Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Variations of Marine Debris In Manado Bay and its environs Andakke, Jeszy Novianti; Tarya, Ayi
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.40841

Abstract

Nowadays, Indonesia is facing an increasing crisis of debris pollution. Through rivers, city drainage, marine activities, and tourists, garbage can enter the sea. The existence of this debris is a new threat that has a terrible impact on the marine ecosystem and the socio-economic sustainability of the community. Based on this, the Government of Indonesia has issued a regulation in Presidential Regulation no. 83 of 2018 concerning Marine Debris Management. One of the achievement points is the compilation of baseline data and publication of marine debris in all coastal areas of Indonesia every year. This study aimed to identify the types of marine debris found in macro and meso sizes and to analyze the composition and density of marine debris on the coast of Manado Bay and its environs during ebb and flood tide. Sampling was carried out on five beaches in Manado Bay and its environs using the Marine Debris Monitoring Guidelines by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) 2020. Based on the data collection, it was found that nine types of marine waste materials and types of plastic waste were the most dominant types of waste found (about 70-86%). Of the five research sites, Sindulang Beach is the location with the highest solid waste density of 8.28 items/m2 (during flood tide) and 15.31 items/m2 (during ebb tide). Overall, the amount of marine debris found during ebb tide conditions was more than during flood tide conditions, and the amount of macro-sized trash was more than meso-size. White and transparent colors were the dominant color.Keywords: Composition; Density; Macro and Meso-Marine debris; Manado Bay; Color of debrisAbstrakSaat ini Indonesia sedang menghadapi krisis pencemaran sampah yang kian meningkat Sampah dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas laut maupun dari para wisatawan Keberadaan sampah tersebut menjadi ancaman baru yang sangat berdampak buruk terhadap ekosistem laut dan keberlangsungan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan suatu regulasi dalam Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Salah satu poin capaiannya yaitu tersusunnya baseline data dan publikasi sampah laut di seluruh wilayah pesisir Indonesia setiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis sampah laut ukuran makro dan ukuran meso yang ditemukan dan menganalisis komposisi serta kepadatan sampah laut di pesisir Teluk Manado dan sekitarnya saat kondisi pasang dan surut. Pengambilang sampel dilakukan pada 5 pantai di Teluk Manado dan Sekitarnya dengan menggunakan Pedoman Pemantauan Sampah Laut oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tahun 2020. Berdasarkan hasil pendataan, didapatkan 9 jenis bahan sampah laut dan jenis sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling dominan ditemukan (sekitar 70-86%). Dari kelima lokasi penelitian, Pantai Sindulang merupakan lokasi dengan kepadatan sampah tertinggi yaitu sebesar 8,28 item/m2 (saat kondisi pasang) dan 15,31 item/m2 (saat kondisi surut). Secara keseluruhan, jumlah sampah laut yang ditemukan saat kondisi surut lebih banyak dibanding saat kondisi pasang dan jumlah sampah ukuran makro lebih banyak dibandingkan sampah ukuran meso. Warna putih dan bening merupakan warna sampah yang dominan.Kata kunci: Kepadatan; Komposisi; Sampah laut makro dan meso; Teluk Manado; Warna sampah.
Surface Thermal Front Persistence in Malacca Strait Lukman, Annisa Aulia; Tarya, Ayi; Pranowo, Widodo Setiyo
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.40879

Abstract

The Malacca strait is an essential seaway for international sea traffic and a provider of biological and non-biological resources. This strait has dynamic conditions resulting from the interaction between the Indian Ocean in the north and the Pacific Ocean in the south. The characteristic of the thermal front is the strait dynamics that have not been studied comprehensively. This research aims to map and identify the spatial and temporal pattern of the thermal front in Malacca Strait. The data used are sea surface temperature of AquaMODIS level 3 satellite images and bathymetry data of Malacca Strait, Ocean Nino Index (ONI), and Dipole Mode Index (DMI). The sea surface temperature data were processed from 2010 to 2020 using the Single Edge Image Detection (SIED) method. This research denotes the thermal front phenomenon found with several variations in each season. The highest (lowest) number of thermal fronts was discovered in the east season (first transitional season). The total number of thermal fronts each year happened to be maximum in 2015 and minimum in 2019. Annual variability (ENSO and IOD) impacts the number of thermal front events, but the observation period has to be explicitly adjusted in the analysis needed. Persistent thermal fronts in the Malacca Strait occurred in 1-5 repetitions at the exact location. Thermal fronts are commonly found in the northern region of the strait and areas with significant depth changes.Keywords: Malacca Strait; sea surface temperature; thermal front.AbstrakSelat Malaka terkenal sebagai perairan penting dalam lalu lintas laut internasional serta penyedia sumber daya hayati dan non hayati. Perairan ini juga memiliki kondisi yang dinamis sebagai hasil interaksi antara Samudera Hindia di bagian utara serta Samudera Pasifik di bagian selatan selat. Dinamika perairan yang belum dikaji secara komprehensif di perairan ini adalah karakteristik thermal front. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah memetakan secara spasial dan temporal kejadian thermal front di perairan Selat Malaka serta menganalisis karakteristik dari thermal front yang dipetakan tersebut. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data suhu permukaan laut citra satelit AquaMODIS level 3, data batimetri Selat Malaka, serta data Ocean Nino Index (ONI) dan Dipole Mode Index (DMI). Metode Single Edge Image Detection (SIED) digunakan untuk mengolah data suhu permukaan laut pada periode pengamatan tahun 2010 hingga 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di perairan Selat Malaka dapat ditemukan thermal front dengan jumlah variatif setiap musim. Jumlah thermal front tertinggi ditemukan pada musim timur dan terendah pada musim peralihan 1. Jumlah total thermal front setiap tahun ditemukan maksimum pada tahun 2015 dan minimum pada tahun 2019. Variabilitas annual (ENSO dan IOD) memberikan dampak terhadap jumlah kejadian thermal front, namun untuk kebutuhan analisis perlu disesuaikan terhadap periode pengamatan dari variabilitas tersebut. Thermal front persisten di Selat Malaka dapat terjadi pada rentang 1-5 kali pengulangan pada lokasi yang sama. Lokasi thermal front persisten lebih sering terjadi di wilayah utara selat dan/atau pada wilayah dengan perubahan kedalaman yang signifikan.Kata kunci: Selat Malaka, suhu permukaan laut, thermal front.