Claim Missing Document
Check
Articles

Found 45 Documents
Search
Journal : e-GIGI

GAMBARAN TEKANAN DARAH PASIEN PENCABUTAN GIGI DI RSGMP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FK UNSRAT TAHUN 2014-2015 Karamoy, Stefani M.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8765

Abstract

Abstract: Tooth extraction is an often procedure that done in the dental profession. For the people tooth extraction is the best solution to prevent the occurrence of abnormalities in the oral cavity. Before the tooth extraction is done, a general health examination of patients is essential. The purpose of this study to determine the patient's blood pressure as an overview to tooth extraction at RSGM PSPDG FK UNSRAT Manado from 2014 until 2015. Blood pressure measurement is important to determine the patient's blood pressure during tooth extraction in order to avoid undesirable problems. In this research will be seen how the tooth extraction patient blood pressure. This is a descriptive research with total population of 836 patients. The results showed that the tooth extraction process runs smoothly because patients generally have normal blood pressure that is 120/80mmHg. A total of 70% or 585 patients are female and 30% or 251 are male. Patients with age 21-30 year old are the highest patients with a number of 356 patients or 42 % from the total patients.Keywords: tooth exctraction, blood pressureAbstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan yang sering dilakukan dalam profesi kedokteran gigi. Bagi masyarakat pencabutan gigi merupakan solusi terbaik untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan dalam rongga mulut. Sebelum tindakan pencabutan gigi dilakukan, pemeriksaan kesehatan umum pasien sangatlah penting. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tekanan darah pasien pencabutan gigi di RSGM Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) FK UNSRAT Manado tahun 2014-2015. Pengukuran tekanan darah penting dilakukan untuk mengetahui tekanan darah pasien sebelum tindakan pencabutan gigi agar terhindar hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana tekanan darah pasien pencabutan gigi di RSGM Program Studi Pendidikan Dokter Gigi FK UNSRAT Manado tahun 2014-2015. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jumlah total populasi 836 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pencabutan gigi berjalan lancar karena pada umumnya pasien memiliki tekanan darah normal yaitu 120/80mmHg. Sebanyak 70% atau 585 pasien merupakan pasien wanita dan 30% atau 251 pasien pria. Pasien dengan usia 21-30 tahun merupakan pasien yang terbanyak melakukan pencabutan gigi dengan jumlah 356 pasien atau 42% dari total pasien.Kata kunci: pencabutan gigi, tekanan darah.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak Usia Sekolah di Desa Wori Mariati, Ni Wayan; Wowor, Vonny N. S.; Tasya, Maria
e-GiGi Vol. 12 No. 2 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i2.51333

Abstract

Abstract: Dental caries is common in school-age children eventhough most parents have played a good role in maintaining dental and oral health of their children. In developing countries like Indonesia, the level of knowledge is the most important factor in dental and oral health. This study aimd to determine the relationship between the level of knowledge about oral health and the incidence of caries in school-age children at Desa Wori. This was a correlational and descriptive study with a cross-sectional approach. A total of 153 people were selected as samples using the stratified proportionate random sampling technique. Questionnaire was used to assess the level of knowledge, meanwhile, caries incidence was assesed using the International Caries Detection and Assessment System (ICDAS). The results showed that 46.41% of the samples had good knowledge and had caries, 12.42% had good knowledge and no caries, 31.37% had less knowledge and had caries, and 9.8% had less knowledge and no caries. The chi square test of the relationship between the level of knowledge and the caries incidence obtained a p-value of 0.8434 (≥0.05). In conclusion, there is no relationship between the level of knowledge and the caries incidence in school-age children at Desa Wori. Keywords: caries; level of knowledge; school-age children   Abstrak: Karies merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dijumpai pada anak usia sekolah, meskipun sebagian besar orang tua telah berperan baik dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut anaknya. Pada negara berkembang seperti Indonesia tingkat pengetahuan merupakan faktor yang paling penting dalam kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan kejadian karies pada anak usia sekolah di Desa Wori. Penelitian ini merupakan studi deskriptif korelasional dengan pendekatan potong lintang. Sebanyak 153 orang dipilih sebagai sampel dengan teknik stratified proportionate random sampling. Kuesioner digunakan sebagai instrumen penelitian tingkat pengetahuan dan International caries detection and assessment system (ICDAS) digunakan untuk mengukur kejadian karies. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 46,41% sampel memiliki tingkat pengetahuan yang baik, ada karies; 12,42% sampel memiliki pengetahuan yang baik, tanpa karies; 31,37% sampel memiliki pengetahuan kurang, ada karies; sedangkan 9,8% sampel memiliki pengetahuan kurang, tanpa karies. Hasil uji chi square terhadap hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian karies mendapatkan nilai p=0,8434 (≥0,05). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian karies pada anak usia sekolah di Desa Wori. Kata kunci: karies; tingkat pengetahuan; anak usia sekolah
Pengaruh Berkumur Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Laju Aliran Saliva Wowor, Vonny N. S.; Mariati, Ni Wayan; Depthios, Richard F.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.51499

Abstract

Abstract: Decreased salivary flow rate can be caused by many things, inter alia age, consumption of certain drugs, and psychological effects. The benefits of coconut water have been widely studied, one of which is related to dental and oral health. However, there are still not many studies about the effects of various varieties of coconut water in increasing the flow rate of saliva, especially old coconut water which is often thrown away as waste. This study aimed to determine whether there was an effect of coconut water (Cocos nucifera) gargling on the rate of salivary flow. This was an experimental and analytical study with a quasi-experimental design, and pre-test and post-test control group design approaches. Samples were dentistry undergraduate students of Universitas Sam Ratulangi taken by simple random sampling. Samples were divided into two groups: treatment group (gargling with old coconut water) and control group (gargling with mineral water). The results showed that in the treatment group, there was an increase of salivary flow rate from 0.7114 to 1.1248 after gargling with old coconut water. Meanwhile, in the control group, there was an increase of salivary flow rate from 0.7962 to 0,8495 after gargling with mineral water. Since research data were normally distributed and homogenous, the statistical analysis was continued with the unpaired T-test which obtained a p-value of <0.001 (p<0.05). In conclusion, coconut water (Cocos nucifera) gargling can influence the salivary flow rate. Keywords: coconut water; salivary flow rate; gargling   Abstrak: Laju aliran saliva yang menurun dapat diakibatkan oleh berbagai hal antara lain faktor usia, mengonsumsi obat-obatan tertentu, dan efek psikis. Manfaat air kelapa terhadap kesehatan antara lain kesehatan gigi dan mulut telah diteliti namun belum banyak penelitian mengenai efek air kelapa dari berbagai varietas dalam hal meningkatkan laju aliran saliva terutama air kelapa tua yang masih sering dibuang sebagai limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berkumur air kelapa (Cocos nucifera) terhadap laju aliran saliva. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan rancangan quasi eksperimental, dan pendekatan pre test dan post test control group design. Sampel penelitian ialah mahasiswa S1 PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang diambil secara simple random sampling dan dibagi atas dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan (berkumur air kelapa tua) dan kelompok kontrol (berkumur air mineral). Hasil penelitian mendapatkan pada kelompok perlakuan rerata laju aliran saliva sebelum dan setelah berkumur air kelapa naik dari 0,7114 menjadi 1,1248 sedangkan pada kelompok kontrol rerata laju aliran saliva sebelum dan setelah berkumur air mineral naik dari 0,7962 menjadi 0,8495. Oleh karena data penelitian berdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji t tidak berpasangan yang mendapatkan nilai p<0,001 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah berkumur air kelapa (Cocos nucifera) dapat meningkatkan laju aliran saliva. Kata kunci: air kelapa; laju aliran saliva; berkumur
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Bahaya Barodontalgia dengan Status Karies Gigi pada Instruktur Penyelam di Kota Manado Mintjelungan, Christy N.; Mariati, Ni Wayan; Galongi, Junistika P.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.54948

Abstract

Abstract: Knowledge can be the basis of attitudes towards something and ultimately underlies a person's behavior. Barodontalgia is oral pain that occurs due to changes in barometric pressure and its most common cause is caries. This study aimed to evaluate whether there was a relationship between level of knowledge about the dangers of barodontalgia and dental caries status among diving instructors in Manado. This was a descriptive and analytical study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using the total sampling technique to all diving instructors who came to the Youth Center pier from January to February 2023. The results obtained 36 diving instructors as subjects. The level of knowledge about barodontalgia of subjects was considered as sufficient and the population DMF-T index was 3.22. The Spearman correlation test resulted in p=0.148 and r=0,246. In conclusion, there was a non-significant relationship with a weak correlation between the level of knowledge about the dangers of barodontalgia and dental carries status among diving instructors in Manado. Keywords: barodontalgia; knowledge level; DMF-T; diving instructors   Abstrak: Pengetahuan dapat menjadi dasar untuk bersikap terhadap sesuatu dan akhirnya mendasari perilaku seseorang. Barodontalgia adalah nyeri oral yang timbul karena adanya perubahan tekanan barometrik dan paling banyak ditemukan pada penderita karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang bahaya barodontalgia dengan status karies gigi pada instruktur penyelam di Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling terhadap seluruh instruktur penyelam yang datang di Dermaga Youth Center pada Januari hingga Februari 2023. Hasil penelitian mendapatkan 36 instruktur penyelam sebagai subjek. Tingkat pengetahuan tentang barodontalgia pada instruktur penyelam tergolong cukup dan indeks DMF-T populasi bernilai 3,22. Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan nilai p=0,148 dengan nilai r=0,246. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan tidak bermakna dan korelasi lemah antara tingkat pengetahuan tentang bahaya barodontalgia dengan status karies gigi pada instruktur penyelam di Kota Manado. Kata kunci: barodontalgia; tingkat pengetahuan; DMF-T; instruktur penyelam
Uji Aktivitas Anti-Inflamasi Ekstrak Sabut Kelapa (Cocos nucifera L.) dengan Metode Stabilisasi Membran Sel Darah Merah Pangemanan, Damajanty H. C. Pangemanan; Mariati, Ni Wayan; Rantetondok, Angelin L.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55338

Abstract

Abstract: Dental and oral care often causes injuries that can trigger an inflammatory reaction associated with feeling of discomfort. Drugs that can be given for the treatment of inflammation, namely corticosteroids of the glucocorticoid group and non-steroidal anti-inflammatories (NSAIDs). However, these drugs have side effects, therefore, alternatives with minimal toxicity that can be found in plants are preferrable. Coconut coir has the potential to be an anti-inflammatory drug because it contains flavonoids, tannins and saponins. This study aimed to determine the anti-inflammatory activity of coconut coir extract at concentrations of 50, 100, 150, 500, and 1000 ppm. This was a pure experimental study with a post-test-only control design using blood of rats weighing above 250 grams taken through the retro-orbital sinus. The samples were divided into seven groups, namely 50, 100, 150, 500, 1000 ppm, positive control, and negative control. The results showed that coconut coir extract contained alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids. The percentages of inhibition of hemolysis were obtained at 50, 100, 150, 500, and 1000 ppm, namely 14.73%, 24.60%, 38.86%, 43.11%, and 50.39%. In conclusion, coconut coir extract (Cocos nucifera L.) has anti-inflammatory activity. Extract concentration of 1000 ppm has the highest anti-inflammatory activity. Keywords: inflammation; coconut coir extract; stabilization of red blood cell membranes    Abstrak: Perawatan gigi dan mulut tidak jarang menimbulkan perlukaan yang dapat memicu reaksi inflamasi disertai rasa tidak nyaman. Golongan obat yang dapat diberikan untuk pengobatan inflamasi, yaitu kortikosteroid golongan glukokortikoid dan anti-inflamasi non-steroid (AINS). Namun, obat-obat tersebut memiliki efek samping sehingga dibutuhkan alternatif dengan toksisitas minimal yang dapat ditemukan pada tanaman. Sabut kelapa berpotensi menjadi obat anti-inflamasi karena mengandung flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti-inflamasi ekstrak sabut kelapa konsentrasi 50, 100, 150, 500, dan 1000 ppm. Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan post-test only control design menggunakan darah tikus yang diambil melalui sinus retro-orbitalis. Kriteria tikus ialah berat di atas 250 gram, yang dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu 50, 100, 150, 500, 1000 ppm, kontrol positif, dan kontrol negatif. Hasil penelitian mendapatkan bahwa ekstrak sabut kelapa mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Hasil persentase inhibisi hemolisis didapatkan pada 50, 100, 150, 500, dan 1000 ppm, yaitu 14,73%, 24,60%, 38,86%, 43,11%, 50,39%. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak sabut kelapa (Cocos nucifera L.) memiliki aktivitas anti-inflamasi. Konsentrasi ekstrak 1000 ppm memiliki aktivitas anti inflamasi tertinggi. Kata kunci: inflamasi; ekstrak sabut kelapa; stabilisasi membran sel darah merah
Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua dengan Status Karies Gigi Siswa Usia 10–12 Tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.; Vania, Marella T.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55683

Abstract

Abstract: Dental caries is most commonly caused by demineralization, namely loss of the structure of the hard tooth tissue which consists of email, dentine, and cementum. Dental caries has several causative factors, one of which is knowledge which is an external factor in the occurrence of dental caries. This study aimed to determine the relation between the level of parental knowledge and the dental caries status of students aged 10–12 years at SDN Talawaan Bajo, North Minahasa Regency. This was an analytical and descriptive study using a cross-sectional design. Samples consisted of students aged 10–12 years and parents of the students, totaling 42 people each, who were taken by total sampling technique that met the inclusion criteria. The results showed the parental levels of knowledge about caries, categorized as follows: good (95.24%), moderate (4.76%), and poor (0,0%). Dental caries status of students aged 10–12 years with very low (35.71%), low (21.43%), moderate (26.19%), high (9.52%), and very high (7.14%). The Spearman Rank test showed a p-value of 0.38 (>0.05). In conclusion, there is no significant relation between the level of parental knowledge and the dental caries status of students aged 10–12 years at SDN Talawaan Bajo, North Minahasa Regency. Keywords: caries status; parental knowledge; students   Abstrak: Karies gigi paling sering terjadi akibat demineralisasi yaitu hilangnya struktur dari jaringan keras gigi yang terdiri dari email, dentin, dan sementum. Karies gigi memiliki beberapa faktor penyebab, salah satunya ialah pengetahuan yang merupakan faktor eksternal timbulnya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan status karies gigi siswa usia 10–12 tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian terdiri dari siswa berusia 10–12 tahun dan orang tua siswa yang berjumlah masing-masing 42 orang, diambil dengan teknik total sampling yang telah memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua tentang karies dengan kategori baik (95,24%), kategori sedang (4,76%), dan kategori kurang (0,0%). Status karies gigi siswa usia 10–12 tahun dengan kategori sangat rendah (35,71%), rendah (21,43%), sedang (26,19%), tinggi (9,52%), dan sangat tinggi (7,14%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p=0,38 (0,38>0,05). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan orang tua dengan status karies gigi siswa usia 10–12 tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara. Kata kunci: status karies; tingkat pengetahuan orang tua; siswa
Efektivitas Dental Health Education dengan Metode Demonstrasi terhadap Peningkatan Pengetahuan Menyikat Gigi Siswa Sekolah Dasar Gonie, Lovely T. A.; Wowor, Vonny N. S.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.57297

Abstract

Abstract: Dental caries is still a health problem experienced by many children in Indonesia. One of the factors that influence dental caries is behavioral factor. Changing behavior can be done by intervening through dental health education, especially about tooth brushing. One method that encourages the target to participate actively and involves many senses is the demonstration method. This study aimed to find out the effectiveness of dental health education (DHE) accompanied by demonstration method on increasing knowledge of tooth brushing among elementary school students. This was a quasi-experimental study with a non-equivalent control group design, using pretest and posttest for the treatment and control groups that were already determined. Samples were 100 students of SD Advent Paal 2 Manado, divided into two equal groups: control group (DHE without demonstration method) and treatment group (DHE with demonstration method). The Wilcoxon test showed that the p-value of dental health education with or without demonstration method was 0.000 (p<0.05), which meant an increase in knowledge after treatment with DHE. However, based on the obtained scores, the difference in the increase in the treatment group was greater than that of the control group. In conclusion, dental health education using demonstration method can increase effectively the knowledge about tooth brushing among elementary school students. Keywords: dental health education; demonstration; knowledge about tooth brushing   Abstrak: Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut yang dialami oleh banyak anak di Indonesia. Salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit karies gigi yaitu faktor perilaku. Untuk mengubah perilaku, dapat dilakukan intervensi melalui pemberian dental health education (DHE) pada anak, terutama yang berkaitan dengan menyikat gigi. Salah satu metode yang mendorong sasaran untuk ikut secara aktif dan melibatkan banyak indra yaitu metode demonstrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas DHE dengan metode demonstrasi terhadap peningkatan pengetahuan menyikat gigi siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ialah quasi experimental dengan non-equivalent control group design. Penelitian ini menggunakan pretest dan posttest pada kelompok perlakuan dan kontrol yang sudah ditentukan. Sampel penelitian ialah 100 siswa kelas V dan VI SD Advent Paal 2 Manado, dibagi ke dalam dua kelompok; kelompok perlakuan (pemberian DHE disertai metode demonstrasi) dan kelompok kontrol (pemberian DHE tanpa disertai metode demonstrasi). Hasil uji Wilcoxon terhadap kedua kelompok mendapatkan nilai p=0,000 (p<0,05), yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sesudah diberikan DHE. Walaupun demikian, dari perolehan skor yang didapat, selisih peningkatan pada kelompok perlakuan lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan penelitian ini ialah pemberian dental health education dengan metode demonstrasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan menyikat gigi siswa sekolah dasar. Kata kunci: dental health education: demonstrasi: pengetahuan menyikat gigi
Gambaran Pengetahuan tentang Pencabutan Gigi pada Remaja Juliatri, Juliatri; Mariati, Ni Wayan; Simanjuntak, Bintang
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.57301

Abstract

Abstract: Knowledge about tooth extraction can help teenagers to understand the importance of maintaining dental health and preventing more serious dental problems in the future. This study aimed to obtain the overview of level of knowledge about tooth extraction among adolescents. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Sampling technique was stratified proportionate random sampling. Samples consisted of 175 students of SMP Katolik Santa Theresia (junior high school) Manado obtained by using the Slovin formula. The results showed that from 175 students, 52% had very good level of knowledge, 32.8% had good knowledge, and 21.2% had poor knowledge. Number of female respondents that had very good level of knowledge was higher than of male respondents (53,2% : 51%). Elder respondents had higher level of knowledge compared to the younger ones. In conclusion, the number of students having very good level of knowledge is higher than those having good level and poor level of knowledge. Female students have higher level of knowledge than male students, and elder students have higher level of knowledge compared to the younger ones. Keywords: knowledge about tooth extraction; adolescence    Abstrak: Pengetahuan tentang pencabutan gigi dapat membantu remaja memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mencegah masalah gigi yang lebih serius di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan tentang pencabutan gigi pada remaja. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel yaitu stratified proportionate random sampling. Sampel berjumlah 175 siswa SMP Katolik Santa Theresia Manado yang diperoleh menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian mendapatkan bahwa sebanyak 52% siswa memiliki tingkat pengetahuan sangat baik, 32,8% memiliki pengetahuan baik, dan 21,2% memiliki pengetahuan kurang baik. Responden perempuan (53,2%) yang memiliki tingkat pengetahuan sangat baik lebih banyak daripada responden laki-laki (51%). Responden yang berusia lebih tua memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan yang berusia lebih muda. Simpulan penelitian ini ialah siswa yang memiliki tingkat pengetahuan sangat baik lebih banyak dibandingkan dengan yang memiliki tingkat pengetahuan baik dan kurang baik. Siswa perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan laki-laki, dan siswa yang berusia lebih tua memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik. Kata kunci: pengetahuan mengenai pencabutan gigi; remaja
Hubungan Derajat Keasaman Saliva dan Karies Gigi pada Siswa Sekolah Menengah Atas Mariati, Ni Wayan; Pangemanan, Damajanty H. C.; Bangun, Liasma K.
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.59520

Abstract

Abstract: The prevalence of caries among people in the age group of 15-24 years is still high. North Sulawesi Province has a caries occurrence rate of 55%. The salivary pH value during resting period has the ability to predict caries status. This study aimed to determine the relationship between the degree of salivary acidity and dental caries in students of SMAN 1 Wori (senior high school). This was an analytical study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. Salivary pH was examined using the spitting technique and dental caries was examined using the DMF-T index. The results obtained 114 students as respondents. Examination of the degree of acidity (pH) of saliva showed that the acid category occupied the highest frequency of 55 students (48.3%) and the least is the alkaline category of five students (4.4%). The highest number of DMF-T score was in the medium category, namely 35 respondents (30.7%), while the high and very high categories had the same number, namely 18 respondents (15.8%) each. The chi-square test obtained a p-value of 0.001 for the relationship between the degree of acidity (pH) of saliva and dental caries.  In conclusion, there is a relationship between the degree of acidity (pH) of saliva and dental caries among students of SMAN 1 Wori. Keywords: saliva acidity; dental caries    Abstrak: Prevalensi karies pada masyarakat dengan kelompok usia 15–24 tergolong tinggi. Provinsi Sulawesi Utara mempunyai angka terjadinya karies sebesar 55%. Nilai pH saliva selama periode istirahat memiliki kemampuan untuk memrediksi status karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat keasaman saliva dan karies gigi di SMAN 1 Wori. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang Pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Pada penelitian ini  dilakukan pemeriksaan pH saliva dengan menggunakan teknik spitting dan pemeriksaan karies gigi dengan menggunakan indeks DMF-T. Hasil penelitian mendapatkan 114 siswa sebagai responden penelitian. Pemeriksaan derajat keasaman (pH) saliva memperlihatkan bahwa kategori asam menempati frekuensi paling tinggi (48,3%) dan yang paling sedikit ialah kategori basa (4,4%). Jumlah nilai DMF-T terbanyak pada kategori sedang (30,7%) sedangkan untuk kategori tinggi dan sangat tinggi mempunyai jumlah sama banyak (masing-masing15,8%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan pH saliva dan karies gigi mendapatkan nilai p=0,001. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara derajat keasaman (pH) saliva dan karies gigi pada siswa di SMAN 1 Wori. Kata kunci: derajat keasaman saliva; karies gigi
Perbedaan Efektivitas Menyikat Gigi Metode Modifikasi Stillman dan Metode Scrub terhadap Indeks Debris Siswa Sekolah Dasar Bawenti, Suryani; Mintjelungan, Christy N.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.60187

Abstract

Abstract: Oral hygiene is crucial in maintaining oral health and preventing oral cavity problems or diseases. Tooth brushing is an effective way to maintain oral hygiene and to remove debris and plaque. The Stillman modification and scrub methods are simple techniques that can be taught to children. This study aimed to determine the effectiveness difference between the Stillman modification and Scrub methods of tooth brushing on the debris index among elementary school students. This was a quasi-experimental study with a pretest and posttest control group design. Respondents were students of SD GMIM Buloh aged 10–12 years as many as 37 students that fulfilled the inclulsion and exclusion criteria. The results showed that the mean debris index score of respondents before tooth brushing with modified Stillman method was 1.68 and after tooth brushing was 0.35. The mean debris index score before tooth brushing with scrub method was 1.29 and after tooth brushing was 0.34. The independent t-test obtained a p-value >0.05 for the difference of mean debris index of the two methods. In conclusion, the reduction of mean debris index of modified Stillman method is greater than of scrub method, however, there is no significant difference between the two methods in debris index reduction among students of SD GMIM Buloh. Keywords: tooth brushing; Stillman modification method; scrub method; debris index    Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mencegah terjadinya masalah atau penyakit dalam rongga mulut. Menyikat gigi merupakan suatu usaha yang efektif untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut dan tindakan sehari-hari yang digunakan untuk menghilangkan debris dan plak gigi. Metode menyikat gigi modifikasi Stillman dan metode scrub merupakan metode sederhana yang bisa diedukasikan kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas menyikat gigi metode modifikasi Stillman dan metode scrub terhadap indeks debris siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ialah quasi eksperimental dengan pretest and posttest control group design. Responden penelitian ialah. siswa SD GMIM Buloh usia 10–12 tahun berjumlah 37 siswa sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi penelitian. Hasil penelitian mendapatkan rerata skor indeks debris responden sebelum menyikat gigi dengan metode modifikasi Stillman sebesar 1,68 dan sesudah menyikat gigi sebesar 0,35. Rerata skor indeks debris responden sebelum menyikat gigi dengan metode scrub sebesar 1,29 dan sesudah menyikat gigi sebesar 0,34. Hasil uji independent t-test terhadap perbedaan rerata indeks debris menyikat gigi dengan metode modifikasi Stillman dan metode scrub mendapatkan nilai p>0,05. Simpulan penelitian ini ialah penurunan rerata indeks debris dengan metode modifikasi Stillman lebih besar daripada metode scrub namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua metode terhadap penurunan indeks debris siswa SD GMIM Buloh. Kata kunci: menyikat gigi; metode modifikasi Stillman; metode scrub; indeks debris
Co-Authors A. J. M Rattu A. J. M. Rattu A.A. Ketut Agung Cahyawan W Anna M. Maruanaya, Anna M. Ayu S. Gugule B. S. Lampus Bangun, Liasma K. Bawenti, Suryani Beatrix I. Pontoh Benedictus S. Lampus Bernat Hutagalung Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christina Putri Amin Sinaga Christy Hansu Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan D. H. C. Pangemanan Depthios, Richard F. Dewi A. Hamadi Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Dwi Nur Rakhman Eilen F. Sinaga, Eilen F. Ellys D Siagian Galong, Junistika Priskila Galongi, Junistika P. Gisela Harlindong Gonie, Lovely T. A. Gracecylia R. Salampessy I Made A. Yogasedana, I Made A. Indra Setiawan Inka J. Fenanlampir Jeiska Triska Tulangow Jimmy Maryono, Jimmy Jimmy Posangi Joandri P. Dandel, Joandri P. Johanna A Khoman Johanna A. Khoman Juliatri . Juliatri Juliatri Karel Pandelaki Liefany Anastasia Wilar Meilany F. Durry Michael A. Leman Mintjelungan, Christy N Ni Putu Karuni M. Sari, Ni Putu Karuni M. P. S. Anindita Pangemanan, Damajanty H. C. Pangemanan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Priska M. Poana, Priska M. Putra, Made Wisnu D. Putri R. Dengah, Putri R. Radiah . Randy Gopdianto Rantetondok, Angelin L. Rawung, Regita M. Rizka Wahyuni Rompas, Sefti Selfijani Jehermia Shinta Sartika L., Shinta Sartika Shirley E. S. Kawengian Simanjuntak, Bintang Siwi, Jordan A. C. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sumajouw, Valentino C. J. Tasya, Maria Utomo, Hestia E. Vania, Marella T. Victor T. Pamolango, Victor T. Vlorenzy O. Muluwere Vonny N. S. Wowor Vonny N.S Wowor, Vonny N.S Wulan Parengkuan, Wulan Yohanes I Gede K.K