. Mukhirah
Unknown Affiliation

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN PRAKARYA DI MAN 1 BANDA ACEH Sri Rizki Fitria; . Mukhirah; . Fitriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 3 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Struktur kurikulum merupakan konsep pengorganisasian dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara guru mengimplementasikan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Prakarya. Secara khusus penelitian bertujuan mengetahui tanggapan guru tentang penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Prakarya, mengetahui cara guru menerapkan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Prakarya, mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam menerapkan kurikulum 2013 pada mata pelajaran di MAN I Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 5 orang guru yang mengajar mata pelajaran Prakarya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan teknik analisis data. Berdasarkan hasil penelitian, temuan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, kurikulum 2013 merupakan salah satu rancangan baru dari dinas pendidikan untuk memajukan mutu pendidikan. Penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Prakarya juga efektif dalam membentuk karakter siswa. Kedua, RPP disiapkan untuk memudahkan guru tersebut mengajar dan RPP yang disiapkan sesuai dengan kurikulum 2013. Ketiga, hambatan yang dihadapi ialah masih ada diantara siswa yang sulit memahami materi pelajaran dan latar belakang pendidikan guru yang berasal bukan dari mata pelajaran Prakarya. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang dirancang oleh pusat Dinas Pendidikan untuk memajukan mutu pendidikan melengkapi kekurangan kurikulum sebelumnya dalam proses pembelajaran, dan kurikulum ini mampu untuk membentuk karakteristik siswa. Latar belakang pendidikan guru juga harus sesuai dengan bidang pelajaran yang dijarkannya terhadap siswa.
MODIFIKASI PAKAIAN ADAT PERKAWINAN KABUPATEN ACEH TENGGARA . Masniar; . Mukhirah; ROSMALA Dewi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pakaian adat Aceh Tenggara khususnya pada pakaian wanita. Dalam pemakaian gelang, kalung, dan aksesoris lainnya sudah banyak dirubah atau dikurangi sehingga sudah menghilangkan keasliannya, pakaian adat harusdilestarikan dan dijaga karena itu adalah warisan suatu kabupaten dan tidak boleh dihilangkan fungsi. Penelitian yang berjudul Modifikasi Pakaian Adat Perkawinan Kabupaten Aceh Tenggara.Tujuan mengidentifikasi pakaian adattradisional Aceh Tenggara, pakaian adat yang telah dimodifikasi, perkembangan modifikasi pakaian adat Aceh Tenggara dari segi bentuk pakaian, motif, warna, dan perlengkapan busana dan mengetahui menyebabkan perubahan pakaian adatKabupaten Aceh Tenggara. Pendekatan penelitian adalah deskriptif kualitatif.Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini sebayak 4 orang yang terdiri dari 2 tokoh adat, 2 orang penyewa pakaian adat yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara.Hasil penelitian bentuk pakaian wanita berwarna hitam dipenuhi bordiran Sara Opat, belah depan dan menggunakan kancing kenop , bagian bawah (rok) menggunakan kain songket. Sedangkan yang sudah dimodifikasi dari segi bentuk pakaian masih sama. Hanya ada penambahan selendang diberi pita bikubiku pada bagian pinggirnya. Dari segi bentuk bawahanya (rok) berbentuk setegah lingkaran menggunakan bordiran yang beraturan dengan motif Sara Opat, pinggiran dipenuhi dengan motif Embun Bekhangka, Pucuk Khebung, Sara opat, Puter tali. Ada 4 jenis motif pada pakaian adat Alas Embun Bekhangka, Pucuk Khebung, Sara opat, Puter tali. Perlengkapan yang digunakan Gelang Kul, Kalung (Bogok), Bunge Sumbu. Dengan warna kuning, merah, putih, dan hijau. Penyebab terjadinya perubahan pakaian adat Aceh Tenggara karena mengikuti perkembangan zaman seperti dari rok suai berubah menjadi rok setengah lingkaran agar lebih memudahkan untuk berjalan.
PENERAPAN VARIASI BAHAN SONGKET PADA BUSANA PESTA WANITA Cici Risnawati; . Mukhirah; . FITRIANA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan bahan songket pada busana pesta adalah suatu penempatan bahan songket pada busana pesta wanita yang menempatkan bahan songket pada tempat-tempat tertentu sesuai dengan model yang telah dirancang. Penempatan bahan songket yang tidak hanya menempatkan pada satu titik atau dengan kata lain monoton menambah kesan lebih elegan dan terlihat mewah dengan nuansa tradisional. Pada penelitian ini bahan songket yang divariasikan dengan bahan polos yang menempatkan bahan songket pada dada, ujung lengan, belahan, bahkan perca dijadikan motif Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan variasi bahan songket pada bagian-bagian busana pesta wanita dan mengetahui jenis-jenis bahan songket yang dipilih untuk penerapan pada busana pesta wanita. Subjek penelitian ini adalah penulis mencoba mengaplikasikan bahan songket menjadikan sebuah busana pesta wanita dengan memadu-padankan dengan bahan songket menjadikan sebuah busana pesta wanita dengan bahan polos. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen terapan ( applied research). Penerapan variasi bahan songket pada busana ada dua teknik yaitu pada model pertama menggunakan teknik jahit perca dan model dua menggunakan teknik jahit sambung. Dari kedua hasil eksperimen penerapan bahan songket pada busana memiliki teknik jahit yang berbeda. Penyelesaian model pertama tergolong rumit dikarenakan bahan songket yang keras dan mudah bertiras sehingga susah dalam proses menjahit. Sedangkan model yang kedua penyelesaiannya tergolong mudah karena hanya menggunakan teknik sambung. Hasil penelitian membuktikan bahwa songket dapat diaplikasikan untuk busana pesta, yang dilakukan dengan cara teknik jahit perca dan teknik jahit sambung. Jenis bahan songket yang dapat digunakan adalah bahan songket Palembang. Walaupun songket Palembang memiliki tekstur yang keras dan kaku, namun bahan songket Palembang dapat dipadukan dengan bahan polos.
TANGGAPAN PENGELOLA BUTIK KOTA BANDA ACEH TERHADAP KOMPETENSI MAHASISWA PRAKERIN KONSENTRASI TATA BUSANA FKIP UNSYIAH . Rahmi; . Mukhirah; . Fitriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 1, No 1 (2016): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik Kerja Industri (Prakerin) adalah mata kuliah wajib pada Konsentrasi Tata Busana FKIP Unsyiah, yang merupakan suatu upaya mewujudkan visi dan misi Prodi PKK Unsyiah untuk menyiapkan tenaga kependidikan yang unggul serta wirausaha yang berkualitas. Pada pelaksanaan prakerin lembaga pendidikan dan pengelola usaha sudah memiliki kesepakatan tertentu. Jika ditinjau mahasiswa prakerin sudah memiliki bekal yang cukup untuk praktik lapangan, begitu juga halnya pengelola usaha yang sudah memiliki pengetahuan dalam menjalankan usaha. Dalam hal ini kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa prakerin sangat berpengaruh dengan pelaksanaan prakerin. Pelaksanaan prakerin pada penelitian ini yaitu di butik yang berada di Kota Banda Aceh. Butik adalah toko yang menjual busana dan pelengkapnya dengan kualitas tinggi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 3 orang, yang semuanya merupakan pengelola butik Kota Banda Aceh. Berdasarkan hasil analisis temuan penelitian ini dapat dikemukakan bahwa kecakapan mendesign, membuat pola, memotong bahan, menjahit dan finishing yang dimiliki mahasiswa dalam pelaksanaan prakerin di ketiga butik sudah baik. Simpulan dari penelitian ini bahwa model usaha yang dikembangkan oleh ketiga butik adalah usaha perseorangan; kompetensi yang dimiliki oleh mahasiswa prakerin Konsentrasi Tata Busana FKIP Unsyiah sudah sesuai dengan kebutuhan butik; program prakerin sangat bermanfaat baik bagi mahasiswa yang melaksanakan prakerin maupun bagi butik; Tidak ada faktor penghambat dalam pelaksanaan program prakerin.
PENGEMBANGAN MOTIF KERAWANG GAYO PADA BUSANA PESTA WANITA DI ACEH TENGAH Tiara Arliani; . Mukhirah; . Novita
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 1, No 1 (2016): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan motif kerawang Gayo tidak terbatas pada produk kerajinan dan busana pengantin, tetapi pada saat ini penempatan motif kerawang Gayo sudah banyak diterapkan pada busana, khususnya busana pesta bagi wanita. Penelitian yang berjudul Pengembangan Motif kerawang Gayo Pada Busana Pesta Wanita di Aceh Tengah. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pendapat masyarakat terhadap pengembangan motif kerawang Gayo pada busana pesta (2) mengetahui makna motif kerawang Gayo (3) mengetahui pengembangan motif kerawang Gayo pada busana pesta (4) mengetahui penempatan motif kerawang Gayo pada busana pesta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bersifat naturalistik, dengan subjek penelitian tujuh responden. Teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan motif kerawang Gayo tidak terbatas pada busana pengantin saja namun pada saat ini pengembangan motif kerawang Gayo banyak diterapkan pada busana pesta wanita. Selain itu warna yang digunakan juga sudah banyak mengalami variasi warna, namun demikian antara penempatan motif dan penggunaan warna disesuaikan dengan permintaan konsumen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah masyarakat sangat menerima dan merespon dengan baik terhadap pengembangan motif kerawang Gayo yang diterapkan pada busana pesta wanita. Diharapkan kepada masyarakat Gayo agar selalu menjaga dan melestarikan salah satu budaya yang diwariskan nenek moyang termasuk kerawang Gayo sebagai simbol dan kebanggaan masyarakat Gayo.Kata kunci: pengembangan, motif kerawang Gayo, busana pesta wanita
PENGGUNAAN BUKET BUNGA PADA PROSESI ADAT WALIMAH PENGANTIN WANITA ACEH . Rahmati; . Mukhirah; Anizar Ahmad
Jurnal Busana & Budaya Vol 1, No 2 (2021): Edisi Oktober
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih telah banyak membuat perubahan dalam hidup manusia, salah satu bidang yang juga ikut mengalami perubahan adalah budaya adat pernikahan. Pada masa sekarang telah banyak dijumpai pengantin wanita Aceh yang menggunakan buket bunga pada saat acara walimah yang sebenarnya bukan budaya Aceh. Namun, banyak masyarakat Aceh yang tidak paham dengan aksesoris yang sebenarnya dan cenderung menggunakan aksesoris yang sedang berkembang sekarang. Penggunaan buket bunga bukan merupakan bagian dari adat Aceh sendiri karena penggunaan buket tidak mencerminkan identitas sebagai suku Aceh. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab kaum wanita mengunakan buket bunga pada prosesi adat walimah pengantin wanita Aceh. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang membuat pengantin wanita Aceh menggunakan buket bunga pada acara walimatulnya yaitu, pertama supaya terkesan mewah, glamour dan anggun, kedua supaya bebas berekspresi, ketiga, dapa memberikan tampilan foto yang cantik dan keempat terpengaruh dengan lingkungan baik dari segi teknologi, sahabat sekitar maupun perias. Penambahan hal-hal baru ini akan menyebabkan pudarnya kebudayaan Aceh yang asli, dan lama kelamaan akan ditinggalkan bahkan dilupakan oleh generasi muda Aceh karena sudah tertarik dengan kebudayaan orang lain.Kata Kunci: Buket Bunga, Adat Walimah, Pengantin wanita Aceh ABSTRACKeywords: Flower Bouquet, Wedding tradition of Acehnese brideAs the technology development sophisticatedly increasing, major changes in human life occurring alongside, traditions in wedding culture has undergone changes as well. Nowadays a lot of Acehnese brides are found using flower bouquets in the wedding which actually is not an Acehnese culture. However, many Acehnese do not understand the actual accessories and tend to use accessories that are currently developing. The use of a flower bouquet is not part of Acehnese custom because the use of a bouquet does not reflect an Acehnese ethnic identity. The purpose of this study is to determine factors causing Acehnese bride to use flower bouquets in a traditional wedding procession. The method used in this study was descriptive qualitative method. The data collection techniques used were interviews, observation and documentation. The result shows that the factors affecting Acehnese brides to use flower bouquets at the wedding procession are; first is to make it look luxurious, glamorous and elegant, second is to freely express her thought, third is to give photos more beautiful looks ,and fourth is influenced by the environment, in terms of technology, friends, or make-up artist. The addition of these new things will cause the original Acehnese culture to fade, and over time it will be abandoned or even forgotten by the younger generation of Aceh because they are already interested in other cultures.