Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KAJIAN TATA AIR DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG Studi Kasus : Status Air Baku Air Minum di Dataran Tinggi Dieng Dyah Marganingrum
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6577.246 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.76

Abstract

 ABSTRAK Makalah ini bertujuan memberi gambaran tentang perlunya sinergi dan harmonisasi antar sektor dalam perencanaan dan pengelolaan tata ruang. Studi kasus dilakukan di kawasan Dieng Plateau menggunakan metode pendekatan survei lapangan dan analisis. Tekanan populasi di kawasan ini telah menyebabkan terjadinya tekanan lahan yang memicu peningkatan aktivitas di sektor pertanian, khususnya komoditas kentang. Aktivitas tersebut disertai dengan pemanfaatan pupuk organik maupun anorganik untuk meningkatkan produktivitas. Hasil analisis lima dari enam sampel air sumur di sekitar lokasi studi menunjukkan kadar nitrat dan COD (Chemical Oxygen Demand)  yang tinggi. Tingginya kadar nitrat dan COD dalam air sumur memberikan indikasi yang cukup kuat  yaitu telah terjadi kontaminasi air akibat aktivitas pertanian. Oleh karena itu, untuk mencapai kesinambungan sumber daya di Dieng Plateau, maka perlu adanya sinergi dan harmonisai antarsektor, khususnya sektor sumber daya air dan lahan.Kata kunci: COD, Dieng Plateau, nitrat, produktivitas pertanian  ABSTRACTThis paper aims to provide an overview of the need for the synergy and harmonize between sectosr in the spatial planning and its management. The case study was conducted in Dieng Plateau using the method of survey and analytical approach. The population pressure influenced the land pressure in this location. It has triggered the increase of agricultural activities, particularly in potato commodities. Its activities use  organic and inorganic fertilizers to improve productivity. The analysis result of five of six water samples taken from the shallow dug well around the Dieng Plateau showed the high concentration of nitrate and COD (Chemical Oxygen Demand). High concentration of nitrate and COD in water sample provides a strong enough indication that water contamination occurred as a result of the agricultural activities. Therefore, in order to achieve sustainability of resources in the Dieng Plateau, hence the synergy and harmony between sectors are needed, especially water and land resources sectors. Keywords: COD, Dieng Plateau, nitrate, agricultural activitie 
Analisis Curah Hujan, Perubahan Tutupan Lahan dan Penyusunan Kurva IDF Untuk Analisis Peluang Banjir: Studi Kasus DAS Cerucuk, Pulau Belitung Ida Narulita; Dyah Marganingrum
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2008.778 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i2.171

Abstract

Saat ini DAS Cerucuk mengalami peningkatan curah hujan harian maksimum dan perubahan tutupan lahan yang siknifikan. Hal ini berpengaruh pada sumber daya air sehingga pengelolaan sumber daya air perlu ditata kembali. Makalah ini bertujuan melakukan analisis curah hujan dan perubahan tutupan-lahan serta pengembangan kurva frekuensi-durasi-intensitas hujan (IDF) untuk analisis potensi banjir di DAS Cerucuk, pulau Belitung. Data dasar yang digunakan adalah data hujan harian Stasiun Hujan Buluh Tumbang dan Stasiun Pilang, serta data citra satelit landsat tahun 1994, 2002 dan 2013. Analisis data curah hujan dilakukan dengan metode statistik, analisis tutupan lahan menggunakan pengolahan digital citra satelit, dan penyusunan kurva IDF menggunakan metode Mononobe. Hasil analisis untuk periode 1994 - 2013 menunjukkan telah terjadi kecenderungan peningkatan curah hujan harian maksimum di kedua stasiun serta perubahan tutupan lahan hutan dan pertanian lahan kering menjadi perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Perubahan ini cenderung meningkatkan jumlah air larian yang berpontensi peningkatan banjir. Perubahan lahan yang terjadi selama periode tersebut menyebabkan penambahan volume air limpasan sebesar 6.5 % yang dapat mengancam keberadaan infratruktur sumber daya air. Oleh karena itu, evaluasi kurva IDF adalah salah satu alat-bantu yang perlu dilakukan agar dampak negatif peningkatan volume limpasan dapat dikurangi. Hal ini cukup krusial mengingat Kota Tanjung Pandan sebagai Ibu Kota Kabupaten Belitung,yang berada di DAS Cerucuk, merupakan tujuan wisata dan mengalami perkembangan sangat pesat ke depan
Pendeteksian Kerapatan Vegetasi dan Suhu Permukaan Menggunakan Citra Landsat Studi Kasus : Jawa Barat Bagian Selatan dan Sekitarnya S. Sukristiyanti; Dyah Marganingrum
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 19, No 1 (2009)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.718 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2009.v19.19

Abstract

ABSTRAK Kerapatan vegetasi dan suhu permukaan merupakan informasi penting yang dibutuhkan kaitannya dengan isu pemanasan global. Informasi spasial ini dapat dihasilkan dengan memanfaatkan citra satelit sumberdaya, khususnya citra Landsat. Kemampuannya perlu dikaji agar tidak memberikan informasi yang tidak representatif, apalagi kalau suatu daerah kajian memiliki jenis penggunaan lahan yang heterogen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan kemampuan band thermal di daerah yang bervariasi jenis penggunaan lahannya. Analisis yang digunakan yaitu analisis spasial dengan melakukan perbandingan antara informasi spasial penggunaan lahan dengan data sebaran kelas kerapatan vegetasi dan kelas suhu permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI mampu mempresentasikan kerapatan vegetasi dengan baik untuk berbagai macam jenis penggunaan lahan. Di sisi lain pendeteksian suhu permukaan menggunakan band thermal pada citra Landsat harus memperhatikan aspek penggunaan lahannya, untuk menghindari kesalahan interpretasi.
PENCEMARAN AIR DAN TANAH DI KAWASAN PERTAMBANGAN BATUBARA DI PT. BERAU COAL, KALIMANTAN TIMUR Dyah Marganingrum; Rhazista Noviardi
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.733 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.30

Abstract

ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab pH air sungai sepanjang Sungai Lati mengalami fluktuasi dan cenderung asam. Metode yang digunakan adalah mengambil dan menganalisa sampel air dan tanah di sekitar lokasi studi.  Berdasarkan hasil analisis di hulu Sungai Lati pH air masih menunjukkan nilai yang normal yaitu 6,5. Namun sepanjang perjalanannya, pH mengalami fluktuasi. Nilai pH di hilir Sungai Lati menjadi asam yaitu sebesar 4,6. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa pH tanah disekitar lokasi studi bersifat asam (< 6). Sementara tekstur tanah yang didominasi oleh debu dan curah hujan yang relatif tinggi menyebabkan tanah disekitar lokasi mudah mengalami erosi. Proses run off dengan membawa material sulfida (pirit) hasil erosi, baik dari disposal maupun hutan sekitar, diduga sebagai penyebab pH air sungai sepanjang Sungai Lati dibawah normal. Oleh karena itu berbagai upaya untuk konservasi air dan tanah bekas tambang maupun tanah sekitar penambangan batubara yang umumnya kaya akan mineral sulfida seharusnya menjadi bagian dari aktivtas penambangan.
Diferensiasi Sumber Pencemar Sungai Menggunakan Pendekatan Metode Indeks Pencemaran (IP) (Studi Kasus: Hulu DAS Citarum) Dyah Marganingrum; Dwina Roosmini; Pradono Pradono; Arwin Sabar
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 23, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.595 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2013.v23.68

Abstract

ABSTRAK Hingga saat ini pencemaran air masih menjadi persoalan krusial di berbagai negara, khususnya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Evaluasi tingkat pencemaran air secara berkala merupakan salah satu bentuk upaya dalam sistem pengelolaan sumberdaya air. Metode Indeks Pencemaran (IP) merupakan salah satu metode analisis kualitas air yang diaplikasikan di Indonesia. Metode ini merupakan perhitungan relatif antara hasil pengamatan terhadap baku mutu yang berlaku. Sebagai metode indeks komposit, IP terdiri atas indeks rata-rata dan indeks maksimum. Indeks maksimum dapat memberikan indikator unsur kontaminan utama penyebab penurunan kualitas air. Unsur utama dapat dihubungkan dengan sumber pencemar, apakah dari domestik maupun, non domestik (industri). Studi kasus dilakukan di hulu DAS Citarum (segmen Wangisagara-Nanjung) menggunakan data historikal tahun 2002 s.d. 2010. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa fecal coliform, sulfida, dan fenol merupakan tiga unsur utama penurunan kualitas Sungai Citarum. Fecal coliform adalah parameter tipikal dalam limbah domestik. Fenol adalah parameter tipikal dalam limbah industri. Sedangkan sulfida bisa berasal dari domestik maupun industri. Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi diferensiasi polutan dari sumber domestik saja menjadi domestik dan non domestik setelah tahun 2005.
Heavy Metal Identification in Water Resources and the Surrounding Environment of the Cirasea Riparian Zone, Indonesia Maria, Rizka; Astuti, Ratna Dwi Puji; Rusydi, Anna Fadliah; Marganingrum, Dyah; Mulyono, Asep; Nurohman, Heri; Dida, Eki Naidania; Damayanti, Retno; Shoedarto, Riostantieka Mayandari; Rahayudin, Yudi; Taufiqurrahman, Adie; Ferdiano, Muhammad Rio; Nugraha, Detizca Melia
Indonesian Journal of Chemistry Vol 24, No 5 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.93326

Abstract

The Cirasea River can provide water for both the Bandung basin and agricultural irrigation. Intensive agriculture, industry, and land use changes could have an impact on water quality. The purpose of this study is to look at the origins of heavy metals in riparian water resources. Heavy metal analysis was performed on 13 groundwater and river water samples. Heavy metals in water sources were compared with sediment and soil. The samples were analyzed for heavy metals using an AAS instrument. The research method employs statistical, geographical, and heavy metal pollution index (HPI). The HPI for river water was 131, whereas groundwater was 93. River water with an HPI value of more than 100 is highly polluted, indicating that it is unsafe for human consumption and has negative health consequences. Data verification with heavy metals in sediments reveals the presence of heavy metals coming from geogenic circumstances in various locations in the upstream area. Heavy metals in downstream areas result from geological factors and anthropogenic activities in the surrounding area. The long-term effects of heavy metal pollution along the riparian zone will become apparent. More research is needed on communities that depend on groundwater supplies along the Cirasea watershed.  
VALUE INCREASING OF REJECT COAL WITH BIOMASS ADDING AS BIO-COAL BRIQUETTE Marganingrum, Dyah; Estiaty, Lenny Marilyn
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY VOLUME 3, NUMBER 2, APRIL 2020
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v3i2.5110

Abstract

Aim: This paper aims to explain the added value increasing method of reject coal which has not utilized by the company. Methodology and Results: The method to increase added value in this study used the agglomeration process of briquettes form that changing composition by adding biomass. The biomass functions to minimize bottom ash produced from burning briquettes so that the briquettes burn entirely. Stages processes in this study consist of characterization, briquetting, physical test, and chemical test. Based on the analysis, reject coal still has a high calorific value of 5,929 cal/gr. Shapes and sizes that were not following needs of coal market or consumer due to reject coal to be a waste. Briquettes have been successfully produced and meet specification requirements based on applicable regulations in Indonesia. Besides physical properties, the briquette meet density requirements which are greater than or equal to 1 gr/cm3 and shatter index value is less than 0.5%. The gas emission test shows below threshold, which is CO 0-30 ppm, H2S 0-3.6 ppm, and NOx is not detected. After evaluation, it showed that by adding 30% biomass, ignition time could be decreased and remaining unburned briquettes or bottom ash was reduced as much as 68.68%. Conclusion, significance and impact study: The bio-coal briquettes is a strategic solution to environmental problems and alternative energy sources that are environmentally friendly, because CO and H2S emissions are still below the threshold, even for NOx not detected. Making Bio-coal briquettes as a solution to the utilization of reject coal mining waste to be used as an alternative energy source has been successfully carried out.