Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS KEPUASAN PETANI TERHADAP PENGGUNAAN BENIH PADI VARIETAS UNGGUL (INPARI DAN MEKONGGA) DI KECAMATAN LIMBOTO BARAT KABUPATEN GORONTALO: ANALISIS KEPUASAN PETANI TERHADAP PENGGUNAAN BENIH PADI VARIETAS UNGGUL (INPARI DAN MEKONGGA) DI KECAMATAN LIMBOTO BARAT KABUPATEN GORONTALO Moh. Muchlis Djibran; Idrus Yasin; Merita Ayu Indrianti; Yusriah A. Gobel; Suhairin Suhairin
Jurnal Agriovet Vol. 6 No. 1 (2023): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v6i1.1036

Abstract

Benih merupakan salah satu faktor produksi pertanian. Mutu benih akan menentukan produksi dan produktivitas suatu tanaman. Pada tanaman padi, benih yang disemai kemudian ditanam harus sesuai dengan kondisi iklim dan kondisi ekologi tanah setempat. Bersama faktor produksi lainnya, termasuk perilaku petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya, benih padi akan berkontribusi terhadap upaya Pemerintah dalam meningkatkan sehingga harapan untuk menuju ketahanan pangan yang kokoh dapat tercapai. Penelitian ini dilakukan di Desa Huidu, Desa Hutabohu dan Desa Pone Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan petani padi sawah terhadap penggunaan benih padi di Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo. Populasi dalam penelitian ini adalah para petani padi sawah di Kecamatan Limboto Barat. Di Desa Huidu, Desa Hutaboho dan Desa Pone terdapat 20 kelompok tani yang bernaung di tiga Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dengan jumlah anggota 1.042 orang. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat kepuasan terhadap kinerja atribut benih padi varietas unggul Mekongga dan Inpari berdasarkan hasil analisis menurut indeks kepuasan konsumen (CSI) adalah sangat puas yang tercermin dari nilai CSI sebesar 93,44%. Atribut benih padi yang harus diperhatikan oleh produsen benih yaitu atribut kualitas kemasan, daya tahan terhadap kerebahan, daya tumbuh tanaman, umur tanaman dan rasa nasi yang dihasilkan dari benih padi tersebut. Kata Kunci: Kepuasaan Petani, Benih, Padi, Varietas Unggul
KERAGAAN USAHATANI LAHAN KERING PADA PETANI TRANSMIGRAN (Studi Kasus di Desa Saritani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo) Widiastuti Ardiansyah; Merita Ayu Indrianti; Moh. Muchlis Djibran; Dedi Rizaldi Hippy
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 2 (2022): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i2.726

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan usahatani lahankering pada petani transmigran di Desa Saritani Kecamatan WonosariKabupaten Boalemo yang meliputi jenis komoditi, pola kombinasiusahatani lahan kering dan tingkat pendapatan usahatani dalamkegiatan usahatani. Penelitian dilakukan terhadap 73 petani yangtersebar di tiga dusun. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 jeniskomoditi usahatani dan 21 pola kombinasi usahatani yang dilakukanoleh petani. Jenis komoditi yang diusahakan terdiri dari tanamanpangan (jagung dan padi), tanaman perkebunan (kelapa, kelapa sawitdan kopi), tanaman tahunan (cengkeh) dan hortikultura (sayur danbuah). Ketersediaan tenaga kerja tersedia dalam jumlah cukup banyak.Produktivitas lahan usahatani rendah, hal ini karena kondisi dantopografi lahan di sebagian besar lahan usahatani merupakan lahankering yang mengandalkan curah hujan dan kontur lahan berbukit.Tingkat pendapatan usahatani untuk tanaman yang banyak diusahakanoleh petani cukup baik dan menguntungkan namun harga jual ditingkat petani relatif rendah.Kata Kunci : Keragaan, usahatani, lahan kering, petani, transmigrasi AbstractThis study aims to determine the performance of dry land farmingon transmigrant farmers in Saritani Village, Wonosari District,Boalemo Regency which includes the type of commodity, thecombination pattern of dry land farming and the level of farm incomein farming activities. The study was conducted on 73 farmers spreadover three hamlets. The results showed that there were 16 types offarming commodities and 21 combination patterns of farming carriedout by farmers. The types of commodities cultivated consist of foodcrops (corn and rice), plantation crops (coconut, oil palm and coffee),annual crops (cloves) and horticulture (vegetables and fruit).Availability of labor available in sufficient quantities. The productivityof farming land is low, this is because the condition and topography ofthe land in most of the farming land is dry land that relies on rainfalland hilly land contours. The level of farming income for crops that aremostly cultivated by farmers is quite good and profitable, but theselling price at the farm level is relatively low.Key words: Performance, farming, dry land, farmers, transmigration
Dynamics of Fertilizer Subsidy Implementation: A Systemic Evaluation of the 6T Principles on Corn Productivity in Gorontalo Nurlia Ripo; Merita Ayu Indrianti; Dewa Oka Suparwata; Moh. Muchlis Djibran
Populer: Jurnal Penelitian Mahasiswa Vol. 5 No. 1 (2026): Maret: Jurnal Penelitian Mahasiswa
Publisher : Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/populer.v5i1.4209

Abstract

Government intervention through fertilizer subsidies is a pivotal instrument for national food security, particularly for corn commodities in Gorontalo. This study evaluates the effectiveness of fertilizer subsidy policy implementation based on the "6T" principles (Right Type, Quantity, Price, Place, Time, and Quality) and its impact on corn production in Pulubala District. Using a quantitative explanatory design, 99 corn farmers were surveyed through proportional random sampling. Data were analyzed using Spearman Rank correlation to assess relationships between systemic variables: Targeting Accuracy (), Quantity Accuracy (), Timeliness (), and Physical Availability (). Findings reveal that  () and  () have significant positive correlations with production. Conversely, timeliness () and physical availability () showed no statistical significance (). This anomaly suggests a "Governance Paradox" where physical stock availability does not guarantee accessibility due to bureaucratic rigidities within the e-RDKK digital system. The study recommends database synchronization and logistics debureaucratization to ensure sustainable agricultural output.
Peran Kelembagaan Kelompok Tani Terhadap Pendapatan Petani Jagung Di Gorontalo: Perspektif Aksi Kolektif Moh. Muchlis Djibran; Merita Ayu Indrianti; Yusriyah Atikah Gobel; Aditya Djaini; Nuurlela Marua
National Multidisciplinary Sciences Vol. 5 No. 5 (2026): Proceeding SEMARTANI 5
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/nms.v5i5.929

Abstract

Kelompok tani merupakan instrumen utama pemberdayaan petani di Indonesia, namun kinerjanya bersifat multidimensional dan sangat bergantung pada ekosistem kelembagaan di sekitarnya. Studi ini menganalisis empat dimensi kinerja kelompok tani --- perencanaan kegiatan, ketaatan terhadap perjanjian, hubungan kelembagaan eksternal, dan penerapan teknologi --- serta pengaruhnya terhadap pendapatan petani jagung di Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, sebuah wilayah sentra produksi jagung yang tidak memiliki Koperasi Tani (Koptan) maupun Koperasi Unit Desa (KUD). Penelitian ini menggunakan pendekatan survei deskriptif-eksplanatori dengan teknik purposive sampling terhadap 50 petani jagung yang tergabung dalam sembilan kelompok tani di sembilan desa. Data dianalisis menggunakan rasio skor aktual-ideal, analisis usahatani, dan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan fenomena asymmetric institutional performance: tiga dimensi kelembagaan internal berada pada kategori tinggi (94,67 persen; 90,00 persen; dan 96,00 persen), sementara dimensi hubungan kelembagaan eksternal hanya mencapai 45,33 persen (kategori rendah). Secara agregat, skor peran kelompok tani mencapai 81,50 persen (tinggi). Pendapatan rata-rata petani sebesar Rp13.996.183 per musim dengan R/C ratio 3,82. Uji regresi membuktikan peran kelompok tani berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani (B = 0,685; beta = 0,698; t = 6,760; p < 0,001; R2 = 0,488). Temuan ini mengkontestasi asumsi teori aksi kolektif bahwa kapasitas internal kelompok secara otomatis membangun konektivitas institusional eksternal. Ketiadaan mitra kelembagaan di level mezo merupakan hambatan struktural yang tidak dapat diatasi melalui penguatan kapasitas internal..
Persepsi Petani Jagung terhadap Peran Penyuluhan Pertanian dan Adopsi Teknologi di Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango Moh. Muchlis Djibran; Yusriyah Atikah Gobel; Merita Ayu Indriyanti; Dewa Oka Suparwata; Riska Alfiah Rantung
National Multidisciplinary Sciences Vol. 5 No. 5 (2026): Proceeding SEMARTANI 5
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/nms.v5i5.938

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi petani jagung terhadap peran penyuluhan pertanian dan kaitannya dengan tingkat adopsi teknologi di Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Jagung merupakan komoditas strategis utama di Provinsi Gorontalo, namun produktivitasnya masih berada di bawah potensi optimal akibat rendahnya adopsi teknologi di tingkat petani. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner berskala Likert yang diadministrasikan kepada 68 petani jagung yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dianalisis menggunakan skor persentase, indeks persepsi, dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani jagung terhadap peran penyuluhan pertanian berada pada kategori cukup baik dengan indeks rata-rata 67,0%. Dimensi kompetensi teknis penyuluh memperoleh penilaian tertinggi (74,9%), sedangkan frekuensi kunjungan penyuluh mendapat penilaian terendah dan termasuk kategori kurang baik (58,3%). Tingkat adopsi teknologi jagung secara keseluruhan berada pada kategori sedang dengan indeks rata-rata 63,7%; adopsi tertinggi tercatat pada penggunaan benih varietas unggul hibrida (78,3%) dan pengendalian hama terpadu (72,5%), sedangkan penggunaan pupuk organik (46,0%) dan sistem tanam jajar legowo (42,7%) mencatat adopsi terendah. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap penyuluhan dan tingkat adopsi teknologi jagung (rs = 0,634; p < 0,05). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan intensitas kunjungan penyuluh dan relevansi materi penyuluhan berbasis kebutuhan petani sebagai strategi mendorong adopsi teknologi.