Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN TENTANG PENYULUHAN ASI EKSKLUSIF DI DESA KOLONGAN KABUPATEN MINAHASA UTARA Clara, Karwur Regina; Engkeng, Sulaemana; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Promosi Kesehatan merupakan salah satu bentuk pendidikan kesehatan yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan di mulai dari, oleh untuk, dan bersama masyarakat, dengan lingkungan social budaya setempat, agar masyarakat dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. Program penyuluhan ASI Eksklusif merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan ibu serta dapat meningkatkan kesehatan bayi dan menjamin kelangsungan hidup calon bayi. Dimana dengan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi yang baru lahir secepat mungkin atau yang disebut Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dapat mengurangi angka kematian bayi. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan informan berjumlah 6 orang. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi, wawancara, dan triangulasi data. Perencanaan program promosi kesehatan di Puskesmas Kolongan dibuat oleh bagian promkes dengan tetap mengacu pada SOP dan SPM, upaya advokasi belum terlalu efektif pelaksanaanya, kerjasama lintas program dan lintas sektor telah dilaksanakan, terdapat Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan standar acuan promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat belum optimal, upaya pembinaan suasana yang belum berjalan dengan lancar dan kendala yang didapatkan dalam pelaksanaan program promosi kesehatan adalah kurangnya pemahaman tenaga promkes mengenai strategi-strategi dalam promkes, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana di puskesmas. Saran dari peneliti untuk puskesmas terutama bagi para tenaga pemegang program promosi kesehatan agar lebih menguasai strategi-strategi dalam promosi kesehatan dan mengikuti pelatihan-pelatihan agar perencanaan dan pelaksanaan program promosi kesehatan dapat maksimal dan di tunjang dengan media dan sarana yang memadai.Kata Kunci: Program Promosi Kesehatan, Penyuluhan ASI Eksklusif, Puskesmas ABSTRACTHealth Promotion is one form of health education whose purpose is to increase the willingness and ability of the community to maintain and improve health starting from, by for, and with the community, with the local socio-cultural environment, so that the community can help themselves in the health sector. The exclusive ASI counseling program is one of the efforts that can be done in order to increase the mother's knowledge and can improve the health of the baby and ensure the survival of the prospective baby. Where by exclusive breastfeeding for newborns as soon as possible or what is called Early Breastfeeding Initiation (IMD) can reduce infant mortality. The method used in this study is a qualitative method, with 6 informants. The process of collecting data is done by observation, documentation, interviews, and data triangulation. Health promotion program planning in the Kolongan Community Health Center is made by the health promotion department while still referring to SOP and SPM, advocacy efforts have not been very effective, cross-program and cross-sector collaboration has been implemented, there are Human Resources that are in accordance with the health promotion reference standard, community empowerment has not been optimal, efforts to foster an atmosphere that have not been running smoothly and the obstacles encountered in the implementation of health promotion programs are the lack of understanding of the health promotion staff regarding strategies in the health promotion, the lack of availability of facilities and infrastructure at the puskesmas. Suggestions from researchers for puskesmas, especially for health promotion program holders to better master the strategies in health promotion and follow training so that the planning and implementation of health promotion programs can be maximized and supported by adequate media and facilities.Keywords: Health Promotion Program, ASI Exclusive Counseling, Puskesmas
HUBUNGAN ANTARA KELELAHAN KERJA DENGAN STRES KERJA PADA SOPIR ANGKUTAN UMUM TRAYEK KAROMBASAN – MALALAYANG KOTA MANADO Salim, Gisele; Suoth, Lery Fransil; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor lingkungan kerja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan kerja seperti pekerjaan dan pemakaian waktu yang berlebihan dapat menimbulkan kelelahan. Adapun pada kelelahan tersebut,  jika tidak ada penanganan secara lanjut beresiko stres kerja, penyakit akibat kerja, dan kecelakaan akibat kerja. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara kelelahan kerja dengan stres kerja pada sopir trayek Karombasan – Malalayang Kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Terminal Karombasan Basis 02 pada bulan Mei - Juni 2019. Sampel pada penelitian ini berjumlah 65 responden. Hasil penelitian yang didapat penelitian menggunakan Uji Statistik Spearman Rank nilai p = 0,000 dan r = 0,598 (p-value ≤ 0,05). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara kelelahan kerja dengan stres kerja pada sopir angkutan umum trayek Karombasan–Malalayang Kota Manado dengan kekuatan hubungan Sedang dan arah hubungan Positif. Saran agar sopir trayek mengambil waktu istirahat lebih banyak untuk mengurangi kelelahan yang muncul ketika berkendara dan memperhatikan asupan gizi dalam hal ini pola makan. Kata Kunci: Stres Kerja, Kelelahan Kerja ABSTRACT Work environment factors that do not meet occupational health and safety requirements such as work and excessive use of time can cause fatigue. As for the fatigue, if there is no further handling at risk of work stress, work-related illness, and work-related accidents. The purpose of this study was to determine the relationship between work fatigue and work stress on the Karombasan - Malalayang route driver in the city of Manado. This study is an analytic study with a cross sectional study design. This research was conducted at the Base Karombasan Terminal 02 in May - June 2019. The sample in this study amounted to 65 respondents. The results obtained by the study using the Spearman Rank Statistical Test the value of p = 0,000 and r = 0.598 (p-value ≤ 0.05). The conclusion in this study is that there is a relationship between work fatigue and work stress on the Karombasan – Malalayang route of the city of Manado with the strength of the moderate relationship and the direction of the positive relationship. Suggestions that the route driver take more rest time to reduce the fatigue that arises when driving and pay attention to nutritional intake in this case the diet. Keywords: Work Stres, Work Fatigue 
HUBUNGAN TINGGI BADAN ORANGTUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN RATAHAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Ratu, Novelinda Ch.; Punuh, Maureen I.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gizi merupakan salah satu faktor tercapainya keberhasilan yang optimal bagi tumbuh kembang anak. Periode emas pertumbuhan memerlukan dukungan gizi yang cukup agar mendapatkan tumbuh kembang anak yang baik. Kekurangan gizi yang terjadi pada awal kehidupan dapat mengakibatkan terjadinya gagal tumbuh sehingga nantinya akan menjadi anak yang lebih pendek dari normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu anak usia 24-59 bulan dan orangtua di Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan simple random sampling. Jumlah sampel sebanyak 88 anak. Variabel stunting diukur menggunakan pengukuran antropometri serta microtoise untuk mengukur tinggi badan anak dan orang tua, kemudian menghitung z-score. Hasil Penelitian yaitu terdapat 38,6% anak stunting, 34,1% ayah yang masuk dalam kategori pendek dan 44,3% ibu yang masuk dalam kategori pendek. Berdasarkan hasil uji chi-square didapati bahwa terdapat hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stuntin dan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting, dan terdapat hubungan antara tinggi badan orang tua dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara.Kata kunci: Stunting, anak, tinggi badan orangtuaABSTRACTNutrition is one of the factors to achieve success that is optimal for child growth. The golden period of growth require appropriate nutritional support to optimize growth and development of the child. Malnutrition that happened at the beginning of life can led to growth faltering so that later it will become a child who is shorter that normal. This study aims to identify the relation between parent’s height and stunting genesis from ages 24-59 months in Ratahan District Minahasa Tenggara Regency. An analytical survey research design was uses with a cross sectional study approach. The population of this study were all of the toddlers from ages 24-59 months in Ratahan District Minahasa Tenggara Regency. Sampling was done using simple random sampling. Samples were 88 children. Stunting variable were measured by anthropometric measurements and microtoise to measure the child’s height and parents , and then calculate the z score. Result of this study was obtained by 38,6% incidence of stunting child, 34,1% of fathers who were in the short category and 44,3% of mothers in the short category . Based on chi square test it was found that there was a relation between mother’s height and stunting genesis (p=0,000) and there was no relation between father’s height and stunting genesis (p=0,378), and there was a relation between parents height and stunting genesis (p=0,000) in children aged 24-59 months in Ratahan District Minahasa Tenggara Regency.Keywords: Stunting, children, parent’s height
Faktor-faktor yang Memengaruhi Kejadian Gastritis di Puskesmas Ranotana Weru Kota Manado Raintung, Elizabeth P.; Kaunang, Wulan P. J.; Malonda, Nancy S. H.
e-Biomedik Vol 7, No 2 (2019): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v7i2.24902

Abstract

Abstract: Gastrirtis occurs in people who have irregular eating patterns and consume food that stimulates the production of stomach acid. According to WHO, the prevalence of gastritis in several regions in Indonesia is quite high. This study was aimed to evaluate the relationships between diet and gastritis among teenagers at Puskesmas Ranotana Weru, Manado. This was a quantitative study with a cross sectional design. Respondents were teenagers at Puskesmas Ranotana Weru with a total number of 124 respondents obtained by using stratified random sampling method. Data were statistically analyzed by using the chi-squre test. The result of univariate analysis showed that 55% of respondents had gastritis. The results of the chi-square test showed that there were relationships between age and gastritis (p= 0.003); sex and gastritis (p=0.0004); food type and gastritis (p=0.023); and eating pattern and gastritis (p=0.000). Moreover, there were no relationship between meal frequency and gastritis (p=0.165), and between food portion and gastritis (p=0.436). In conclusion, there were significant relationships between age, sex, and food type and the occurence of gastritis. Albeit, there were no relationship between meal frequency and food portion and the occurence of gastritis.Keywords: gastritis, dietAbstrak: Penyakit gastritis terjadi pada individu yang memiliki pola makan tidak teratur dan mengonsumsi makanan yang merangsang produksi asam lambung. Menurut WHO, angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian gastritis pada remaja di Puskesmas Ranotana Weru, Manado. Jenis penelitian ialah kuantitatif dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah remaja di Puskesmas Ranotana Weru, Manado berjumlah 124 orang yang diambil dengan metode stratified random sampling. Data yang diperoleh dilakukan uji statistik chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan 55% responden menderita gastritis. Analisis bivariat dengan uji chi-square mendapatkan adanya hubungan antar variabel sebagai berikut: antara usia dengan gastritis (p=0,003); jenis kelamin dengan gastritis (p=0,004); jenis makanan dengan gastritis (p=0,023); serta pola makan dengan gastritis (p=0,000). Tidak didapatkan hubungan antara frekuensi makan dengan gastritis (p=0,165), dan antara porsi makan dengan gastritis (p=0,436). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, dan jenis makanan dengan kejadian gastritis serta tidak terdapat hubungan antara frekuensi makan dan porsi makan dengan kejadian gastritis.Kata kunci: gastritis, pola makan
HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DAN ASUPAN KALORI DENGAN KELELAHAN KERJA PADA NELAYAN DI KELURAHAN POSOKAN KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG Masengi, Mega E. P; Kawatu, Paul A. T.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelelahan kerja merupakan suatu masalah kesehatan yang umum dijumpai dikalangan tenaga kerja. Kelelahan kerja dapat dipengaruhi oleh beban kerja dan asupan kalori. Setiap pekerja dapat bekerja sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri, untuk itu diperlukan penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja. Asupan kalori bagi pekerja ditujukan untuk mengupayakan daya kerja yang optimal sesuai dengan beban kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara beban kerja dan asupan kalori dengan kelelahan kerja pada nelayan di Kelurahan Posokan Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung.Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Dilakukan pada bulan Juni-Oktober 2018. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 111 nelayan. Jumlah sampel yaitu 35 nelayan yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Insturmen yang digunakan yaitu Alat Reaction timer, kuesioner dan alat peraga food model. Analisis yang digunakan yaitu analisis bivariat dan univariat dengan menggunakan uji spearman rank. Hasil penelitian berdasarkan uji spearman rank diperoleh hasil tingkat kelelahan kerja kategori ringan sebanyak 22.9%, tingkat kelelahan kerja kategori sedang sebanyak 42.9% dan tingkat kelelahan kerja kategori berat sebanyak 34.3%. beban kerja kategori sedang sebanyak 34.3% dan beban kerja kategori berat sebanyak 65.7%. Asupan kalori kategori cukup sebanyak 40% dan asupan kalori kategori kurang sebanyak 60%. Hasil uji didapatkan p=0,004 dan r=0,475 untuk kelelahan kerja dan beban kerja sedangkan p=0,001 dan r=-0,536 untuk kelelahan kerja dan asupan kalori. Kesimpulan terdapat hubungan antara beban kerja dan kelelahan kerja, terdapat hubungan antara asupan kalori dengan kelelahan kerja pada nelayan di Kelurahan Posokan Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung.Kata Kunci : Kelelahan kerja, Beban kerja, Asupan kalori, NelayanABSTRACTWork fatique is a health problem that commonly encountered among workers. Work fatique becomes on of the biggest factor that caused work accident. Work fatique can be influenced by workload and calorie intake.every workers can work safe without putting them self in danger,so it takes compabitibillity between work capacity,workload and work enviroment. Calorie intake can affect availabillity of someones’s energy. Calorie intake for workers is intended for optimum work force according to their work load. This research aims to find out the relationship between Workload and calorie Intake with Work exaushtion on Fisherman at Posokan,Sub district Lembeh Utara,Bitung city,North Sulawesi.This research uses study aproach cross sectional. This research was conducted on June-October 2018. The total population of this research is 111 fishermen,total sample is 35 fishermen who meets the criteria inclusion and excluson. Instruments that was use in this research are Rection Timer,Questionarre, and Food Models. Analysis that was use in this reearch are Univariat and Bivariat by using Spearman Rank.The result of this research recording to Spearman Rank,obtained the result of work exaushtion level, light category 22.9%,level of work exaushtion middle level 42.9%, and work exaushtion level high is 34.3%. Workload middle category 34.3% and workload heavy category is 65.7%. Enaugh calorie intake 40% and less calorie intake is 60%. The results are obtained p=0,001 and r=-0,536 for work exaushtion and calorie intake.The conclusion are,there is a relationship between workload with work fatique and relationship between calorie intake with work fataque on fishermen in Posokan, North Lembeh,Bitung city.Keywords: Workfatique, Workload, Calorie intake, Fishermen
HUBUNGAN ANTARA STATUS IMUNISASI DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 24-59 BULAN DI DESA TATELI TIGA KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA Sumilat, Milianike Fresye; Malonda, Nancy S. H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 8, No 6 (2019): Volume 8, Nomor 6, Oktober 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tujuan indikator program Sustainable Develovement Goals (SDG’S) yaitu mengurangi angka kesakitan dan kematian balita. Imunisasi merupakan upaya mengurangi angka kematian balita dengan cara diberi vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar tidak mudah terpapar penyakit. Pemberian ASI Eksklusif berpengaruh dalam mengurangi angka kematian balita dengan diberikan ASI saja sejak bayi lahir sampai usia 6 bulan tanpa diberikan makanan atau minuman tambahan selain ASI. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya hubungan antara status imunisasi dan pemberian ASI Eksklusif dengan status gizi balita usia 24-59 bulan di Desa Tateli Tiga Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional dilakukan pada bulan Mei sampai September 2019. Sampel penelitian ini adalah seluruh jumlah populasi sebanyak 93 anak. Status gizi berdasarkan indeks (BB/U) gizi kurang 38,7%, gizi baik 61,3%. Indeks status gizi berdasarkan indeks (TB/U) status gizi pendek  37,6%, normal 62,4%. Indeks status gizi berdasarkan indeks (BB/TB) status gizi kurus 35,5%, normal 64,5%. Status imunisasi, balita lengkap imunisasinya 73,1%, tidak lengkap 26,9%. Pemberian ASI Eksklusif, yang diberikan sebanyak 23,7%, yang tidak diberikan 76,3%. Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan antara status imunisasi dengan status gizi berdasarkan indeks (BB/U), (TB/U), (BB/TB) dan terdapat hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan status gizi berdasarkan indeks (BB/U), (TB/U), (BB/TB). Disarankan kepada orang tua yang memiliki balita agar memperhatikan status gizi anaknya, dengan pemberian ASI Eksklusif serta imunisasi kepada anaknya dan membawa anak ke posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Kata Kunci: Status Imunisasi, ASI Eksklusif, Status Gizi ABSTRACTOne of the goals of the Sustainable Development Goals (SDG'S) program indicator is to reduce the morbidity and mortality rate for children under five. Immunization is an effort to reduce infant mortality by giving a vaccine to increase immunity so that it is not easily exposed to disease. Exclusive breastfeeding has the effect of reducing infant mortality by giving only breast milk from birth to 6 months of age without additional food or drinks other than breast milk. The purpose of this study was to determine the relationship between immunization status and exclusive breastfeeding with the nutritional status of children aged 24-59 months in Tateli Tiga Village, Mandolang District, Minahasa Regency. This research uses analytic observational research with Cross Sectional approach conducted in May to September 2019. The sample of this research is the total population of 93 children. Based on nutritional status (BB/U) there are 38.7% of malnutrition, 61.3% of good nutrition. Nutrition status index (TB/U) short nutrition status was 37.6%, normal was 62.4%. Nutritional status index (BB/TB) 35.5% underweight nutritional status, 64.5% normal. Immunization status, children under five with full immunization were 73.1%, incomplete were 26.9%. Exclusive breastfeeding, which was given as much as 23.7%, which was not given as much as 76.3%. In conclusion, there is no relationship between immunization status with nutritional status based on index (BB/U), (TB/U), (BB/TB) and there is a relationship between exclusive breastfeeding with nutritional status based on index (BB/U), (TB/U), (BB/TB). It is recommended for parents who have toddlers to pay attention to the nutritional status of their children, by providing exclusive breastfeeding and immunization to their children and taking children to the posyandu to monitor children's growth and development. Keywords: Immunization Status, Exclusive Breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN, ENERGI, DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS 4 DAN 5 SDN 21 KELURAHAN BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Fenanlambir, Junus; Malonda, Nancy S. H.; Basuki, Anita
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang timbul pada anak sekolah yaitu berat badan rendah dan kelebihan berat badan. Berdasarkan Riskesdas 2010 anak usia sekolah yang kurus 7,6% dan untuk Sulawesi Utara berada di bawah rata-rata-rata tingkat nasional yaitu 5,4%. Di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2010 rata-rata kecukupan energi anak 7-12 tahun 81,5%, sementara itu persentase anak umur 7-12 tahun di Sulawesi Utara rata-rata konsumsi energi yaitu 88,6%, di mana berada diatas rata-rata tingkat nasional. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan asupan energi dengan status gizi anak sekolah dasar di SDN 21 Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado. Penelitian ini bersifat observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan teknik total sampling sebanyak 72 anak. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, formulir food recall 24 jam, alat tulis menulis, program nutrisurvey. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariate dengan uji statistik yaitu korelasi Spearman pada tingkat kemaknaan 95% (α=0,05). Berdasarkan hasi uji korelasi Spearman terlihat taraf signifikan atau nilai P sebesar 0,000 (<0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,844. Hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara asupan energi dengan status gizi IMT/U pada anak Sekolah Dasar Negeri 21 Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado. Hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi tergolong kuat karena memiliki nilai koefisien korelasi (r = 0,844),Kata Kunci: Asupan Energi, Status Gizi, AnakABSTRACTProblems arising in school children that are low weight and overweight. Based on Riskesdas 2010 school-age children who are 7.6% thin and for North Sulawesi are below the national average of 5.4%. In Indonesia based on Riskesdas 2010 the average energy sufficiency of children 7-12 years 81.5%, meanwhile the percentage of children aged 7-12 years in North Sulawesi average energy consumption is 88.6%, which is above average National level. This study aims to determine the relationship of energy intake with nutritional status of elementary school children at SDN 21 Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang Manado. This research is analytic observation with cross sectional approach. Samples were taken with a total sampling technique of 72 children. The research instrument used questionnaire, 24 hour food recall form, stationery, nutrisurvey program. Data analysis using univariate and bivariate analysis with statistical test that is Spearman correlation at significance level 95% (α = 0,05). Based on Spearman correlation test seen significant level or P value of 0.000 (<0,05) and value of correlation coefficient equal to 0,844. This shows that there is a relationship between energy intake with nutritional status of IMT / U in elementary school children of 21 sub-district of Bahu Village, Malalayang Sub-district, Manado City. This shows that there is a relationship between energy intake with nutritional status is strong because it has correlation coefficient value (r = 0,844).Keywords: Energy intake, nutritional status, child
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA TATELU KECAMATAN DIMEMBE KABUPATEN MINAHASA UTARA Nangley, Wulan K.; Kandou, Grace D.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa balita adalah masa kehidupan yang sangat penting dan perlu perhatian yang serius karena pada masa ini berlangsung proses tumbuh kembang yang sangat pesat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pola asuh ibu dengan status gizi balita di Desa Tatelu Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara. Desain penelitian yang digunakan yaitu survey analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah balita di Desa Tatelu khususnya yang berusia 6-24 bulan dengan jumlah 61 balita. Sampel dalam penelitian ini diambil secara total sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik fisher’s Exact test diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap merawat dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U (p=1.000), PB/U (p=1.000) dan BB/PB (p=1.000). Tidak terdapat hubungan antara sikap memberi makan dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U (p=1.000), PB/U (p=0.588) dan BB/PB (p=1.000). Terdapat hubungan antara praktek merawat dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U dengan nilai p=0.001, PB/U (p=0.004), namun tidak terdapat hubungan antara praktek merawat dengan status gizi balita berdasarkan indeks BB/PB (p=1.000). Tidak terdapat hubungan antara praktek memberi makan dengan status gizi berdasarkaan indeks BB/U (p=0.659), terdapat hubungan antara praktek memberi makan dengan status gizi berdasarkan indeks PB/U (p=0.004), BB/PB (p=1.000). Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara sikap erawat anak dan sikap memberi makan dengan status gizi berdasarkan indeks (BB/U, PB/U dan BB/PB), terdapat hubungan antara praktek merawat dan praktek memberi makan dengan status gizi BB/U dan PB/U.Kata Kunci: Pola Asuh, Status GiziABSTRACTToddler is a very important period and needed an attention because growth period is rapid in this time. The purpose of this study is to determine the relationship between mother’s parenting with nutritional status of children in the Tatelu, Dimembe, North Minahasa. The research design used analytic survey with cross sectional approach. The population is toddlers 6-24 months. Samples are 61 and taken with total sampling. Based on Fisher's Exact Test statistic, there is no correlation between caring attitude with nutritional status based on BB/U index (p = 1,000), PB/U (p = 1.000) and BB/PB (p = 1,000). There is no correlation between feeding attitude with nutritional status based on index of BB/U (p = 1,000), PB/U (p = 0.588) and BB/PB (p = 1,000). There is a correlation between caring practice with nutritional status based on index of BB/U with p value = 0.001, PB/U (p = 0.004), but there is no correlation between caring practice and nutritional status based on BB/PB index (p = 1,000). There is no correlation between feeding practice with nutritional status based on index of BB/U (p = 0659), there is correlation between feeding practice with nutritional status based on PB/U index (p = 0.004), BB / PB (p = 1,000). Conclusion there is no correlation between child care attitude and feeding attitude with nutritional status based on index (BB/U, PB/U and BB/PB), there is a relationship between caring practice and feeding practice with nutritional status of BB/U and PB/U.Keywords: Parenting, Nutritional Status
Gambaran Kondisi Fisik Sumur Gali di Tinjau dari Aspek Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Pengguna Sumur Gali di Kelurahan Sumompo Kecamatan Tuminting Kota Manado Katiho, Angela Suryani; Joseph, Woodford B. S.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Januari 2012
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The dug well is one of the sources of water supply for communities in rural and urban areas. The dug well as water sources must be compatible with the requirements laid down between the physical condition of the dug well in which the terms related to the construction of wells and the location of wells to the sources of pollutants, so that the water from the wells is safe for healthy to consumption. 1. To describe the physical condition of The dug well include construction, distance latrine to the dug well, and distance from the source of other pollutants such as cattle sheds and a pool of water; 2. To determine the behavior of resident user about the physical condition of the dug well, including knowledge, attitudes and actions. This study is a descriptive survey in which the population was divided into the dug wells population which amount 20 dug well and the dug well resident user behavior population which amounts to 125 respondents. Observation the dug well were using a checklist as an instrument of research and user behavior were using questionnaires. The physical condition of all the dug well 100% does not fulfill the requirements, which based on the construction of the dug well, distance the dug well to the latrine, the distance to the cattle sheds and a pool of water as a source of other pollutants. Based on user aspects of dug well; 78% of respondents knowledgeable well, 22% less; 74% have a good attitude, 26% less, and 32% had good action, 68% less. From the results of this study researchers to grant suggestion as good as posible to repair the physical condition of the dug well, to do espionage to the resident user the dug well about the physical condition of the dug well, there is a need for monitoring and surveillance of water quality, and should to involve to society independently of absolute needs clean water. ABSTRAKSumur gali merupakan salah satu sumber penyediaan air bersih bagi masyarakat di pedesaan, maupun perkotaan. Sumur gali sebagai sumber air bersih harus ditunjang dengan persyaratan yang ditetapkan diantaranya kondisi fisik sumur gali yang didalamnya menyangkut syarat konstruksi sumur dan lokasi sumur dengan sumber pencemar, agar air sumur aman bagi kesehatan untuk di konsumsi. 1. Untuk menggambarkan kondisi fisik sumur gali meliputi konstruksi sumur gali, jarak jamban dengan sumur gali dan jarak sumber pencemar lain seperti kandang ternak dan genangan air dengan sumur gali; 2. Untuk mengetahui perilaku pengguna sumur gali tentang kondisi fisik sumur gali meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan. Penelitian ini bersifat survei deskriptif dimana populasi dalam penelitian ini terbagi menjadi populasi sumur gali yakni 20 sumur gali dan populasi perilaku pengguna sumur gali yang berjumlah 125 responden. Pengamatan sumur gali ini menggunakan checklist sebagai instrumen penelitian sedangkan perilaku pengguna sumur gali menggunakan kuesioner.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik pada semua sumur gali 100% tidak memenuhi syarat, yakni berdasarkan konstruksi sumur gali, jarak dengan jamban, jarak dengan kandang ternak dan genangan air sebagai sumber pencemar lain. Berdasarkan aspek pengguna sumur gali ; 78% responden berpengetahuan baik, 22% kurang ; 74% memiliki sikap yang baik, 26% kurang ; dan 32% memiliki tindakan yang baik, 68% kurang. Dari hasil penelitian ini peneliti memberikan saran perlunya perbaikan kondisi fisik sumur gali, perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat pengguna sumur gali tentang kondisi fisik sumur gali, perlu adanya pemantauan dan pengawasan kualitas air bersih, dan sebaiknya melibatkatkan masyarakat agar masyarakat secara mandiri memenuhi kebutuhan mutlak yakni air bersih.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI PUSKESMAS GOGAGOMAN KOTA KOTAMOBAGU. Carundeng, Maurien Chintia; Malonda, Nancy S. H.; Umboh, Jootje M. L.
KESMAS Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat penting di Indonesia dan sering menimbulkan suatu letusan kejadian luar biasa (KLB) dengan kematian yang besar. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Kotamobagu jumlah penderita DBD pada tahun 2014 yaitu 84, dan  jumlah penderita DBD terbanyak berada di Puskesmas Gogagoman dengan jumlah penderita 36 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur atau menyingkirkan barang bekas dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Gogagoman Kota Kotamobagu. Penelitian yang dilaksanakan merupakan jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan case control study. Populasi penelitian adalah masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Gogagoman yang menderita DBD dan yang tidak menderita DBD, Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi kasus, 36 responden yang dimasukan dalam kelompok kasus dan yang menjadi sampel untuk kelompok kontrol berjumlah 36 responden dengan perbandingan kasus : kontrol yaitu 1:1 berjumlah 72 responden. Pada penelitian ini dilakukan matching pada kelompok umur dan jenis kelamin. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis bivariat dengan menggunakan Uji Chi Square untuk mengetahui apakah ada hubungan  antara menguras tempat penampungan air (TPA), menutup tempat penampungan air (TPA), mengubur barang bekas dengan kejadian DBD di Puskesmas Gogagoman. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan menguras tempat penampungan air dengan kejadian Demam Berdarah Dengue p = 0.000 (p<0.05) dan nilai OR =5.9 (CI=2.137-16.342). Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara kebisaan menutup tempat penampungan air dengan kejadian Demam Berdarah Dengue  p = 0.004 (p<0.05) dan nilai OR 4,3 (1.571-12.187). Hasil  penelitian ini menunjukan ada hubungan antara kebiasaan mengubur barang bekas dengan kejadian Demam Berdarah Dengue p = 0.000 (p>0.05) dan nilai OR 3,7 (2.365-6.006). Melakukan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Gogagoman melalui kegiatan PKK, arisan, ibadah, atau kegiatan lainnya agar masyarakat selalu menjaga kebersihan dan pencegahannya dengan Pemberantasan sarang nyamuk, seperti Menguras TPA, Menutup TPA dan Mengubur barang bekas. Kata kunci: DBD, Menguras TPA, Menutup TPA, Mengubur barang bekas ABSTRACT Dengue hemorrhagic fever was one of the important public health's problem in Indonesia and often lead to extraordinary events with large loss. Dengue hemorrhagic fever was a disease caused by dengue virus and transmitted through the bite of Aedes Aegypti and Aedes Albopictus. Based on data from the health department of Kotamobagu city, number of patients with dengue hemorrhagic fever on 2014 was 84, and the most  was in Gogagoman's health center with 36 cases. The purpose of this study was to determine the relationship between habitual  of drain water reservoirs, close the water reservoirs, bury or get rid of junk with dengue hemorrhagic fever  on Gogagoman's Health Center, Kotamobagu city. This study was analytical survey design with case control approach. The population was people in Gogagoman's health center who suffered Dengue Hemorrhagic Fever and neither. Sample was the total population of the case, 36 for the case group and 36 as control group with comparison case: control was 1:1, amounted to 72 people. Matching has been done in the age group andgender. Data has taken by questionnaire. Bivariate analysis was using the chi-square test to determine whether there was a relationship between habitual  of drain water reservoirs, close the water reservoirs, bury or get rid of junk with dengue hemorrhagic fever on Gogagoman's Health Center. The results showed that there was a relationship between habitual drain water reservoirs with dengue fever, p value = 0.000 (p < 0.05)  and OR = 5.9 (CI = 2.137 - 16.342).there was a relationship between the habit of closing the water reservoirs with dengue fever, p value 0.004 (p < 0.05) and OR = 4.3 (1.571 - 12.187). There was a relationship between the habits of thrift buried with dengue hemorrhagic fever with p value = 0.000 (p < 0.05) and OR = 3.7 (2.365 - 6.006). Doing outreach to the community through the activities of the gathering, worship so that people maintain hygiene and prevention through mosquito eradication, such as drain, close the water reservoirs, and bury thrift. Keywords : DHF, Drain water reservoir, Close the water reservoir, Bury thrift