Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

ANALISIS BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK) SEBAGAI DASAR PENENTUAN TARIF SEWA TRANSPORTASI BARANG DI PROVINSI MALUKU Hanok Mandaku
ALE Proceeding Vol 5 (2022): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.5.2022.46-52

Abstract

Tarif sewa transportasi barang di Provinsi Maluku umumnya dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pemilik dan penyewa kendaraan, sehingga acapkali menimbulkan ketidakpuasan diantara kedua pihak. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah menentukan struktur dan besaran tarif sewa transportasi barang yang ideal berdasarkan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) guna menjembatani kepentingan pihak pemilik dan penyewa kendaraan. Metode perhitungan BOK didasarkan pada metode Direktorat Jenderal Perhubungan Darat RI tahun 2002. Hasil penelitian menunjukan struktur dan besaran BOK untuk jenis kendaraan angkutan barang Golongan V terdiri dari: (a) biaya pemakaian ban, sebesar Rp. 629,92/km; (b) biaya service kecil, sebesar Rp. 255,91; dan (c) biaya service besar, sebesar Rp. 131,89/km. Dengan demikian, total BOK adalah sebesar Rp. 1.017,72/km. Temuan ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar penentuan besaran tarif sewa transportasi barang di Provinsi Maluku.
Perkiraan Tarikan Pergerakan Kendaraan Logistik Menuju ke Pulau Seram di Provinsi Maluku Hanok Mandaku; Mentari Rasyid
ARIKA Vol 17 No 1 (2023): ARIKA
Publisher : Industrial Engineering Study Program, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/arika.2023.17.1.33

Abstract

Transportasi logistik hingga kini masih menjadi masalah serius, terutama di wilayah kepulauan seperti Provinsi Maluku. Hal itu dapat tergambar dari tingginya harga barang akibat dari tingginya biaya logistik. Oleh sebab itu diperlukan dukungan informasi tentang besaran tarikan pergerakan kendaraan sebagai dasar penataan sistem transportasi logistik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sistem logistik dan memodelkan tarikan pergerakan kendaraan logistik menuju ke Pulau Seram di Provinsi Maluku. Variabel yang dimodelkan adalah jumlah penduduk (X1) dan luas wilayah (X2). Data dikumpulkan dengan metode wawancara terhadap 120 distributor. Hasil penelitian menemukan sistem logistik di wilayah Provinsi Maluku terdiri dari koridor utara yang berpusat di Kota Ambon dan koridor selatan dengan sistem multiport (Tiakur, Saumlaki dan Tual). Pada jalur distribusi ke pulau Seram, terdapat 7 zona tarikan, dominan menuju ke zona Masohi dan Bula. Hasil pemodelan menunjukkan variabel jumlah penduduk berpengaruh signifikan terhadap tarikan pergerakan. Sedangkan variabel luas wilayah tidak berpengaruh signifikan. Model yang dihasilkan yaitu Yke P.Seram = -14,92491 + 0,0009809 Xjum.pend – 0,0003799 Xluas wil. Model tersebut memperkirakan setiap penambahan 20.000 penduduk, akan menarik 5 kendaraan logistik per hari. Temuan ini bermanfaat sebagai dasar penataan sistem transportasi logistik di wilayah Provinsi Maluku.
Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Moda Transportasi Di Pulau Buru Dengan Menggunakan Metode TOPSIS Mentari Rasyid; Hanok Mandaku
ARIKA Vol 17 No 1 (2023): ARIKA
Publisher : Industrial Engineering Study Program, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/arika.2023.17.1.42

Abstract

Kebutuhan akan moda transportasi yang efektif, efisien, dan aman menjadi sangat mutlak diperlukan oleh konsumen. Kapal laut merupakan salah satu moda transoprtasi laut yang sering digunakan oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan perjalanan dan bepergian. Kabupaten Buru adalah salah satu kabupaten pada Provinsi Maluku yang letak pulaunya berbeda dengan kota Ambon yakni 156 km. Untuk dapat menghubungkan kedua pulau tersebut, hanya dapat ditempuh dengan transportasi laut dan udara. Terdapat 3 alat transportasi laut yang dapat digunakan oleh konsumen yakni (a) Kapal Ferry (b) Kapal Pelni, dan (c) Kapal Cepat (swasta). Penelitian ini ditujukkan untuk mengetahui minat/pilihan konsumen untuk memilih moda transportasi yang paling sering digunakan untuk bepergian. Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data dengan menggunakan metode dan perhitungan dengan metode TOPSIS maka diperoleh Kapal Cepat (Swasta) memiliki nilai preferensi tertinggi yakni sebesar 0,8643, untuk kode A1 adalah Kapal Ferry memiliki nilai preferensi 0,8037 dan yang memiliki nilai preferensi terendah adalah V2 atau yang memiliki kode A2 adalah Kapal Pelni sebesar 0,2177. Sehingga moda pemilihan transportasi laut berdasarkan ketiga alternative yang tersedia adalah Kapal Cepat (Swasta) yang mana memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan yakni Jumlah Armada yang memadai, Waktu Tempuh, Harga Tiket, Pelayanan, Keamanan dan Performa.
DESAIN PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI PENYEBERANGAN UNTUK MENDUKUNG DISTRIBUSI GENERAL CARGO ANTAR-PULAU DI PROVINSI MALUKU Hanok Mandaku; Mentari Rasyid
Jurnal Ilmiah Teknik Industri Vol. 11 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Teknik Industri : Jurnal Keilmuan Teknik dan Manajemen Industri
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jitiuntar.v11i1.22992

Abstract

Ferry transport plays an important role in the general cargo distribution process in the Maluku region. However, the network pattern that has been applied has not been effective so that the area in the southern part is still isolated because the frequency of ship stops is more than two weeks. This condition impedes the distribution of general cargo, increases logistics costs and reduces industrial competitiveness. The purpose of this research is to evaluate and develop an optimal crossing transport network through simulating the distance and shipping time. The results showed that the existing pattern requires 109.05 hours of travel time to reach 2,103 km as the farthest distance. The scenario for developing the multiport calling pattern requires 1 ship to sail the primary route, covering the farthest distance of 3,442 km in 178.27 hours. Scenario I hub and spoke pattern requires 2 ships to sail the primary route, covering the farthest distance of 1,872 km in 96.96 hours. Scenarios II and III require 3 ships to sail the primary route, covering the farthest distance of 2,336 km in 120.99 hours. These results confirm that the hub and spoke pattern is more optimal than the multiport calling pattern even though it requires more ship units. Thus, the hub and spoke scenario III pattern is more appropriate to be applied as an inter island crossing transport network pattern in the Maluku region because it is able to reach all areas so that it can support the distribution of general cargo.
ANALISIS POLA PERGERAKAN MASYARAKAT MENUJU PUSAT PERBELANJAAN MODERN DI KOTA AMBON (STUDI KASUS PADA SWALAYAN PLANET 2000) Hanok Mandaku; Mentari Rasyid
Journal Teknik Mesin, Elektro, Informatika, Kelautan dan Sains Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Teknik Mesin, Elektro, Informatika, Kelautan & Sains
Publisher : Jurusan Teknik Mesin Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/metiks.2023.3.1.58-67

Abstract

Penyediaan berbagai fasilitas kebutuhan manusia di wilayah kota yang tersebar di lokasi yang berbeda-beda sesuai dengan distribusi fungsi guna lahan, menyebabkan terjadinya pergerakan manusia dan barang (arus lalu lintas). Kawasan Swalayan Planet 2000 merupakan salah satu guna lahan yang banyak menarik pergerakan sehingga meningkatkan arus lalu lintas dari dan ke kawasan tersebut dan acapkali menyebabkan kemacetan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pergerakan menuju pusat perbelanjaan modern di wilayah Kota Ambon, dengan studi kasus pada Swalayan Planet 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pergerakan masyarakat menuju pusat perbelanjaan modern dipengaruhi oleh karakteristik sosio-ekonomi dan pola aspasial. Analisis hubungan menunjukkan jumlah kunjungan ke Swalayan Planet 2000 memiliki korelasi yang kuat dan searah dengan variabel jumlah penghasilan, artinya meningkatnya jumlah penghasilan akan meningkatkan jumlah kunjungan ke Swalayan Planet 2000. Sedangkan, untuk variabel jarak perjalanan memiliki hubungan yang kuat tetapi tidak searah dengan jumlah kunjungan. Hasil ini menunjukkan bahwa, meningkatnya jarak perjalanan akan menurunkan jumlah kunjungan ke Swalayan Planet 2000. Model regresi yang dihasilkan adalah Y = 0,7211 + 0,8485X1 dan Y = 6,44 – 0,8858X2.
STRATEGI PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI DARAT DALAM MENINGKATKAN EKONOMI WILAYAH DI PULAU MOA, KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Ferlin Yunita Topurtawy; Pieter Th. Berhitu; Hanok Mandaku
Jurnal ISOMETRI Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Penelitian Jurusan Teknik Mesin
Publisher : Jurusan Teknik Mesin Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/isometri.2023.2.1.42-50

Abstract

Jalan merupakan salah satu unsur dari sistem transportasi yang sangat penting dalam menunjang pembangunan. Penyediaan akses yang baik akan menjamin kelancaran proses distribusi barang dan jasa sehingga pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan lancar.. Pulau Moa merupakan pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten MBD. Hal ini disebabkan oleh keberadaan Kota Tiakur sebagai Ibu Kota Kabupaten Maluku Barat Daya . Salah satu permasalahan krusial pada sektor transportasi di Pulau Moa adalah kondisi jaringan transportasi yang belum baik. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kelancaran kegiatan sosial-ekonomi masyarakat, secara khusus pada sektor ekonomi, yakni mengganggu proses distribusi hasil-hasil produksi pertanian, perikanan dan peternakan masyarakat dari sentra-sentra produksi ke Kota Tiakur sebagai pusat perdagangan dan pasar. Adapun tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah diatas adalah merumuskan dan menganalisis konsep dan strategi pengembangan jaringan transportasi darat dalam meningkatkan ekonomi wilayah di Pulau Moa. Dalam penelitian, data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan metode SWOT, yakni suatu alat analisis untuk menentukan strategi pengembangan Hasil analisis SWOT yang ditunjukkan pada diagram menunjukkan bahwa posisi Pulau Moa berada pada kuadran I atau pada posisi agresif dengan kekuatan yang mampu mengatasi kelemahan serta memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman eksternal. Oleh karena itu, strategi yang harus dikembangkan adalah strategi untuk: (1) menggunakan kekuatan untuk mengatasi kelemahan, (2) memanfaatkan peluang dan (3) meminimalisir ancaman.. Hal ini menunjukan bahwa pengembangan jaringan transportasi darat Kabupaten MBD mempunyai kekuatan dan peluang dengan strategi S-O (Strenght – Opportunity) atau strategi agresif.
MODEL PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI LAUT UNTUK PERJALANAN ANTAR-PULAU PADA RUTE TULEHU – AMAHAI Firda M Sanaky; Stevianus Titaley; Hanok Mandaku
ALE Proceeding Vol 6 (2023): Archipelago Engineering
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.6.2023.62-67

Abstract

Ketidakseimbangan proporsi pilihan moda transportasi laut dapat berdampak baik pada kelancaran pergerakan, kelangsungan usaha maupun resiko kecelakaan akibat muatan lebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proporsi pilihan moda transportasi laut oleh pelaku perjalanan pada rute Tulehu-Amahai di Provinsi Maluku. Metode yang digunakan adalah regresi linear berganda untuk mendapatkan model utilitas dan metode regresi logistik binomial untuk mendapatkan angka proporsi. Variabel yang dimodelkan, adalah: (1) pilihan moda (Y); (2) tarif kapal (X1); (3) waktu perjalanan (X2); dan (3) tingkat kenyamanan (X3). Data diperoleh menggunakan kuesioner dengan teknik stated preference dari 100 responden dan selanjutnya diolah dengan perangkat SPSS. Hasil penelitian menunjukan ketiga faktor tersebut berpengaruh signifikan terhadap keputusan pemilihan moda transportasi laut pada rute Tulehu-Amahai. Sedangkan model persamaan utilitas yang dihasilkan adalah, Y = 0.336 + 6,658x10-5X1+ 0.315X2 + 0.181X3 dengan angka proporsi adalah 88,8% untuk moda kapal cepat dan 11,3% untuk kapal ferry. Hasil ini mengindikasikan bahwa moda kapal cepat masih menjadi favorit pilihan oleh pelaku perjalanan karena memiliki keunggulan pada faktor waktu perjalanan dan tingkat kenyamanan. Untuk itu, pengembangan angkutan penyeberangan penting dilakukan guna meningkatkan aspek waktu perjalanan dan kenyamanan sehingga dapat menjamin proporsi pilihan moda secara berimbang pada rute tersebut.
PERENCANAAN FASILITAS PELABUHAN KAMARIAN UNTUK MENUNJANG PELAYARAN RAKYAT ANTAR-PULAU DI PROVINSI MALUKU Izak R Kakerisa; Pieter Th Berhitu; Hanok Mandaku
ALE Proceeding Vol 6 (2023): Archipelago Engineering
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.6.2023.68-75

Abstract

Pengembangan Pelabuhan Kamarian di Provinsi Maluku sangat penting guna menunjang eksistensi pelayaran rakyat antar-pulau. Namun, pengembangannya membutuhkan investasi dan dukungan informasi tentang arahan pengembangan dan kapasitas setiap fasilitas agar sesuai dengan kebutuhan. Oleh sebab itu, perencanaan yang komprehensif sangat penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pertumbuhan muatan dan kebutuhan fasilitas serta mendesain lay-out Pelabuhan Kamarian. Metode yang digunakan adalah regresi linear untuk peramalan pertumbuhan muatan, standart pelayanan pelabuhan untuk analisis kebutuhan fasilitas dan activity relationship chart (ARC) untuk mendesain tata letak pelabuhan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa untuk 5 tahun mendatang tingkat pertumbuhan muatan mencapai 5,5%/tahun untuk penumpang, 1,2%/tahun untuk kendaraan R-2 dan 1,3%/tahun untuk barang. Berdasarkan data tersebut, dengan beroperasinya 2 unit kapal, maka diperkirakan pada tahun 2026 masing-masing kapal akan mengangkut 47 orang penumpang pergi (LF = 1,56), 38 orang penumpang datang (LF = 1,26), 1 unit motor (LF = 0,33), dan 3,8 ton barang (LF = 7,59). Kondisi tersebut membutuhkan adanya fasilitas dermaga berukuran 32,5 x 1,5 meter; gedung terminal seluas 206 m2; dan areal parkir seluas 96,0 m2. Sedangkan lay-out pelabuhan didesain dengan pendekatan activity relationship chart. Pengembangan Pelabuhan Kamarian diharapkan dapat menunjang pelayaran rakyat antar-pulau di Provinsi Maluku.
Analisis Penerapan Yantek Optimization Terhadap Petugas Pelayanan Teknik PT PLN (Persero) UP3 Masohi Nurtyandi, Carolus Pandega; Mandaku, Hanok; Poceratu, Imelda Ch
ARIKA Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Industrial Engineering Study Program, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/arika.2023.17.2.73

Abstract

PT PLN (Persero) merupakan perusahaan yang memberikan pelayanan kelistrikan, mulai dari membangkitkan tenaga listrik, menyalurkan, mendistribusikan, juga menjaga keandalan pasokan tenaga listrik. Untuk menjaga keandalan pasokan tenaga listrik, PT PLN (Persero) memiliki regu yang dinamai Petugas Pelayanan Teknik (Yantek). Dalam pelaksanaannya, untuk memantau kinerja dari Petugas Yantek, PT PLN (Persero) menyusun program yang bernama Yantek Optimization. Untuk memantau dampak pelaksanaan program pada Petugas Yantek tersebut maka dilakukan analisis program tersebut. Dilakukan pemantauan terhadap hari, jam, dan performa kerja dari masing-masing Petugas Yantek pada UP3 Masohi. Dari hasil pemantauan hari kerja efektif Petugas Pelayanan Teknik yang pada awal pelaksanaan hanya mencapai 50,43% dari shift hari yang telah ditentukan menjadi 100% di periode Desember. Untuk jam kerja efektif Petugas Pelayanan Teknik yang pada awal pelaksanaan hanya mencapai 27,34% dari jam kerja yang telah ditentukan menjadi 100% di periode Desember. Sedangkan performa kerja Petugas Pelayanan Teknik yang pada awal pelaksanaan hanya mencapai 36% dari jam kerja yang telah ditentukan menjadi 100% di periode Desember. Maka disimpulkan bahwa Yantek Optimization telah berjalan baik dan sesuai dengan tujuan yang tunjukan melalui pencapaian Produktivitas rata-rata Petugas Pelayanan Teknik.
PENERAPAN METODE CRITICAL PATH METHOD (CPM) PADA PENJADWALAN REPARASI KAPAL PATROLI XVI 2012 Mandaku, Hanok; Afifudin, M. Thezar; Parera, Gloria C.
Jurnal Mitra Teknik Industri Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal Mitra Teknik Industri
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmti.v3i1.29720

Abstract

Ship repair work at shipyard facilities at the Ship Repair Laboratory, Faculty of Engineering, Pattimura University has not implemented project scheduling methods to optimize performance. Determining the time and scheduling of ship repair work is still done based on experience alone. As a result, time and cost inefficiencies occur which result in low performance, making it difficult for the docking and shipping industry to develop and contribute to the development of the maritime sector. This research aims to optimize the 2012 XVI Patrol Ship repair schedule. The method used in this research is the Critical Path Method (CPM). The object of the research is Patrol Ship XVI 2012. The research results show that the repair work process in existing conditions contains 24 activities and 21 routes which require 50.25 hours of work time. Rescheduling with CPM produces a critical path with 10 activities and 9 paths that require a processing time of 22.5 hours, or there is an efficiency of 44%. These results prove that CPM has succeeded in optimizing ship repair work time. These findings are useful for the Ship Repair Laboratory, Faculty of Engineering, Pattimura University to optimize performance to support the development of Indonesia's maritime sector.