Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Stunting Determinant on Toddler Age of 12–24 Months in Singaparna Public Health Center Tasikmalaya Regency Erwina Sumartini; Dida Akhmad Gurnida; Eddy Fadlyana; Hadi Susiarno; Kusnandi Rusmil; Jusuf Sulaeman Effendi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.562 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i3.3673

Abstract

Stunting is a physical growth failure condition signed by height based on age under −2SD. The research goal is knowing the dominant factor associated with stunting on toddler age of 12–24 months in the working area of Singaparna Public Health Center Tasikmalaya regency. The research applies to the cross-sectional design of gender, weight, exclusive breastfeeding history, completeness immunization, and clinically healthy variables, while case-control is for nutrition intake variable. The sample was a total sampling of 376 toddlers, then 30 for case and control group with the simple random method from December 2017 to February 2018. The instrument is a questionnaire, food frequency questionnaire (FFQ), and infantometer. Data analyzed in several ways; univariable, bivariable with chi-square, and multivariable with logistic regression. Research result shows stunting prevalence was 22.5%, next pertain factor of stunting are gender (POR=0.564, 95% CI=0.339–0.937, p value=0.011), exclusive breastfeeding giving history (POR=1.46, 95% CI=1.00–2.14, p value=0.046), and clinically health (POR=1.47, 95% CI=1.00–2.16, p value=0.044). Moreover, dominant factor were gender (OR=0.56, 95% CI=0.339–0.937, p value=0.027) and clinically health (OR=1.68, 95% CI=1.022–2.771, p value=0.041). Thus, gender and clinical health are stunting determinant factors. Children’s health should increase to create maximum growth. DETERMINAN STUNTING PADA ANAK USIA 12–24 BULAN DI PUSKESMAS SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYAStunting merupakan kondisi kegagalan pertumbuhan fisik yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia berada di bawah −2SD. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor determinan stunting pada anak usia 12–24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian menggunakan desain cross-sectional untuk variabel jenis kelamin, berat badan lahir, riwayat ASI eksklusif, kelengkapan imunisasi, dan  sehat secara klinis, sedangkan desain case-control untuk variabel asupan nutrisi. Pengambilan sampel secara total sampling sejumlah 376 anak, selanjutnya diambil 30 anak untuk kelompok kasus dan kontrol dengan metode random sederhana periode Desember 2017 hingga Februari 2018. Instrumen menggunakan kuesioner, food frequency questionaire (FFQ), dan infantometer. Analisis data dilakukan secara univariabel, bivariabel dengan chi-square, dan multivariabel dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 22,6%, faktor yang berhubungan dengan stunting di antaranya jenis kelamin (POR=0,564; IK95%=0,339–0,937; p=0,011), riwayat pemberian ASI eksklusif (POR=1,46; IK95%=1,00–2,14, p=0,046), dan sehat secara klinis (POR=1,47; IK95%=1,00–2,16; p=0,044). Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting adalah jenis kelamin (OR=0,56; IK95%=0,339–0,937; p=0,027) dan sehat secara klinis (OR=1,68; IK95%=1,022–2,771; p=0,041). Jenis kelamin dan sehat secara klinis merupakan faktor determinan stunting. Kesehatan anak perlu ditingkatkan untuk menciptakan pertumbuhan anak yang maksimal.
HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU SANITASI DALAM PENCEGAHAN STUNTING PADA IBU BALITA Rifki Wiratama; Erwina Sumartini
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.15372

Abstract

Stunting pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan dapat berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang berpotensi mempengaruhi kejadian stunting adalah perilaku sanitasi lingkungan dalam keluarga, yang melibatkan pengetahuan dan praktik yang tepat terkait dengan kebersihan lingkungan. Tujuan penlitian ini untuk mengetahui pengetahuan terhadap perilaku sanitasi dalam pencegahan stunting pada ibu balita. Penelitian ini menggunakan desain penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional.populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi 0-60 bulan di RW 01 RT 01 Desa Sukamulaya, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, provinsi Jawa Barat. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 0-60 bulan sebanyak 15 responden. teknik pengambilan sampel ini menggunakan Total Sampling dengan uji spearman . Hasil penelitian ini terhadap hubungan pengetahuan dengan sanitasi lingkungan dalam pencegahan stunting pada ibu balita dengan nilai sig 2 tailed 0.008 (<0.05), Koefisien Korelasi Nilaisebesar 0.657 maka diartikan tingkat hubungan kedua variabel pengetahuan dengan perilaku sanitasi memiliki hubungan yang kuat. Dengan adanya peneltian diharapkan ibu yang memiliki anak selalu menjaga kebersihan lingkungan, pola makanan, asuh, dan perilaku sanitasi untuk pencegahan stunting pada anak.
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU BALITA MENGENAI PERBAIKAN POLA MAKAN, POLA ASUH DAN SANITASI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Erwina Sumartini; Rifki Wiratama; Meilani Utami Putri Lase
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.15007

Abstract

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2019 angka stunting di Indonesia yaitu 27,7% dan mengalami penurunan pada tahun 2021 menjadi 24,4% dan tahun 2022 menjadi 21,6%. Topik ini dipilih karena stunting pada balita merupakan masalah kesehatan yang serius dan memiliki dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pengetahuan yang kurang dan praktik yang tidak tepat mengenai pola makan, pola asuh, dan sanitasi dapat menjadi faktor risiko stunting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita mengenai perbaikan pola makan, pola asuh, dan sanitasi sebagai upaya pencegahan stunting. Metode pengabdian masyarakat yang digunakan adalah pendekatan pendidikan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu balita melalui ceramah, diskusi kelompok, demonstrasi praktik, dan pemberian materi tertulis. Penyuluhan ini dilakukan RT 01 RW 05 Singaparna, Jawa Barat. Hasil pengabdian ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan ibu balita mengenai perbaikan pola makan, pola asuh, dan sanitasi. Ibu balita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya nutrisi yang seimbang, praktik pemberian makan yang benar, serta praktik sanitasi yang tepat. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan ini, ibu balita mampu mengadopsi praktik-praktik yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal pada balita, serta mencegah terjadinya stunting. Kesimpulannya, peningkatan pengetahuan ibu balita mengenai perbaikan pola makan, pola asuh, dan sanitasi sebagai upaya pencegahan stunting melalui kegiatan penyuluhan memiliki dampak yang positif. Dengan adanya peningkatan pengetahuan ini, diharapkan dapat mengurangi angka stunting pada balita dan meningkatkan kualitas hidup mereka
STUDI KASUS PADA BAYI STUNTING USIA 6-12 BULAN DI DESA SINGAPARNA WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINGAPARNA TAHUN 2019 Rita Ayu Ayu; Erwina Sumartini
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 11 No. 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v11i2.297

Abstract

Stunting merupakan manifestasi kegagalan pertumbuhan (growth faltering) yang dimulai sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Kasus stunting di provinsi Jawa Barat sendiri dari hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2015 mencapai 31.4% dari anak usia 0-2 tahun. Tingginya kasus stunting ini berdampak pada munculnya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi yang kronis (Bastiandy, 2018). Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan yang studi kasus, dimana pada penelitian ini mengkaji kasus bayi dengan stunting secara ekploratif, Subjek dalam penelitian ini adalah bayi usia 6-12 bulan yang mengalami stunting Hasil penelitian adalah gambaran penegakkan diagnosa pada bayi stunting di Desa Singaparna Wilayah Kerja Puskesmas Singaparna yaitu dilihat pada Subjek 1 nilai Z-skor yaitu -2,19 SD, sedangkan pada Subjek 2 dari hasil perhitungan koreksi usia termasuk pada perawakan normal (tidak stunting). Faktor pranatal pada bayi stunting pada Subjek 1 disebabkan oleh ibu mengalami anemia ringan (Hb : 9,8 gr/dL). Faktor pascanatal pada bayi stunting pada Subjek 1 dapat disebabkan karena tidak diberikan ASI eksklusif dan pemberian imunisasi dasar tidak lengkap. Komplikasi pada bayi stunting pada Subjek 1 mengalami gangguan pada motorik kasar. Penanganan pada bayi stunting belum dilakukan secara optimal. Sebaiknya ibu memberikan asupan nutrisi pada bayi melalui pemberian ASI ekslusif dan MP ASI, memberikan imunisasi secara lengkap, Vit. A, Zink, obat cacing untuk penanganan bayi stunting. Ibu yang memiliki bayi disarankan dapat menstimulasi secara penuh untuk meningkatkan perkembangan motorik halus, kasar, sosial dan bahasa pada bayi stunting
HUBUNGAN ANTARA INISIASI MENYUSU DINI DENGAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DI DESA SINGASARI KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2018 Erwina Sumartini; Nurul Herawati
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i2.340

Abstract

Menurut data Riskesdas 2013, persentase nasional proses mulai menyusu kurang dari satu jam (IMD) setelah bayi lahir adalah 34,5 %. Persentase di Jawa Barat untuk proses mulai menyusu kurang dari satu jam (IMD) setelah bayi lahir adalah 29,0 %; masih jauh dari angka persentase nasional. Persentase IMD di Kecamatan Singaparna adalah 28,5% (Dinkes Tasikmalaya, 2017); juga masih jauh dari angka persentase nasional, sehingga menyebabkan penulis untuk melakukan penelitian mengenai hubungan IMD dengan pemberian ASI eksklusif di Singaparna.Jenis penelitian ini adalah observasional analitik pendekatan kasus kontrol study, melalui angket dan pengukuran. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik non probability samplingyaitu pengambilan sampel bukan secara acak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu sebanyak 50 responden dengan populasi semua ibu menyusui di Desa Singasari di Kecamatan. Alat ukur yang digunakana pada penelitian ini yaitu wawancara terpimpin, angket dan pengukuran. Pada penelitian ini penliti mengguankan 2 analisa data yaitu, univariat dan bivariate. dapat diketahui bahwa ada hubungan antara inisiasi menyusu dini dengan asi ekslusif (p kurang dari 0,05).
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2017 Hariyani Sulistyoningsih; annisa Rahmidini; Fenty Agustini; Hapi Apriasih; erwina sumartini; Lia Yuliastuti
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.134

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia adalah keadaan gizi yang kurang baik bahkan buruk. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal settiap tahun akibat buruknya kualitas nutrisi. Sebuah riset juga menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena kekurangan gizi serta buruknya kualitas makanan. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 54 persen kematian anak disebabkan oleh karena keadaan gizi yang buruk. Sementara masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak (WHO, 2011). Status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berfikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10 persen. Keadaan ini memberi petunjuk bahwa pada hakikatnya gizi yang buruk atau kurang akan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia. Gizi buruk masih menjadi salah satu masalah di Kabupaten Tasikmalaya, pada tahun 2016 jumlah kasus gizi buruk berjumlah 63 kasus, sementara tahun 2017 turun menjadi 41 kasus. Kasus ini dari tahun ke tahun mengalami penurunan, akan tetapi permasalahan gizi kurang masih menjadi masalah nasional yang perlu penanganan serius. Berdasarkan data yang didapat dari profil Puskesmas Singaparna tahun 2016 didapatkan bahwa kasus gizi buruk di Kecamatan Singaparna berjumlah 5 orang. STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Pemantauan Tumbuh Kembang Balita sebagai upaya peningkatan status gizi untuk dapat membantu terwujudnya kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan status gizi secara khususnya.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMBENTUKAN KADER TANGGAP STUNTING SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN STUNTING DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 Sinta Fitriani; Hariyani Sulistyoningsih; Erwina Sumartini; Ade Rahmat; amalia siti zahra; agung NN; MUHAMMAD JAMALUDIN; Risma n; nina Nurjanah
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i02.287

Abstract

Latar belakang program ini adalah Stunting (kerdil) merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. (Kemenkes RI : 2018)Pada tahun 2018, ditetapkan 100 kabupaten di 34 provinsi sebagai lokasi prioritas penurunan stunting. Jumlah ini akan bertambah sebanyak 60 kabupaten pada tahun berikutnya. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini diharapkan dapat menekan angka stunting di Indonesia sehingga dapat tercapai target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2025 yaitu penurunan angka stunting hingga 40%.Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya didapatkan bahwa wilayah Kecamatan Singaparna merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi stunting pada bulan Februari tahun 2019 yaitu sebanyak 136 balita dengan status gizi sangat pendek dan 444 balita dengan status pendek. Dari 5 Desa Cikunir prevalensi kejadian stunting paling tinggi dengan 26 balita dengan status gizi sangat pendek dan 113 balita dengan ststus gizi pendek. Potensi kegiatan pemberdayaan di wilayah Desa Cikunir sangat besar, hal ini dikarenakan Pemerintahan Desa Cikunir sangat kooperatif dan focus pada kegiatan kesehatan salah satunya adalah issue stunting dan ODF. Dalam kegiatan Kabupaten sehat Bupati Tasikmalaya14menyampaikan lokasi khusus untuk permsalahan stunting adalah wilayah Kecamatan Singaparna. Selain itu potensi lain yang memungkinkan untuk dapat menjadi pendukung program adalah ketersediaan kader aktifyang terdistribusi di 12 posyandu.Dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak Jangka Pendek meliputi Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian; Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal, pada anak tidak optimal; dan peningkatan biaya kesehatan. Dampak Jangka Panjangyang timbul : Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya); Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya; Menurunnya kesehatan reproduksi; Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah; dan Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.Dalam penanganan stunting, Pemerintah Indonesia merumuskan 5 pilar penanganan stunting. Pada Pilar ke 4 berisi tentang Mendorong Kebijakan Akses Pangan Bergizi; Dalam rangka intervensi penanganan stunting di 2018, disasar 100 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pun terlibat aktif dalam upaya menekan angka stunting. Ragam penanganan stunting yang berhubungan dengan intervensi spesifik dan sensitif terkait stunting terwadahi lewat Peraturan Menteri Desa tentang Pemanfaatan Dana Desa. Lewat peraturan yang dikeluarkan tersebut, Warga Desa bisa terlibat aktif menghadirkan aneka kegiatan yang berhubungan upaya penanganan stunting. Kehadiran Dana Desa telah membangun 6.041 Pondok Bersalin Desa (Polindes), penyediaan 32.711unit air bersih, 82.356 unit sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Berhasil pula membangun 13.973 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), 21.357 unit bangunan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).Berdasarkan hal tersebut, tim pengusul telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk mewujudkan Pemodelan DEBASTING (Desa Bebas Stunting) melalui pemberdayaan perempuan dan pendekatan budaya di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN STUNTING MELALUI BUDAYA GOTONG ROYONG Erwina Sumartini; Septi Nurawaliyah; Faridatul Aima; Rita Hermawati; Susi Susanti; Shania Isfanny
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 02 (2020): Oktober 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i02.308

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi kegagalan mencapai perkembangan fisik yang diukur berdasarkan panjang/tinggi badan menurut umur. Batasan stunting menurut WHO jika tinggi badan menurut umur berdasarkan Z-score sama dengan atau kurang dari -2 SD di bawah rata-rata standar. Proporsi balita dengan stunting di Indonesia masih melebihi batasan non public health WHO yaitu 20% dengan proporsi stunting tahun 2018 yaitu 29,9%. Proporsi stunting di pedesaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah perkotaan, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanganan stunting dengan mengangkat kearifan lokal yaitu dengan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan gotong royong. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diantaranya; tokoh masyarakat menyepakati akan dilaksanakan gerakan seribu (GEBU) dalam menggalang dana untuk membangun gedung posyandu, gerakan 3 m (memberikan informasi, menjaring balita yang tidak datang ke posyandu dan yang mengalami keluhan masalah pertumbuhan, serta memantau balita yang dinyatakan memiliki masalah pertumbuhan).
Studi Literatur : Riwayat Penyakit Infeksi Dan Stunting Pada Balita Erwina Sumartini
Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan Mahardika
Publisher : LPPM ITEKES Mahardika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54867/jkm.v9i1.101

Abstract

Malnutrisi merupakan salah satu penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Malnutrisi yang terjadi secara kronis dapat menyebabkan tidak maksimalnya pertumbuhan linier (stunting) yang akan memberikan dampak yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang prevalensi stunting pada balita di Indonesia sebesar 30,8%, Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara, dengan rata-rata prevalensi balita stunting tahun 2005-2017 adalah 36,4%. Adapun penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya stunting adalah asupan nutrisi yang tidak adekuat dan penyakit infeksi. Tujuan untuk mengkaji seberapa besar risiko balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi mengalami stunting. Metode yang digunakan yaitu literatur review melalui database google scholar untuk jurnal Indonesia dan jurnal luar negeri pada alamat website https://scholar.google.co.id/. Pencarian artikel menggunakan kata kunci “ penyakit infeksi dan stunting” dengan pengaturan rentang waktu 2015-2021. Berdasarkan hasil review beberapa artikel didapatkan hasil bahwa penyakit infeksi pada balita berkontribusi terhadap meningkatnya risiko terjadinya stunting sebesar 3 - 8 kali lebih besar dibandingkan balita yang tidak memiliki riwayat penyakit infeksi. Riwayat penyakit infeksi pada balita merupakan faktor protektif terjadinya stunting sehingga mencegah terjadinya penyakit infeksi melalui kesehatan lingkungan dan penyediaan air bersih di rumah tangga dapat menjadi salah satu upaya dalam melakukan pencegahan stunting pada balita
Inovasi Kakak Asuh Stunting: Upaya Pencegahan Stunting di Lokus Percepatan Penanganan Stunting Erwina Sumartini; Sinta Fitriani; Hariyani Sulistyoningsih; Dendi Ramdani; Bilda Yadika Rabbani; Nadya Sri Wahyuni; Galih Galistan Tirtana; Ai Aswipatul Jannah; Dila Apriyani; Amelia Putri Ayu; Ai Irma Nur Padilah; Syifa Agustina; Nida Ghithrif Lestari; Risa Rismawati
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 6 No 2 (2026): I-Com: Indonesian Community Journal (Juni 2026)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/i-com.v6i2.10162

Abstract

Kabupaten Tasikmalaya memiliki prevalensi stunting cukup tinggi yaitu 24,2% di tahun 2021 dan  menjadi 20,7% di tahun 2023. Pemerintah menetapkan pada tahun 2024 stunting harus diturunkan menjadi 14%. Upaya untuk mencapai target tersebut dimulai dengan meningkatkan pengetahuan ibu dan asupan nutrisi adekuat bagi bayi. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan dan pendampingan konsumsi MP-ASI selama 3 bulan. Hasil kegiatan menunjukkan telah terjadi peningkatan pengetahuan ibu terutama pada ibu dengan kategori pengetahuan baik sebesar 20,96%, terdapat peningkatan rata-rata ukuran antropometri bayi meliputi: Kelompok I berat badan sebesar 1,04 kg, panjang badan sebesar 3,23 cm dan lingkar kepala sebesar 1,62 cm dan Kelompok II berat badan sebesar 0,69 kg, panjang badan 2,3 cm dan lingkar kepala 1,45 cm. Kontribusi nyata yang diberikan yaitu peningkatan pengetahuan ibu dan perbaikan pertumbuhan bayi yang dapat berkontribusi terhadap pencegahan penambahan kasus stunting baru di Desa Cikunir dan Desa Cintaraja.