Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISA DAN UAPAYA DALAM MENGATASI PIPA TERJEPIT PADA PEMBORAN SUMUR X LAPANGAN Z Abdul Hamid
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 5 No. 2 (2016): Agustus
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.639 KB) | DOI: 10.25105/petro.v5i2.2359

Abstract

Operasi pengeboran yang dilakukan tidak selalu berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan. Adakalanya terjadi masalah-masalah yang mengganggu operasi pemboran dan akan membuat kerugian. Salah satu permasalahan yang terjadi pada operasi pemboran yaitu pipa terjepit (Stuck Pipe). Penyebab terjepitnya rangkaian pipa bor pada sumur X ini dianalisa dari beberapa aspek yaitu aspek lumpur pemboran, aspek formasi, aspek perhitungan tekanan hidrostatik, formasi, dan perbedaan tekanan. Setelah dilakukan analisa terhadap beberapa aspek tersebut ternyata penyebab terjepitnya rangkaian pipa bor pada sumur X ini adalah diffrential pressure akibat tingginya density sehingga membuat rangkaian drill string menempel pada dinding formasi. Dari analisa tersebut penyusun menyimpulkan bahwa terjepitnya rangkaian pipa bor pada sumur X ini diakibatkan oleh faktor diffrential sticking. Pada sumur X ini metode-metode yang digunakan untuk mengatasi masalah pipa terjepit adalah dengan jar-down & up, WOP ( work on pipe) secara berulang-ulang, penggunaan hi. Vis & low vis dan yang terakhir menggunakan metode perendaman. Permasalah pipa yang terjepit pada sumur X ini diselesaikan dengan menggunakan metode perendaman fluida (spotting fluid) yaitu dengan menggunakan Black Magic dan usaha tersebut berhasil. Analisa penentuan titik jepit dan usaha pelepasannya dilakukan dengan beberapa tahap, diantaranya pembacaan grafik FPIT (Free Point Indicator Tool) untuk menentukan letak titik jepit, perhitungan letak titik jepit secara manual, perhitungan jumlah volume fluida perendaman yang akan digunakan, dan jumlah stroke pompa yang dibutuhkan untuk memompakan fluida perendaman. Pelaksanaan perendaman fluida dilakukan sebanyak tiga kali dengan total volume fluida perendaman sebanyak 125 bbl dan jumlah stroke pompa sebanyak 1068.376 stroke.
EVALUASI PENGGUNAAN SISTEM LUMPUR SYNTHETIC OIL BASE MUD DAN KCL POLYMER PADA PEMBORAN SUMUR X LAPANGAN Y Abdul Hamid; Apriandi Rizkina rangga Wastu
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 6 No. 1 (2017): April
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.972 KB) | DOI: 10.25105/petro.v6i1.2499

Abstract

Dalam operasi pemboran, lumpur pemboran memainkan peranan yang sangat penting karena memiliki fungsi-fungsi yang tak tergantikan. Pada pelaksanan operasi pemboran sumur x lapangan y ini menggunakan lumpur Synthetic Oil Base Mud dan KCL Polymer selama pemboran berlangsung, sifat dan rheology lumpur pemboran harus di perhatikan dan dipertimbangkan kondisi serta karateristik dari formasi yang akan di bor. Adapun penyebab terjadinya masalah masalah tersebut adalah disebabkan karena factor formasi yang mempunyai permeabilitas yang cukup besar sehingga memungkinkan terjadinya masalah hilangnya lumpur. Seperti adanya formasi yang mengandung gua-gua (cavernous formation), formasi yang mengandung rekahan-rekahan secara vertical maupun horizontal. Dalam menganalisa hal ini akan mengakibatkan kerugian baik dari segi waktu, finansial , maupun kesalamatn kerja.nOleh karena itu,sebelum proses pemboran dilaksanakan perlu dibuat sebuah perencaan yang matang untuk penenruan program lumpur. Perencaan diantaranya berkaitan dengan jenis lumpur, densitas, viskositas, daya agar, derajat keasaman, laju tapisan dan lain-lain yang disesuaikan dengan lithology tiap lapisan formasi yang di tembus. Perencanaan tersebut juga mencakup analisa potensi permasalahan yang akan dihadapi pada tiap lapisan formasi beserta solusi untuk mengantisipasinya. Namun demikian, pada saat pelaksanaanya sangat umum terjadi beberapa permasalahan di luar analisa tersebut. Dari suatu pendesaianan lumpur diharapkan penggunaannya dapat mengoptimalkan kegiatan pemboran dengan biaya serendah mungkin untuk menekan biaya per barrel nantiSystem lumpur Sythetic Oil Base Mud adalah disperse mud dan biasanya berbiaya lebih mahal , sedangkan lumpur KCL polymer adalah lumpur non disperse yang biasanya lebih murah. Melihat hambatan yang terjadi pada saat pemboran yang berlangsung yaitu adnaya gumbo, shloughing shale, differential pressure sticking, lost, terjepit pipa, swelling clay, partial lost, lumpur Synthetic Oil Base mud dapat mengatasi masalah di atas. Kejadian hilang lumpur dapat diakibatkan oleh beberapa sebab, seperti : kondisi formasinya, dapat menimbulkan kick dan blow out apabila tekanan hidrostatik kolom lumpur dalam sumur turun dan tidak segera di tanggulangi. Meskipun jika dilihat dari segi biaya meskipun Synthetic Oil Base Mud lebih mahal dari KCL Polymer lumpur tersebut dapat digunakan kembali atau dilakukan treatment pada saat digunakan berbeda dengan KCL Polymer dan dapat mengatasi masalah di atas. Pada penulisan paper ini akan dievaluasi sejauh mana pemakaian lumpur Synthetic Oil Base Mud lebih dan KCL Polymer efektif dalam mengatasi permasalahan-permasalahan di formasi shale yang sangat reaktif.
Studi Pemanfaatan Ampas Tebu Sebagai Lost Circulation Material (LCM) dan Pengaruhnya Terhadap Sifat Rheologi Lumpur Abdul Hamid
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 6 No. 1 (2017): April
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.496 KB) | DOI: 10.25105/petro.v6i1.2502

Abstract

Dalam operasi pemboran masalah hilang sirkulasi adalah suatu masalah yang harus segera ditanggulangi karena dapat menyebabkan kerugian biaya pemboran. Untuk mengatasi masalah loss pada operasi pemboran biasanya dilakukan dengan menambahkan Loss Circulation Material (LCM) kedalam sistem lumpur pemboran untuk menutup rekahan atau pori yang ada pada formasi batuan. Jenis LCM yang biasa digunakan ada 4 macam yaitu: bahan fibrous (berserat), flaky (bersepih), granular (berbutir) dan slurries (bubur). Ampas tebu merupakan bahan LCM jenis fibrous yang dapat menutup rekahan atau pori batuan sehingga sirkulasi lumpur menjadi normal, dimana LCM tersebut dapat menghambat masuknya fluida lumpur masuk ke formas batuan. Dengan menambah ampas tebu kedalam sisitim lumpur selain nenutup zona berpori diharapkan dapat pula menjaga sifat fisik lumpur tetap stabil, artinya tidak menurunkan viskositas lumpur karena ampas tebu juga dapat berfungsi sebagai viscosifier sehingga dapat mempertahankan viskositas lumpur dan bahkan menaikkan viskositas serta menurunkan fitrat loss. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan ampas tebu sebagai bahan LCM dipakai untuk menutup zona loss dan dapat mempertahankan sifat rheologi lumpur.
PENGARUH PENAMBAHAN GARAM NaCl PADA LUMPUR PEMBORAN BERBAGAI TEMPERATUR Widia Yanti; Abdul Hamid; Ibnu Badar Bajri
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 5 No. 2 (2016): Agustus
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.742 KB) | DOI: 10.25105/petro.v5i2.2509

Abstract

The unidealized of physical and rheological mud can occured when drilling on rock layers with high salt concentrations. It is therefore necessary to add an additive to balance the effect of the salt. The aims of this study is to see the effect of salt addition on various temperature drilling mud.This research will use two types of mud with different oil-water ratio. The drilling mud will be divided into four compositions, ie LA, LB, LC, and LD. LA and LC compositions have an oil-water ratio of 80% oil and 20% fresh water. While LB and LD compositions have oil-water ratio of 75% oil and 25% fresh water. Then the study was conducted at various temperatures, ie 80 °F, 130 °F, 180 °F, 230 °F, 280 °F, and 330 °F. After observing of the physical properties and rheology of drilling mud, it was found that the effect of adding salt NaCl can improve the physical and rheological properties of mud such as density, viscosity, gel strengh, mud cake, and solid content. Conversely, the effect of adding NaCl salt may reduce the nature of electrical stability. While the increasing of the temperature can reduce the physical and rheological properties of mud and on the contrary the loss of water and mud cake will increase.
PENGGUNAAN FIBROSEAL DAN CaCO3 UNTUK MENGATASI MASALAH LOST CIRCULATION PADA SISTEM LUMPUR KCL POLYMER Abdul Hamid
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 7 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.648 KB) | DOI: 10.25105/petro.v7i2.3675

Abstract

Pada Pemboran biasanya gterjadi masalah antara lain hilangnya lumpur ke dalam formasi, hal ini dapat menyebabkan kerugian terutama dari biaya pemboran khususnya biaya fluida pemboran. Penggunaan lost circulation msterial (LCM) yang tidak sesuai dengsn formasi yang ditembus oleh pahat dapat menyebabkan berubahnya sifat lumpur yang berakibat tidak optimalnya operasi pemboran. Penggunaan material fibroseal F dapat digunakan pada formasi batu pasir sehingga dapat menutup pori dari formasi tersebut dan tidak banyak merubah sifat fisik dari lumpur KCl Polymer. Sedangkan penggunaan CaCO3 sangat efektif digunakan pada formasi yang mengandung kapur. Dalam paper ini akan dicoba dalam uji laboratorium berapa banyak kandungan atau pound per barel (ppb) bahan LCM tersebut yang efektig digunakan dalam sisitem lumpur KCl Polymer dalam mengatasi masalah kehilangan lumpur atau lost circulation.
PENGARUH PENAMBAHAN “BARITE”, “HEMATITE”, DAN “MECOMAX” TERHADAP THICKENING TIME, COMPRESSIVE STRENGTH, DAN RHEOLOGI BUBURR SEMEN PADA VARIASI TEMPERATUR (BHCT) DI LABORATORIUM PEMBORAN DAN PRODUKSI Afdhal Huda; abdul hamid; Djoko Sulistyanto
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 7 No. 2 (2018): Agustus
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.728 KB) | DOI: 10.25105/petro.v7i2.3676

Abstract

Problem yang sering terjadi pada perencanaan kegiatan penyemenan adalah penentuan campuran bubur semen yang tepat dan sesuai dengan kondisi sumur yang menjadi target penyemenan. Bubur semen terlebih dahulu dirancang sedemikian rupa dan juga diuji tingkat kelayakannya sebelum digunakan untuk penyemenan, sehingga sesuai dengan karakteristik sumur target penyemenan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi tiga zat additive yang berperan sebagai weighting agent, yaitu Barite, Hematit, dan Mecomax, yang dilakukan pada variasi temperatur BHCT (30°C dan 50°C) terhadap thickening time, compressive strength, dan rheology bubur semen. Tes laboratorium dilakukan dengan bahan dasar semen bubuk kelas G API 10A, air mineral dan tiga zat additive tersebut.Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa penambahan zat additive wighting agent menurunkan nilai thickening time penurunan ini disebabkan oleh faktor perubahan temperature,karena temperatur 50°C memiliki nilai lebih kecil dari temperature 30°C, dan juga memiliki pengaruh terhadap nilai compressive strength yang cukup signifikan. Perubahan nilai compressive strength lebih disebabkan oleh faktor perubahan temperatur, pada temperatur 50°C, nilai compressive strength akan lebih tinggi daripada temperature 30°C. Terakhir, penambahan weighting agent juga berpengaruh terhadap penurunan nilai yield point, akan tetapi tidak mempengaruhi nilai plastic viscosity secara signifikan.
ANALISA PENYEBAB HILANG SIRKULASI LUMPUR PADA PEMBORAN SUMUR X LAPANGAN Y Pradiko Pradiko.Z.H; abdul hamid; puri wijayanti
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 6 No. 3 (2017): OKTOBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.044 KB) | DOI: 10.25105/petro.v6i3.4277

Abstract

Lost circulation is one of the major problems in the drilling operation which can lead to not obtaining cutting, stuck pipe, and blow out. Therefore, lost circulation must be addressed because it has a high risk can increase the cpst and time during the drilling process. In general, there are several techniques that can be used to overcome the loss of circulation, one which is the use LCM (lost circulating material).In this thesis will investigate the loss circulation of drilling mud in the X well. The spud process in X well was started in March 2nd 2013, and reached total depth at 8950 ftMD. Drilling process has breakhtrough Lidah, Kawengan, Wonocolo, Ngrayong, and Tuban Karbonat formation and lost circulation was happen in Tuban Karbonat formation. Mud that used in this job was oil base mud and changed to KCL polymer when drilling into production zone.The cause of lost circulation taht occurs in X well because of the formation which has pores large of particle size, so that the mud flow into the formation and pressure in the hole is greater than the formation pressure. The controlling method which is used to handle the problem is using LCM which is Calsium Carbonate (CaCO3) and do Blind Drilling.
EVALUASI PENANGGULANGAN TERJADINYA HILANG LUMPUR PADA PEMBORAN SUMUR “FAZ-32” LAPANGAN “FAZ” Farisah Asmarani; abdul hamid; listiana satyawati
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 6 No. 3 (2017): OKTOBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.032 KB) | DOI: 10.25105/petro.v6i3.4278

Abstract

“FAZ-32” well drilling on “FAZ” field is a development well which aims to increase the absorption point in Tuban formation. The problem occurs in drilling operations at “FAZ-32” well on “FAZ” field are the mud loss. Mud loss which happens on “FAZ-32” well that is occurs when penetrating Ngrayong Formation and Tuban Formation. Afterwards of drilling the “FAZ-32” well, stretch drill holes 12-1/4 lost circulation occurred at a depth of 7150 ft. Then in the stretch 8-1/2 mud loss occurred at a depth of 7536 ft, 7560 ft and 7641 ft. The problems in drilling wells “FAZ-32”, firstly, what is the cause of lost circulation. Secondly, whether the countermeasure of mud loss are appropriate or not.The methodology used to evaluate response of mud loss are collecting data (data of mud, data drilling, and data pump), make the calculations (mud hydrostatics pressure during loss, formation pressure, formation fracture pressure, equivalen circulating density (ECD) and bottom hole circulation pressure (BHCP), comparing Ph, Pf, BHCP and Pfr to determine the cause of mud loss and evaluating countermeasure of mud loss that has been done in field.Handling mud loss problem at “FAZ-32” well on “FAZ” field is well applied in some loss zone and has reached the desired target depth (productive zone).
PENANGGULANGAN LOST CIRCULATION DENGAN MENGGUNAKAN METODE UNDER BALANCED DRILLING PADA SUMUR Y, BLOK Z Rizki Ananda Parulian; abdul hamid; Cahaya Rosyidan
PETRO:Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 6 No. 3 (2017): OKTOBER
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.158 KB) | DOI: 10.25105/petro.v6i3.4279

Abstract

Drilling operation is process for creating a hole before production operation. “CT” Well and “Y” Well is located at same area which is Z Block. Those wells are vertical offshore wells. “CT” Well had been drilled on 1971 before “Y” Well was drilled on 2009.While drilling “CT” Well occurred total loss circulation on 12 ¼” at 3928 ft and cured with injection of 375 bbl LCM (Loss Circulation Material) with concentration 300 ppb but the loss circulation still occurred. Then total loss circulation occurred again at depth 4343 ft and 4545 ft. It cured with the same method but it didn’t succeed at all. Thus, using blind drilling method is the only option to anticipate the loss. This operation took 17 days using those methods.Well “Y” on 12 ¼” was drilled conventionally. When it reached depth 2910 ft occurred total loss circulation. Based on “CT” Well, using Under Balanced Drilling Method is the best way to anticipate the total loss circulation. This method only took 8 days Keywords : Grid Model Reservoir, Single Porosity, Grid Cell.
ANALISI SQUEEZ CEMENTING PADA LINER 7" UNTUK PENUTUPAN ZONA PERFORASI PADA SUMUR X DI LAPANGAN O Agung Maulana Irfan; Abdul Hamid; Rizki Akbar
PETRO: Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 9 No. 1 (2020): MARET
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.008 KB) | DOI: 10.25105/petro.v9i1.6522

Abstract

Squeeze Cementing adalah penyemenan ulang yang dilakukan sebagai salah satu langkah perawatan sumur, dengan cara menempatkan cement slurry dengan volume yang relatif sedikit pada zona yang diinginkan, salah satunya untuk menutup zona perforasi. Metode squeeze cementing yang digunakan pada Tugas Akhir ini yaitu Bradenhead Technique. Analisis ini dilakukan terhadap pekerjaan Squeeze Cementing pada sumur X di lapangan O, dengan cara mengumpulkan data-data sumur, melakukan pengolahan data yang meliputi perhitungan design penyemenan, perencanaan prosedur penyemenan, pengujian hasil penyemenan dengan melakukan uji compressive strength. Pekerjaan Squeeze Cementing untuk penutupan zona perforasi pada sumur X di lapangan O pada dua interval kedalaman 2230 – 2233 mMD dan 2237 – 2239 mMD. Untuk menutup zona perforasi, karena tidak produktif untuk diproduksikan. Analisis yang dilakukan yaitu perhitungan volume slurry cement yaitu didapatkan sebanyak 8,35 bbl dan zat additive yang dibutuhkan dalam pekerjaan Squeeze Cementing, hasil pekerjaan Squeeze Cementing pada lapangan dan perbedaan antara hasil perencanaan TOC (Top of Cement) berapada pada kedalaman 2197 mMD sedangkan hasil pekerjaan Squeeze Cementing secara actual terdapat pada kedalaman 2229 mMD.