Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : SAINSTEK

Penilaian Tingkat Kerusakan Pesisir Pulau Singkep Sebagai Upaya Mitigasi Kerusakan Pantai Erza Ismi Lariza; Manyuk Fauzi; Muhammad Yusa
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.159

Abstract

Pulau Singkep merupakan daerah Pulau yang di kelilingi oleh pantai yang menunjukkan pulau singkep termasuk dalam kategori wilayah pesisir pantai. Luas Pulau Singkep 3.615,56 km2 terdiri dari 384,15 km2 daratan dan 3.231,40 km2 lautan . Kawasan pesisir menghadapai berbagai tekanan dan pengembangan dan perubahan. Oleh karena itu pantai selalu mengalami perubahan, diantaranya perubahan lingkungan yang dapat disebabkan akibat aktivitas manusia. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan garis pantai. Mengingat kondisi daerah permukiman dan akses transportasi seperti jalan yang ada di pesisir pantai hal ini dianggap cukup penting untuk di lakukan analisa. Salah satu cara yang dapat di lakukan dalam pencegahan timbulnya bencana di kawasan pesisir pantai ialah dengan melakukan penilaian tingkat kerusakan pantai. Salah satu cara yang dapat di lakukan dalam upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir pantai ialah dengan melakukan penilaian tingkat kerusakan pantai. Penelitian ini menggunakan Surat Edaran Mentri Pekerjaan Umum No.08/SE/M/2010 tentang Pemberlakuan pedoman penilaian kerusakan pantai dan prioritas penangananya sebagai penilain pembobotan kerusakan pantai di Pulau Singkep. Hasil dari penilaian tingkat kerusakan pantai di Pulau Singkep ialah terdapat 2 buah nilai skala prioritas yaitu B dan D. Kategori prioritas utama terletak di Desa Lanjut, Desa Berindat, Desa Dabo Lama dan Desa Batu Berdaun dengan skala B yang memiliki nilai bobot kerusakan 226- 300.
Analisis Daya Dukung Fondasi Sumuran Dengan Variasi Bentuk Dan Kedalaman Pada Tanah Lunak Epi Mili Yanti; Ferry Fatnanta; Muhammad Yusa
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.163

Abstract

Tanah lunak pada umumnya mempunyai kekuatan geser lebih rendah dari tanah berbutir kasar. Apabila tanah lunak digunakan sebagai pendukung fondasi dan bangunan sangat tidak menguntungkan, karena akan banyak kerugian yang ditimbulkan. Meskipun kerusakan yang diakibatkan tidak bersifat mendadak dan langsung namun kerugian secara materi yang diakibatkan akan cukup besar, oleh karena itu perlu di rencanakan fondasi apa yang sesuai dengan kondisi tanah lunak yang ada di Riau. Fondasi sumuran adalah salah satu alternatif yang layak dicoba digunakan pada tanah lunak. Perilaku daya dukung fondasi sumuran dengan variasi bentuk dan kedalaman fondasi memiliki kesamaan perilaku yaitu pada akhir kurva masih menunjukkan bahwa pada akhir penurunan masih terjadi peningkatan beban. Perbedaan daya dukung ini dikarenakan perbedaan bentuk fondasi, sekalipun dengan panjang dan diameter yang sama fondasi memiliki daya dukung yang berbeda. Adanya perbedaan bentuk pada fondasi sumuran tersebut membuat adanya perbedaan daya dukung antara fondasi bentuk lingkaran dan fondasi bujur sangkar. Untuk ukuran fondasi panjang 30 cm perbedaannya 4,55%, untuk ukuran fondasi panjang 45 cm perbedaanya 13,43%, untuk ukuran fondasi panjang 60 cm perbedaanya 34,41%. Fondasi sumuran bentuk lingkaran dengan panjang 60 cm memiliki daya dukung terbesar yaitu 45,7 N, dan yang terkecil fondasi sumuran bentuk bujur sangkar yaitu 33 N. Panjang fondasi menjadi penyebab kemampuan fondasi sumuran menahan beban lebih besar daripada fondasi yang lebih pendek lainnya. Berdasarkan hitungan secara teoritis dengan metode Cooke dan Whitaker (1966) memiliki hasil lebih besar dari pada hasil pengujian di laboratorium menggunakan metode Terzaghi & Peck (1967) . Hal ini dikarenakan data-data parameter tanah seperti kohesi, sudut geser, dan berat volume dilapangan tidak homogen sedangkan dalam perhitungan teoritis data-data tersebut diasumsikan homogen untuk rentang luas dan kedalaman tertentu. Adapun persentase selisih kapasitas daya dukung fondasi antara lain ,untuk ukuran fondasi lingkaran panjang 30 cm perbedaannya 56,52%, untuk ukuran fondasi panjang 45 cm perbedaanya 64,87%, untuk ukuran fondasi panjang 60 cm perbedaanya 67,16%. untuk ukuran fondasi bujur sangkar panjang 30 cm perbedaannya 68,30%, untuk ukuran fondasi panjang 45 cm perbedaanya 76,44%, untuk ukuran fondasi panjang 60 cm perbedaanya 81,15%.
Analisis Tingkat Kerentanan Wilayah Pesisir Di Pulau Mendol T. Riana Maharlika; Muhammad Yusa
SAINSTEK Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v11i1.188

Abstract

Pesisir Pulau Mendol merupakan wilayah yang dinamis karena langsung berhadapan dengan selat malaka. Kondisi dinamis tersebut dapat mempengaruhi kerentanan pesisir. Kerentanan Pulau Mendol terhadap perubahan kenaikan muka air laut disebabkan karena beberapa faktor fisik di laut dan di darat. Upaya mencegah dampak yang ditimbulkan akibat bencana di kawasan pesisir dapat dilakukan dengan melakukan analisis kerentanan wilayah pesisir. Analisis penentuan kerentanan wilayah pesisir dapat dilakukan dengan penilaian terhadap kondisi fisik daerah pesisir. Penilaian tingkat kerentanan pesisir pada penelitian ini menggunakan metode CVI (Coastal Vulnerability Index). CVI adalah metode ranking relatif berbasis skala indeks dari parameter fisik seperti: perubahan garis pantai, lebar sabuk hijau, penggunaan lahan, panjang kerusakan dan lebar pantai, jarak pasang surut, kenaikan muka air laut, dan tinggi gelombang. Hasil yang diperoleh dari metode CVI menunjukkan bahwa tingkat kerentanan Pulau Mendol tergolong pada kategori kerentanan sedang. Daerah yang berada pada kategori ini berada di Segmen 1 dengan nilai CVI yang berada di kisaran 25-50. Sedangkan pada Segmen 2, Segmen 3, Segmen 4 memiliki nilai CVI 0-25. Nilai tersebut menunjukkan bahwa Segmen 2, Segmen 3, Segmen 4 memiliki tingkat kerentanan pada kategori rentan. Sedangkan pada Segmen 5 memiliki nilai CVI 50-75. Kenaikan muka air laut tertinggi yaitu di Segmen 3, Segmen 4, Segmen 5 sebesar 0,19 m dan kenaikan muka air laut terendah yaitu di Segmen 2 sebesar 0,17 m. Nilai tersebut menunjukkan bahwa Segmen 3, Segmen 4, Segmen 5 memiliki tingkat kerentanan pada kategori yang tinggi. Perolehan nilai CVI tersebut menunjukkan bahwa hampir keseluruhan wilayah Pulau Mendol memiliki nilai CVI yang berbeda-beda sehingga berada pada tingkat kerentanan kategori rentan terhadap perubahan kenaikan muka air laut di wilayah pesisir.