Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Potential Of Army Worm Spodoptera frugiperda J.E. Smith, Control On Corn Plant Using Sex Pheromones Juliet Merry Eva Mamahit; Sandra Pakasi; Joice Rompas; Frangky J. Paat
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.44343

Abstract

The fall armyworm Spodoptera frugiperda J. E. Smith is an invasive pest of maize in Indonesia. The fall armyworm is a polyphagous pest originating from North America which was first discovered in West Africa. This pest control is very difficult because farmers are generally focused on the use of pesticides. For this reason, the method of using sex pheromones is an environmentally friendly alternative for controlling fall armyworm S. frugiperda pests. Innovation in the use of sex pheromones to act as attractants, mating disruption and mass trapping for controlling S. frugiperda pests. Keywords: pheromone, fall armyworm, Spodoptera frugiperda, corn Abstrak Ulat grayak tanaman jagung Spodoptera frugiperda J. E. Smith merupakan hama infasif di Indonesia. Hama ulat grayak, merupakan hama polifag yang berasal dari Amerika Utara yang pertama kali ditemukan di Afrika Barat. Pengendalian hama ini sangat sulit karena petani umumnya terfokus pada penggunaan pestisida. Untuk itu metode pemanfaatan feromon sex merupakan alternatif untuk pengendalian hama S. frugiperda yang ramah lingkungan. Inovasi pemanfatan feromon sex berperan sebagai atraktan, mengganggu terjadinya kopulasi antara jantan dan betina dan perangkap masal untuk pengendalian hama S. frugiperda. Kata kunci : feromon, ulat grayak, Spodoptera frugiperda, jagung
Analysis of the Soil Erosion Hazard Level on the East Coast of Minahasa (Case Study of Kombi District) Sandra E. Pakasi; Wiske C. Rotinsulu; Juliet M. Eva Mamahit; Melisa P. Todingan
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.44884

Abstract

The development of the Minahasa East Coast area into a tourism area has caused a tendency to change land use. Kombi Subdistrict is one of the areas on the East Coast of Minahasa that has experienced changes in land use with many investors building tourism areas there. The rate of land clearing in the area can accelerate the process of erosion. This research was carried out with the aim of knowing the level of soil erosion hazard on the East Coast of Minahasa, especially in Kombi District, in order to prevent soil damage so that environmental sustainability can be maintained and the development of tourism areas in the area can continue. The method used in this research is the overlay method for making digital maps and calculating erosion using the USLE method. The results of the analysis show that the Minahasa East Coast area, especially in Kombi District, has a light erosion hazard level of 1492.10 Ha, a moderate erosion hazard level of 5036.35 Ha, and a severe erosion hazard level of 6970.94 Ha. Keywords: erosion hazard level, soil Abstrak Pengembangan kawasan Pantai Timur Minahasa menjadi kawasan pariwisata, menyebabkan kecenderungan terjadi perubahan pemanfaatan lahan. Kecamatan Kombi adalah salah satu wilayah di Pantai Timur Minahasa yang mengalami perubahan penggunaan lahan dengan banyaknya investor yang membangun kawasan pariwisata di sana. Lajunya pembukaan-pembukaan lahan di daerah tersebut, dapat mempercepat proses terjadinya erosi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui tingkat bahaya erosi tanah di Pantai Timur Minahasa khususnya di Kecamatan Kombi agar dapat mencegah kerusakan tanah sehingga kelestarian lingkungan dapat terjaga dan pengembangan kawasan pariwisata di daerah tersebut dapat berlanjut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode overlay untuk pembuatan peta digital dan perhitungan erosi menggunakan metode USLE. Hasil analisis menunjukkan kawasan Pantai Timur Minahasa khususnya di Kecamatan Kombi memiliki tingkat bahaya erosi ringan seluas 1492.10 Ha, tingkat bahaya erosi sedang seluas 5036.35 Ha, dan tingkat bahaya erosi berat seluas 6970.94 Ha. Kata Kunci : tingkat bahaya erosi, tanah