Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Ketepatan Skoring McIsaac untuk Mengidentifikasi Faringitis Group A Streptococcus pada Anak Emalia Damayanti; Yulia Iriani; Yuwono Yuwono
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.301-6

Abstract

Latar belakang. Pemberian antibiotik faringitis Group A Streptococcus (GAS) penting untuk mencegah komplikasi demam rematik dan penyakit jantung rematik. Namun, gambaran klinis saja tidak dapat diandalkan untuk memastikan atau menyingkirkan faringitis GAS. Skoring McIsaac merupakan sistem penilaian klinis untuk memprediksi faringitis GAS yang penggunaannya dapat meningkatkan ketepatan identifikasi kasus faringitis GAS serta kebutuhan akan antibiotik.Tujuan. Menguji ketepatan skoring McIsaac dalam mendiagnosis faringitis GAS anak.Metode. Uji diagnostik yang dilakukan dari bulan Januari-Agustus 2012 pada 96 anak usia 3-14 tahun dengan faringitis akut di RSUP Dr Mohammad Hoesin dan Puskesmas Pembina, Palembang. Skoring McIsaac dihitung berdasarkan empat gejala klinis yang hasilnya dibandingkan dengan rapid antigen detection test (RADT) atau biakan usap tenggorok apabila RADT negatif. Analisis data menggunakan piranti lunak SPSS versi 17.0 dan Stata SE 10.0.Hasil. Ditemukan 13,54% faringitis GAS. Titik potong optimal skoring McIsaac ≥4 dengan sensitivitas 84,62% (IK 95% 54,55-98,08%), spesifisitas 68,67% (IK 95% 57,56-78.41%), nilai duga positif 29,73% (IK 95% 15,87-46,98%), dan nilai duga negatif 96,61% (IK 95% 88,29-99,59%). Untuk nilai 5 mempunyai sensitivitas 38,46% (IK 95% 13,86-68,42%), spesifisitas 98,8% (IK 95% 93,47-99,97%), nilai duga positif 83,33% (IK 95% 35,88-99,58%), dan nilai duga negatif 91,11% (IK 95% 83.23-96,08%).Kesimpulan. Diagnosis faringitis GAS dapat disingkirkan apabila hasil skoring McIsaac <4, memerlukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut (RADT atau biakan usap tenggorok) pada hasil skoring 4, dan sangat mungkin (98,8%) untuk hasil skoring 5.
Perbandingan Efektivitas Kombinasi Ceftazidime + Amikasin dan Ceftazidime sebagai Antibiotik Empiris Demam Neutropenia pada Keganasan Agustinus William; Rini Purnamasari; Yulia Iriani; Theodorus Theodorus
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.488 KB) | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.241-7

Abstract

Latar belakang. Terapi antibiotik empiris spektrum luas merupakan standar pengobatan demam neutropeniapada keganasan karena morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan sepsis bakterial. Pilihanantibiotik empiris awal, tetapi tetap kontroversial.Tujuan. Membandingkan efektivitas kombinasi ceftazidim + amikasin dan ceftazidime dalam mengatasidemam neutropenia pada keganasan di RSMH Palembang.Metode. Uji klinis acak buta ganda dilakukan sejak Desember 2012 hingga Juli 2013 di Bangsal HematologiAnak RSMH Palembang. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat ceftazidime+ amikacin dan ceftazidime. Pada anak dengan keganasan yang mengalami suhu aksila >38,00C disertaiabsolute neutrophil count <1000/μL, periode bebas demam dalam 3 x 24 jam setelah pemberian regimenantibiotik awal dievaluasi untuk menilai efektivitas terapi. Data dianalisis dengan uji kai kuadrat dan Fisherexact, serta program SPSS 18.0.Hasil. Tigapuluh satu anak berusia 1-15 tahun dengan keganasan yang mengalami 46 episode demamneutropenia terdistribusi homogen pada setiap kelompok (masing-masing 23 episode). Microbiologicallydocumented infection, clinically documented infection dan unexplained fever ditemukan pada 29, 6, dan 11episode demam neutropenia. Proporsi keberhasilan pemberian ceftazidime + amikacin dalam mengatasidemam hingga hari ketiga pemantauan adalah 82,6%, sedangkan ceftazidime 56,5% (p=0,055; IK 95%:0,975-2,190).Kesimpulan. Pemberian kombinasi ceftazidime + amikacin memiliki angka keberhasilan yang lebih baikdibandingkan ceftazidim dalam menurunkan demam hingga hari ketiga, meskipun secara statistik tidak berbedabermakna.
Kadar Immunoglobulin G­Difteri dan Tetanus pada Anak Sekolah Dasar Kelas Satu Yulia Iriani; Carolina Fetri Kaharuba; Dian Puspita Sari; Mutiara Budi Azhar; Wisman Tjuandra; Zarkasih Anwar
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.46-51

Abstract

Latar belakang. Pada pertengahan tahun 2000 terjadi peningkatan jumlah kasus difteri dan tetanus yang dirawat di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Peningkatan ini diperkirakan karena menurunnya konsistensi pelaksanaan program imunisasi sebagai dampak krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia.Tujuan. Mengukur kadar anti toksin antidifteri (IgG difteri) dan antitetanus (IgG tetanus) pada anak SD kelas 1 di Palembang pada bulan Oktober 2008, untuk menggambarkan efektivitas imunisasi DPT pada anak yang lahir antara tahun 2001 – 2003 di Palembang.Metode. Subyek penelitian adalah murid SD kelas 1 dari 5 SD negeri di 5 Kecamatan di Kota Palembang. Kadar IgG antidifteri dan tetanus ditetapkan dengan cara ELISA dan dikelompokkan menjadi terproteksi penuh jika kadar IgG ≥0,1 IU/ml, proteksi dasar jika kadar 0,01 IU/ml - 0,1 IU/ml dan tanpa proteksi jika kadar <0,01 IU/ml. Hasil.Seratus tujuh puluh subyek kelompok difteri dan 164 kelompok tetanus memiliki rentang usia 5 – 8 tahun, status imunisasi dasar lengkap masing-masing 44% dan 43%, dan imunisasi DPT ≥3 kali88% dan 87%. Rerata kadar IgG antidifteri 0,268 IU/ml, IgG antitetanus 0,253 IU/ml. Tingkat proteksi terproteksi penuh terhadap difteri dan tetanus masing-masing terdapat pada 56% dan 60% subyek, proteksi dasar 41% dan 38%, tanpa proteksi 3% dan 1%. Kelengkapan status imunisasi DPT secara bermakna berhubungan dengan tingkat proteksi terhadap difteri (p=0,022; OR=2,97; 95% CI: 1,13 – 7 ,78) dan tetanus (p=0,001; OR=5,64; 95% CI: 1,94 – 16,42). Kesimpulan.Tingkat proteksi terproteksi penuh terhadap difteri dan tetanus masing-masing adalah 56% dan 60%. Tingkat proteksi tersebut dipengaruhi oleh kelengkapan status imunisasi DPT.
Hubungan antara Curah Hujan dan Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue Anak di Kota Palembang Yulia Iriani
Sari Pediatri Vol 13, No 6 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.635 KB) | DOI: 10.14238/sp13.6.2012.378-83

Abstract

Latar belakang. Dampak curah hujan terhadap prevalensi dengue sangat penting untuk diteliti sebagai alat untuk meramalkan variasi insidens dan risiko yang berhubungan dengan dampak perubahan iklim.Tujuan. Untuk menilai apakah peningkatan curah hujan di Palembang, setelah selang waktu tertentu, berhubungan dengan peningkatan jumlah kasus DBD anak yang dirawat di tiga rumah sakit di Palembang. Kedua, menilai hubungan puncak curah hujan dengan puncak kasus DBD yang dirawat. Jumlah kasus DBD yang dirawat di tiga rumah sakit tersebut diasumsikan mencerminkan tingkat kejadian DBD di Kota Palembang.Metode.Data curah hujan didapat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika kota Palembang. Prevalensi DBD yang dirawat dikompilasikan dari buku/Data Register. Hubungan peningkatan curah hujan dengan peningkatan jumlah kasus DBD ditelusuri melalui olah statistik. Hubungan puncak curah hujan dengan puncak kasus DBD yang dirawat dinilai berdasarkan selang waktu antara puncak curah hujan dan puncak prevalensi perawatan kasus. Hasil.Terdapat korelasi antara curah hujan dan peningkatan jumlah kasus DBD yang dirawat. Korelasi mulai terjadi satu bulan sebelum puncak curah hujan (r=0,332; p=0,001), meningkat saat puncak curah hujan (r=0,353; p=0,000), dan menurun satu bulan sesudahnya (r=0,262; p=0,008). Bulan serta tanggal curah hujan berhimpitan dengan prevalensi kasus yang DBD yang dirawat. Anomali bulan puncak hujan diikuti perubahan puncak prevalensi DBD. Kesimpulan.1) Curah hujan berkorelasi dengan kejadian DBD, korelasi paling kuat terjadi dengan kasus DBD pada puncak curah hujan; 2) Puncak curah hujan bulanan berhimpitan dengan bulan puncak kasus DBD dan perubahan puncak curah hujan sejalan dengan perubahan puncak kasus DBD