Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Urban

Kajian Kinerja Teras Cihampelas sebagai Ruang Publik Di Kota Bandung Azmia Kayla Ghaida Hasya; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.261 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3794

Abstract

Abstract. The growth of Indonesia’s urban population in the next five years will rapidly increase. The increasing urban’s population affects people's needs, for example, the need of public places. According to Bandung Urban Mobility Project 2031 which contains other Skywalk development plan in Bandung, a study of Teras Cihampelas’s performance is important as a reference to the other development plan. In the early stage of construction, Teras Cihampelas was described as a public space in the form of a modified Skywalk. In addition, this study promotes UN-Habitat Global Agenda, Global Public Space Programme. This study aims to identify the performance of Teras Cihampelas as a public space in Bandung. The methodology of this research is a quantitative approach. The analysis of this research is Importance Performance Analysis (IPA). This research used purposive sampling and accidental sampling methods. The questionnaire was conducted on 100 respondents who meet the criteria as a visitor of Teras Cihampelas or has been visited Teras Cihampelas. According to the analysis result, it obtained which attributes that must be improved by the local government. Those attributes are Parking system, Facilities for disabled people, Clean and quiet public space, Climate-friendly design, Facilities and security systems, Security for vulnerable groups (children and women), and Adaptation to the post-pandemic era. Those attributes have poor performance and don’t meet respondent’s expectations. Abstrak. Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia selama lima tahun mendatang akan semakin meningkat. Peningkatan penduduk sejalan dengan peningkatan kebutuhan, salah satunya peningkatan kebutuhan sarana ruang terbuka publik. Dalam dokumen Urban Mobility Project 2031 dijelaskan bahwa akan ada rencana pembangunan Skywalk di Kota Bandung. Namun, kajian mengenai kinerja Teras Cihampelas dirasa penting sebagai acuan dalam pembangunan selanjutnya. Pada awal pembangunan, Teras Cihampelas dijelaskan sebagai salah satu ruang publik berbentuk Skywalk yang telah dimodifikasi. Kajian ini juga dilakukan dalam rangka mendukung agenda global UN Habitat yaitu Global Public Space Programme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kinerja Teras Cihampelas sebagai Ruang Publik di Kota Bandung. Metodologi adalah Analisis IPA (Importance Perfomance Analysis). Proses pengumpulan data melalui observasi dan kuesioner. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling serta aksidental sampling. Kuesioner dilakukan pada 100 responden dengan kriteria merupakan pengunjung Teras Cihampelas atau pernah berkunjung ke Teras Cihampelas. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kinerja atribut Teras Cihampelas yang menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan menjadi lebih baik yaitu Sistem parkir khusus, Fasilitas kelompok disabilitas, Kebersihan dan Ketenangan, Desain yang mempertimbangkan kondisi iklim, Fasilitas dan sistem keamanan, Keamanan bagi kelompok rentan (Anak-anak dan perempuan), serta Penyesuaian dengan era post-pandemic. Atribut atau elemen tersebut dianggap kinerjanya belum sesuai dengan harapan responden.
Kajian Kualitas Ruang Publik pada Koridor Jalan Braga di Tinjau dari Konsep Livable Street Amanda Nurfauzia; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.879 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3994

Abstract

Abstract. Public space in the form of roads is one of the important elements in an environment and is the most accessible. Roads should not only focus on being a motorized vehicle movement path but can be a place of activity for the surrounding community and provide an identity for an area. Jalan Braga is one of the roads with a strategic location and strong historical characteristics in the city of Bandung. This road is one of the most frequently visited by tourists or residents. This causes a variety of activities that occur on the pedestrian path as well as the hectic movement of traffic. This study aims to determine the quality of the Jalan Braga corridor as a public space in terms of the physical road and non-physical roads or activities formed by identifying their linkages. The method used in this study is a mixed method, with the analysis results obtained from the physical aspect that Jalan Braga is quite safe and comfortable to pass or carry out activities, but has a health value from poor air quality, and is a road that has a regional identity unique and historic. In the non-physical aspect, it is known that necessary activities only require physical criteria from livable streets, namely security, while optional activities and social activities require criteria for comfort, health, and regional identity. Jalan Braga as a whole is dominated by optional and social activities compared to only a few necessary activities. Abstrak. Ruang publik berupa jalan merupakan salah satu elemen penting dalam suatu lingkungan dan paling mudah diakses. Jalan seharusnya tidak hanya berfokus menjadi jalur pergerakan kendaraan bermotor saja, namun dapat menjadi wadah aktivitas bagi masyarakat sekitar serta memberikan identitas pada suatu kawasan. Jalan Braga merupakan salah satu jalan yang memiliki letak strategis dan memiliki karakteristik sejarah yang kuat di Kota Bandung. Jalan ini menjadi salah satu jalan yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan ataupun dilewati oleh penduduk lokal. Hal ini menyebabkan bermacam-macam aktivitas yang terjadi pada jalur pedestrian serta ramainya pergerakan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas koridor Jalan Braga sebagai ruang publik dari segi fisik jalan dan non fisik jalan atau aktivitas yang terbentuk dengan mengidentifikasi keterkaitannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran, dengan hasil analisis yang didapat adalah dari aspek fisik Jalan Braga sudah cukup aman dan nyaman untuk dilewati ataupun melakukan aktivitas, namun memiliki nilai kesehatan dari kualitas udara yang kurang bagus, serta merupakan jalan yang memiliki identitas kawasan unik dan bersejarah. Pada aspek non fisik diketahui bahwa necessary activity hanya membutuhkan kriteria fisik dari livable street yaitu keamanan, sedangkan untuk optional activity dan social activity membutuhkan kriteria kenyamanan, kesehatan dan identitas kawasan. Jalan Braga secara keseluruhan di dominasi oleh optional serta social activity dibandingkan dengan necessary activity yang ditemukan hanya sedikit.
Redesign Taman Ramah Lanjut Usia di Kota Bogor: Studi Kasus: Taman Heulang, Kecamatan Tanah Sareal Teguh nur Ikhsan; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.836 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4094

Abstract

Abstract. The city of Bogor has a number of city parks such as Sempur Park, Malabar Park, Kencana Park, Heulang Park, Hat Park, Warinan Park and other parks. However, every city park in Bogor City has not specifically implemented the concept of an elderly friendly park, especially for the facilities that are needed by the elderly who will visit the park. The purpose of this research is to redesign the existing park by applying the design concept of Taman Heulang as an Elderly Friendly Park in Bogor City, so that it can be used by all age groups by paying attention to the provision of visitor facilities, especially for the elderly. The study approach method used in this study uses an empirical approach. To achieve this goal, the researcher used data collection methods such as observation, documentation, interviews and literature studies. As well as using development needs analysis, component requirements analysis, requirements analysis and program space, analysis of functional relationships and concepts. In this study resulted in recommendations for the 3D design of Taman Heulang with an elderly friendly concept. Abstrak. Kota Bogor memiliki sejumlah taman kota seperti Taman Sempur, Taman Malabar, Taman Kencana, Taman Heulang, Taman Topi, Taman Peranginan dan taman lainnya. Akan tetapi dari setiap taman kota di Kota Bogor ini secara khusus belum menerapkannya konsep taman ramah lansia khususnya pada fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh para lanjut usia yang akan mengunjungi taman tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu, melakukan redesign taman yang sudah ada dengan menerapkan konsep perancangan Taman Heulang sebagai Taman Ramah Lanjut Usia di Kota Bogor, sehingga dapat digunakan oleh semua golongan usia dengan memperhatikan penyediaan fasilitas pengunjung khususnya bagi kaum lanjut usia. Untuk metode pendekatan studi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan empiris. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan metode pengumpulan data seperti observasi, dokumentasi, wawancara dan studi literatur. Serta menggunakan analisis kebutuhan pengembangan, analisis kebutuhan komponen, analisis kebutuhan dan program ruang, analisis hubungan fungsional dan konsep. Dalam penelitian ini menghasilkan rekomendasi desain 3D Taman Heulang dengan konsep ramah lansia.
Kajian Efektivitas Penataan Pedagang Kaki Lima pada Jalur Pedestrian Cicadas, Kota Bandung Muhamad Rizal; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.236 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4143

Abstract

Abstract. The problem of pedestrian facilities in urban areas in Indonesia is a pedestrian need that has not been met, both qualitatively and quantitatively. Pedestrian paths are built to limit human movement and avoid using lanes as a means of transportation. The informal sector activities that we often encounter in urban areas are street vendors, namely small-scale economic activities. To manage and develop the growing number of street vendors, the government issued Bandung City Regulation no. 04 of 2011 concerning the Composition and Guidelines of street vendors. The Bandung City Government revived 602 street vendors stalls on the Cicadas pedestrian area without any eviction efforts. Based on the description above, the authors are interested in raising the title, namely: "Study on the Effectiveness of Structuring Street Vendors on Pedestrian Paths, Jalan Cicadas, Bandung City". So the research question in this study is: "How is the effectiveness of structuring street vendors on the Cicadas pedestrian path based on pedestrian perceptions?". This research was conducted using a combined method of quantitative and qualitative methods (Mix Method Research). With the sampling technique, namely Probality Sampling using Simple Random Sampling, the number of research samples obtained was 100 respondents. Data collection techniques used in this study were questionnaires, interviews, and observations. The data analysis technique used in this research is descriptive analysis technique and validity test analysis technique and reliability test with Likert scale measurement. The results of this study on average indicate that respondents' opinions on the object of research generally state "Not Effective" on the condition of an existing field (Pedestrian Line) in the corridor of Jalan Jenderal Ahmad Yani (Cicadas). Abstrak. Permasalahan fasilitas pejalan kaki di kawasan perkotaan di Indonesia merupakan kebutuhan pejalan kaki yang belum terpenuhi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Jalur pejalan kaki dibangun untuk membatasi pergerakan manusia dan menghindari penggunaan jalur sebagai sarana transportasi. Kegiatan sektor informal yang paling sering kita jumpai di perkotaan adalah PKL, yaitu kegiatan ekonomi skala kecil. Untuk mengelola dan mengembangkan jumlah PKL yang terus bertambah, pemerintah mengeluarkan Peraturan Kota Bandung No. 04 Tahun 2011 tentang Susunan dan Pedoman PKL. Pemerintah Kota Bandung menghidupkan kembali 602 kios PKL di pedestrian Cicadas tanpa ada upaya penggusuran. berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengangkat judul, yaitu: “Kajian Efektivitas Penataan Pedagang Kaki Lima Pada Jalur Pedestrian Cicadas, Kota Bandung”. Maka pertanyaan penelitian dalam kajian ini adalah: “Bagaimana efektivitas penataan Pedagang Kaki Lima pada jalur pedestrian Cicadas didasarkan pada persepsi pejalan kaki?“. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan suatu metode gabungan metode kuantitatif dan metode kualitatif (Mix Method Research). Dengan teknik pengambilan sampel yaitu Probalitiy Sampling dengan menggunakan Simple Random Sampling diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 100 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis deskriptif dan teknik analisis uji validitas dan uji reabilitas dengan pengukuran skala likert. Hasil dari penelitian ini rata-rata menunjukkan bahwa, pendapat responden terhadap objek penelitian pada umumya menyatakan “Tidak Efektif” terhadap kondisi suatu eksisting dilapangan (Jalur Pedestrian) dikoridor jalan Jenderal Ahmad Yani (Cicadas).
Strategi Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh di Kelurahan Cibangkong Berdasarkan Konsep Livable Settlement Tasya Salsha Safarina; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.5803

Abstract

Abstract. The city is the center of government, activities and services which attracts residents to urbanize. An increase in the number of urban population that is not balanced with the increase in urban land can result in the emergence of slums. According to the Decree of the Mayor of Bandung Number: 648/Kep. 1227-DPKP3/2020 concerning Determination of Slum Housing and Slum Housing Locations in the City of Bandung, one of the sub-districts included in the list of slum housing and settlements is Cibangkong Village (RW 01, RW 06, RW 07, RW 10, and RW 12) slums with slum area of ​​49.9 Ha. In order for the house to provide a sense of security, comfort, peace and tranquility for its residents, it is necessary to apply the concept of livable settlement. The research variables used to identify the condition of slum areas are the physical condition of buildings, availability of open spaces, availability of settlement supporting infrastructure, pedestrian paths, range of public facilities, affordability of living costs, public transportation, and the role of stakeholders. The purpose of this study is to formulate a strategy for dealing with slum settlements in Cibangkong Village based on the concept of livable settlement. The approach method used is a mixed method to identify the conditions of slum settlements. The results of this study are strategies for dealing with slum settlements, namely improving the quality and maintenance of basic infrastructure, providing education regarding finance, providing venture capital, and/or skills to open businesses/services in improving people's welfare, establishing collaboration between government, academics, or experts to formulate proper handling. Abstrak. Kota adalah pusat pemerintahan, kegiatan, dan pelayanan yang menjadi daya tarik bagi penduduk untuk melakukan urbanisasi. Pertambahan jumlah penduduk perkotaan yang tidak seimbang dengan bertambahnya lahan perkotaan dapat mengakibatkan munculnya permukiman kumuh. Menurut SK Walikota Bandung Nomor: 648/Kep. 1227-DPKP3/2020 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota Bandung, salah satu kelurahan yang masuk kedalam daftar perumahan dan permukiman kumuh adalah Kelurahan Cibangkong (RW 01, RW 06, RW 07, RW 10, dan RW 12) kumuh dengan luas kumuh 49,9 Ha. Agar rumah dapat memberikan rasa aman, nyaman, damai, dan tentram bagi penghuninya maka diperlukan penerapan konsep livable settlement. Variabel penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi kawasan kumuh yaitu kondisi fisik bangunan, ketersediaan ruang terbuka, ketersediaan prasarana penunjang permukiman, jalur pedestrian, jangkauan pelayanan fasilitas umum, keterjangkauan biaya hidup, transportasi umum, dan peran stakeholder. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merumuskan strategi penaganan permukiman kumuh yang tepat di Kelurahan Cibangkong berdasarkan konsep livable settlement. Metode pendekatan yang digunakan adalah mixed method untuk mengidentifikasi kondisi permukiman kumuh. Hasil dari penelitian ini yaitu strategi penanganan permukiman kumuh diantaranya Peningkatan kualitas dan pemeriharaan infrastruktur dasar, memberikan edukasi mengenai finansial, pemberian modal usaha, dan atau keterampilan untuk membuka usaha/jasa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjalin kolaborasi antara pemerintah, akademisi, atau ahli untuk menyusun penaganan yang tepat.
Analisis Tingkat Kepentingan dan Kinerja Atribut Taman Kota Ciwidey Yang Dipersepsikan Oleh Pengguna Nenna Khoirunnisa; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6218

Abstract

Abstract.There are several problems that exist in Ciwidey City Park, this could potentially lead to uncomfortable conditions for park users, however, judging from the large number of visitors to Ciwidey City Park. It can be assumed that users have high expectations for enjoying public open spaces. This indicates the need for measuring the level of importance (hope/expectation) perceived by users on the performance of Ciwidey City Park attributes. Attributes that are the focus of this research include Comfort, Accessibility, Safety and Meaningful Activity. This research was conducted by identifying existing conditions, identifying the level of importance perceived by users on attribute performance through a mix methods approach, which combines qualitative and quantitative approaches using descriptive analysis and also using Importance Performance Analysis (IPA). Based on the results of the level of importance and performance for the sub-attributes for each attribute in quadrant 1 that needs to be prioritized, because it is considered as a support, but it is not in accordance with user expectations, but if it is related to the results of observations made there are results that are contradictory between the results of IPA with the results of observations with an assessment using regulations. Meanwhile, based on the suitability between the level of importance and performance for all attributes, it is in a condition that is not satisfactory according to user perceptions, so it can be concluded that park users are not satisfied with the performance of the attributes found in Ciwidey City Park. Abstrak.Terdapat beberapa permasalahan yang ada pada Taman Kota Ciwidey yang meliputi permasalahan pengelolaan sampah yang di bakar pada kawasan taman sampai permasalahan aksebilitas pada kawasan taman. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan kondisi tidak nyaman bagi pengguna taman, akan tetapi jika dilihat dari banyaknya pengunjung Taman Kota Ciwidey. Dapat diasumsikan bahwa pengguna memiliki harapan yang cukup tinggi untuk menikmati ruang terbuka publik. Hal ini mengindikasikan perlu adanya pengukuran tingkat kepentingan (harapan/ekspektasi) yang dipersepsikan oleh pengguna terhadap kinerja atribut Taman Kota Ciwidey. Atribut yang menjadi fokus pada penelitan ini meliputi Comfort, Accessbility, Safety dan Meaningfull Activity. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi eksisting, mengidentifikasi tingkat kepentingan (harapan/ ekspektasi) yang dipersepsikan oleh pengguna terhadap kinerja atribut melalui pendekatan mix methohs yaitu menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan juga menggunakan analisis Importance Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil tingkat kepentingan dan kinerja untuk sub atribut pada setiap atribut yang terdapat pada kuadran 1 yang perlu di prioritaskan, karena dianggap sebagai penunjang akan tetapi tidak sesuai dengan harapan pengguna, tetapi jika dikaitkan dengan hasil observasi yang dilakukan terdapat hasil yang bertolak belakang antara hasil analisis IPA dengan hasil observasi dengan penilaian menggunakan peraturan. Sedangkan berdasarkan kesesuaian antara tingkat kepentingan dan kinerja untuk keseluruhan atribut berada pada kondisi yang belum memuaskan menurut persepsi pengguna sehingga dapat disimpulkan bahwa pengguna taman tidak merasa puas terhadap kinerja atribut yang terdapat pada Taman Kota Ciwidey.
Arahan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berdasarkan Tingkat Kenyamanan Termal di Kecamatan Sukajadi Kota Bandung Fadia Anzira Yasmin; Tonny Judiantono; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.7989

Abstract

Abstract. Temperature Humidity Index (THI) is an indicator that can determine the level of thermal comfort in which the sensation of thermal comfort is received by people in an urban area. The situation and atmosphere in Sukajadi District can be said to lack climate control media, so that when the temperature is high it will feel very hot and arid. The existing green open space in Sukajadi District is only available for 2.7% of the total area which is due to limited land and space. The temperature in Sukajadi District is at an average temperature of 27.8°C – 30.5°C. The purpose of this study is to provide directions and recommendations for the development of green open space to achieve thermal comfort standards in Sukajadi District. The methods used are Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Urban Heat Island (UHI), Temperature Humidity Index (THI), calculation of green open space needs based on THI, and formulation of green open space development directions using a qualitative descriptive method. The results of this study are that Sukajadi District has a THI value of 25-29, belonging to two classes, namely some are uncomfortable and some are uncomfortable. Provision of green open space to achieve thermal comfort of 43.03 Ha. There are alternative ways to obtain land that has the potential to become green open space, namely land consolidation and acquisition of private green open space by planting vegetation that can reduce temperature and protect from sun exposure. Abstrak. Temperature Humidity Index (THI) merupakan suatu indikator yang dapat menentukan tingkat kenyamanan termal yang dimana sensasi dari kenyamanan termal diterima oleh masyarakat di suatu wilayah perkotaan. Keadaan dan suasana di Kecamatan Sukajadi bisa dikatakan kurang adanya media pengatur iklim, sehingga di kala suhu sedang tinggi akan dirasa sangat panas dan gersang. RTH eksisting yang ada pada Kecamatan Sukajadi hanya tersedia sebesar 2,7 % dari luas wilayah yang dimana luas wilayah akibat keterbatasan lahan dan ruang. Suhu di Kecamatan Sukajadi berada pada rata – rata suhu sebesar 27,8°C – 30,5°C. Tujuan penelitian ini yaitu memberikan arahan dan rekomendasi pengembangan RTH untuk mencapai standar kenyamanan termal di Kecamatan Sukajadi. Metode yang digunakan yaitu Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Urban Heat Island (UHI), Temperature Humidity Index (THI), perhitungan kebutuhan RTH berdasarkan THI, dan perumusan arahan pengembangan RTH dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu Kecamatan Sukajadi memiliki nilai THI sebesar 25-29, termasuk ke dalam dua kelas yaitu sebagian tidak nyaman dan tidak nyaman. Penyediaan RTH untuk mencapai kenyamanan temal sebesar 43,03 Ha. Terdapat cara alternatif untuk mendapatkan lahan yang berpotensi menjadi RTH yaitu konsolidasi lahan dan akuisisi RTH privat dengan dilakukan penanaman vegetasi yang dapat mereduksi suhu dan melindungi dari paparan sinar matahari.
Identifikasi Ruang Komunal pada Permukiman Padat Penduduk Sherly Defannya Serdani; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8244

Abstract

Abstract. Cicadas Subdistrict is one of the densely populated in the center of Bandung City. One of the RW's is a TNI AD housing complex with limited access. Limited land causes this area to not have sufficient communal space as a means of community interaction. The purpose of this research is to identify communal spaces in dense settlements in Cicadas Subdistrict. This study uses an empirical and spatial approach that is used to get an overview of current conditions in identifying communal spaces in densely populated settlements in Cicadas Subdistrict. The analysis in this study uses empirical quantitative analysis to determine the location of communal and spatial spaces by mapping the distribution of communal spaces using ArcGIS software. To obtain data, a primary survey and a secondary survey were carried out, from the results of the identification of the distribution of communal spaces in Cicadas Subdistict, it is known that communal spaces in Cicadas Subdistict consist of 7 RW halls, 1 Buruan Sae, 13 street points/alleys, 1 subdistrict office, 4 fields, 1 madrasah, 11 mosques, 3 security posts, 2 posts, 3 posyandu, 1 resident's house, 2 parks, and 2 stalls spread across almost all RW's. The majority of these communal spaces are communal spaces that are not planned as communal spaces such as houses, alleys, fields and parks that are not functioning properly, especially places that are very close to residential areas with informal activities and a very frequent frequency. The limited land available also gives rise to unique communal spaces, such as "Hati - Hati". Abstrak. Kelurahan Cicadas merupakan salah satu kelurahan padat penduduk yang berada di tengah Kota Bandung. Salah satu RW di Kelurahan ini merupakan komplek perumahan TNI AD yang aksesnya terbatas. Terbatasnya lahan menjadikan kawasan ini tidak memiliki cukup ruang komunal sebagai sarana interaksi masyarakat. Tujuan penelitian ini ialah mengidentifikasi ruang-ruang komunal pada permukiman padat di Kelurahan Cicadas. Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris dan spasial yang digunakan untuk mendapatkan gambaran kondisi saat ini dalam mengidentifikasi ruang-ruang komunal pada permukiman padat penduduk Kelurahan Cicadas. Adapun analisis pada penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif empiris untuk mengetahui letak ruang-ruang komunal dan spasial dengan memetakan sebaran ruang-ruang komunal menggunakan software ArcGIS. Untuk memperoleh data dilakukan dengan survey primer dan survey sekunder. Dari hasil identifikasi sebaran ruang komunal di Kelurahan Cicadas, didapatkan hasil bahwa ruang komunal di Kelurahan Cicadas terdiri dari 7 balai RW, 1 Buruan Sae, 13 titik jalan/gang, 1 kantor kelurahan, 4 lapangan, 1 madrasah, 11 masjid, 3 pos kamling, 2 pos merokok, 3 posyandu, 1 rumah warga, 2 taman, dan 2 warung yang tersebar hampir di seluruh RW Kelurahan Cicadas. Mayoritas ruang-ruang komunal tersebut merupakan ruang-ruang komunal yang tidak direncanakan sebagai ruang komunal seperti rumah warga, gang, lapangan dan taman yang tidak difungsikan sebagaimana mestinya, terutama tempat-tempat yang sangat dekat dengan hunian dengan sifat kegiatan informal dan dengan frekuensi yang sangat sering. Keterbatasan lahan yang ada juga memunculkan ruang – ruang komunal yang unik, seperti “Hati – Hati”.
Analisis Tingkat Kekumuhan Permukiman Kelurahan Pelindung Hewan Kecamatan Astana Anyar Muhammad Fauzan Rizkiatama Syam; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8842

Abstract

Abstract. Slum settlements are one of the problems that occur in urban areas as a result of weak government oversight of spatial planning policies, high population growth, low economic levels and people's indifference to regional spatial planning. The Pelindung Hewan Village is one example of a village in the city of Bandung which is included in the priority for handling slum areas based on the Decree of the Mayor of Bandung Number 648/Kep.1227-DPKP3/2020 with the specific areas being in RW 05, RW 06 and RW 08. This research aims to know the level of slums in priority slum areas in the Pelindung Hewan. The analytical method used is quantitative with an analysis of scoring system based on the PUPR Ministerial Regulation No. 14 of 2018 to determine strategic directions. The results showed that the slum level in RW 05 and RW 06 was at the moderate slum level, with high legal land status and other considerations, while for RW 08 it was included in the low slum level with high legal land status and other considerations. Abstrak. Permukiman kumuh (slum) merupakan salah satu masalah yang terjadi dalam wilayah perkotaan akibat dari lemahnya pengawasan pemerintah terhadap kebijakan pengawasan tata ruang, pertumbuhan penduduk yang tinggi, tingkat perekonomian yang rendah serta ketidakpedulian masyarakat terhadap tata ruang kawasan. Kelurahan Pelindung Hewan adalah salah satu contoh kelurahan di Kota Bandung yang termasuk kedalam prioritas penanganan kawasan kumuh berdasarkan SK Walikota Bandung Nomor 648/Kep.1227-DPKP3/2020 dengan spesifik kawasannya berada di RW 05, RW 06 dan RW 08. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekumuhan kawasan prioritas kumuh di Kelurahan Pelindung Hewan. Metoda analisis yang digunakan adalah kuantitatif dengan analisis nilai pembobotan berdasarkan pada variabel Permen PUPR No 14 Tahun 2018 untuk menetukan arahan strategi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kekumuhan pada RW 05 dan RW 06 termasuk pada tingkat kumuh sedang, dengan status lahan legal, dan pertimbangan lain tinggi, sedangkan untuk RW 08 termasuk pada tingkat kumuh rendah dengan status lahan legal dan pertimbangan lain tinggi.
Strategi Pengembangan Ekowisata Desa Cikole Ajang Nurdiansyah Faudjan; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9051

Abstract

Abstract. This research aims to describe the ecotourism development strategy in Cikole Village and provide recommendations for tourism development in the area. Cikole Village, located in a protected area, possesses diverse flora and fauna, as well as natural beauty adorned with pine trees that attract tourists. The research utilizes a descriptive approach, involving data collection on the current state of ecotourism in Cikole Village. Data is gathered through direct observation, interviews with local residents, and literature review related to ecotourism development. SWOT analysis is employed as the analytical method in this research. SWOT analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) helps identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats associated with ecotourism development in Cikole Village. The analysis results provide a better understanding of the current conditions and the potential for ecotourism development in the village. Based on the analysis results and the obtained understanding, recommendations for tourism development as an ecotourism area in Cikole Village can be identified. These recommendations encompass concrete steps that can be taken to leverage the natural potential and beauty of Cikole Village, as well as involve the local community in sustainable tourism development efforts. This research is expected to provide useful guidance for the government, stakeholders, and the local community in developing ecotourism in Cikole Village. By implementing appropriate development strategies and involving all stakeholders, it is hoped that tourism in Cikole Village can grow sustainably, provide economic benefits to the local community, and maintain the preservation of nature and the uniqueness of the local culture. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi pengembangan ekowisata di Desa Cikole serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan pariwisata di kawasan tersebut. Desa Cikole, yang terletak di kawasan Lindung, memiliki kekayaan flora dan fauna yang beragam, serta keindahan alam yang dihiasi oleh pepohonan pinus yang menarik minat wisatawan. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yang melibatkan pengumpulan data tentang keadaan ekowisata di Desa Cikole. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan penduduk setempat, dan studi pustaka terkait dengan pengembangan ekowisata. Analisis SWOT digunakan sebagai metode analisis dalam penelitian ini. Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) membantu mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terkait dengan pengembangan ekowisata di Desa Cikole. Hasil analisis ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi saat ini dan potensi pengembangan ekowisata di desa tersebut. Berdasarkan hasil analisis dan pemahaman yang diperoleh, rekomendasi pengembangan pariwisata sebagai kawasan ekowisata di Desa Cikole dapat diidentifikasi. Rekomendasi ini mencakup langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk memanfaatkan potensi alam dan keindahan Desa Cikole, serta melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan yang berguna bagi pemerintah, pihak terkait, dan masyarakat lokal dalam mengembangkan ekowisata di Desa Cikole. Dengan mengimplementasikan strategi pengembangan yang tepat dan melibatkan semua pemangku kepentingan, diharapkan pariwisata di Desa Cikole dapat berkembang secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, dan tetap menjaga kelestarian alam serta keunikan budaya setempat