Liyantono .
Departemen Teknik Mesin Dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian,, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pemetaan Lahan Pertanian Berbasis Data Spasial Menggunakan Aplikasi QGIS di Desa Mojorembun Kecamatan Rejoso Utomo, Sabrina Salsabila; Rakhmayanti, Dyah; Herdyan, Rafi Dhianaufal; Rohmat, Xepy Abdul; Rifki, Muhamad Fahri Nur; Saputra, Angga; Fatiyah, Salsabila; Liyantono, Liyantono; Syukira, Nikma Syukira
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpim.6.2.146-154

Abstract

The high need for fast and accurate information in the data collection of agricultural land currently requires a digital mapping system. Digital mapping that utilises advanced technologies, such as Geographic Information Systems (GIS) and satellite imagery, is capable of producing detailed and accurate data on the condition of agricultural land. With its ability to provide real-time updates and integrate various data thoroughly, digital mapping is becoming an indispensable tool to fulfil the need for fast and precise information. Quantum Geographic Information System (QGIS) is an open-source GIS software that uses referenced spatial data or geographic coordinates presented in graphical form through maps. QGIS can be applied to mapping shallot farmland in Mojorembun Village. The purpose of using QGIS is to facilitate the community in accessing information and processing data related to ownership, area, and types of agricultural commodities in the village. The QGIS application provides various features, such as a land map that contains information about the location, area, and land ownership data. The results of this mapping are expected to be utilised by the community to obtain more complete information about agricultural land in Mojorembun Village.
Evaluasi kualitas air di Situ Sigura-Gura, wilayah urban DKI Jakarta Akbar, Helmy; Setiawan, Yudi; Liyantono, Liyantono; Effendi, Hefni; Utomo, Bagus Amalrullah; Zuhri, Muhammad Isnan; Meidiza, Riski; Munggaran, Gilang; Pambudi, Wiwid Arif; Putra, Marfian Dwidima; Nugroho, Setyo Pambudi; Kuswanto, Asep; Rahmawati, Rahmawati; Supalal, Yusiono; Fitratunnisa, Erni Pelita; Pusparini, Mustika; Sarunggu, Yudith; Rahmawati, Nofi; Arnold, Arnold; Solinda, Martha; Abidin, Zaenal
Jurnal Oase Nusantara Vol 3 No 2 (2024)
Publisher : Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas air di Situ Sigura-Gura, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, yang merupakan badan air buatan dengan peran strategis dalam penyediaan air dan pengendalian ekosistem lokal di wilayah perkotaan. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya tekanan pencemaran akibat urbanisasi, limbah domestik, dan aktivitas industri yang berpotensi mengganggu fungsi ekosistem dan kesehatan masyarakat. Pengambilan sampel dilakukan pada dua periode berbeda (musim kemarau dan hujan) pada tahun 2021 dengan pengukuran 39 parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi melalui metode in situ dan ex situ. Analisis kualitas air dilakukan dengan merujuk pada standar baku mutu air kelas 2 dan menggunakan pendekatan metode STORET serta perhitungan Indeks Pencemar (IP). Hasil pengukuran menunjukkan adanya penurunan kualitas air secara signifikan dari titik inlet menuju outlet. Parameter seperti Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) meningkat melebihi ambang batas, sedangkan kadar Oksigen Terlarut (DO) menurun pada titik outlet. Analisis tambahan melalui perbandingan rasio Ci/Lij mengindikasikan bahwa beberapa parameter, antara lain TSS, BOD, COD, klorin bebas, hidrogen sulfida, dan bakteri coli, menunjukkan nilai pencemaran yang melebihi ambang batas, sehingga status mutu air di inlet dikategorikan sebagai "Cemar Ringan" sedangkan di outlet sebagai "Cemar Berat". Rasio BOD/COD yang rendah mengindikasikan dominasi bahan organik non-biodegradable dalam sistem perairan. Hasil ini sejalan dengan penelitian lain yang mengaitkan peningkatan beban pencemar dengan dampak negatif aktivitas manusia terhadap badan air buatan. Oleh karena itu, peningkatan infrastruktur pengolahan limbah, pengendalian erosi, dan monitoring kualitas air secara berkala merupakan langkah strategis untuk pemulihan dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan di masa mendatang.
Rice Husk Availability Mapping as Biomass Cofiring Material at Power Plant in Indramayu Swastika, Abdul Baits Dehana Padma; Liyantono, Liyantono; Wulandani, Dyah
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.012.2.284-300

Abstract

Indonesia berencana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada tahun 2030 untuk mengatasi penggunaan energi fosil yang tinggi. Salah satu strateginya adalah PT PLN mengimplementasikan teknologi pembakaran biomassa di 52 pembangkit listrik pada tahun 2025. Namun, keberlanjutan pasokan menjadi tantangan tersendiri, dengan penelitian yang belum memadai dan hanya 33,52% yang tercatat di pabrik penggilingan. Penelitian ini menghitung ketersediaan sekam padi untuk pembakaran biomassa di Kabupaten Indramayu, daerah penghasil beras terbesar di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan spasial, survei, wawancara, dan Quantum GIS (QGIS) versi 3.22.12, peta visual ketersediaan sekam padi dibuat. Data dari 95 penggilingan padi (79 kecil, 12 menengah, 4 besar) menunjukkan potensi sekam harian masing-masing sebesar 0,87, 4,83, dan 10,74 ton. Data produksi nasional memperkirakan ketersediaan sekam padi tahunan sebesar 272.106 ton. Analisis spasial dari survei dan wawancara mengindikasikan 601.669 ton/tahun, sementara distribusi menurut skala penggilingan menunjukkan 588.861 ton/tahun. Persaingan penggunaan sekam padi cukup tinggi untuk industri seperti genteng, batu bata, dan semen, dengan fraksi pemulihan sebesar 13,23%, 17,50%, dan 23,33% pada saat panen, serta 3,90%, 10%, dan 15% pada saat tidak panen. Sekam padi yang tersedia di Indramayu untuk bahan bakar biomassa adalah 77.102,17 ton/tahun. Jumlah ini berkontribusi sebesar 0,78% terhadap kebutuhan biomassa nasional dan 45,56% terhadap kebutuhan PLTU Indramayu. Kebijakan yang mendorong penggunaan dan pengelolaan sekam padi di daerah penghasil padi diperlukan untuk meningkatkan implementasi pembakaran biomassa.
Analisis Daya Dukung Tanah pada Penerapan Mesin Pertanian di Kulon Progo Nugroho, Eko Fajar; Liyantono, Liyantono; Setiawan, Radite Praeko Agus
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.013.1.1-17

Abstract

Salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan peningkatan produksi pertanian adalah penggunaan alat dan mesin pertanian. Berkurangnya tenaga kerja, sempitnya lahan sawah, sawah dalam tanpa lapisan tanah keras (hardpan) akan menyulitkan alat dan mesin pertanian untuk bekerja. Daya dukung tanah adalah kemampuan tanah dalam menahan beban alat dan mesin yang bekerja diatasnya. Tekanan tanah yang diakibatkan oleh aktivitas kerja alat dan mesin pertanian menyebabkan tidak semua alat dan mesin pertanian dapat bekerja di sawah sama baiknya dengan di darat. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh nilai daya dukung tanah terhadap jenis mesin pertanian yang dapat diaplikasikan diatasnya. Pengukuran nilai daya dukung tanah diukur pada 3 kategori lahan. Analisis dilakukan dengan membandingkan nilai tahanan penetrasi tanah dengan indeks trafficability traktor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2024. Dari penelitian diketahui bahwa mesin pertanian bertipe traktor roda 4 dan combine harvester tidak dapat diaplikasikan pada lahan sawah yang menjadi sampel pengukuran di Kabupaten Kulon Progo. Apabila diaplikasikan maka combine harvester dan traktor roda 4 akan mengalami ketenggelaman (sinkage) lebih dari 15 cm untuk lahan kategori 1 dan 2, serta akan mengalami ketenggelaman (sinkage) lebih dari 20 cm untuk lahan kategori 3.
Environmental Sensitivity Analysis of Oil Spills: A Case Study in Coastal Areas Ardiansyah, Ichsan Prayoga; Liyantono, Liyantono; Effendi, Hefni; Ikrari, Karaben Ikhtiyana
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 22, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v22i3.809-819

Abstract

The coastal areas of Karawang Regency are at risk of being affected by oil spills originating from oil pipelines leaking. The purpose of this research is to develop an environmental sensitivity index based on the assessment standards of the National Oceanic and Atmospheric Administration, with research locations in the Karawang Coast. The results showed that the resources in the Karawang coastal area that sensitive to oil spills are shoreline type of mangrove  with a total length of 34.76 km of shoreline; consist of dense mangrove forest with an area of 173.14 ha; capture fisheries with 6,832 fishermen with a production of 9,319.38 tons/year; and aquaculture involving 5,643 fishing households with a production of 43,389.45 tons/year. The environmental sensitivity index value was concluded as very sensitive for mangrove beaches, mangrove forests in all locations and aquaculture in the Tirtajaya & Batujaya areas, while the capture fisheries and the capture aquaculture were concluded as sensitive. The environmental sensitivity index maps of the three themes indicated that the socio-economic component is the most sensitive component compared to other components. Specifically, the socio-economic components that were the most sensitive to the impact of oil contamination were aquaculture and capture fisheries areas.