Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Nuansa Journal of Arts and Design

Cetak Saring bagi Remaja di Masjid Haji Fahri Kabupaten Gowa Muhaemin, Muhammad; Lugis, M. Muhlis; Aswar, Aswar
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 5, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v5i2.23771

Abstract

Permasalahan yang ada di Masjid Haji Fahri adalah kurang aktifnya peran remaja dalam pengelolaan Masjid Haji Fahri. Adapun hal tersebut terjadi karena tidak dibentuknya remaja Masjid Haji Fahri Parangbanoa dan kurang optimalnya peran masjid untuk mengaktifkan remaja di sekitar perumahan Green Cakra Hidayat Parangbanoa. Permasalahan tersebut dapat diminimalkan dengan mengarahkan kemampuan remaja untuk meningkatkan minat usaha. Hasil yang dicapai adalah: (1) Peserta memahami pengetahuan dan keterampilan baru yang selama ini belum pernah ditemukanya pada pelatihan-pelatihan yang telah dilaksanakan pada Masjid Haji Fahri Parangbanoa tentang cetak saring yang dimulai dari pengetahuan alat dan bahan, cara pembuatan desain, cara mengafdruk hingga tekinik-teknik dalam mencetak karya sablon, (2) Peserta mampu mempraktekkan secara langsung menyablon pada media kaos berdasarkan desain yang telah disiapkan, hasil sablonan dari seluruh peserta sudah tergolong bagus karena mereka berhasil melakukan proses afdruk dan cetakan yang sudah sesuai dengan desain yang mereka pilih, (3) Adanya materi pelatihan yang cukup memadai dalam memberikan pengetahuan tentang sablon yang terdiri dari pengetahuan dasar tentang sablon terkait pengertian, sejaran dan prinsipnya, cara membuat desai/gambar untuk sablon, cara mengafdruk, dan cara mencetak pada media tertentu. Materi pelatihan ini  dapat dijadikan acuan untuk digunakan pada pelatihan sablon yang serupa atau terkait, (4) Peserta mengetahui startegi dalam memulai bisnis sablon sehingga dapat memotivasi untuk dapat bekerja pada bidang percetakan atau membuka lapangan kerja secara mandiri dalam bisnis sablon.
Determinasi Kata “Hebat” dalam Sebuah Karya Seni Rupa Muhammad Suyudi; Muhammad Muhaemin
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 6, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v6i2.39913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari kata “hebat” pada sebuah karya seni rupa. Metode yang digunakan yaitu analisis Feldman yang mengurai deskripsi, analisis, interpretasi dan penilaian dalam sebuah karya seni. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa determinasi karya seni yang disebut hebat mengakomodir diri sebagai karya terpenting yang pernah dibuat dari banyak karya yang pernah lahir. Sebuah karya lukis yang dikatakan  “hebat” besar kemungkinan akan sulit untuk dapat dimengerti pada awalnya, namun saat ketika mendalaminya, maka kita akan mendapati sesuatu yang melampaui rupa yang sedang kita pandangi. sebuah karya seni haruslah mampu  memiliki nilai yang dapat  melingkupi umat manusia secara luas dan tidak hanya dibatasi oleh masa dan tempat. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan dalam menganalisis karya seni modern. This study aims to determine the meaning of the word "great" in a work of art. The method used is Feldman's analysis which breaks down the description, analysis, interpretation, and assessment of a work of art. The results of the research show that the determination of a work of art that is called great accommodates itself as the most important work ever made of the many works that have ever been born. A work of painting that is said to be "great" will most likely be difficult to understand at first, but when we delve deeper into it, we will find something that goes beyond the appearance we are looking at. a work of art must be able to have a value that can encompass humanity broadly and not only be limited by time and place. The implications of this research can be used in analyzing modern artworks.
Posisi Seni dalam Hirarki Kebutuhan Maslow Muhaemin, Muhammad
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 7, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v7i2.56890

Abstract

Penelitian ini membahas kontribusi seni pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri dalam konteks hirarki kebutuhan Abraham Maslow. Maslow mengidentifikasi lima tingkatan kebutuhan, di mana aktualisasi diri merupakan puncaknya. Seni dianggap sebagai elemen esensial yang memainkan peran krusial dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia, terutama pada tingkatan sosial dan penghargaan. Seni memberikan wadah bagi ekspresi diri, memperkuat ikatan sosial, dan menciptakan pengalaman estetika mendalam. Penelitian ini menggunakan studi literatur sebagai pengumpulan data. Hasil kajian menunjukkan bahwa seni memberdayakan individu, menciptakan rasa prestasi, dan menjadi sarana unik untuk mencapai potensi penuh manusia. Implikasinya menyoroti peran penting seni dalam mendukung pengembanganan pribadi, pengakuan identitas, dan menciptakan ikatan emosional serta memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai posisi seni dalam hirarki kebutuhan Maslow. This research examines the contribution of art to the fulfillment of self-actualization needs within the context of Abraham Maslow's hierarchy of needs. Maslow delineated five levels of needs, with self-actualization representing the pinnacle. Art is considered an essential element playing a crucial role in meeting various human needs, particularly at the social and esteem levels. It provides a platform for self-expression, strengthens social bonds, and creates profound aesthetic experiences. This research employs literature review as the data collection method. The results indicate that art empowers individuals, fosters a sense of accomplishment, and serves as a unique means to attain full human potential. The implications underscore the vital role of art in supporting personal development, acknowledging identity, and creating emotional bonds, offering a deeper understanding of art's position within Maslow's hierarchy of needs.
COSPLAYER: KETEGUHAN DIRI PADA VISUALISASI KOSTUM BERDASARKAN KONSEP SELF-DETERMINATION THEORY Muhaemin, Muhammad
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 8, No 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v8i1.61776

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan keteguha ndiri Cosplayer di Makassar melalui visualisasi karakter kostum yang digunakan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif-analisis dengan konsep Self-determination theory yang membahas konsep otonomi, kompetensi, dan keterhubungan, sebagai kerangka analitis untuk memahami bagaimana cosplayer merasakan kepuasan dan kebahagiaan pada aktivitas mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi dalam memilih kostum memberikan cosplayer kebebasan untuk mengekspresikan identitas pribadi dan kreativitas mereka, yang secara signifikan meningkatkan kepuasan diri. Kompetensi yang diperoleh melalui proses pembuatan dan penyempurnaan kostum memungkinkan cosplayer untuk mengembangkan keterampilan teknis dan artistik mereka, yang pada gilirannya memperkuat rasa percaya diri dan pencapaian meski harus mengorbankan finansial. Selain itu, hubungan yang dijalin melalui partisipasi dalam komunitas cosplay memberikan dukungan sosial dan perasaan diterima, yang esensial untuk kesejahteraan psikologis. Penelitian ini juga menemukan bahwa cosplayer yang merasa kebutuhan psikologis dasar mereka terpenuhi cenderung lebih termotivasi dan bahagia dalam aktivitas cosplay walaupun tantangannya terdapat cara berpakaian yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, terjebak dalam peran mereka hingga kehilangan jati diri, tekanan dari komunitas, serta ekspektasi orang lain di media sosial. Tulisan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur mengenai motivasi dalam konteks hobi yang kreatif. This study aims to explain the self-determination of cosplayers in Makassar through the visualization of the costumes they use. A descriptive-analytical method with Self-Determination Theory (SDT) is employed, focusing on autonomy, competence, and relatedness as the analytical framework to understand how cosplayers derive satisfaction and happiness from their activities. The findings reveal that autonomy in costume selection allows cosplayers to express their personal identity and creativity, significantly enhancing self-satisfaction. The competence gained through the process of creating and refining costumes enables cosplayers to develop technical and artistic skills, thereby boosting confidence and a sense of achievement, despite financial sacrifices. Additionally, the relationships formed through participation in the cosplay community provide social support and a sense of belonging, essential for psychological well-being. The study also identifies that cosplayers who feel their basic psychological needs are met tend to be more motivated and happier in their cosplay activities, even though they face challenges such as societal norms regarding dress, identity loss, community pressure, and social media expectations. This paper contributes significantly to the literature on motivation in the context of creative hobbies.
Analisis Penguatan 15 Artis Saman dalam Motif Kerawan Gayo Lues Menurut Michel Foucault Hafid, Mukhsin Putra; Muhaemin, Muhammad
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 9, No 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v9i1.75047

Abstract

Penelitian ini menganalisis praktik Saman Pentas dengan pendekatan genealogi wacana Foucault. Fokus kajian pada pembatasan 15 artis Saman Pentas di Gayo Lues sebagai representasi budaya yang terbentuk oleh relasi kekuasaan dan kebijakan budaya. Hasil menunjukkan bahwa pembatasan ini bukan hanya keputusan teknis, tetapi bagian dari kontrol estetika dan legitimasi pemerintah, meski memicu ketegangan dengan masyarakat dan seniman lokal. Praktik Saman Pentas menjadi ruang negosiasi antara pelestarian tradisi, diplomasi budaya, dan tuntutan industri kreatif. Temuan ini menegaskan bahwa seni pertunjukan tidak lepas dari relasi kekuasaan dan dapat memperkaya diskursus kebijakan budaya.
PEMETAAN TREN PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN DESAIN GRAFIS: ANALISIS BIBLIOGRAFI TAHUN 2004–2024 Muhaemin, Muhammad
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 9, No 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v9i1.73661

Abstract

This study aims to map global research trends in the field of graphic design education over the past two decades (2004–2024) using a bibliometric approach based on Scopus data. A total of 538 documents were analyzed, focusing on keyword frequency, author collaboration networks, and citation distribution across countries. Visualization was conducted using VOSviewer and Biblioshiny to identify thematic clusters and the most productive authors. The analysis revealed that topics such as graphic design, design education, and visual communication design were the most dominant keywords. Authors such as Maria Cutumisu, Elmarie Costandius, and Asrul Huda ranked among the most productive contributors, while China, the United States, and Indonesia emerged as the top-cited countries. These findings reflect the growing role of technology, artificial intelligence, and pedagogical innovation in design education. This study provides strategic insights for academics and policymakers to foster international collaboration and adapt design curricula in response to global dynamics.