Ni Putu Siadi Purniti
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Spondilitis Tuberkulosis I Gede Epi Paramarta; Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Putu Astawa
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.417 KB) | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.177-83

Abstract

Spondilitis tuberkulosis adalah infeksi pada tulang belakang yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sejak obat anti tuberkulosis dikembangkan dan peningkatan kesehatan masyarakat, tuberkulosis tulang belakang menjadi menurun di daerah negara industri, meskipun tetap menjadi penyebab yang bermakna di negara berkembang. Gejala yang ditimbulkan antara lain demam, keringat terutama malam hari, penurunan berat badan dan nafsu makan, terdapat masa di tulang belakang, kiposis, kadang-kadang berhubungan dengan kelemahan dari tungkai dan paraplegi. Spondilitis tuberkulosis dapat menjadi sangat destruktif. Berkembangnya tuberkulosis di tulang belakang berpotensi meningkatkan morbiditas, termasuk defisit neurologi yang permanen dan deformitas yang berat. Pengobatan medikamentosa atau kombinasi antara medis dan bedah dapat mengendalikan penyakit spondilitis tuberkulosis pada beberapa pasien
Trakeomalasia pada Anak I G. A. P. Eka Pratiwi; Putu Siadi Purniti; I. B. Subanada
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.704 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.233-8

Abstract

Trakeomalasia merupakan suatu keadaan kelemahan trakea yang disebabkan karena kurang dan atau atrofiserat elastis longitudinal pars membranasea, atau gangguan integritas kartilago sehingga jalan napas menjadilebih lemah dan mudah kolaps. Trakeomalasia pada anak dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitutrakeomalasia primer (penyakit kongenital) dan sekunder (penyakit didapat). Untuk menegakkan diagnosistrakeomalasia dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan pencitraan.Manifestasi klinis trakeomalasia antara lain riwayat stridor ekspirasi, kesulitan minum, suara parau, afonia,riwayat breath holding, riwayat intubasi berkepanjangan, trakeostomi, trauma dada, trakeobronkitisberulang, penyakit kartilago (polikondritis relaps), dan reseksi paru. Sebagian besar anak dengantrakeomalasia tidak memerlukan intervensi. Terapi bedah diperlukan jika terapi konservatif tidak mencukupiatau jika terjadi refleks apne, mengalami kesulitan peningkatan berat badan dan perkembangan, mengalamipneumonia atau apne berulang, menunjukkan obstruksi jalan napas yang memerlukan dukungan jalannapas kronik. Gejala kinis akan menghilang secara spontan pada usia 18-24 bulan.
Pneumonia Atipikal Budastra I Nyoman; Siadi Purniti Putu; Subanada Ida Bagus
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.837 KB) | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.138-44

Abstract

Pneumonia atipikal adalah pneumonia yang disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak dapat diidentifikasidengan teknik diagnostik standar pneumonia pada umumnya dan tidak menunjukkan respon terhadapantibiotik b-laktam. Mikroorganisme patogen penyebab pneumonia atipikal pada umumnya adalahMycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Legionella pneumophila. Manifestasi klinik,pemeriksaan laboratorium dan radiologis pneumonia atipikal menunjukkan gambaran tidak spesifik.Manifestasi klinik pneumonia atipikal ditandai oleh perjalanan penyakit yang bersifat gradual, terdapatdemam yang tidak terlalu tinggi, batuk non produktif dan didominasi oleh gejala konstitusi. Satu-satunyacara untuk mengetahui penyebab dari pneumonia atipikal adalah pemeriksaan serologi dan polymerasechain reaction (PCR). Antibiotik golongan makrolid direkomendasikan sebagai terapi pneumonia atipikalpada anak. Prognosis umumnya baik, jarang berkembang menjadi kasus yang fatal
Surveilan Pneumokokus dan Dampak Pneumonia pada Anak Balita Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; I Komang Kari; BNP Arhana; Ida Sri Iswari; Ni Made Adi Tarini
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.359-64

Abstract

Latar belakang. Streptococcus pneumonia (SP) adalah penyebab utama meningitis, pneumonia, danbakteremia pada bayi dan anak. Mikroorganisme tersebut adalah penyebab utama kematian yang dapatdicegah dengan imunisasi pada anak usia di bawah lima tahun. Data tentang insiden invasive pneumococcaldisease (IPD) di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Mengetahui dampak pneumonia dan IPD pada populasi target di Rumah Sakit Umum PusatSanglah Denpasar, Bali, Indonesia.Metode. Surveilan aktif berbasis rumah sakit, prospektif selama satu tahun pada anak usia 28 hari sampai 60bulan. Seluruh anak yang tinggal dalam area cakupan penelitian, usia 28 hari sampai 􀁤36 bulan mengalamidemam 􀁴39°C atau menderita pneumonia, menunjukkan gejala IPDHasil. Subjek 736 anak dengan median usia 10 bulan (79,2% usia 28 hari sampai <24 bulan). S. pneumoniatidak terdeteksi dari seluruh subjek. Biakan darah dilakukan pada 736 subjek, 125 di antaranya (17,19%)menunjukkan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang diisolasi dari biakan darah antara lain Staphylococcus sp 58(46,4%), S. aureus 45 (36,0%), Pseudomonas sp 9 (7,2%), E. coli 3 (2,4%). Diagnosis awal terbanyak adalahpneumonia, 439 (59,7%). Insiden pneumonia 534,2/100000, usia 28 hari - <6 bulan 167,1/100000, danusia 28 hari - <24 bulan 839/100000. Angka insiden tertinggi pneumonia dengan foto dada usia 28 hari - <6bulan yaitu 10,9/100000, dan kelompok usia 28 hari - <24 bulan 19,4/100000. Angka insiden pneumoniadan foto dada dengan CRP 􀁴40 mg/L tertinggi pada kelompok usia 12 bulan - <24 bulan, 82,9/100000.Dilakukan pemeriksaan PCR S. pneumoniae terhadap 106 sampel, terdiri dari kasus meninggal, meningitis,sepsis dan pneumonia berat tidak terdeteksi S. pneumoniaeKesimpulan. Pneumonia mempunyai dampak yang cukup berarti bagi daerah cakupan RSUP Sanglah yangdisebabkan oleh pneumokokus, dan saat ini masih merupakan tantangan.
Pneumonia Pneumosistis I Wayan Gustawan; BNP Arhana; Putu Siadi Purniti; IB Subanada; K Dewi Kumara Wati
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.328-34

Abstract

Pneumonia pnemosistis merupakan penyebab kesakitan yang serius dan kematian pada kasus gangguansistem imun. Pneumonia pnemosistis merupakan infeksi oportunistik tersering pada kasus yang terinfeksiHIV, leukemia dan anak yang menerima transplantasi organ. Organisme penyebab adalah Pneumocystiscarinii. Manifestasi klinis berupa gangguan pernapasan disertai penyakit dasarnya. Diagnosis pasti ditegakkandengan ditemukannya organisme dalam pemeriksaan mikroskopis. Pengobatan secara umum terdiri daritata laksana suportif dan spesifik. Trimetoprim-sulfametoksasol masih merupakan pilihan pertama baikuntuk terapi maupun profilaksis. Angka kematian masih tinggi, terutama yang terlambat mendapat terapi.
Surveilans Influeza pada Pasien Rawat Jalan Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Ida Sri Iswari
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.688 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.278-82

Abstract

Latar belakang. Influenza merupakan infeksi yang sering terjadi dan memberikan dampak yang besar padakelompok usia anak. Informasi mengenai tingkat kunjungan pasien seasonal influenza diperlukan untukmenilai besarnya dampak yang ditimbulkan penyakit influenza Rapid influenza test dapat membantu diagnosisdan penanganan pasien yang datang dengan manifestasi klinis seasonal influenza.Tujuan. Untuk mengetahui tingkat kunjungan pasien dengan seasonal influenza dan nilai diagnostik pemeriksaanrapid influenza test.Metode. Surveilans seasonal influenza dilaksanakan di Poliklinik Rawat Jalan Bagian//SMF Ilmu KesehatanAnak RSUP Sanglah Denpasar Bali selama periode 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2006. Pasien usia1 bulan sampai dengan 12 tahun dengan manifestasi klinis influenza like illness berdasarkan kriteria WHOdiikutsertakan dalam penelitian. Pada subyek penelitian dilakukan apusan hidung untuk pemeriksaan rapid influenzadan apusan tenggorok untuk pemeriksaan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).Hasil. Didapatkan prevalensi seasonal influenza pada anak di RSUP Sanglah Denpasar Bali 16,8%. Duapuncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari sampai April dan September sampai Desember. Pemeriksaanrapid influenza memiliki sensitivitas 12,87% (IK 95%: 12,54-12,89%), spesifisitas 99,6% (IK 95%:99,59-99,61%), nilai duga positif 86,67% (IK 95%: 86,47-86,94%), nilai duga negatif 84,98% (IK 95%:82,18-87,78%), rasio kemungkinan positif 32,18% (IK 95%: 28,45-35,91%), dan rasio kemungkinannegatif 0,88% (IK 95%:62,1-113,8%).Kesimpulan. Prevalensi seasonal influenza pada penderita rawat jalan di Poliklinik anak RSUP SanglahDenpasar Bali 16,8%. Dua puncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari–April dan September–Desember. Pemeriksaan rapid influenza memiliki sensitivitas yang rendah tetapi spesifisitas dan nilai dugapositif yang tinggi
Serum C-reactive protein levels in severe and very severe pneumonia in children Ni Putu Sucita Wahyu Dewi; Putu Siadi Purniti; Roni Naning
Paediatrica Indonesiana Vol 52 No 3 (2012): May 2012
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.338 KB) | DOI: 10.14238/pi52.3.2012.161-4

Abstract

Background Pneumonia is a major cause of death in children fromdeveloping countries. It is difficult to assess pneumonia severity ifclinical symptoms of pneumonia are unclear, co-morbidities occursimultaneously, or there is an absence of consolidation or infiltrateson chest radiograph. Examination of C-reactive protein (CRP)levels can help to determine the severity of pneumonia.Objective To compare serum CRP levels in severe and very severepneumonia cases.Methods This was a cross-sectional study on pediatric patientsaged> 28 days up to 60 months v.ith a diagnosis of severe or verysevere pneumonia. Subjects were hospitalized at the Departmentof Child Health, Udayana University Medical SchooliSanglahHospital, Denpasar from May 2010 to January 2011. There were30 subjects in each group, severe or very severe pneumonia. Datawere analyzed using Mann-Whitney and ANCOVA tests withstatistical significance set at P < 0.05.Results There were significant differences in median serum CRPlevels in the severe and very severe pneumonia groups. The verysevere pneumonia group had a median CRP level of 54.75 mgiL(lQrange 0.22 to 216.00) and the severe pneumonia group had amedian CRP level ofl6.06 mgiL (IQ range 0.97 to 89.35). SerumCRP levels were influenced by the severity of pneumonia (P =0.002) and the timing of the CRP examination (P = 0.001).Conclusion Subjects with very severe pneumonia hadsignificantly higher median CRP level compared to that of subjectswith severe pneumonia. [Paediatr Indones. 2012;52:161A].
Validity of bacterial pneumonia score for predicting bacteremia in children with pneumonia Rosalia Theodosia Daten Beyeng; Putu Siadi Purniti; Roni Naning
Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 6 (2011): November 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi51.6.2011.322-6

Abstract

Background Bacteremia in children with pneumonia reflects a severe condition, with longer duration of hospital care and potentially lethal complications. Early detection of bacteremia in patients with pneumonia may reduce serious complications. Few bacteremia screening tools have been widely used in chidren with pneumonia. One of those tools is the bacterial pneumonia score (BPS).Objective To assess the validity of the bacterial pneumonia score for predicting bacteremia in pediatric patients with pneumonia.Methods A diagnostic test was conducted on children aged 1 to 60 months hospitalized with pneumonia from December 2009 to August 2010. Subjects were collected consecutively. Pneumonia was diagnosed using the World Healt Organization (WHO) criteria. Subjects underwent complete blood counts and blood culture examinations at admission. Statistical analyses included sensitivity, specificity, positive and negative predictive value (PPV/NPV), positive and negative likelihood ratio (PLR/NLR), and post-test probability.Results Our study included 229 children. Based on BPS with a cut-off score of ≥ 4, the sensitivity was 83.3%, specificity 49.7%, PPV 8.4%, NPV 98.2%, PLR 1.66, NLR 0.31, and post-test probability 8.4% for detecting bacteremia in pediatric pneumonia patients.Conclusion BPS can not be used for predicting bacteremia in pediatric patients with pneumonia.
Sensitization to indoor allergens and frequency of asthma exacerbations in children Irene Irene; Putu Siadi Purniti; Sumadiono Sumadiono
Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 4 (2011): July 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi51.4.2011.207-12

Abstract

Background The rapid increase in asthma incidence has implicated the importance of environmental influences over genetic influences. Sensitization to perennial indoor allergens has been associated with increased asthma symptoms.Objective To examine the correlation between sensitization to indoor allergens and frequency of asthma exacerbations in children.Methods A cross-sectional study was carried out on asthmatic children aged 6 to 12 years in the Department of Child Health, Udayana University Medical School /Sanglah Hospital, Denpasar. Degree of sensitization was assessed by mean wheal diameter (positive defined as 3 mm greater than negative control) for seven common indoor allergens. Frequency of asthma exacerbation for three consecutive months prior to data collection was retrospectively reviewed.Results Positive skin test results for one or more allergens were found in 84 of 89 (94%) asthmatic children. Higher frequency of asthma exacerbations weakly correlated with the number of allergens with positive sensitization (r=0.284; P=0.007). Mean wheal diameter of each allergen did not correlate to the frequency of asthma exacerbations. In addition, the frequency of asthma exacerbations was independent for parental and sibling atopic history, preceding respiratory infections, use of asthma controllers and passive environmental tobacco smoke exposure.Conclusions Sensitization to common indoor allergens correlates weakly with frequency of asthma exacerbations. 
Clinical predictors of hypoxemia in 1-5 year old children with pneumonia Made Supartha; Putu Siadi Purniti; Roni Naning; Ida Bagus Subanada
Paediatrica Indonesiana Vol 50 No 6 (2010): November 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.921 KB) | DOI: 10.14238/pi50.6.2010.355-60

Abstract

Background Pneumonia remains a major killer of under five children. Hypoxemia is the most serious manifestation of pneumonia. The most reliable way to detect hypoxemia is an arterial blood analysis or SPar However, these tools are not widely available; therefore, a simple clinical manifestation should be used as an alternative.Objective To determine clinical predictors of hypoxemia in 1-5 year-old children with pneumonia in Indonesia.Methods This study was conducted between February 2007 to  August 2008 at Sanglah Hospital, Denpasar, Bali. Sample was selected using a convenient sampling method. Subjects were divided into group of hypoxemia and nonnal saturation. We did clinical examination and SpOz measurement, as the gold standard, simultaneously.Results From 120 subjects" the prevalence of hypoxemia was 17.5%. The best single clinical predictors of hypoxemia was cyanosis (sensitivity 43%, specificity 99%, positive predictive value (PPV) 90%, negative predictive value (NPV) 89%). The best combination of clinical predictors of hypoxemia was cyanosis and head nodding (sensitivity 43%, specificity 99%, PPV 90%, NPV 89%.Conclusion Cyanosis or combination of cyanosis and head nodding is useful clinical predictors of hypoxemia in childhood pneumonia.