Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

WANITA “AHMADI” DALAM NOVEL MARYAM: KAJIAN PSIKOLOGI B.F. SKINNER Muhammad Hambali; Saharudin Saharudin; Muh. Khairussibyan
SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik Vol 24 No 1 (2023): SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik
Publisher : Diterbitkan oleh Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember bekerja sama dengan Himpunan Sarjana - Kesusastraan Indonesia (HISKI), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/semiotika.v24i1.31804

Abstract

This study aims to examine the psychology of the main character in the novel Maryam by Okky Madasari in order to determine the response stimulus experienced by the main character and other characters with the literary psychology approach of B.F. Skinner. The data source of this research is the novel Maryam by Okky Madasari. The results showed that the psychology of Maryam's character as a woman "Ahmadi" was closely related to the stimulus response she experienced. The response stimuli include; (1) operant conditioning, found 5 conditioning data, one of which was through the stimulus given by her family, (2) formation, found 8 shaping data, where it is said that the characters Fatimah, Jamil and Zulkhair helped shape Maryam, (3) reinforcement , found data with a total of 7 reinforcers including primary and secondary reinforcement, primary reinforcer responded by Mrs. Maryam and secondary reinforcer when Maryam helped Zulkhair, (4) generalization, found 6 generalization data, where the stimulus from Mr. and Mrs. Zul was then generalized by the character Maryam and (5) avertive stimulus, found 5 avertive stimulus data, one of which was when Maryam's character violated the rules given by her parents. Thus, the psychology of Maryam's character is formed or patterned through these five stages and the most influential in shaping Maryam's "Ahmadi" figure is the stimulus response from Maryam's character and other characters.
Aspek Motivasi dalam Cerita Sastra Anak Suku Sasak: Kajian David C Mcclelland Marlinda Ramdhani; Siti Rohana Hariana Intiana; Muh. Khairussibyan; Pipit Aprilia Susanti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek motivasi yang terdapat pada cerita sastra tradisonal suku Sasak yang biasa sering dijadikan bacaan sastra anak. Sampel penelitian ini dibatasi maksimal delapan cerita sastra tradisional yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan studi dokumen terkait cerita sastra tradisional. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif yang mengkaji aspek motivasi dalam cerita rakyat suku Sasak menggunakan teori psikologi sastra David C McClelland. Data penelitian ini berupa kalimat atau paragraf yang terdapat di masing-masing cerita tradisional suku Sasak yang menjadi sampel penelitian. Sumber data penelitian ini adalah pemangku dan masyarakat suku Sasak yang mengetahui benar terkait suatu cerita sastra tradisional, serta internet atau buku yang memuat cerita sastra tradisional yang sudah ditulis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga aspek motivasi dalam cerita rakyat suku Sasak, yaitu motivasi untuk berprestasi, berafiliasi, dan berkuasa. Dari ketiga jenis motivasi tersebut, aspek yang paling banyak muncul adalah motivasi untuk berafiliasi, sedangkan aspek yang paling jarang muncul adalah motivasi untuk berprestasi.
Subjektivitas Kiki Sulistyo dalam Buku Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari?: Kajian Psikoanalisis Jacques Lacan Khairussibyan, Muh; Ramadan, Januari Rizki; Ikomah, Rinda Widya
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/vvhytb93

Abstract

Penelitian ini mengkaji subjektivitas Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisi Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (DAALKC) menggunakan teori psikoanalisis Jacques Lacan. Buku pemenang Khatulistiwa Literary Award tersebut belum pernah diteliti secara menyeluruh padahal puisi-puisi dalam buku tersebut menunjukkan keutuhan gagasan yakni pengalaman penyair mengenai kota tua Ampenan. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data terdiri atas puisi-puisi, parateks, dan informan mengenai biografi penyair. Penelitian ini menemukan bahwa subjektivitas Kiki Sulistyo tampak melalui dinamika dimensi riil, imajiner, dan simbolik. Gangguan dimensi riil ditunjukkan dengan trauma pengusiran dan kematian. Dimensi imajiner terbentuk dari pantulan diri Kiki dari Ampenan yang kreol. Adapun dimensi simbolik direpresentasikan dalam bentuk internalisasi nilai-nilai pluralisme sekaligus ketidakstabilan tatanan sosial. Di samping itu, puisi-puisi dalam DAALKC berfungsi sebagai simtom yang menstabilkan subjektivitasnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa subjektivitas Kiki adalah hasil dari usaha kreatif yang gagal mencapai keutuhan, namun melahirkan puisi sebagai bentuk jouissance atas keterpecahannya.
WUJUD BUDAYA SASAK DALAM NOVEL SANGGARGURI: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA Lalu Yusril Aman; Saharudin; Muh. Khairussibyan
MABASAN Vol. 16 No. 2 (2022): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v16i2.534

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan wujud budaya Sasak yang terdapat dalam novel Sanggarguri dan menjelaskan fungsi wujud budaya Sasak tersebut bagi masyarakat setempat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca dan teknik catat, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan tahapan: reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Penelitian ini menemukan tiga wujud budaya Sasak dalam novel Sanggarguri, yaitu (1) wujud gagasan berupa sêsênggak, awik-awik atau hukum adat, dan sênggeger; (2) wujud aktivitas (tingkah laku) yang berupa bêsêlam, ziarah makam, sembeq, pêrêbaq jangkih, bêtabêq dan mênyilaq, mulut adat (maulid Nabi Muhammad secara adat), sêntulak, dan roah; dan (3) wujud artefak (karya/material) berupa tabaq, rantok, tas gêgandek, kêmaliq, bêrugaq (sêkênêm), batu têtandan, tetunjang, opak ambon, ancak, takêpan, sedah lanjaran, pakaian adat Sasak (dodot, sapuq, kemben, cipoq, bêbêt dan bêngkung), tambok dan cêraken, minyak jêlêng, seni musik (gêndang bêleq, rebana barungan (burdah), dan tawaq-tawaq), dan seni tari (rudat). Fungsi dari tiga jenis wujud budaya dalam novel Sanggarguri adalah (1) wujud gagasan berfungsi menggambarkan syariat adat sebagai kritikan terhadap masyarakat Sasak yang sering meninggalkan tradisi dan ritual-ritual adat, menciptakan kedamaian antara manusia dengan alam, dan sebagai sarana berdoa kepada Tuhan; (2) wujud aktivitas (tingkah laku) berfungsi untuk memperkenalkan tentang budaya Sasak, menggambarkan identitas masyarakat Sasak, dan melestarikan budaya Sasak yang sudah mulai hilang; dan (3) wujud artefak berfungsi untuk memperkenalkan budaya material masyarakat Sasak, sebagai perangkat atau perlengkapan dalam acara dan ritual-ritual adat, sebagai roh pada acara adat, sebagai tempat berlangsungnya acara adat atau ritual adat, sebagai pakaian khusus dalam acara adat, sebagai obat, dan sebagai pengisi dalam acara bêgawe ‘pesta’.
IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR: KAJIAN STILISTIKA FEMINIS SARA MILLS Nur Atimah; Saharudin; Muh. Khairussibyan
Jurnal PENEROKA Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/peneroka.v6i1.4479

Abstract

This study aims to uncover forms of gender subordination ideology and female stereotypes through a Feminist Stylistics analysis in the novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP) by Dahlan. Patriarchal social constructions are often reflected in everyday life and prevalent in society; in literary works, this can be explored through the language used to represent women. The focus of this study is on how language represents women throughout the novel's text, as well as the positive or negative values that emerge from it. The research employs a qualitative descriptive method with Sara Mills' Feminist Stylistics approach, through data collection techniques involving library research, reading, and note-taking. The data analyzed consist of words, phrases/sentences, and discourses found in the novel's text. The research findings at the word level include gender ideology categories of Naming and Androcentrism, and the Female Experience category: Euphemism and Taboo. Next, at the phrase/sentence level, gender ideology categories of Presupposition and Inference, and Metaphor and Simile were found. Finally, at the discourse level, forms of gender ideology in the categories of Character and Role, and Fragmentation were identified.The study also uncovers the intriguing finding that language participates in perpetuating stereotypes that harm women.
Violation of the Principle of Cooperation in the Drama Script "Strangers" by Rupert Brook: A Pragmatics Study Nadila Urningsih; Mochammad Asyhar; Muh. Khairussibyan; Burhanuddin Burhanuddin
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Linguistik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jr.10.1.2024.122-142

Abstract

This study aims to describe the violation of the principle of cooperation contained in the drama script "Stranger" by Rupert Brook using pragmatic studies. This type of research is qualitative which is descriptive qualitative. The data in this study used the drama script Stranger by Rupert Brook translated by D.Djajakusuma. While the data source is obtained through the internet sourced from achmadnur.blogspot.com which is a translated script from D.Djajakusuma. The method of data collection in this study uses the Simak method with advanced techniques, namely note-taking techniques. Meanwhile, the data analysis method uses two methods, namely Intralingual Pairing as the first step to examine the data through efforts to compare one sentence with other sentences in order to get a dialog that violates the principle of cooperation and Extralingual Pairing to examine something that is outside the language such as concerning the meaning, information and context of speech. The method of presenting the results of data analysis uses Formal methods in the form of parentheses (( )) and Informal methods. The result of this research shows the violation of four maxims of cooperation principle, with the number of them are: 1) violation of quantity maxim 40 utterances; 2) violation of quality maxim 4 utterances; 3) violation of relevance maxim 35 utterances; and 4) violation of manner maxim 2 utterances. The use of dialog that violates the principle of cooperation created by the author aims to create an interesting conflict and also provide tension in a story. This also appears to be related to the theme in the drama script which is a tragedy. So as to create interesting dynamics by deliberately violating the maxim of quantity in order to provide a high effect of tension and curiosity by violating the maxim of relevance.
STRATEGI IBU PEGIAT LITERASI DALAM MENERAPKAN GERAKAN LITERASI KELUARGA DI PULAU LOMBOK Marlinda Ramdhani; Siti Rohana Hariana Intiana; Baiq Wahidah; Muh. Khairussibyan; Nila Aulia
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1060

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan literasi anak adalah dengan memperkuat kegiatan literasi dalam keluarga. Di era sekarang, banyak muncul ibu-ibu pegiat literasi yang gencar belajar secara kelompok dalam menerapkan Gerakan Literasi Keluarga secara tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi ibu pegiat literasi dalam menerapkan Gerakan Literasi Keluarga sebagai upaya peningkatan literasi anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data penelitian berupa deskripsi terkait strategi ibu dalam menjalankan Gerakan Literasi Keluarga. Sumber data penelitian didapatkan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran angket. Informan penelitian ini adalah 10 ibu pegiat literasi yang tersebar dari beberapa kabupaten/kota di Pulau Lombok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  strategi ibu pegiat literasi mencakup tiga aspek, yaitu pembiasaan literasi secara konsisten dalam keluarga, penguatan keterampilan orang tua, dan adanya sumber-sumber pendukung kegiatan literasi di rumah.
IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR: KAJIAN STILISTIKA FEMINIS SARA MILLS Nur Atimah; Saharudin; Muh. Khairussibyan
Jurnal PENEROKA Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/peneroka.v6i1.4479

Abstract

This study aims to uncover forms of gender subordination ideology and female stereotypes through a Feminist Stylistics analysis in the novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP) by Dahlan. Patriarchal social constructions are often reflected in everyday life and prevalent in society; in literary works, this can be explored through the language used to represent women. The focus of this study is on how language represents women throughout the novel's text, as well as the positive or negative values that emerge from it. The research employs a qualitative descriptive method with Sara Mills' Feminist Stylistics approach, through data collection techniques involving library research, reading, and note-taking. The data analyzed consist of words, phrases/sentences, and discourses found in the novel's text. The research findings at the word level include gender ideology categories of Naming and Androcentrism, and the Female Experience category: Euphemism and Taboo. Next, at the phrase/sentence level, gender ideology categories of Presupposition and Inference, and Metaphor and Simile were found. Finally, at the discourse level, forms of gender ideology in the categories of Character and Role, and Fragmentation were identified.The study also uncovers the intriguing finding that language participates in perpetuating stereotypes that harm women.
Kesiapan Pedagogis Mahasiswa dalam Keterampilan Opening dan Closing Instruction pada Mata Kuliah Pembelajaran Mikro: Pedagogical Readiness of Students in Opening and Closing Instruction Skills in a Microteaching Course Ismail Marzuki; Aliurridha Aliurridha; Muh. Khairussibyan
Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 10 No. 2 (2026): TRANSFORMATIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/transformatika.v10i2.3875

Abstract

This study aims to describe students’ pedagogical readiness in opening and closing instruction skills in the Microteaching course. The study employed a qualitative descriptive method, with data collected through observations of students’ teaching practices using a teaching skills assessment instrument. The research subjects were students enrolled in the Microteaching course in the Indonesian Language and Literature Education Study Program. The data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that, in general, students demonstrated Farly good pedagogikah readiness in opening instruction skills, particularly in attracting students’ attention, delivering greetings, and explaining learning objectives. However, several weaknesses were still identified in closing instruction skills, such as the lack of optimal reflective activities, reinforcement of learning materials, and the delivery of follow-up activities. These findings indicate that microteaching plays an important role in developing the pedagogical competencies of prospective teachers, particularly in constructing effective, communicative, and reflective learning structures before engaging in actual classroom teaching practices.