Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PENGENDALIAN HAMA TERPADU TANAMAN HIAS DI DESA KAKASKASEN KOTA TOMOHON (JENIS-JENIS HAMA PADA TANAMAN KRISAN DI DESA KAKASKASEN KOTA TOMOHON) Mamahit, Juliet M. E.; Manueke, Jusuf
JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman krisan merupakan salah satu tanaman hias yang sudah dikembangkan oleh petani di daerah Kakaskasen Kota Tomohon. Serangga hama menjadi salah satu penghambat dalam upaya meningkatkan produksi tanaman potong bunga krisan. Banyak petani belum memahami jenis-jenis hama yang ada di pertanaman krisan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi jenis-jenis hama yang menyerang tanaman krisan di desa Kakaskasen II Kota Tomohon dan untuk mengamati gejala serangan hama pada tanaman krisan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga spesies utama hama yang menyerang krisan yaitu : Liriomyza spp., Thrips spp. dan Aphis spp. Gejala serangan Liriomyza adanya gejala gorokan larva yaitu : terowongan dalam daun, melingkar-lingkar di dalam epidermis daun. Hama Thrips spp. memperlihatkan gejala pada bunga yang terserang menunjukkan gejala seperti garis-garis yang memanjang yang berwarna coklat keperakanyang merupakan akibat dari alat mulut menusuk mengisap dari hama tersebut yang mengisap pada bunga. Gejala serangan Aphis sp. yaitu tanaman menjadi tumbuh agak kerdil, warna daun berubah menjadi kekuningan, dan tidak normal.Pengendalian hama tersebut di atas dapat dilakukan dengan menggunakan pengendalian hama terpadu antara lain : monitoring keberadaan hama, penggunaan varietas resisten, mengeluarkan tanaman atau bagian tanaman yang terserang, penggunaan perangkap kuning berperekat, memanfaatkan musuh alami dan pengendalian kimia dengan dosis yang sesuai.
INOVASI TEKNIK PENGENDALIAN HAMA YANG RAMAH LINGKUNGAN PADA TANAMAN KRISAN Mamahit, Juliet M. Eva; Manueke, Jusuf; Montong, Vivi B.
JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Kakaskasen II Kecamatan Tomohon Timur. merupakan sentra budidaya krisan di Tohohon khususnya dan Sulawesi pada umumnya. Tujuan kegiatan ini akan dihasilkan petanipetani yang berpotensi untuk menjadi pelopor dalam pemanfaatan potensi sumber daya alami (SDA) untuk pengendalian yang ramah lingkunga terhadap hama pada tanaman krisan. Transfet Iptek seperti pemanfaatan musuh alami yang ada seperti parasitoid, predator dan patogen untuk pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman krisan). Beberapa jenis hama utama tanaman krisan antara lain: kutu daun Aphid sp, tungau Tetranichus sp. Trips sp dan penyakit karat dan busuk akar Phytophtora sp., dan embun jelaga Oidium sp. Upaya perlindungan tanaman terhadap hama tanaman krisan yang ramah lingkungan seperti pemanfaaan sumber daya alam berupa tanaman yang dapat dijadikan bahan insektisida nabati seperti Buah Bitung dan Buah Lanta, sereh, kemangi serta tanaman yang ada di sekitar petani ternyata merupakan inovasi bagi petani dalam pengaturan populasi hama krisan. Teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan sangat diperlukan bagi masyarakat tani, untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida yang berlebihan. Manfaat lainnnya dari penerapan teknologi yang ramah lingkungan yaitu : keragaman hayati tetap lestari, musuh alami bekerja maksimal, biaya produksi dapat ditekan, keamanan dan keselamatan petani terjamin, dan produktifitas krisan meningkat._________________________________________________________________Kata kunci : tanaman krisan, insektisida nabati, parasitoid, predator
Variasi Genetik Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae) berdasarkan Gen Cytochrome C Oxidase I Kairupan, Claudius F.; Pelealu, Jantje; Mamahit, Juliet M.E.
Jurnal MIPA Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.8.1.2019.22327

Abstract

Daerah Modoinding dan Tomohon di Sulawesi Utara, dikenal sebagai  daerah penghasil sayuran kubis di Indonesia. Sayuran kubis memiliki hama utama yaitu Plutella xylostella. Penyebab serangga ini dapat bertahan hingga saat ini karena adanya sifat resistensi akibat pemberian insektisida yang berlebihan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis variasi pada gen cytochrome C oxidase IPlutella xylostella yang diperoleh dari dua lokasi yang berbeda, yaitu Modoinding dan Tomohon. Analisis sekuens menunjukkan adanya perbedaan pasang basa nukleotida dari sampel yang berbeda lokasi. Selain itu, variasi juga ditunjukkan pada sampel yang diperoleh dari basis data GenBank dengan adanya perbedaan 1-14 pasang basa nukleotida dengan spesimen pada penelitian ini. Hubungan kekerabatan gen COI P. xylostella keseluruhan sampel tergolong dalam variasi intraspesies dengan nilai jarak genetik berkisar antara 0-0,022 (0-2,20%).Modoinding and Tomohon areas in North Sulawesi, are known as regions in Indonesia that produce a cabbage. The main pest of cabbage, Plutella xylostella. This insect can survive due to its resistance resulted from prolonged insecticide application. This study aims to analyze genetic variation of COI genes in P. xylostella from Modoinding and Tomohon areas. Sequence analysis showed there were differences in nucleotide base pairs between these locations. In addition, variations were also shown in samples obtained from the GenBank database with differences in 1-14 nucleotide base pairs with specimens in this study. The genetic relationship of P. xylostella COI gene in all samples was classified as intraspecific variation with genetic distance values ranging from 0-0,022 (0-2,20%).D aerah Modoinding dan Tomohon di Sulawesi Utara, dikenal sebagaidaerah penghasil sayuran kubis di Indonesia. Sayuran kubis memilikihama utama yaitu Plutella xylostella. Penyebab serangga ini dapatbertahan hingga saat ini karena adanya sifat resistensi akibat pemberianinsektisida yang berlebihan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisisvariasi pada gen cytochrome C oxidase I Plutella xylostella yang diperolehdari dua lokasi yang berbeda, yaitu Modoinding dan Tomohon. Analisissekuens menunjukkan adanya perbedaan pasang basa nukleotida darisampel yang berbeda lokasi. Selain itu, variasi juga ditunjukkan padasampel yang diperoleh dari basis data GenBank dengan adanyaperbedaan 1-14 pasang basa nukleotida dengan spesimen padapenelitian ini. Hubungan kekerabatan gen COI P. xylostella keseluruhansampel tergolong dalam variasi intraspesies dengan nilai jarak genetikberkisar antara 0-0,022 (0-2,20%).
BIOLOGI KUTU PUTIH Dysmicoccus brevipes COCKERELL (HEMIPTERA : PSEUDOCOCCIDAE) PADA TANAMAN NENAS DAN KENCUR Juliet M. Eva Mamahit; Syafrida Manuwoto; Purnama Hidayat; Sobir Sobir
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Kutu putih Dysmicoccus brevipes me-rupakan hama utama pada perkebunan nenas, memiliki kisaran inang yang luas (lebih dari 100 spesies tanaman). Penelitian bertujuan untuk mengetahui beberapa parameter biologi kutu putih pada tanaman nenas (Ananas comosus L. Merr.) dan kencur (Kaempferia galanga L.). Penelitian dilaksanakan sejak Mei sampai dengan Juli 2007 di laboratorium dan lapangan. Penelitian menggunakan dua jenis tanaman inang yaitu nenas dan kencur pada kondisi laboratorium. Sampel kutu putih di-ambil dari lapang dan diidentifikasi. Crawler (nimfa instar-1) dipelihara sampai menjadi imago masing-masing pada daun nenas dan rimpang kencur yang diletakkan dalam petridis. Hasil penelitian menunjukkan kutu putih dapat hidup dan berkembang pada tanaman nenas dan kencur. Nimfa mengalami tiga kali ganti kulit sebelum menjadi imago. Total lama per-kembangan nimfa sekitar 32,10± 0,33 hari pada nenas dan menunjukkan perbedaan nyata pada kencur (35,55±0,43 hari). Lama perkembangan nimfa instar-1 sekitar 11,45±0,29 hari pada nenas dan sekitar 12,95± 0,33 hari pada kencur. Lama perkembangan nimfa instar 2 sekitar 9,85±0,29 hari pada nenas dan sekitar 11,05± 0,34 hari pada kencur. Sedangkan lama per-kembangan nimfa instar 3 sekitar 10,80±0,31 hari pada nenas dan 11,55±0,20 hari pada kencur. Lama hidup imago sekitar 20,40±0,74 hari pada nenas dan 20,20±0,57 hari pada ken-cur. Hasil analisis menunjukkkan masa pra-oviposisisi dan lamanya imago meletakkan anaknya sangat dipengaruhi secara nyata oleh tanaman inang.  
BIOLOGI KUTU PUTIH Dysmicoccus brevipes COCKERELL (HEMIPTERA : PSEUDOCOCCIDAE) PADA TANAMAN NENAS DAN KENCUR Juliet M. Eva Mamahit; Syafrida Manuwoto; Purnama Hidayat; Sobir Sobir
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Kutu putih Dysmicoccus brevipes me-rupakan hama utama pada perkebunan nenas, memiliki kisaran inang yang luas (lebih dari 100 spesies tanaman). Penelitian bertujuan untuk mengetahui beberapa parameter biologi kutu putih pada tanaman nenas (Ananas comosus L. Merr.) dan kencur (Kaempferia galanga L.). Penelitian dilaksanakan sejak Mei sampai dengan Juli 2007 di laboratorium dan lapangan. Penelitian menggunakan dua jenis tanaman inang yaitu nenas dan kencur pada kondisi laboratorium. Sampel kutu putih di-ambil dari lapang dan diidentifikasi. Crawler (nimfa instar-1) dipelihara sampai menjadi imago masing-masing pada daun nenas dan rimpang kencur yang diletakkan dalam petridis. Hasil penelitian menunjukkan kutu putih dapat hidup dan berkembang pada tanaman nenas dan kencur. Nimfa mengalami tiga kali ganti kulit sebelum menjadi imago. Total lama per-kembangan nimfa sekitar 32,10± 0,33 hari pada nenas dan menunjukkan perbedaan nyata pada kencur (35,55±0,43 hari). Lama perkembangan nimfa instar-1 sekitar 11,45±0,29 hari pada nenas dan sekitar 12,95± 0,33 hari pada kencur. Lama perkembangan nimfa instar 2 sekitar 9,85±0,29 hari pada nenas dan sekitar 11,05± 0,34 hari pada kencur. Sedangkan lama per-kembangan nimfa instar 3 sekitar 10,80±0,31 hari pada nenas dan 11,55±0,20 hari pada kencur. Lama hidup imago sekitar 20,40±0,74 hari pada nenas dan 20,20±0,57 hari pada ken-cur. Hasil analisis menunjukkkan masa pra-oviposisisi dan lamanya imago meletakkan anaknya sangat dipengaruhi secara nyata oleh tanaman inang.  
Hama Infasif Ulat Grayak Spodoptera frugiperda (J.E. Smith) pada Tanaman Jagung di Kabupaten Minahasa Juliet M. Eva Mamahit; Jusuf Manueke; Sandra E. Pakasi
Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2020: Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 “Komoditas Sumber Pangan untuk Meningkatkan K
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mamahit JME, Manueke J, Pakasi SE.  2020.  Infasive pests fall army worm spodoptera frugiperda  (J.E. Smith) on maize in minahasa district. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, Palembang  20 Oktober 2020. pp. xx.  Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).The  fall army worm  Spodoptera frugiperda (J.E. Smith) (Lepidoptera: Noctuidae) is an invasive pest attacking maize plants in various regions in Indonesia. This pest is a very damaging pest of maize that originates from America and entered Indonesia on  2019  in the Sumatra region. The fall army worm  attack was reported in 13 provinces in Indonesia, including North Sulawesi. This study aims to observe the presence of fall army worm  in several maize plantations in  the maize production centers area, namely in Minahasa Regency, North Sulawesi Province, and to determine the intencity and damage of attack caused by S. frugiperda  on maize  plants. This study used a survey method with purposive sampling, to determine the location of maize plantations that were attacked by S. frugiperda. Furthermore, in the field, the symptoms of attack were observed and the incidence of attacks was calculated based on the presence or absence of attack symptoms, and calculated the level intensity of S. frugiperda pest attack. The results showed that S. frugiperda has distributed  in several maize plantations in Minahasa Regency, namely: in Langowan Utara, Langowan Timur, Langowan Barat, Langowan Selatan, Tompaso, Kakas and Remboken, with the intensity of attacks level  from low until severe. The attack percentage of  S. frugiperda from  30% to 70%.
Inovasi Bomb Fizzies Antifeedant Dari Ekstrak Daun Pangi (Pangium edule Reinw.) Untuk Pengendalian Hama Kubis Plutella xylostella L. Monika Sitohang; Juliet M. Eva Mamahit; Sandra E. Pakasi
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.38061

Abstract

Cabbage is a horticultural crop that has the potential to be developed in increasing national economic growth. One of the main pests of cabbage is Plutella xylostella. Plutella xylostella attacks cause up to 90% damage. Pangi (Pangium edule) is one of the plants that can be used as a vegetable pesticide in controlling P. xylostella pests.Pangium edule is a plant that can use as an alternative for P. xylostella pest control because it contains secondary metabolites which function as an antifeedant. The uniqueness of the antifeedant action which can inhibit the eating process of target organisms is very prospective in an ecological approach to agriculture. The purpose of this paper is to explore the potential of pangi as an innovative antifeedant bomb fizzies antifeedant for P. xylostella pest control in cabbage. The method that is used is the virtual method through the collection of literature studies then evaluated and made a summary. Bomb Fizzies Antifeedant is an idea inspired by natural camphor and then added with the pangi leaf extract as an antifeedant.Keywords: Cabbage, Plutella xylostella, Pangium edule, Bomb Fizzies AntifeedantAbstractKubis merupakan tanaman hortikultura yang berpotensi untuk dikembangkan dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional. Salah satu hama utama kubis adalah hama Plutella xylostella. Serangan Plutella xylostella menyebabkan kerusakan hingga 90%. Pangi (Pangium edule) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati dalam mengendalikan hama P. xylostella.Pangium edule merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian hama P.xylostella karena mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid yang berfungsi sebagai antifeedant. Mekanisme kerja dari senyawa antifeedant adalah menghambat proses makan organisme target.Hal tersbut sangat pendekatan ekologi pada bidang pertanian. Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk menggali potensi pangi sebagai inovasi bomb fizzies antifeedant untuk pengendalian hama P. xylostella pada tanaman kubis. Metode yang digunakan yaitu dengan virtual method melalui pengumpulan studi pustaka kemudian dievaluasi dan dibuat ringkasan . Bomb Fizzies Antifeedant merupakan ide yang terinspirasi dari kapur barus alami yang kemudian ditambahkan dengan penambahan ekstrak daun pangi sebagai antifeedant.Kata kunci: Kubis, Plutella xylostella, Pangium edule, Bomb Fizzies Antifeedant
The Potential Of Army Worm Spodoptera frugiperda J.E. Smith, Control On Corn Plant Using Sex Pheromones Juliet Merry Eva Mamahit; Sandra Pakasi; Joice Rompas; Frangky J. Paat
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.44343

Abstract

The fall armyworm Spodoptera frugiperda J. E. Smith is an invasive pest of maize in Indonesia. The fall armyworm is a polyphagous pest originating from North America which was first discovered in West Africa. This pest control is very difficult because farmers are generally focused on the use of pesticides. For this reason, the method of using sex pheromones is an environmentally friendly alternative for controlling fall armyworm S. frugiperda pests. Innovation in the use of sex pheromones to act as attractants, mating disruption and mass trapping for controlling S. frugiperda pests. Keywords: pheromone, fall armyworm, Spodoptera frugiperda, corn Abstrak Ulat grayak tanaman jagung Spodoptera frugiperda J. E. Smith merupakan hama infasif di Indonesia. Hama ulat grayak, merupakan hama polifag yang berasal dari Amerika Utara yang pertama kali ditemukan di Afrika Barat. Pengendalian hama ini sangat sulit karena petani umumnya terfokus pada penggunaan pestisida. Untuk itu metode pemanfaatan feromon sex merupakan alternatif untuk pengendalian hama S. frugiperda yang ramah lingkungan. Inovasi pemanfatan feromon sex berperan sebagai atraktan, mengganggu terjadinya kopulasi antara jantan dan betina dan perangkap masal untuk pengendalian hama S. frugiperda. Kata kunci : feromon, ulat grayak, Spodoptera frugiperda, jagung
Analysis of the Soil Erosion Hazard Level on the East Coast of Minahasa (Case Study of Kombi District) Sandra E. Pakasi; Wiske C. Rotinsulu; Juliet M. Eva Mamahit; Melisa P. Todingan
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.44884

Abstract

The development of the Minahasa East Coast area into a tourism area has caused a tendency to change land use. Kombi Subdistrict is one of the areas on the East Coast of Minahasa that has experienced changes in land use with many investors building tourism areas there. The rate of land clearing in the area can accelerate the process of erosion. This research was carried out with the aim of knowing the level of soil erosion hazard on the East Coast of Minahasa, especially in Kombi District, in order to prevent soil damage so that environmental sustainability can be maintained and the development of tourism areas in the area can continue. The method used in this research is the overlay method for making digital maps and calculating erosion using the USLE method. The results of the analysis show that the Minahasa East Coast area, especially in Kombi District, has a light erosion hazard level of 1492.10 Ha, a moderate erosion hazard level of 5036.35 Ha, and a severe erosion hazard level of 6970.94 Ha. Keywords: erosion hazard level, soil Abstrak Pengembangan kawasan Pantai Timur Minahasa menjadi kawasan pariwisata, menyebabkan kecenderungan terjadi perubahan pemanfaatan lahan. Kecamatan Kombi adalah salah satu wilayah di Pantai Timur Minahasa yang mengalami perubahan penggunaan lahan dengan banyaknya investor yang membangun kawasan pariwisata di sana. Lajunya pembukaan-pembukaan lahan di daerah tersebut, dapat mempercepat proses terjadinya erosi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui tingkat bahaya erosi tanah di Pantai Timur Minahasa khususnya di Kecamatan Kombi agar dapat mencegah kerusakan tanah sehingga kelestarian lingkungan dapat terjaga dan pengembangan kawasan pariwisata di daerah tersebut dapat berlanjut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode overlay untuk pembuatan peta digital dan perhitungan erosi menggunakan metode USLE. Hasil analisis menunjukkan kawasan Pantai Timur Minahasa khususnya di Kecamatan Kombi memiliki tingkat bahaya erosi ringan seluas 1492.10 Ha, tingkat bahaya erosi sedang seluas 5036.35 Ha, dan tingkat bahaya erosi berat seluas 6970.94 Ha. Kata Kunci : tingkat bahaya erosi, tanah
Phytochemical Screening of Indigofera zollingeriana Leaf Extract as Candidate Functional Ingredient in Fish Feed Lidiawati; Darus Sa’adah J. Paransa; Deiske Adeliene Sumilat; Diane Joula Kusen; Nickson J. Kawung; Juliet Merry Eva Mamahit
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64774

Abstract

This study aimed to identify the secondary metabolites in Indigofera zollengeriana leaves through phytochemical screening. The results revealed that the leaf extract contained alkaloids (+++), flavonoids (+), tannins (+), phenolics (+), and saponins (+), while steroids and triterpenoids were not detected. These phytochemical compounds possess various biological activities, including antibacterial, antioxidant, immunostimulant, and feed efficiency-enhancing properties. In aquaculture, alkaloids act as antimicrobial agents, flavonoids and phenolics reduce oxidative stress by controlling Reactive Oxygen Species (ROS), tannins support digestive health, and saponins improve nutrient absorption and pathogen control. The absence of steroids and triterpenoids adds to the safety profile, minimizing the risk of hormonal disruption and toxicity in fish. Therefore, this study highlights the potential of Indigofera leaves as a source of functional feed additives in sustainable aquaculture to enhance fish growth and health. Keywords: Indigofera zollengeriana, phytochemicals, secondary metabolites, aquaculture   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder pada daun Indigofera zollengeriana melalui uji skrinning fitokimia. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun Indigofera mengandung alkaloid (+++), flavonoid (+), tanin (+), fenolik (+), dan saponin (+), sedangkan senyawa steroid dan triterpenoid tidak terdeteksi. Kandungan fitokimia tersebut diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, antara lain antibakteri, antioksidan, imunostimulan, serta peningkat efisiensi pakan. Dalam konteks budidaya perikanan, alkaloid berfungsi sebagai agen antimikroba, flavonoid dan fenolik berperan dalam menekan stres oksidatif dengan mengendalikan produksi Reactive Oxygen Species (ROS), tanin mendukung kesehatan pencernaan, sementara saponin dapat meningkatkan absorpsi nutrien dan pengendalian patogen. Ketiadaan steroid dan triterpenoid menjadi nilai tambah karena mengurangi risiko efek hormonal dan toksisitas pada ikan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan potensi daun Indigofera sebagai sumber bahan pakan fungsional dalam akuakultur berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan ikan. Kata kunci: Indigofera zollengeriana, fitokimia, metabolit sekunder, budidaya