): Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47457/phr.v7i1.461

Abstract

This study aims to investigate and analyze aspects of mercy reflected in the narrative of Jonah 4, with a particular focus on the comparison between God's mercy and Jonah's mercy. Using a narrative literary approach, this study explores the deeper meanings in the text and details Jonah's response to God's mercy as presented in chapter 4. The research method involves literary analysis and identifying narrative elements that reflect the theme of mercy. The center of attention of this study lies at the beginning of the narrative in Jonah 4, where Jonah shows an upset reaction to God's decision to spare Nineveh. Understanding God's mercy and Jonah's response to it is the main focus of the analysis. The findings show a significant difference between God's mercy, which involves His universal love for all nations, and the lack of mercy shown by Jonah towards the Ninevites. The contribution of the findings lies in a deeper understanding of Jonah's character, the dynamics of the relationship between humanity and divinity, and the theological implications contained in the text of Jonah 4.
Resistensi dan Rekonstruksi: Mengkaji Sikap Oposisi dalam Narasi Rebuilding Tembok Yerusalem dalam Kitab Nehemia 4 Anon Dwi Saputro; Yokibet Henny kawangung
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i2.174

Abstract

This article aims to examine how oppositional attitudes towards the construction of the Jerusalem wall in the context of the narrative of rebuilding the Jerusalem wall of Nehemiah 4. The study uses the text exposition method by paying attention to the genre of Nehemiah 4 to identify narrative elements that reflect resistance to the Jerusalem wall construction project. The results of the analysis show that the narratives in Nehemiah 4 depict various forms of resistance to the Jerusalem wall building project, including physical threats, scorn, and political intrigue. Nehemiah and his community faced this opposition with various strategies, such as organizing protection, praying, and maintaining their determination to complete the project. The researcher discovered how resistance influenced the reconstruction efforts, and the spirit of reconstruction motivated them to overcome the opposition. Reconciliation to opposition led to resistance and led to reconstruction influenced by the figure of Nehemiah. ABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana sikap oposisi terhadap pembangunan tembok Yerusalem dalam konteks narasi rebuilding tembok Yerusalem Nehemia 4. Studi ini menggunakan metode eksposisi teks dengan memperhatikan genre dari Nehemia 4 untuk mengidentifikasi elemen-elemen naratif yang mencerminkan resistensi terhadap proyek pembangunan tembok Yerusalem. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi dalam Kitab Nehemia 4 menggambarkan berbagai bentuk resistensi terhadap proyek pembangunan tembok Yerusalem, termasuk ancaman fisik, pencemoohan, dan intrik politik. Nehemia dan komunitasnya menghadapi oposisi ini dengan berbagai strategi, seperti mengorganisir perlindungan, berdoa, dan mempertahankan tekad mereka untuk menyelesaikan proyek tersebut. Peneliti menemukan bagaimana resistensi memengaruhi upaya rekonstruksi, dan semangat rekonstruksi memotivasi mereka untuk mengatasi oposisi yang ada. Rekonsiliasi terhadap oposisi menimbulkan resistensi dan berujung kepada rekontruksi yang dipengaruhi oleh figur Nehemia. Kata-kata Kunci: Resistensi, Rekontruksi, Nehemia 4, Oposisi 
Memahami 2 Raja-Raja 2:23-25 Dalam Konteks Sejarah, Budaya, dan Teologis: Analisis Perlakuan Elisa Terhadap Anak-Anak Saputro, Anon Dwi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i1.208

Abstract

The text 2 Kings 2:23-25 features a controversial scene of Elisa cursing the children who mocked him. In a theological context, Elisa's action raises questions about the character of God presented in scripture. This article aims to understand the text of 2 Kings 2:23-25 in historical, cultural, and theological contexts, and analyze Elisha's actions using contextual and theological approaches. In the historical and cultural context, Elisha's actions can be understood as actions taken to maintain the authority and dignity of the prophets. However, in a theological context, Elisha's actions raise questions about the character of God who may appear cruel and unmerciful. Analysis with a contextual and theological approach shows that Elisa's actions should be understood as part of the social and theological context and characteristics at the time, and not as a universal view that applies to every situation.AbstrakTeks 2 Raja-raja 2:23-25 menampilkan adegan yang kontroversial tentang Elisa yang mengutuk anak-anak yang mengejeknya. Dalam konteks teologis, tindakan Elisa ini menimbulkan pertanyaan tentang karakter Allah yang disajikan dalam orang percaya suci. Artikel ini bertujuan untuk memahami teks 2 Raja-raja 2:23-25 dalam konteks sejarah, budaya, dan teologis, serta menganalisis tindakan Elisa dengan menggunakan pendekatan kontekstual dan teologis. Dalam konteks sejarah dan budaya, tindakan Elisa dapat dipahami sebagai tindakan yang diambil untuk mempertahankan otoritas dan martabat para nabi. Namun, dalam konteks teologis, tindakan Elisa menimbulkan pertanyaan tentang karakter Allah yang mungkin terlihat kejam dan tidak berbelas kasihan. Analisis dengan pendekatan kontekstual dan teologis menunjukkan bahwa tindakan Elisa harus dipahami sebagai bagian dari konteks dan karakteristik sosial dan teologis pada saat itu, dan bukan sebagai pandangan universal yang berlaku untuk setiap situasi.
Mengelola Konflik dalam Gereja: Strategi Manajemen Konflik Menurut Efesus 4: 1-16 Baskoro, Paulus Kunto; Ayuningrum, Fransiska Nur Endah; Theresna, Jefri; Saputra, Anon Dwi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 2 (2024): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i2.94

Abstract

AbstractIn church life, conflict cannot be separated. Conflict is not something that must be avoided, but must be overcome in order to create congregational unity. Conflicts that occur are due to different backgrounds in the lives of each person in the congregation. Management is used to prevent conflict, but if conflict occurs, the focus is on resolving it. Conflicts that occur in a church have fatal consequences if they are not handled well, such as leadership not being optimal, the number of congregations decreasing, leadership cadre not occurring, church services becoming ineffective and the local church not reflecting the likeness of Christ. Based on the analysis of Ephesians 4: 1 – 16, there are four principles that can be applied in the church to maintain unity and prevent conflict, namely living in unity, building unity, diversity to build unity, the means to achieve true unity is Jesus. The method used is a descriptive qualitative method. The aim is First, to examine conflict management strategies based on Ephesians 4:1-6. Second, implementing the values from the results of the conflict management strategy study into today's church.Keywords: Ephesias, Church, Unity, Conflict, Management AbstrakDalam kehidupan gereja juga tidak terlepas dengan namanya konflik. Konflik itu bukan hal yang harus dihindari, tetapi harus diatasi agar dapat tercipta kesatuan jemaat. Konflik yang terjadi dikarenakan perbedaan latar belakang dalam kehidupan setiap orang di dalam jemaat. Manajemen digunakan untuk mencegah konflik, tetapi apabila terjadi konflik, maka fokusnya adalah pada penyelesaiannya. Konflik yang terjadi dalam sebuah gereja berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik, seperti kepemimpinan menjadi tidak maksimal, mengalami penurunan jumlah jemaat, pengkaderan kepemimpinan tidak terjadi, pelayanan gereja menjadi tidak efektif dan gereja secara lokal tidak mencerminkan keserupaan dengan Kristus. Berdasarkan analisis Efesus 4: 1 – 16 ada empat prinsip yang bisa diterapakan di dalam gereja untuk menjaga persatuan dan mencegah terjadinya konflik, yaitu hidup dalam kesatuan, membangun kesatuan, keberagaman untuk membangun kesatuan, sarana untuk mencapai kesatuan sejati adalah Yesus. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuannya adalah Pertama, mengkaji strategi managemen konflik berdasarkan Efesus 4:1-6. Kedua, mengimplementasikan nilai-nilai dari hasil kajian strategi managemen konflik ke dalam gereja masa kini.Kata kunci : Efesus, Gereja, Kesatuan, Konflik, Manajemen
Seni Retorika Nabi Amos dalam Membumikan Pesan Keadilan Sosial Saputro, Anon Dwi
Misioner Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Misioner
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID MAKALE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51770/jm.v4i2.155

Abstract

Penelitian ini menggali seni retorika yang terkandung dalam Kitab Amos 5:7-13, dengan fokus pada penggunaan bahasa oleh Nabi Amos dalam mengungkapkan pesan keadilan sosial. Analisis retorika dilakukan untuk menyelidiki bagaimana seni retorika digunakan untuk membentuk pesan moral dan sosial, khususnya dalam konteks keadilan. Melalui pendekatan analisis retorika ini mengidentifikasi suara dominan yang mencakup ketidakpuasan terhadap ketidakadilan dan menyoroti konflik sosial di dalamnya. Hasilnya, penelitian ini menyajikan pemahaman mendalam tentang bagaimana seni retorika membentuk pesan moral dan sosial, dan sekaligus menjelaskan urgensi keadilan sosial dalam konteks kitab suci tersebut. Kesimpulannya, seni retorika Nabi Amos dalam Kitab Amos 5:7-13 menjadi cerminan kebijaksanaan moral yang mendalam, menantang pembaca untuk merenung dan bertindak dalam membangun masyarakat yang adil.
MAKNA PUJIAN ATAS CIPTAAN DALAM MAZMUR 8: KAJIAN TEOLOGIS DAN PERBANDINGAN DENGAN MITOLOGI KANAAN Saputro, Anon Dwi
Jurnal Penggerak Vol. 6 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62042/jtp.v6i2.96

Abstract

Artikel ini mengkaji makna pujian dalam Mazmur 8 dengan mempertimbangkan konteks mitologi Kanaan dan teologi penciptaan. Mazmur 8, yang mengungkapkan kekaguman terhadap ciptaan dan kedudukan manusia dalam tatanan alam, menjadi titik fokus penelitian ini. Melalui analisis teks, artikel ini mengidentifikasi elemen-elemen mitologis yang mempengaruhi pemikiran teologis di wilayah Kanaan. Penelitian ini juga membahas bagaimana pemahaman tentang penciptaan dalam tradisi Israel menciptakan perbedaan mendasar dengan pandangan mitologis Kanaan, terutama dalam hal posisi manusia sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah. Dengan pendekatan integrasi, artikel ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman akan peran pujian dalam mengungkapkan hubungan antara pencipta, ciptaan, dan manusia, serta implementasi bagi kekristenan masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazmur 8 bukan hanya sekadar ungkapan pujian, tetapi juga sebuah refleksi teologis yang kaya akan makna, yang mencerminkan dialog antara tradisi iman dan budaya sekitarnya. Artikel ini menegaskan pentingnya Mazmur 8 sebagai sumber refleksi spiritual dan teologis, yang bertujuan untuk menghargai ciptaan dan menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab dalam konteks iman yang berakar pada ajaran Allah.
TUGAS GEMBALA SEBAGAI TELADAN DALAM FIGUR KEPEMIMPINAN MASA KINI MENURUT 2 TIMOTIUS 2:1-7 Simbolon, Bostan Rejeki; Baskoro, Paulus Kunto; Saputro, Anon Dwi
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.167

Abstract

Pentingnya sebagai pemimpin di dalam gereja untuk melahirkan pemimpin yang baru agar menjangkau lebih luas dan mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi, Penulis akan memberikan penjelasan bagaimana Paulus mendidik seorang anak muda yang bernama Timotius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin terhadap jemaat, menurut 2 Timotius 2:1-7. Paulus memberikan keteladanan yang baik terhadap dalam mengajar dan menghadapi masalah dengan mengandalkan Tuhan Yesus dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan terus melakukannya dengan setia. Yesus menjadi teladan yang paling utama mengajarkan kebenaran Firman Allah memberitakan Injil dan kehidupan sosial Metode penulisan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Tujuan dari penelitian ini menjelaskan prinsip-prinsip sebagai pemimpin dan menjadi gembala yang benar dalam kehidupan saat ini dengan kajian dari prinsip-prinsip dalam 2 Timtoius 2:1-7, sehingga menghasilkan karya penting dalam sebuah penggembalaan untuk memunculkan pemimpin baru
MEMPRAKSISKAN DUALISME ORANG BIJAK DAN ORANG BEBAL MENURUT AMSAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Murdiyono, Moses; Saputro, Anon Dwi
The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Vol. 10 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54793/teologi-dan-kependidikan.v10i2.175

Abstract

Abstract This article discusses the concept of dualism between the wise and the foolish according to the teachings of Proverbs in the context of Christian Religious Education. This dualism reflects differences in perspectives, behaviors, and values between wise and foolish individuals. Proverbs, as part of the Bible, serves as the primary foundation in detailing the characteristics of both groups. The research method used is a hermeneutic approach to the wisdom genre, specifically focusing coherently on the thematic elements of the Foolish and the Wise in the Book of Proverbs. The research findings indicate that the integration of this dualistic concept in Christian religious education can positively contribute to the development of character and morality. By understanding the distinctions between the wise and the foolish, it is hoped that Christian religious education can make a positive contribution to shaping a generation with strong character and grounded in spiritual values Keywords: Praxis, Dualism, Wise person, Foolish person, Proverbs
Tanggapan Epilog Kitab Ayub 42:1-17 Terhadap Teologi Retribusi Matulessy, Yosua Yosia; Saputro, Anon Dwi; Sumarmi, Ni Putu
Jurnal Teologi dan Pelayanan Kerusso Vol 10 No 1: Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso - Maret 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/kerusso.v10i1.450

Abstract

Suffering is often regarded as a direct consequence of sin in theological tradition, but the story of Job challenges this view. The story of Job reflects the reversal of this understanding. The purpose of this research is to analyze the epilogue of the Book of Job as a response that can correct the misunderstanding of retributive theology regarding the suffering of the righteous. The view opposed in the epilogue is the belief that the righteous will surely be blessed and the sinners will surely suffer. This is rejected in the epilogue, which states that even the righteous can suffer. The method used is a qualitative method with a thematic approach. The author identifies three central themes in retributive theology: the emphasis on rationality-morality, misconceptions about the nature of God from ancestral traditions, and God's judgment. These themes will be examined in the epilogue of the Book of Job, with attention to exegetical study of the epilogue's narrative. The research findings show that the epilogue rejects the idea of retributive theology through three main components: God's acceptance (42:7-8), Job's prayer to God (42:9), and Job's restoration (42:10-17). The epilogue of the Book of Job rejects the concept of retributive theology through these three interconnected components, based on the reasoning that (1) the relationship between God and humans is dynamic, and (2) God's grace is the source of restoration.
Eksaminasi Fondasi Pendidikan Agama Kristen Dalam Ulangan 30:11-20: Perspektif Keputusan Hidup Menurut Ajaran Ilahi di Era Society 5.0 Saputro, Anon Dwi; Sumardi, Sumardi; Tjasmadi, Maria Patricia
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 5, No 1 (2024): Christian Education and Christian Leadership (June 2024)
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v5i1.200

Abstract

This research aims to examine the foundation of Christian Religious Education contained in Deuteronomy 30:11-20, with a focus on the perspective of life decisions according to divine teachings. The study is relevant to the context of the Society 5.0 era, characterized by the integration of technology and an increasingly complex human life. The research method to be employed is an exegetical approach. This study takes into account the historical and cultural context of Deuteronomy 30:11-20. Additionally, the research applies contextual analysis to connect divine teachings with the challenges and opportunities of everyday life in the Society 5.0 era. The findings of the research indicate that the Foundation of Christian Religious Education in Deuteronomy 30:11-20 provides a profound insight into life decisions reflected in obedience to God's commandments and offers meaningful guidance in making life decisions amid the dynamics of modern society 5.0.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksaminasi fondasi Pendidikan Agama Kristen yang terkandung dalam Ulangan 30:11-20, dengan fokus pada perspektif keputusan hidup menurut ajaran ilahi. Penelitian ini relevan dengan konteks era Society 5.0, yang ditandai oleh integrasi teknologi dan kehidupan manusia yang semakin kompleks. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan eksegesis. Kajian ini memperhatikan konteks historis dan budaya saat Ulangan 30:11-20. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan analisis kontekstual untuk menghubungkan ajaran Ilahi dengan tantangan dan peluang kehidupan sehari-hari di Era Society 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fondasi Pendidikan Agama Kristen dalam Ulangan 30:11-20 memberikan pandangan mendalam tentang keputusan hidup yang tercermin dalam ketaatan terhadap perintah Tuhan serta memberikan panduan yang berarti dalam pengambilan keputusan hidup di tengah dinamika masyarakat modern 5.0.