Articles
Analisis Narrative Criticism Kisah Simson dan Ironi Kehidupannya di Dalam Kitab Hakim-Hakim
Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v2i2.49
The story of Samson as Israel's last judge becomes the primary material in the narrative criticism approach as an analytical tool. This story is chosen because it is a complete story and contains many conflicts and irony. The author-speech intent of the story will be examined in the interest of today's readers. The narrative analysis method that the author uses is the background story (background); location and time (setting of time and location); storyline (plot); events and their causes (causal links); character identification; conflicts that have occurred (conflicts); tragic things (irony); relationship with other texts (intertextuality); and main emphasis (point of view). The results show that the story of Samson does not stop at the readers who are the target of the story in the past. Samson's life as a nazir becomes a reflection and an example for today's readers about the importance of respecting, maintaining, and completing every task and call of God in life where God places everyone. Kisah Simson sebagai hakim terakhir Israel menjadi materi primer di dalam pendekatan kritik naratif sebagai alat analisis. Kisah ini dipilih karena merupakan sebuah cerita (stories) yang lengkap dan utuh dan mengandung banyak konflik serta ironi. Maksud penulis-tutur dari kisah tersebut akan diteliti dalam kepentingan pembaca masa kini. Metode analisis naratif yang penulis gunakan adalah latar belakang kisah (background); lokasi dan waktu (setting of time and location); alur cerita (plot); peristiwa-peristiwa dan penyebabnya (causal links); identifikasi karakter melalui tokoh (character identification); konflik-konflik yang terjadi (conflicts); hal-hal tragis (irony); hubungannya dengan teks lain (intertextuality); dan penekanan utama (point of view). Hasil yang diperoleh dari analisis ini memperlihatkan cerita tentang Simson tidak berhenti hanya pada pembaca yang menjadi tujuan kisah di masa lalu. Kehidupan Simson sebagai nazir menjadi refleksi dan teladan bagi pembaca masa kini mengenai pentingnya menghormati, menjaga dan menuntaskan setiap tugas dan panggilan Tuhan di dalam bidang kehidupan dimana Tuhan menempatkan setiap orang.
Strategi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama
Sonny Eli Zaluchu
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 1 (2020): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (305.851 KB)
|
DOI: 10.46445/ejti.v4i1.167
Research does not start from the method but must depart from the root of the problem. Formulating precisely the paradigm and background of the research will help researchers design the research design and determine the method to use. In this case, quantitative, qualitative or a mixture of both can use. Through this paper, it explains that religious research and various topics within it are open with various approaches because of their nature as science. This paper builds research insights ranging from understanding the research itself, determining and formulating research problems to choosing the right approach by introducing various methods. Through this paper, it expected that there would be no difficulty in colliding the paradigm in conducting religious research with a qualitative, quantitative or both approaches. Penelitian tidak dimulai dari metode tetapi harus berangkat dari akar permasalahan. Merumuskan secara tepat paradigma dan latar belakang penelitian akan membantu peneliti merancang desain penelitian dan menentukan metode yang akan digunakan. Dalam hal ini, dapat digunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif atau campuran keduanya. Melalui tulisan ini dipaparkan bahwa penelitian agama dan berbagai topik di dalamnya terbuka dengan berbagai pendekatan karena sifatnya sebagai ilmu pengetahuan. Paper ini membangun wawasan penelitian mulai dari pemahaman tentang penelitian itu sendiri, penentuan dan perumusan masalah penelitian hingga memilih pendekatan yang tepat melalui perkenalan terhadap berbagai metode. Melalui paper ini diharapkan tidak terdapat kesulitan benturan paradigma di dalam menjalankan penelitian agama dengan pendekatan kualitatif, kuantitatif atau keduanya.
Human Suffering and Theological Construction of Suffering
Sonny Eli Zaluchu
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (177.9 KB)
|
DOI: 10.46445/ejti.v5i2.369
Suffering, as a natural part of life, will be burdensome and burdensome when we respond in the wrong way. Therefore, it is necessary to have a theological construction so that humans can survive and pass through their sufferings victoriously. This paper aims to build a theological response to human suffering by proposing the presence of a theology of suffering. It can be concluded that through the theology of suffering, suffering humans can accept suffering as God's sovereignty. This theology also builds on the understanding that the way of suffering can identify God. The suffering experienced by humans does not come immediately because it has a unique purpose for everyone. It is also found that in the theology of suffering, God suffered through the death of His Son on the Cross for the benefit of humanity. This paper is written entirely with an analytic approach by relying on various theories and interpretations of Bible verses through in-depth literature studies ABSTRAK: Penderitaan sebagai bagian alami kehidupan, akan menjadi sesesuatu yang membebani dan menjerumuskan ketika ditanggapi dengan cara yang salah. Oleh sebab itu, diperlukan kehadiran sebuah konstuksi teologis agar manusia dapat bertahan dan melewati penderitaanya dengan kemenangan. Paper ini bertujuan untuk membangun tanggap teologis terhadap penderitaan manusia dengan mengusulkan kehadiran teologi penderitaan. Disimpulkan bahwa melalui teologi penderitaan, manusia yang menderita dapat menerima penderitaan sebagai sebuah kedaulatan Tuhan. Teologi ini juga membangun pengertian bahwa Allah dapat dikenali melalui jalan penderitaan. Penderitaan yang dialami manusia tidak hadir serta merta karena memiliki tujuan khas bagi setiap orang. Juga ditemukan bahwa di dalam sebuah teologi penderitaan, Allah ikut menderita melalui kematian anak-Nya di atas Salib untuk kepentingan manusia. Paper ini sepenuhnya ditulis dengan pendekatan analitik dengan mengandalkan berbagai teori dan tafsiran ayat-ayat Alkitab melalui pendalaman kajian pustaka.
Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani
Sonny Eli Zaluchu
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 1 (2019): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (63.923 KB)
|
DOI: 10.46445/ejti.v3i1.123
Sonny Eli Zaluchu, The Hermenetic Pattern of Hebrew Wisdom Literature. Hebrew Wisdom Literature is one of the most distinctive kinds of literature that can found in the Old Testament. Particular hermeneutic patterns are needed to interpret literary books. The writings of the wisdom literature of the Hebrew people are rich in various types of literary styles from being oral traditions to written forms and being part of the Old Testament canon. This paper aims to form a hermeneutic pattern in the form of defining literary categories, capturing the main ideas of the writer, seeing the text in context, and paying attention to the style of language. Studying these four patterns will help the interpreter elevate the meaning of the contents of the literature of Wisdom. Writing presented in a descriptive, analytical form. Sonny Eli Zaluchu, Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani. Sastra Hikmat Orang Ibrani adalah salah satu sastra yang sangat khas yang dapat dijumpai di dalam Perjanjian Lama. Diperlukan pola hermenetik khusus untuk melakukan penafsiran terhadap kitab-kitab sastra tersebut. Hal tersebut diper-lukan karena tulisan sastra hikmat orang ibrani kaya dengan berbagai jenis gaya kesusasteraan sejak men-jadi tradisi oral hingga dalam bentuk tertulis dan menjadi bagian dari kanon Perjanjian Lama. Tulisan ini bertujuan merumuskan pola hermenetik berupa menentukan kategori sastra, menangkap gagasan utama penulis, melihat teks di dalam konteks, dan memperhatikan gaya bahasa. Mempelajari keempat pola ter-sebut akan menolong penafsir mengangkat makna dari isi kitab-kitab sastra Hikmat. Tulisan disajikan di dalam bentuk deskriptif analitis.
Personalized Versus Socialized Charismatic Leader: Autobiografi Pelayanan Simson Sebagai Hakim Israel
Sonny Eli Zaluchu
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (694.623 KB)
|
DOI: 10.34081/fidei.v3i1.109
Kehidupan Simson adalah sebuah studi kepemimpinan yang menarik untuk dikaji. Selama dua puluh tahun menjadi hakim Israel, Simson tampil dengan kekuatan supernatural Allah yang tak tertandingi. Tetapi, awal yang baik itu tidak berakhir dengan tuntas. Simson memerlihatkan kelemahan karakter, dekadensi moral dan pembangkangan terhadap aturan kenaziran yang seharusnya ditaatinya. Simson jatuh ke dalam pelukan berbagai wanita kafir dan kekuatannya hilang akibat rayuan maut Delila. Simson mengira dirinya masih dipakai Tuhan, tetapi kenyataannya berakhir di penggilingan. Penelitian ini merupakan autobiography research yang berfokus pada kehidupan Simson. Framing yang dipergunakan di dalam analisis adalah pendekatan kepemimpinan (leadership). Temuan memerlihatkan bahwa Simson menekankan tipe kepemimpinan personalized charismatic leader. Pengalaman kepemimpinan Simson memberikan dua basis lingkungan yang seharusnya ada di ruang lingkup seorang pemimpin. Pertama basis sosial. Pemimpin yang berada di dalam basis sosial yang baik akan mendapat dukungan moral, emosi dan strategi dari orang-orang yang ada disekitarnya. Melaluinya pemimpin menjalani kekuasannya tidak otoriter, tidak mutlak dan egaliter. Basis kedua adalah lingkungan rohani. Panggilan pelayanan harus diimbangi dengan kehidupan rohani yang kuat. Hanya dengan cara ini seorang pemimpin tetap berada di dalam panggilannya, mengutamakan panggilan dan menjalaninya dengan takut akan Tuhan. Kepemimpinan memang selalu membawa hal-hal korup. Tetapi jika kedua basis ini secara ketat menempel seorang pemimpin, sebesar apapun kekuasaan yang dimilikinya, tetap tidak dapat diselewengkan tanpa diketahui dan dievaluasi.
Riset ‘Leadership Understanding’ Gembala-gembala Peserta Lembaga Kajian Gereja (LKG) Jawa Timur
Sonny Eli Zaluchu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (398.424 KB)
|
DOI: 10.34307/b.v3i1.154
The success of an organization lies in the hands of its leaders. The deciding factor is the extent to which a leader correctly understands the definition and functions of leadership. This research conducted by the description method in which data obtained through an online questionnaire to photograph the extent of respondents' understanding, namely shepherds involved in the Church Study Institute (LKG) organization in East Java, regarding leadership. The results found that the LKG participants had the right leadership paradigm and carried out the leadership principles in service. The study also found that shepherds support leadership as successive, meaning that it is not life-long and can be replaced. It was also found that an understanding of leadership is in accordance with the theory of leadership that a leader is not born but is formed.AbstrakKesuksesan organisasi terletak ditangan pemimpinnya. Faktor yang menentukan adalah sejauh mana seorang pemimpin memahami dengan benar definisi dan fungsi-fungsi kepemimpinan. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskripsi yang datanya diperoleh melalui kuesioner online, untuk memotret sejauh mana pemahaman responden yaitu gembala-gembala yang terlibat di dalam organisasi Lembaga Kajian Gereja (LKG) di Jawa Timur, mengenai kepemimpinan. Hasil penelitian menemukan bahwa peserta LKG tersebut memiliki paradigma kepemimpinan yang benar dan menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut di dalam pelayanan. Penelitian juga menemukan bahwa para gembala mendukung kepemimpinan bersifat suksesif, artinya tidak seumur hidup dan dapat tergantikan. Juga ditemukan bahwa pemahaman tentang kepemimpinan sesuai dengan teori kepemimpinan bahwa seorang pemimpin tidak dilahirkan tetapi dibentuk.
Analisis Fenomenologi Deskriptif terhadap Panggilan Iman Kristen untuk Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia
Dorkas Orienti Daeli;
Sonny Eli Zaluchu
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan Vol. 12 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.27
Sifat majemuk Indonesia berlangsung di dalam segala sisi. Salah satunya adalah kemajemukan di dalam azas kepercayaan dan keberagaman di dalam menganut agama. Di tengah keberagaman seperti itu, kekristenan dituntut untuk menjelaskan dirinya sebagai terang dan garam dunia kepada penganut agama lain dalam semangat kerukunan dan pluralisme. Tulisan ini menyimpulkan bahwa salah satu kunci utama membangun kerukunan adalah mengembangkan sikap dialogis yang terbuka, jujur dan saling percaya antar-umat beragama. Dialog akan membuka pintu yang tertutup akibat sikap saling curiga dan eksklusifisme. Dalam paper ini juga dijelaskan bahwa kerukunan umat beragama bukanlah pilihan melainkan panggilan di dalam keyakinan kristiani untuk menjadi berkat bagi pemeluk keyakinan lain. Analisis dan pengembangan di dalam tulisan ini dilakukan dengan model fenomenologi deskriptif.
Deskripsi Tarian Maena sebagai Identitas Suku Nias
Sonny Zaluchu
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 1 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (624.534 KB)
|
DOI: 10.31000/nyimak.v4i1.2219
Penelitian ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis analisis wacana untuk mengulas dan membahas tarian Maena yang dilakukan pada upacara perkawinan adat suku Nias di Sumatera Utara. Maena adalah tarian budaya yang melibatkan banyak peserta. Hampir semua orang Nias mampu melakukan jenis tarian ini karena mudah dipelajari dan memiliki pola gerakan yang sederhana. Sebagai produk budaya, Maena adalah tanda wacana dengan kandungan bentuk dan makna simbolik. Sehingga, analisis dilakukan dengan pendekatan semiotika dan wacana. Hasilnya, Maena bukan hanya tarian belaka. Selain menjadi alat literasi yang kuat, Maena juga menjadi sebuah identitas dalam struktur budaya suku Nias yang melekat dalam cara hidup bermasyarakat, yang membawa pesan-pesan moral untuk tujuan edukasi dan transformasi paradigma di satu sisi serta kritik sosial pada sisi lainnya. Maena memenuhi tanda sebagai sebuah signifying order yang diterima masyarakat yang dalam kacamata semiotika mengandung unsur ekspresif dan emotif.Kata kunci: Maena, budaya Nias, wacana, tarian ABSTRACTThis paper was prepared using a qualitative approach with a discourse analysis to review and discuss Maena dances performed at Nias traditional ceremonies in North Sumatra. Maena is a cultural dance that involves many participants. Because almost all Nias people are able to do this type of dance because it is easy to learn and has a simple movement pattern. As a cultural product, Maena is a sign of discourse with symbolic form and meaning. Thus, the analysis was carried out with the semiotics and discourse approach. As a result, Maena is not just a dance. Besides being a powerful literacy tool, Maena is also an identity within the cultural structure of the Nias tribe that is inherent in the way of life of the community, which carries moral messages for the purpose of education and paradigm transformation on the one hand and social criticism on the other. Maena fulfills the sign as a signifying order received by the people who in semiotic glasses contain expressive and emotive elements.Keywords: Maena, Nias culture, discourse, dance
Janji Pemulihan Israel dalam Kitab Zefanya: Refleksi Teologi Kovenan
Daniel Pesah Purwonugroho;
Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 1 (2019): September 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v2i1.21
The God of the Israelites is a God of covenants that bind covenants with humanity. Agreement between them has a binding nature to one another. Throughout the history of the Israelites recorded in the Old Testament, God often spoke through His prophets. God delivered a special message about the lives of the Israelites and also what He promised them through these prophets. All messages in the Old Testament and the prophetic books refer to a conditional Covenant. On the one hand, God pursues and punishes, but on the other hand, He restores. The Covenant theology reveals God's intention to punish and repair that is manifested in Christ's mission. This paper analyzes the implementation of the covenant theology in the ministry of the Prophet Zephaniah through the study of literature and sees its implementation for the presence of Christ in the world.Abstrak: Allah adalah Allah perjanjian yang mengikat perjanjian kepada umat manusia. Perjanjian yang terjalin antara Allah dengan manusia memiliki sifat yang sangat mengikat. Di dalam kehidupan bangsa Israel yang terekam sepanjang kitab Perjanjian Lama, Allah bersabda melalui nabi nabiNya. Allah memberikan pesan secara spesifik perihal kehidupan bangsa Israel dan juga apa yang menjadi janjiNya kepada mereka. Seluruh pesan Perjanjian Lama dan khususnya kitab Nabi-nabi mengarah pada satu perjanjian atau kovenan bersyarat. Pada satu sisi, Allah menuntut dan menghukum tetapi pada sisi lain, Allah memulihkan. Teologi kovenan menampilkan maksud Allah untuk menghukum dan memulihkan yang tergambar di dalam misi Kristus. Tulisan ini menganalisis implementasi Teologi kovenan di dalam pelayanan Nabi Zefanya melalui studi literatur dan melihat implementaisnya bagi kehadiran Kristus di dunia.
Metode Penelitian di dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan
Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.93
A common problem regarding the method section in the structure of scientific journals is that they are written in general and not typical. A research method must report the procedures the researcher takes to carry out his research. The contents are not the same as the method descriptions in other studies. Therefore, this paper aims to explain the importance of methods in the structure of writing scientific journal articles. In particular, several methods commonly referred to in theological research are presented descriptively and topically. The conclusion obtained is, with the correct understanding of the research method, lecturers or researchers can produce theological research work that can be accounted for its academic validity. Research contribution: This paper provides insights to lecturers and researchers in writing and formulating methods in scientific journal papers and contributing material in writing scientific papers.Permasalahan umum mengenai bagian metode di dalam struktur jurnal ilmiah adalah ditulis secara umum dan tidak khas. Padahal, sebuah metode penelitian harus melaporkan prosedur yang ditempuh peneliti untuk menjalankan penelitiannya. Isinya tidak sama dengan penjelasan metode pada penelitian lain. Oleh karena itu paper ini bertujuan menjelaskan tentang pentingnya metode di dalam struktur penulisan artikel jurnal ilmiah. Secara khusus dipaparkan secara deskriptif dan topikal beberapa metode yang umum dirujuk dalam penelitian teologis. Kesimpulan yang diperoleh adalah, dengan pemahaman yang benar tentang metode penelitian, dosen atau peneliti dapat menghasilkan karya penelitian teologis yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya secara akademik. Kontribusi penelitian: Paper ini memberikan wawasan kepada dosen dan peneliti di dalam menulis dan merumuskan metode dalam paper jurnal ilmiah dan menyumbang materi dalam penulisan karya ilmiah.