Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Ekonomi Budidaya Kentang pada Sistem Guludan Horizontal dengan Interval Saluran Drainase Tertentu dan Variasi Pemupukan Krissandi Wijaya; Hety Handayani Hidayat; Dian Novitasari; Reza Alif Indrianto
National Multidisciplinary Sciences Vol. 2 No. 3 (2023): Proceeding SEMARTANI 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/nms.v2i3.273

Abstract

Budidaya kentang konvensional dengan sistem guludan vertikal (searah lereng), disertai penggunaan pupuk/pestisida kimia yang intensif berdampak terhadap degrasi lahan (erosi tanah) dan lingkungan sekitarnya (sedimentasi dan pecemaran daerah aliran sungai/DAS) secara signifikan. Disisi lain, penerapan sistem guludan horizontal (searah kontur) terbukti sangat efektif mengurangi erosi tanah dan menahan penurunan produktivitas kentang yang drastis, terutama jika dikombinasikan dengan saluran drainase. Namun, tingkat kelayakan budidaya tersebut berbasis analisis ekonomi yang komprehensif masih belum banyak terdokumentasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kalayakan secara ekonomi untuk budidaya kentang pada sistem guludan horizontal dengan interval saluran drainse tertentu dan variasi jenis-dosis pemupukan. Total 4 demplot penelitian (@8 guludan horizontal, @40 cm lebar, @2 m interval saluran drainase secara zigzag, @10 tanaman=80 tanaman) disiapkan di lahan yang berlokasi di Desa Serang, Purbalingga dan dirancang secara RAL untuk perlakuan 4 jenis-dosis pupuk yang berbeda, yaitu: (1) pupuk kandang+pupuk bersubsidi urea-ponska, 125kg/ha (D1), (2) pupuk kandang+pupuk non-subsidi NSL-nitrea, 41,67kg/ha (D2), (3) pupuk kandang+pupuk non-subsidi NSL-nitrea, 83,33kg/ha (D3), dan (4) pupuk kandang+pupuk non-subsidi NSL-nitrea, 125kg/ha (D4). Berbagai biaya faktor produksi (biaya tetap: lahan/tanah; biaya variable: berbagai bahan dan alat/perangkat), harga jual produk, biaya/harga terkait lainnya didata dan dikumpulkan per demplot selama satu musim budidaya kentang. Analisis data meliputi analisis TFC, TVC, NP, BEP, ROI, B/C Ratio, dan I. Hasil penelitian menujukkan bahwa D2 adalah perlakuan yang memiliki tingkat kelayakan yang paling baik secara ekonomi, dimana dengan TFC=Rp.150.000,00 dan TVC=Rp.30.233.020,00, tercapai nilai NP=Rp.2.925.522,00, BEP=191,43kg; Rp.7.741/kg, ROI=0,10, B/C Ratio=1,10, dan I=Rp.1.822.981,00/tahun.
Pengembangan Identitas Visual dan Strategi Branding Produk Gula Semut “Sekar Sari” sebagai Produk Unggulan Desa Pernasidi Menuju Pasar Premium Miftahol Arifin; Nabila Noor Qisthani; Dian Novitasari; Aswan Munang
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v5i2.6878

Abstract

The increasing demand for natural and healthy sweeteners has positioned coconut sugar as a high-value commodity, particularly within the premium market segment. However, coconut sugar producers in Pernasidi Village, Banyumas Regency, still face significant challenges in terms of branding and packaging design, limiting their access to modern markets. This community service program aims to develop the visual identity and branding strategy of the “Sekar Sari” coconut sugar product as a leading village product ready to compete in premium markets. The method employed is a participatory co-design approach, involving field observations, exploration of local brand values, interviews with stakeholders, and collaborative design workshops with local producers. The program has resulted in a professional logo, an authentic brand narrative, and eco-friendly packaging design, all of which have been directly implemented in product production and promotion activities. Initial outcomes show an improvement in market perception of the product’s image, increased partner satisfaction with the new presentation, and the producers’ readiness to enter retail and digital sales channels. Beyond its visual impact, this branding process has also fostered a sense of ownership and pride among community members toward their local product. It is concluded that strategic branding, developed through inclusive and contextual methods, can serve as a key driver for economic transformation in rural areas through local product empowerment