Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Kajian Karakter Budaya Masyarakat Kawasan Permukiman Gosong Sungai (Bars) (Studi Kasus Kampung Apung Pulau Bromo Kota Banjarmasin) Arif Rahman Nugroho; Selamat Riadi; Ellyn Normelani; Yulika Puspita Sari
Jurnal Geografika (Geografi Lingkungan Lahan Basah) Vol 1, No 1 (2020): GEOGRAFIKA
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.751 KB) | DOI: 10.20527/jgp.v1i1.2295

Abstract

Kota Banjarmasin mendapat julukan “kota seribu sungai” untuk menggambarkan betapa banyak dan pentingnya sungai yang mengalir di kota ini. Kondisi ini merupakan sebuah keistimewaan yang membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial dan ekonomi kota. Dari waktu ke waktu orang bermukim di antara berbagai sistem sungai di kota ini, sehingga pada akhirnya terjadi konsentrasi penduduk di setiap sudut kota termasuk di daerah gosong sungai (bars) Martapura. Sungai merupakan salah satu bagian penting yang begitu lekat dalam kehidupan masyarakat Banjar Kalimantan Selatan dari waktu ke waktu. Sungai tidak hanya dipandang sebagai jaringan ekologis namun lebih kepada saujana budaya atau cultural landscape yang memuat aktivitas, riuh suasana, dan keterkaitan masyarakat terhadap sungai. Oleh karena itu untuk mengetahui kondisi eksisting budaya yang ada di kawasan permukiman tepian sungai Kampung Apung Pulau Bromo, Kelurahan Mantuil maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini guna mengetahui kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah gosong sungai (bars) dan mengidentifikasi aspek - aspek budaya sebagai pembentuk karakter lanskap  budaya masyarakat kawasan permukiman tepian sungai besar. Populasinya adalah masyarakat yang bermukim di lokasi tersebut. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive (sengaja). Penelitian ini didesain menggunakan mixed method. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui survei. Sedangkan pengumpulan data kualitatif, dilakukan melalui Indepth-Interview. Hasil penelitian disimpulkan bahwa budaya air dan karakteristik fisik permukiman tradisional di kawasan permukiman tepian sungai Kampung Apung Pulau Bromo, Kelurahan Mantuil sangat kaya dan beragam serta memiliki potensi untuk dikembangkan.Kata Kunci: Ragam Potensi, Lanskap  Budaya,  Permukiman, Gosong Sungai.
Ecotourism Potential in Meratus Geopark, South Kalimantan Ellyn Normelani; Selamat Riadi; Rusma Noortyani; Endarto Endarto; Nasir Nayan
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Program Pascasarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ecotourism development in Mt. Meratus, South Kalimantan, is crucial to support the future development and forest use in the South Kalimantan area. Ecotourism provides a mechanism to use forest resources sustainably while at the same time provides opportunities for local economic growth. This paper aims to describe the potential resources of Mt. Meratus to support the ecotourism program in South Kalimantan. The development of ecotourism in Mt. Meratus has been crucial since the area has a high level of geo-biodiversity and cultural resources, which are important for the future human being. Protecting and promoting indigenous knowledge of the community in the Mt. Meratus geo-site area are important to support sustainable development programs, including the development of ecotourism as one of the practices of responsible travels to the natural ecosystem.Keywords: biodiversity conservation, geotourism, Mt. Meratus Kalimantan.
Penanganan Banjir Pada Permukiman Padat Penduduk Sepanjang Sub DAS Martapura Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan Bahrul Ilmi; Nasruddin Nasruddin; Rosalina Kumalawati; Selamat Riadi
Jurnal Geografika (Geografi Lingkungan Lahan Basah) Vol 3, No 2 (2022): GEOGRAFIKA
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jgp.v3i2.6917

Abstract

Kalimantan Selatan merupakan kawasan yang sebagian besarnya adalah lingkungan lahan basah, terlebih lagi Kabupaten Banjar tempat di mana hulu sungai Martapura berada. Tentu saja di saat musim hujan tiba sebagian wilayah Kabupaten Banjar terjadi bencana banjir akibat luapan DAS Martapura. Salah satu tempat yang sering terjadi banjir adalah Desa Pakauman Kecamatan Martapura Timur. Selain faktor alam, faktor manusia juga sangat mempengaruhi terjadinya bencana banjir yang terus menerus terjadi setiap tahunnya. Mengenai faktor ulah manusia berupa penggunaan lahan tidak mempertimbangkan karakteristik bentang alam, Kabupaten Banjar menjadi salah satu wilayah Yang terkena dampak banjir dari penggunaan lahan yang tidak mempertimbangkan karakteristik bentang lahan yang membuat kondisi alam Kabupaten Banjar rusak, sebaiknya pemerintah juga memberikan edukasi pada masyarakat untuk selalu menjaga alam. Dengan analisis dari data yang kami kumpulkan dari berbagai sumber dapat di simpukan, kebanyakan lahan hutan di Kabupaten Banjar di gunakan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara. Untuk menanggulangi bencana banjir ini, Pemerintah perlu membuat mitigasi bencana banjir dengan penataan wilayah permukiman warga dan membentuk bendungan Riam Kiwa untuk menampung air hujan agar daerah aliran sungai Martapura tidak meluap.
Designing Educational Attractions Based on Local Wisdom Ellyn Normelani; Selamat Riadi; Muhammad Efendi; Rendya Adi Kurniawan; Rizky Nur Hakimah
Social Studies Conference Proceedings 2022: The 1st International Conference of Social Studies (ICSS)
Publisher : Social Studies Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.899 KB) | DOI: 10.20527/sscp.vi.612

Abstract

This study aims to identify the natural and cultural potential of the Dayak Loksado indigenous people and to design environmental and educational tourism activities that are synergized with the values ​​of local community wisdom. Data were collected through field observations, interviews, and document reviews. The results of this study reveal that Loksado has natural and cultural potential to be packaged as an educational and ecotourism destination. Natural potential includes panoramas in the form of waterfalls, protected forests, hills, cultivation areas, rivers, and the Dayak Loksado indigenous people’s culture.
Development of Visual Interactive Learning Media Model Based on Documentary Film Themes of Regional Tourism Potential in Tourism Geography Learning Selamat Riadi; Nasruddin Nasruddin; Hanifah Mahat; Rendya Adi Kurniawan; Rizky Nur Hakimah
J-PIPS (Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial) Vol 9, No 1 (2022): JPIPS
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jpips.v9i1.18052

Abstract

The tourism geography course is an elective course presented in semester 5 for students of the Geography Study Program at the Lambung Mangkurat University Banjarmasin, this course presents content-based contextual material. The content of the material about the natural potential and cultural potential of an area in the tourism geography course will be more concrete and easier to understand if the material is delivered with the help of documentary films with the theme of regional tourism potential. The aims of this research are to (1) design documentary film media to be used as a support for learning tourism geography courses for regional tourism potential; (2) know the feasibility of documentary film media to be used as a support for learning tourism geography courses for regional tourism potential; and (3) know student learning outcomes and student responses to documentary film media used as a support for learning tourism geography courses for regional tourism potential. The technique collection of the data is divided into two stages: (1) Pre Production, and (2) Production. An increase in the value of mastery of the material from the pretest score of 26.92% of students increased to 92.51% of the posttest value. Student responses to documentary films as audiovisual interactive media are considered good. As can be seen from the response indicator value, the average response value is more than 80%. The use of documentary film media for regional tourism potential is generally favored by students.
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Sadar Wisata Desa Belangian Ellyn Normelani; Selamat Riadi; Rusdiansyah Rusdiansyah; Irawaty Safitri; Rizky Nur Hakimah; Agung Wicaksono
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 2, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v2i3.6866

Abstract

Permasalahan pokok secara umum adalah masih belum mengemas budaya sebgai atraksi budaya yang bernilai jual sebagai atraksi pertunjukan.  Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan untuk melakukan  pembinaan dan Peningkatan SDM dalam pengetahuan tentang pertunjukan tari kreasi. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan metode pendampingan yang diberikan kepada generasi muda di Desa Belangian. Melalui kegiatan yang dilakukan, generasi muda telah memahami mengenai pengemasan tarian sebagai atraksi budaya dalam mendukung desa wisata Belangian. Berdasarkan hasil kegiatan pendampingan yang dilakukan, 100% peserta memahami dan menguasai Gerakan  tarian dan sudah menciptakan satu tarian kreasi untuk dipentaskan sebagai atraksi budaya di desa wisata Belangian.  
Sustainable Transportation Infrastructure Development (Case Study: Tanah Bumbu Regency) Nasruddin, Nasruddin; Radam, Iphan Fitrian; Mahyuni, Mahyuni; Riadi, Selamat; Hadi, Inu Kencana; Dewi, Dyah Hartati; Rahmawati, Rahmawati
Jurnal Geografika (Geografi Lingkungan Lahan Basah) Vol 5, No 1 (2024): GEOGRAFIKA
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jgp.v5i1.12790

Abstract

The development of a region's transportation infrastructure is very important to increase economic growth. Infrastructure is the foundation for Indonesia to be competent with other countries and provides a multiplier impact that can encourage economic growth. This means, that one of the main elements of development policy to support economic activity is the provision of transportation infrastructure. One of the regional governments’ responsibilities is to provide transportation infrastructure as a commodity with a public dimension (public good ). This means that local governments are directly involved in providing transportation infrastructure as a complement to the economic system. The results of this research show that the regional hierarchy of Tanah Bumbu Regency is influenced by population density and the almost even distribution of public facilities, as well as interconnections between regions. For this reason, the Tanah Bumbu Regency government needs to respond to this situation by formulating a strategy for developing sustainable transportation infrastructure.
Distribusi Petani Padi Sub DAS Martapura di Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin Aufa Azizah, Nor; Gustin, Nurita; Maulana, Firman; Adzan Ansyari, Muhammad; Riadi, Selamat
Rawa Sains: Jurnal Sains STIPER Amuntai Vol 13 No 1 (2023): Vol 13 No 1 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Amuntai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36589/rs.v13i1.254

Abstract

Disparitas pendapatan masyarakat menimbulkan ketimpangan pendapatan yang berkembang sebagai akibat dari isu kemiskinan lokal. Hal ini juga tidak jarang berdampak buruk pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Hasil produksi padi terbesar di Kota Banjarmasin terletak pada Kecamatan Banjarmasin Selatan, yaitu sejumlah 9.034 produksi/ton. Masyarakat di Kecamatan Mantuil hampir semuanya bekerja pada bidang pertanian khususnya petani padi. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan utama mereka, sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya sebagian dari mereka masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi tersebut bila tidak diatasi akan dapat menimbulkan ketimpangan. Masalah signifikan akan timbul dari hal tersebut adalah ketimpangan dalam pendapatan. Penelitian ini dilaksanakan di RT 015/RW 01 Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan daerah Sub DAS Martapura. Penentuan responden dilakukan secara purposive sampling dengan mengambil 20 responden orang petani padi. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah analisis distribusi pendapatan dengan indeks gini rasio dan kurva lorenz. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi pendapatan tertinggi terdapat pada petani padi golongan terendah sebanyak 10 orang dengan total proporsi pendapatan per tahun sebesar Rp 378.240.000 (15,30%), sedangkan untuk distribusi pendapatan terendah terdapat pada petani padi golongan tertinggi dengan total proporsi pendapatan per tahun sebesar Rp 252.000.000. Nilai indeks gini rasio berada pada ketimpangan yang rendah yaitu sebesar 0,35, artinya kemerataan pendapatan petani padi Sub DAS Martapura di Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin tergolong baik.
Ecotourism Potential in Meratus Geopark, South Kalimantan Normelani, Ellyn; Riadi, Selamat; Noortyani, Rusma; Endarto, Endarto; Nayan, Nasir
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitode.2020.009.02.07

Abstract

Ecotourism development in Mt. Meratus, South Kalimantan, is crucial to support the future development and forest use in the South Kalimantan area. Ecotourism provides a mechanism to use forest resources sustainably while at the same time provides opportunities for local economic growth. This paper aims to describe the potential resources of Mt. Meratus to support the ecotourism program in South Kalimantan. The development of ecotourism in Mt. Meratus has been crucial since the area has a high level of geo-biodiversity and cultural resources, which are important for the future human being. Protecting and promoting indigenous knowledge of the community in the Mt. Meratus geo-site area are important to support sustainable development programs, including the development of ecotourism as one of the practices of responsible travels to the natural ecosystem.Keywords: biodiversity conservation, geotourism, Mt. Meratus Kalimantan.
PEMBERDAYAAN KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI SEKOLAH DI DESA HULU SAMPANAHAN Riadi, Selamat; Nasruddin, Nasruddin; Mattiro, Syahlan; Amin, Faisal; Riduan, M.
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.65693

Abstract

Remote Indigenous Communities (KAT) in Hulu Sampanahan Village face serious barriers in accessing formal education due to geographic isolation, economic limitations, poor infrastructure, and strong local cultural values. This community service program aimed to increase educational awareness while identifying factors that hinder school participation among KAT in Hulu Sampanahan. The program was carried out through participatory educational outreach and socialization using a Participatory Action Research (PAR) approach, involving village officials, community leaders, and residents. The findings revealed that low school participation is mainly caused by the long distance to secondary schools (33–44 km), severely damaged road conditions, the absence of middle and high schools within the village, and low parental awareness (only about 30% encourage their children to continue to junior high school, and less than 10% aspire for higher education). In addition, more than 70% of children are involved in household and subsistence work. Through the educational sessions attended by 35 households, with 63% actively participating in discussions, the community gained new awareness regarding educational rights, the importance of secondary and higher education, as well as scholarship opportunities accessible to their children. As an impact, the program successfully built initial community awareness of the strategic value of education, while also identifying priority needs such as the establishment of satellite schools, the provision of school transportation, and sustained multi-stakeholder support. Thus, participatory and context-based educational empowerment has proven to be an effective initial step in fostering social transformation in remote Indigenous communities.Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Desa Hulu Sampanahan menghadapi hambatan serius dalam mengakses pendidikan formal akibat keterpencilan geografis, keterbatasan ekonomi, buruknya infrastruktur, dan nilai-nilai budaya lokal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pendidikan sekaligus mengidentifikasi faktor penghambat partisipasi sekolah pada Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Desa Hulu Sampanahan. Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi dan sosialisasi berbasis partisipatif dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi sekolah disebabkan oleh jarak ke sekolah menengah yang sangat jauh (33–44 km), kondisi jalan rusak berat, ketiadaan layanan pendidikan menengah di desa, rendahnya kesadaran orang tua (hanya sekitar 30% mendorong anak hingga SMP, dan kurang dari 10% hingga perguruan tinggi), serta keterlibatan lebih dari 70% anak dalam pekerjaan rumah tangga dan aktivitas ekonomi keluarga. Melalui kegiatan edukasi yang diikuti oleh 35 kepala keluarga dengan tingkat partisipasi aktif 63%, masyarakat memperoleh pemahaman baru mengenai hak pendidikan, pentingnya pendidikan menengah dan tinggi, serta peluang beasiswa yang dapat diakses anak-anak mereka. Dampaknya, kegiatan ini berhasil membangun kesadaran awal masyarakat terhadap nilai strategis pendidikan, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan prioritas berupa sekolah filial, transportasi pendidikan, dan dukungan multi-stakeholder yang berkelanjutan. Dengan demikian, pemberdayaan pendidikan berbasis partisipasi terbukti menjadi langkah awal yang efektif dalam mendorong transformasi sosial di komunitas adat terpencil.