Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

SINERGI PENTAHELIX DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN: STUDI KASUS KERJASAMA PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS DENGAN STAKEHOLDER Fina Lutfitasari; Siti Malaiha Dewi
Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja Vol 51 No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Riset dan Pengkajian Strategi Pemerintahan (LRPSP), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jipwp.v51i2.5298

Abstract

Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan multidimensi yang membutuhkan solusi komprehensif dan terintegrasi. Pendekatan pentahelix, yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil (PJK), dan media massa, dianggap sebagai strategi yang efektif untuk mengatasi kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergi pentahelix dalam mengatasi kemiskinan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Studi kasus ini berfokus pada kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kudus dan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan dan melaksanakan program pengentasan kemiskinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui observasi, studi kasus, dan dokumentasi. Dengan teknik pengumpulan data analisis tematik dan literatur dengan memperoleh informasi dari buku, jurnal, artikel, dan lain-lain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerja sama pentahelix merupakan strategi yang efektif untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dengan kolaborasi dan sinergi antar pihak, berbagai masalah kompleks seperti kemiskinan, pengangguran, dan kerusakan lingkungan dapat diatasi secara lebih efektif.
KONTEKTUALISASI MISI RISALAH KENABIAN DALAM MENANGKAL RADIKALISME Dewi, Siti Malaiha
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.646 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1801

Abstract

Misi risalah atau tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia yaitu untuk membawa dan menebar rahmat dan kasih sayang kepada alam semesta. Misi risalah kenabian bersifat universal untuk semua manusia, tidak hanya untuk mereka yang beriman, tetapi juga bagi mereka yang tidak beriman. Rahmat dan kasih sayang mencerminkan Islam yang ramah, santun, toleran, dan penuh dengan cinta damai. Islam tidak menebarkan kebencian dan permusuhan. Aksi kekerasan dan anakhis oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan pembelaan dan dakwah untuk agama Islam akhir-akhir ini, menunjukkan adanya pemahaman ajaran agama Islam secara tekstual, kaku dan eksklusif. Pemahaman secara tekstual memunculkan doktrin kebenaran sepihak dan hak justifikasi atas kesalahan kelompok lain yang dianggap tidak sepaham. Pemahaman ini semakin mempertajam perbedaan yang menjadi sunnatullah. Berdakwah untuk menyampaikan misi risalah yang dilakukan dengan cara-cara yang baik dan benar, santun, beradab, dan bijaksana, bukan dengan paksaan dan dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Dakwah yang sangat baik telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW yang terbukti efektif dan sukses. Semangat untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW yang ramah, santun, cinta damai, toleran, dan penuh kasih sayang harus terus diaktuliasaikan dan dikontekstualiasikan dengan semangat zaman sebagai bentuk tanggung jawab seorang muslim baik secara individual maupun sosial.
Distorsi Perilaku Keberagamaan Masyarakat Majemuk dalam Membangun Toleransi Beragama di Dukuh Kayuapu Dewi, Siti Malaiha; Hidayah, Novi Nurul
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5626.652 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2977

Abstract

The application of inter-religious tolerance in Kayuapu has been distorted. This research is a qualitative field research. Sources of the data were collected from observations or documentation and interviews with Muslim and Christian communities in the Kayuapu Kulon, Kudus Regency, Central Java, Indonesia. The result is revealed that the tolerance understood by the Kayuapu community are provides freedom for anyone to embrace religion and the practice of worship according to their own beliefs. But some residents also practice religious conversion repeatedly. The contributing factors are: first, environmental factors or playmates; second, changes in status such as marriage and divorce; third, economic factors (poverty); and fourth, the lack of understanding of religion.
Analisis Kepemimpinan Perempuan Muslim dalam Konteks Kontemporer Mufarikhin, Mufarikhin; Dewi, Siti Malaiha
POLITEA Vol 4, No 1 (2021): Politea : Jurnal Pemikiran Politik Islam
Publisher : State Islamic Institute of Kudus (IAIN Kudus)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/politea.v3i2.8844

Abstract

Women's leadership has been a controversial issue in the contemporary history of several Muslim societies. Meanwhile, in relation to this, some scholars have permitted it as a form of social necessity in a modern context, most Muslim scholars have also refused because of its effect which is considered to be debilitating. Examples of women's leadership in general and as heads of Muslim states can be found in the context of the success of Benazir Bhutto in Pakistan, Khalida Zia and Sheikh Hasina in Bangladesh, Megawati Sukarnoputri in Indonesia, Atifete Jahjaga in Kosovo, Roza Otunbayeva in Kyrgyzstan, and Mame Madior Boye in Senegal. This issue is debatable because there is no clear direction regarding the leadership of the state and the high position of government which makes the problem divisive and full of conflict. Given the context, there is a need to analyze Muslim leadership in a contemporary context. This paper discusses the concept, brief history, the importance of women's leadership and analyzes the views of Islamic scholars within the scope of contemporary Islamic thought, which are based on the textual arguments of the Qur'an and Sunnah of Muslim scholars. This paper concludes that although a small portion of the entire Muslim spectrum tries to justify allowing women's leadership to develop social, economic and political perspectives, many Muslim scholars view it as a violation of God's commandments and, therefore, strictly preventing the appointment of women as both heads of state. high government officials.
Konstruksi Sosial Dakwah Politik Ulama Perempuan Pantura Dewi, Siti Malaiha
POLITEA Vol 7, No 2 (2024): Politea : Jurnal Pemikiran Politik Islam
Publisher : State Islamic Institute of Kudus (IAIN Kudus)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/politea.v7i2.30709

Abstract

Dibandingkan dengan bidang lainya, kiprah ulama perempuan di politik masih jarang. Namun, di Pantai Utara Jawa (Pantura), terdapat ulama perempuan yang selain mengampu pondok pesantren juga melakukan dakwah politik dengan terjun ke politik praktis. Tulisan ini bertujuan menganalisa bagaimana konstruksi sosial atas dakwah politik yang mereka lakukan. Guna mendapat jawaban, maka jenis penelitianya adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Key person penelitian ini adalah Nyai DN pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang dari PKB. Lalu, ada pula Nyai RJ, pengasuh pondok pesantren Al Hamidiyah Lasem dan menjadi ketua Wanita Persatuan, PPP. Teori yang digunakan adalah Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah politik ulama perempuan merupakan hasil kontruksi sosial yang terbentuk melalui dialektika secara simultan antara pengetahuan ulama perempuan dengan realitas sosial melalui mekanisme internalisasi, obyektifikasi, dan eksternalitas. Basis dakwah politik ulama perempuan yaitu pemikiran  bahwa  politik sebagai jihad untuk perbaikan nasib perempuan. Pemikiran ini diperoleh melalui pengalaman yang diinternalisasikan secara terus menerus oleh significant others yaitu lingkungan keluarga, bapak maupun suami yang terlebih dahulu terjun ke politik, dan juga habituasi pengalaman organisasi. Ulama Perempuan mengeksternalisasi pengetahuan yang sudah diobyektivasi dengan tindakan dakwah politik secara kultural dan struktural.
Analisis Faktor Ketidakberhasilan Calon Bupati Perempuan Pada Pilkada Kabupaten Kudus-Kota Santri Tahun 2018 Dewi, Tevana Sari; Dewi, Siti Malaiha
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 2 (2021): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i2.13927

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor ketidakberhasilan calon bupati perempuan pada Pilkada Kabupaten Kudus yang merupakan kota santri pada Tahun 2018. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ketidakberhasilan calon bupati perempuan ada dua: Pertama, faktor internal, meliputi: kurangnya waktu untuk sosialisasi diri sebagai calon pemimpin perempuan, dan faktor primordialisme karena bukan asli orang Kudus; Kedua, faktor eksternal meliputi: adanya money politic, dan terbentuknya jaringan botoh. Maka, pertama, pendidikan politik bagi masyarakat secara masif harus dilaksanakan oleh lembaga penyelenggara maupun pengawas pemilu serta perguruan tinggi dan NGO sehingga primordialisme dan pandangan yang bias gender dari masyarakat tentang calon bupati perempuan terkikis. Kedua, penegakan regulasi tentang larangan money politic oleh lembaga pengawas pemilu mesti diperkuat bersama-sama dengan pengawasan partisipatif oleh masyarakat.
PENCEGAHAN PERKAWINAN DINI DAN SIRRI MELALUI COLLABORATIVE GOVERNANCE BERBASIS GENDER DI KABUPATEN PATI Dewi, Siti Malaiha; Rahayu, Rahayu; Kismartini, Kismartini; Yuniningsih, Tri
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.6357

Abstract

Pernikahan dini di pedesaaan marak terjadi termasuk di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Sebagian besar perkawinan dilakukan secara sirri, selebihnya dilakukan secara tercatat melalui proses dispensasi nikah. Berbagai upaya pencegahan pernikahan di bawah umur sudah dilakukan terutama oleh pihak KUA Sukolilo dengan melakukan penolakan secara institusional melalui pelaksanaan kebijakan pembatasan usia minimal perkawinan dan pendekatan terhadap tokoh agama yang berperan menikahkan mereka secara sirri, tetapi hasilnya belum signifikan, bahkan banyak persoalan kesenjangan gender  yang terjadi dalam pelaksanaan kebijakan tersebut setelah dianalisis menggunakan Gender Analysis Pathway.  Dengan demikian, collaborative governance  berbasis gender menjadi solusi alternatifnya dengan melibatkan masyarakat, pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan, Ketua RT, Kepala Desa, Kecamatan, KUA, dan Pengadilan Agama.
Fenomena Pernikahan Sikum dan Di Bawah Umur Di Dukuh Ploso Kerep, Desa Prawoto, Kecamatan Sukoilo, Kabupaten Pati Dewi, Siti Malaiha
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2442

Abstract

Tulisan ini diawali ketertarikan penulis terhadap fenomena banyaknya pernikahan dini yang terjadi di dusun Ploso Kerep salah satu wilayah Desa Prawoto yang berbeda dari daerah lain, antara lain soal motif dan dampak. Jika di tempat lain umumnya disebabkan factor ekonomi, di sana tidak. Jika di tempat lain pernikahan dini berkorelasi dengan tingginya tingkat perceraian, dan terganggunya fungsi reproduksi perempuan, di sana pun tidak terjadi hal yang demikian. Motif pernikahan dini di sana adalah: 1) Kebanggaan orang tua jika anaknya menikah di usia belia; 2) Kemauan sendiri anak untuk menikah sebab menganggap kebahagiaan hidup adalah dengan berkeluarga; 3) Pemahaman terhadap satu prinsip “menolak mafsadat lebih utama daripada mengambil maslahat”, maka menikah dini lebih utama bagi mereka sebagai pencegah terjadinya zina; dan 4) Telah hamil duluan. Pernikahan di bawah umur dilaksanakan dengan dua model, yaitu: 1) system sikum atau pernikahan yang tidak tercatat di KUA; 2) Pernikahan di bawah umur tercatat di KUA melalui pengajuan dispensasi nikah ke pengadilan. 
SIKAP DAN PEMAKNAAN PEREMPUAN MARGINAL TERHADAP POLITIK UANG: Studi Kasus Pemilu Tahun 2014 di Kabupaten Kudus Dewi, Siti Malaiha
ADDIN Vol 9, No 1 (2015): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v9i1.613

Abstract