Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Discriminatory Treatment Against Minority Communities in Sharia Region: A Study of Parmalim Adherents in Aceh Singkil Yasin, Taslim HM; Majid, Abd; Maizuddin, Maizuddin; Mardhatillah, Jundy
Religió Jurnal Studi Agama-agama Vol. 14 No. 1 (2024): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/religio.v14i1.2726

Abstract

This article describes the condition of Parmalim believers in Aceh Singkil who are marginalized and receive discriminatory treatment. This discriminatory treatment has left Parmalim believers in limbo when it comes to practicing their faith. The number of these believers in the area is decreasing day by day as more and more are converting to state-recognized religions. The research method used is the qualitative research method. The informants in this study consisted of key informants such as the village head, the secretariat of the Parmalim sect, the weekly ritual leader, and the Persantian board, as well as supporting informants, namely Parmalim believers who could provide additional information to enrich the data such as farmers, traders and people who are active in social activities in Parmalim. The results show that social activities and interactions between Parmalim believers and community members of other religions continue to run well. However, the phenomenon of discriminatory treatment against Parmalim believers is still ongoing. Proposals to repair places of worship to the Aceh Singkil Regional Government have never been fulfilled. In the field of education, there are no religious lessons or worship practices to strengthen the children of Parmalim followers. The children of Parmalim believers do not dare to reveal their beliefs, because the religious teachers at school only teach Islamic and Christian religious education.
Tradisi Khataman Al-Qur’an Pengantin Perempuan Pra Pernikahan Di Aceh Singkil: Sebuah Studi Living Qur’an Dan Negosiasi Peran Gender Jasriani Ainun; Maizuddin Maizuddin; Samsul Bahri
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.488

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena Living Qur’an dalam tradisi khataman Al-Qur’an pra-nikah di Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Tradisi ini memantik diskursus gender yang unik karena kewajiban ritual publik ini secara adat hanya dibebankan kepada calon pengantin perempuan, sementara calon pengantin laki-laki tidak dilibatkan dalam prosesi serupa menjelang pernikahannya. Penelitian lapangan (field research) kualitatif ini bertujuan untuk membedah praktik, pemaknaan, dan alasan di balik disparitas gender tersebut dengan menggunakan tiga pisau analisis: pendekatan Living Qur’an, teori Tindakan Sosial Max Weber, dan Analisis Gender. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif pada prosesi adat, serta wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, dan para pengantin. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, praktik khataman di Aceh Singkil merupakan bentuk hibridasi harmonis antara syariat Islam dan adat lokal, yang terlihat dari integrasi ritual peusijuk (tepung tawar) dan kenduri pulut kuning dalam rangkaian pembacaan surah-surah pilihan Al-Qur’an. Kedua, dalam perspektif Weber, tradisi ini dimaknai sebagai tindakan rasional berorientasi nilai (kepatuhan pada norma agama untuk tabarruk) sekaligus tindakan afektif (momen pelepasan emosional antara anak dan orang tua). Ketiga, analisis gender mengungkap bahwa ketiadaan khataman bagi laki-laki bukan bentuk diskriminasi, melainkan pembagian peran berbasis siklus hidup (lifecycle-based role division). Laki-laki dianggap telah menuntaskan kewajiban khataman publik pada fase walīmat al-khitān (aqil baligh), sedangkan perempuan melaksanakannya jelang pernikahan sebagai validasi kesiapan menjadi al-Madrasah al-Ūlā (pendidik utama) bagi anak-anaknya kelak. Tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme legitimasi sosial bagi transisi otoritas keagamaan domestik perempuan dan strategi kebudayaan dalam menjaga literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat.
The Niniak Mamak: Authority, Customary Law Construction, Jamee Tribe, Aceh, Indonesia Dedy Sumardi; Mursyid Djawas; Riadhus Sholihin; Maizuddin Maizuddin; Rizky Nadia Putri
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 26 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v26i1.50631

Abstract

This study examines the Niniak Mamak tradition as a customary institution with authority over decision-making and dispute resolution within the Acehnese Jamee community. It explores how the matrilineal Niniak Mamak institution has persisted despite the dominance of a patrilineal social structure and the modern legal system in Aceh. The study analyzes the roles and authority of Niniak Mamak in adjudicating customary legal disputes. Data were collected through field observations and in-depth interviews with Niniak Mamak involved in dispute resolution. The findings show that dispute settlement follows several stages: complaint submission by aggrieved parties, fact-finding investigations, customary deliberation among stakeholders, imposition of sanctions such as fines or community service, and reconciliation through a customary ceremony known as duduak sapapan sapambatang di tangah umah. This process involves Niniak Mamak from both parties to restore social relations and encourage mutual forgiveness between offenders and victims. The decisions produced become binding customary legal norms guiding future dispute resolution. The study concludes that the Niniak Mamak institution remains relevant as a customary dispute resolution mechanism. It continues to function effectively in promoting restorative justice, social harmony, and community-based reconciliation within a changing legal and social context in Aceh.   Abstrak Penelitian ini mengkaji tradisi Niniak Mamak sebagai pemimpin adat yang memiliki otoritas dalam pengambilan keputusan adat, termasuk penyelesaian sengketa hukum pada masyarakat Suku Jamee Aceh. Fokus penelitian adalah bagaimana sistem matrilineal yang melekat pada lembaga Niniak Mamak tetap bertahan dan menjalankan fungsi adat di tengah dominasi sistem patrilineal serta perkembangan sistem hukum modern di Aceh. Tujuan penelitian adalah menganalisis peran dan kewenangan Niniak Mamak dalam memutus dan menyelesaikan sengketa hukum adat. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan para Niniak Mamak yang terlibat dalam proses penyelesaian sengketa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengaduan oleh pihak yang dirugikan, penyelidikan untuk mengumpulkan fakta, musyawarah adat bersama pihak terkait, penetapan sanksi adat berupa denda atau kerja sosial, serta rekonsiliasi melalui upacara adat yang dikenal sebagai “duduak sapapan sapambatang ditangah umah”. Proses ini melibatkan Niniak Mamak dari kedua belah pihak guna memulihkan hubungan sosial dan mendorong saling memaafkan antara pelaku dan korban. Keputusan yang dihasilkan menjadi pedoman hukum adat yang wajib dipatuhi. Temuan ini mengimplikasikan bahwa Niniak Mamak tetap relevan dalam penyelesaian sengketa berbasis keadilan restoratif dan rekonsiliasi sosial.
Penafsiran Khaled Abou El Fadl Terkait Ayat-Ayat Toleransi Dalam Al-Qur’an Taqwiya Taqwiya; Maizuddin Maizuddin; Samsul Bahri
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.392

Abstract

Toleransi merupakan nilai dasar dalam upaya harmonisasi kehidupan sosial dalam masyarakat. Di tengah beragamnya kebudayaan, agama, etnis, ideologi, serta falsafah hidup, toleransi berperan penting untuk mencegah konflik, mempromosikan dialog, dan meningkatkan persatuan. Namun, Dalam praktiknya, nilai ini seringkali diabaikan karena faktor kesalahpahaman, fanatisme, maupun kepentingan individu dan kelompok. Hal ini seringkali memancing perpecahan, diskriminasi, dan kekerasan, yang selalu merusak kerukunan sosial. Salah satu tokoh muslim kontemporer Khaled Abou El Fadl yang selama ini dianggap sebagai seorang muslim moderat yang sering menyuarakan sikap toleran. Fokus penelitian ini berada pada ruang lingkup penelitian tokoh, yang menekankan pada pemikiran tokoh yang mengkaji Al-Qur’an, dengan jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) terkait tema yang dikaji yaitu toleransi menurut Khaled Abou El Fadl.  Toleransi antar umat beragama dalam pandangan Islam merupakan sikap menghargai pemeluk agama lain. Toleransi antar umat beragama yang diharapkan di sini adalah toleransi yang tidak menyangkut bidang akidah atau dogma masing-masing agama. Kehidupan Khaled Abou El Fadl sebagai seorang Muslim yang lahir dan tumbuh di Timur Tengah kemudian bermigrasi dan tinggal di Amerika Serikat, di tengah masyarakat Barat yang plural dan sekuler, membentuk cara pandangnya yang khas dalam memahami ajaran Islam. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an terkait tema toleransi Khaled Abou El Fadl memfokuskan pada aspek interaksi sosial. Konsep toleransi Khaled menekankan pada prinsip saling menghormati perbedaan dan keragaman, Kerjasama, dan saling tolong menolong. Selanjutnya ia juga menekaankan untuk tidak memaksakan keyakinan, hanya memerangi kaum kafir yang lebih dulu memerangi kaum muslim, dan tidak serta merta menolak ajakan perdamaian.
Kecenderungan Memakai Cadar di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar: Kajian Living Hadis Maizuddin, Maizuddin; Suarni, Suarni
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 9 No. 1 (2019): JUNI
Publisher : Department of Qur'an dan Hadith Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.952 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2019.9.1.44-67

Abstract

The article aims at describing the tendency of wearing a veil in Banda Aceh City and Aceh Besar District, which has recently increased significantly. It employs living hadith as a concept with a qualitative method that seeks to explore hadiths that living in Muslim societies, how they are applied and made into traditions in daily life. The article argues that the use of the veil was more based on self-protection than on theological motivation. However, they still held that wearing veil is a sunna. This circumcision is then understood in a totalistic ideal typology, which leads to the implementation of Sunna in a higher level of application. Besides, women who wear a veil feel more filled with religious nuance, which manifests in the attitude of ‘iffah (self-care), islah} (improvement of knowledge and behavior) and ‘izzah (feeling noble). Also, the religiosity of a veiled female affects in two aspects: socio-morality and psychological aspect.