Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Validasi Metode Spektrofotometri Visible Untuk Penentuan Kadar Formaldehida Pada Pembalut Wanita Yang Beredar Di Pasaran Yulianti, Cicik Herlina; Devianti, Vika Ayu; Ferry Fernanda, M.A. Hanny
Journal of Pharmacy and Science Vol. 2 No. 1 (2017): Journal of Pharmacy and Science
Publisher : Akademi Farmasi Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53342/pharmasci.v2i1.60

Abstract

ABSTRAKPembalut menjadi kebutuhan wanita yang sangat penting karena digunakan untuk menyerap cairan darah ketika mengalami menstruasi. Pada pembuatan pembalut wanita dimungkinkan adanya pemakaian formaldehida. Oleh karena itu, pembalut wanita termasuk salah satu alat kesehatan yang kandungan dan bahan penyusunnya diatur oleh pemerintah. Pada penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri visibel untuk penentuan kadar formaldehida dalam pembalut wanita sekali pakai. Sebelum digunakan, maka metode spektrofotometri visibel ini harus divalidasi terlebih dahulu untuk memastikan bahwa metode spektrofotometri yang digunakan dapat memberikan hasil yang akurat. Tujuan penelitian ini adalah melakukan validasi metode spektrofotometri visibel untuk penetapan kadar formaldehida dalam pembalut wanita sekali pakai menggunakan pereaksi nash sebagai reagen spesifik. Metode penelitian yang digunakan adalah pembuatan dan pembakuan larutan baku formaldehida, menentukan panjang gelombang maksimal, pembuatan kurva kalibrasi, melakukan uji linieritas, uji LOD dan LOQ, serta uji kesesuaian dan kecermatan, dan menentukan kadar formaldehida pada pembalut wanita. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa metode spektrofotometri visibel memiliki selektifitas, linieritas,batas deteksi dan kuantitasi, presisi dan akurasi yang baik. Kadar rata-rata formaldehida pada ke lima sampel pembalut sebesar 2,88 mg/kg - 4,05 mg/kg.Kata kunci: pembalut, formaldehida, validasi, spektrofotometri visibelABSTRACTSanitary napkins are a very important woman’s need to absorb blood fluids when menstruating. In the manufacture of sanitary napkins may contain formaldehyde additives. Therefore, sanitary napkins are one of the medical devices whose composition is regulated by the government. In this study to identify the use of formaldehyde in sanitary napkins was carried out by visible spectrophotometry using nash reagent. This method should be validated in advance to ensure that the method used can provide accurate data. The aim of this research is to validate visible spectrophotometry method for determination of formaldehyde content indisposable sanitary napkins using nash reagent as specific reagent. Validation of UV – Vis spectrophotometry method for determination of formaldehyde showed that Nash reagent was suitable to determine formaldehyde. This method is linear with correlation coefficient (r2) of 0,99967. The validation characteristics include accuracy and precision, linearity, limit of detection, and limit of quantitation. The acceptance validation criteria were found in all case. Qualitative determination in five sanitary napkins samples showed positive results and the quantitative analysis confirmed that the average content of formaldehyde in five sanitary napkins samples was 2,88 mg/kg – 4,05 mg/kg.Keywords: sanitary napkins, formaldehyde, validation, visible spectrophotometry
Identifikasi dan Penetapan Kadar Klorin Dalam Pembalut Wanita yang Beredar di Kelurahan Ketintang dengan Metode Titrasi Iodimetri Devianti, Vika Ayu; Yulianti, Cicik Herlina
Journal of Pharmacy and Science Vol. 3 No. 1 (2018): Journal of Pharmacy and Science
Publisher : Akademi Farmasi Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53342/pharmasci.v3i1.67

Abstract

ABSTRAKPembalut wanita adalah produk yang berbentuk lembaran/pad terbuat dari bahan selulosa/sintetik yang digunakan untuk menyerap cairan menstruasi atau cairan dari vagina, namun terdapat pembalut yang menggunakan bubur kertas dalam proses pembuatannya. Bubur kertas merupakan hasil limbah kertas, karton dan kardus melalui proses daur ulang yang mengalami proses pemutihan menggunakan klorin (Cl2). Pembalut yang mengandung klorin beresiko tinggi terhadap kesehatan reproduksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar klorin pada beberapa merk pembalut wanita yang beredar di Kelurahan Ketintang, Kota Surabaya menggunakan metode titrasi iodimetri. Penelitian ini bersifat eksperimental. Sampel penelitian adalah 5 (lima) pembalut wanita lalu diuji di laboratorium Kimia Akademi Farmasi Surabaya dengan metode Titrasi Iodimetri. Hasil uji kualitatif dari 5 sampel hanya terdapat 1 sampel yang positif mengandung klorin. Sampel yang positif dilanjutkan dengan uji kuantitatif dan diperoleh kadar klorin sebesar 0,37 ppm.Kata kunci: Pembalut, Klorin, Titrasi IodimetriABSTRACTThe sanitary napkin is made from pulp as its main ingredient, which in the production process using  bleach pads, one of which is chlorine. Chlorine is high chemical which has a high oxide potential that can be used as a bleaching agent and disinfectant (eliminating germ). Chlorine in sanitary napkins is at high risk for reproductive health. This research was conducted to analyze and determine chlorine level in sanitary napkin with color reaction test and iodometry titration method. According to the minister of Health RI Regulation No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010 regarding drinking water quality requirement that is maximum drinking water chlorine 5 ppm. The result of this study indicate that there is a sanitary napkins containing chlorine with a content of 0,37 ppm. As a result, indicate that chlorine levels in sanitary napkins are below the safe limits of the allowed chlorine content in drinking water quality requirement.Key Words: Sanitary Napkins, Chlorine, Iodimetry Titration.  
Pengaruh Lama Waktu Osmosis Terhadap Kandungan Vitamin C dalam Minuman Sari buah Stroberi dan Apel Devianti, Vika Ayu; Amalia, Anisa Rizki
Journal of Pharmacy and Science Vol. 4 No. 1 (2019): Journal of Pharmacy and Science
Publisher : Akademi Farmasi Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53342/pharmasci.v4i1.125

Abstract

ABSTRAKVitamin C berperan penting dalam mempertahankan daya tahan tubuh. Vitamin C mudah teroksidasi dan tidakstabil dalam bentuk larutan. Vitamin C banyak ditemukan dalam buah – buahan, diantaranya adalah apel danstroberi. Apel dan stroberi ini sering diolah dalam bentuk minuman sari buah melalui proses ekstraksi osmosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu osmosis (30 dan 60 menit) dan penambahan gula 10% terhadap kandungan vitamin C dalam minuman sari buah apel dan stroberi. Penambahan gula 10% mampu memperkecil penurunan kadar vitamin C dalam minuman sari buah. Penurunan kadar vitamin C pada sampel sari buah stroberi tanpa penambahan gula adalah 18,7% pada menit ke-30 dan 37,5% pada menit ke-60, sedangkan penambahan gula 10% mengalami penurunan sebesar 2,7% pada menit ke-30 dan 7,9% pada menit ke-60. Penurunan kadar vitamin C pada sampel sari buah apel tanpa penambahan gula adalah 24,2% pada menitke-30 dan 41,6% pada menit ke-60, sedangkan penambahan gula 10% mengalami penurunan sebesar 10,6% pada menit ke-30 dan 21,4% pada menit ke-60.Kata kunci: Vitamin C, sukrosa, minuman sari buah, apel, strawberry, osmosis ABSTRACTVitamin C plays an important in human body. Vitamin C is easily degraded by heat, light, oxygen, and heavy metal cations. Vitamin C mostly found in fruits, such as strawberry and apple. Generally strawberry and apple are processed into fruit juice by adding sugar using osmosis extraction. The objective of this research is to findout the effect of osmosis time and sugar addition towards the vitamin C level in strawberry and apple juice. The result showed that sugar addition can affect the vitamin C level in strawberry and apple juice. Sugars can decrease the oxygen solubility causing less oxygen availability for oxidation of vitamin C. The diminish of vitamin C content in apple juice with sugar addition were 10,6% and 21,4% for 30 and 60 minutes of osmosis time; while strawberry juice with sugar addition able to lowering vitamin C level until 18,7% and 37,5% for 30 and 60 minutes of osmosis time.Keywords: Vitamin C, sucrose, apple juice, strawberry juice, osmosis,
Optimasi Lama Waktu Ekstraksi Dengan Metode MAE pada Pektin dari Kulit Pisang Devianti, Vika Ayu; Arifiyana, Djamilah
Journal of Herbal, Clinical and Pharmaceutical Science (HERCLIPS) Vol 3 No 01 (2021): HERCLIPS VOL 3 NO 1
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/herclips.v3i01.3116

Abstract

Pektin merupakan salah satu biopolimer dari asam galakturonat. Pektin dapat diekstrak dari kulit buah pisang. Proses ekstraksi pektin dari kulit pisang dapat dilakukan dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses ekstraksi pektin dengan metode MAE ini adalah lama waktu ekstraksi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang optimal saat ekstraksi pektin dari kulit pisang menggunakan metode MAE. Proses ekstraksi dilakukan dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20, dan 25 menit. Hasil ekstrak yang diperoleh memiliki karakteristik yang sama untuk setiap variabel. Kondisi optimum diperoleh saat lama waktu ekstraksi 15 menit dengan persen rendemen sebesar 27,55%.
PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP MUTU PEKTIN DARI KULIT PISANG RAJA NANGKA Vika Ayu Devianti; Rosita Dwi Chrisnandari; Rizky Darmawan
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v4i2.15753

Abstract

Ekstraksi dengan microwave dan pemanasan langsung merupakan metode yang dapat digunakan untuk ekstraksi pektin dari kulit pisang raja nangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu pektin menggunakan metode ekstraksi dengan bantuan microwave dan pemanasan langsung. Berdasar hasil penelitian, diketahui bahwa ekstraksi pektin dengan bantuan microwave memiliki rendemen yang lebih tinggi dibandingkan metode pemanasan langsung. Ekstraksi dengan bantuan microwave menghasilkan pektin dengan kadar air lebih rendah dibandingkan ekstraksi pemanasan langsung. Berat ekivalen berkurang dengan meningkatnya daya microwave. Pektin yang diperoleh dari hasil ekstraksi pemanasan langsung dan microwave tergolong pektin bermetoksil rendah (Derajat esterifikasi < 50%). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstraksi menggunakan daya 450 W dengan lama waktu ekstraksi lima menit merupakan kondisi ekstraksi yang terbaik untuk mengekstrak pektin dalam kulit Pisang Raja Nangka.
BIOSORPSI LOGAM BESI (Fe) DALAM MEDIA LIMBAH CAIR ARTIFISIAL MENGGUNAKAN ADSORBEN KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminate) Djamilah Arifiyana; Vika Ayu Devianti
Jurnal Kimia Riset Vol. 5 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkr.v5i1.20245

Abstract

Limbah kulit pisang Kepok telah digunakan untuk menghasilkan biosorben melalui proses yang ramah lingkungan. Limbah kulit pisang Kepok dipotong, dicuci, dikeringkan, dihaluskan dan digunakan sebagai biosorben terhadap logam besi. Penentuan konsentrasi logam besi terhadap proses adsorpsi menggunakan spektroskopi serapan atom. Adsorpsi ion besi terhadap adsorben kulit pisang Kepok menggunakan parameter waktu kontak dan pH. Waktu kontak 30 menit dan pH 6 merupakan kondisi yang sesuai untuk adsorpsi besi. Persentase adsorpsi dan kapasitas adsorpsi yang diperoleh berturut-turut sebesar 86,387% dan 1,44 mg/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang Kepok, sebagai limbah pertanian dan limbah industri rumahan, sangat berpotensi sebagai adsorben untuk menghilangkan logam beracun seperti besi dalam air.
Biosorption of Fe (II) Ions from Aqueous Solution using Kepok Banana Peel (Musa acuminate) Djamilah Arifiyana; Vika Ayu Devianti
JKPK (Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia) Vol 6, No 2 (2021): JKPK (Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia)
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkpk.v6i2.45181

Abstract

The present study used adsorbents from Kepok banana peel to remove Fe (II) from an aqueous solution. The effect of adsorbent dose and initial metal concentration was investigated at room temperature to evaluate the maximum adsorption and adsorption capacity of Kepok banana peels. The adsorption parameters studied were adsorbent mass [0.5-2.5 g], and initial Fe (II) concentration [30-70 mg/L], where the operating conditions were 50 ml of Fe metal solution was added to each adsorbent, the pH value of the mixture was adjusted to 6. Then the mixture was stirred at 250 rpm for 30 minutes. In the adsorption process, it was found that 2.5 grams of mass adsorbent and 60 mg/L as initial metal concentration gave the highest adsorption and adsorption capacity, with 57.99% and 0.644 mg/g, respectively. FTIR spectra of adsorbent showed hydroxyl, carboxylic, and amine groups in Kepok banana peels. This study showed that Kepok banana peels had good potential for removing Fe (II) ions and could be used as a good adsorbent for removing the Fe (II) from water and wastewater at very little concentration.
Upaya Peningkatan Pengetahuan Siswa SMK/SMA Mengenai Kosmetik yang Aman dengan Metode Daring Djamilah Arifiyana; Vika Ayu Devianti
Jurnal Abdi Masyarakat Kita Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Abdi Masyarakat Kita
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1628.622 KB) | DOI: 10.33759/asta.v2i1.182

Abstract

The rise of media coverage regarding the production of illegal and dangerous cosmetics is one proof that the use of cosmetics is currently a necessity. Online marketing is one of the facilities for spreading these illegal cosmetics. Thus, it is necessary to educate the public, especially social media users who are generally in productive age range, to be more careful in choosing safe cosmetics. In this community service activity, education was carried out to 17 participants from senior high school student. The method used includes the presentation by the presenter as well as discussion and question and answer. To measure the increase in knowledge, pre-test and post-test were carried out. It was found that 64.7% experienced an increase in knowledge after this activity was held.
The effect of Material used in the Lime Infused water Packaging on Vitamin C Level: Pengaruh Bahan Kemasan Penyimpanan Minuman Infused Water Jeruk Nipis terhadap kadar Vitamin C Vika Ayu Devianti; Djamilah Arifiyana
Journal Pharmasci (Journal of Pharmacy and Science) Vol. 7 No. 2 (2022): Journal Pharmasci (Journal of Pharmacy and Science)
Publisher : Akademi Farmasi Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53342/pharmasci.v7i2.293

Abstract

The storage process can affect the level of vitamin C in lime Infused water. The purposes of this research was to know the effect of storage container on vitamin C level in lime Infused water. The material used in the Infused water packaging are plastic and glass. Analysis of vitamin C levels in sample using Iodimetric method. The results of this research indicated that vitamin C levels in plastic and glass container was 2,499 mg/100 mL and 3,034 mg/100 mL, respectively. The siginificants results (Sig 2-tailed) of this study was 0,235 (p<0,05). From this study can be concluded that the use of plastic and glass packaging affect the vitamin C level in lime Infused water.
PENGARUH SUHU TERHADAP KADAR VITAMIN C KOMBUCHA TEH HITAM, TEH HIJAU, DAN EARLGREY SELAMA MASA SIMPAN Vika Ayu Devianti; Lailatus Sa'diyah
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol 10 No 2 (2022): Desember
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/klinikal_sains.v10i2.2739

Abstract

Kombucha is a fermentation drink of tea and SCOBY. One of the nutritious content of kombucha tea is vitamin C. Vitamin C in kombucha is produced by breaking down glucose by Sacharomyces. The longer fermentation lasts, the more sugar used by Sacharomyces, and it causes the decreasing of vitamin C content. The aim of this study is to determine the optimum temperature in controlling vitamin C content during the storage period of post-fermentation kombucha tea (7 and 14 days) and to compare the most stable kombucha tea (black tea, green tea and earl gray tea) in producing vitamin C after heating treatment. Vitamin C in kombucha obtained by measuring it’s absorbance in UV-Vis spectrophotometer at 265nm wavelength. The absorbance value will be calculated as the percentage of vitamin C content. The percentage calculation done by calculating the linear regression equation. The results obtained indicates that the most optimum temperature for controlling vitamin C during the storage period is heating it in 65oC for 15 minutes. Vitamin C is best produced from kombucha which is derived from green tea, black tea and then earl gray tea (sequentially). It can be concluded that heating kombucha in 65oC and 70oC is able to control the vitamin C value in black, green, and earlgrey tea kombucha