Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AT TA´DIB

ﻹﻣﺎﻡ ﳏﻤﺪ ﺃﺑﻮ ﺯﻫﺓﺮ ﻭﻣﻌﺎﱂ ﻓﻜﺮﻩ ﺍﻟﺘﺮﺑﻮﻯ Muhammad Badrun Syahir
At-Ta'dib Vol 8, No 1 (2013): Tantangan Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v8i1.520

Abstract

Imam Muhammad Abu Zahrah (1898 – 1974) adalah salah seorangtokoh yang cukup fenomenal di Mesir pada awal abad ke 20. Keberanian danketegasannya dalam bersikap pada saat berhadapan dengan lawan bicara danlawan politiknya menjadikannya seorang tokoh sangat disegani baik olehkawan maupun lawan. Pada awalnya (tampak) ia tertarik untuk menjadi qadhi(lawyer). Hal itu terbukti dari kelanjutan studinya setelah menyelesaikantingkat menengah, dimana dia kemudian melanjutkan ke Sekolah KehakimanSyariah (Madrasatu al Qadha al Syar’i). Namun karena kecenderungan danketertarikannya kepada dunia pendidikan dan pengajaran akhirnya (setamatdari sekolah tersebut) ia justru lebih memilih profesi guru dari pada pengacara(lawyer). Dari pengalamannya menjadi tenaga pengajar (guru dan dosen)selama kurang lebih 37 tahun (1927-1964) dan dari sejumlah buku yang telahditulisnya (tidak kurang dari 56 judul buku) dapat ditemukan betapa bahwaImam Abu Zahrah ternyata memiliki teori-teori dan konsep-konseppendidikan yang sangat menarik.Dengan menganalisa data yang terkumpul dari sejumlah karya ImamAbu Zahrah secara induktif dan komparatif penulis berupaya menemukangagasan, konsep dan pemikiran-pemikiran edukatifnya.Dari upaya tersebut penulis mendapati bahwa Imam Abu Zahrahbenar-benar memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap dunia pendidikan.Hal itu terbukti dari sejumlah pemikiran dan pandangan edukatifnya. MenurutAbu Zahrah pendidikan adalah proses pembelajaran berkelanjutan danberkesinambungan dalam mengeksploarasi seluruh aspek kemanusiaanmanusia. Ada tiga unsur penting dalam proses tersebut, yaitu mu’allim (guru,pendidik), muta’allim (murid, anak didik) dan silabi (materi) pendidikan danpembelajaran serta metode yang tepat. Terkait unsur silabi, Abu Zahrahmenekankan pentingnya pengetahuan tentang sejarah, pengetahuan bahasaArab, dan penguasaan terhadap al Qur’an; bacaan, pemahaman danpenafsirannya. Adapun dalam hal metode pembelajaran Abu Zahrah secarategas menekankan pentingnya konsistensi dalam implementasi metode Targhibwa Tarhib; Reward and Punishment.Sebagai sosok pribadi yang unik dan menarik Imam Muhammad AbuZahrah memang layak untuk dikenali secara lebih serius dan mendalam.Semoga penelitian ini dapat menjadi awal yang baik, sekalipun bukan yangpertama, untuk penelitian lebih lanjut tentang tokoh-tokoh dalam dunia Islam.
Mengenal Muhammad Abu Zahrah Sebagai Mufassir Muhammad Badrun
At-Ta'dib Vol 6, No 1 (2011): Teknologi Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v6i1.548

Abstract

In the history of interpretation of the Qur’an we find that the study ofQur’anic interpretation started from the time of the Messenger of Allah untilthe present time. From the period in which the commentary is learned andstudied through the riwayat (narration) and talqin (indoctrination) from a teacherto his student until the time when every person ‘feel’ to have the authority tointerpret the verses of the Qur’an. The study of Qur’anic intepretation hasundergone the tremendous growth in the fourth phase of the compilationperiod (tadwin). That was the phase in which the interpretation of the Qur’anwass controlled by the interpretation based on reason and the opinion of theinterpreter (mufassir); interpretations coloured by various sects and schools ofthought. The development of this kind of interpretation, although believed tobe a logical consequence of the development history of science, but then notnecessarily be accepted by the ulamas and received positive appreciation of them.Like Muhammad Husein adh Dhahabi, Muhammad Abu Zahrah, and so forth.For Imam Muhammad Abu Zahrah (1898-1974/1315-1394) theinterpretation of the Quran which is based on a variety of goals and interestsas well as a variety of comprehension and thinking like that, in fact was oftenaway from the substance of Al-Quran; obscure its miracle power, destroyingthe real meaning and even provide commentary on the sometimes contradictorywith the fundamentals of Islamic teaching. This is awakening his awareness andencourage him to try to straighten out and provide an alternative of moreactual interpretation. So he finally wrote a book of tafsir named “Zahratu alTafasir”. This interpretation is different from the books of the previous tafsirbooks. At least, he did not want to simply follow the tradition (taqlid), themethod or the way used by previous mufassir.