Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN LANSIA PADA MASA PANDEMI COVID 19 MELALUI PENINGKATAN PERAN PENGASUH LANSIA DI PANTI WERDHA PANGESTI LAWANG Wibowo Wibowo; Devanus lahardo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i1.7309

Abstract

ABSTRAKPanti Werdha Pangesti Lawang berada di Kelurahan Kalirejo Kecamatang Lawang Kab. Malang. Perubahan aspek fisik , mental dan sosial yang terjadi pada lansia mempengaruhi kondisi kesehatan para lansia baik Melalui upaya promotif dan preventif terhadap penyebaran covid-19 bagi lansia menjadi prioritas. Di Panti Werdha Pangesti Lawang saat ini memiliki 13 pengasuh lansia dimana yang memiliki latar belakang perawat masih 1 orang. Perawat memiliki peran sebagai caregiver yang merupakan peran utama dimana perawat akan terlibat aktif selama 24 jam dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Selain itu, perawat juga berperan sebagai edukator yang bertugas memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjalani isolasi, keluarga, dan masyarakat umum termasuk masyarakat kelompok khusus yang tinggal di panti jompo. Program peningkatan kesehatan lansia pada masa pandemik sudah dilakukan secara rutin oleh para pengasuh lansia di Panti Pangesti Lawang, namun belum maksimal dikarenakan para pengasuh belum memperoleh pembekalan secara langsung dan secara terprogram tentang cara menjalakan perannya sebagai edukator.  Kegiatan pengabdian masyarakt ini diikuti oleh 14 peserta yang terdiri dari 13  serta pipengasuh lansia dan 1 Pimpinan Panti Werdha Pangesti Lawang. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini  untuk menambah wawasan dan pengetahuan para pengasuh lansia dalam melakukan edukasi melalui media informasi umum berupa poster dan spanduk yang akan ditempelkan pada tempat yang mudah diketahui lansia dan pengunjung, seperti gerakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menggunakan masker dan tidak melakukan kontak fisik secara erat. Setelah dilaksanakan  kegiatan pengabdian masyarakat ini diketahui perubahan pengetahuan para pengasuh lansia melalui evaluasi pre-test dan post-test. Saat pre-test masih terdapat 9 peserta dari total jumlah peserta yaitu 14 atau 64% yang menjawab benar pada kuisioner yang telah dibagikan. Sedangkan saat post-test terdapat 13 peserta dari total 14 atau 93% peserta yang menjawab benar. Sehingga terjadi peningkatan yang signifikan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kata Kunci : edukator; lansia; pengasuh lansia ABSTRACTPangesti Lawang Nursing Home is located in Kalirejo Village, Lawang District, Kab. Malang. Changes in the physical, mental and social aspects that occur in the elderly affect the health condition of the elderly, both through promotive and preventive efforts against the spread of COVID-19 for the elderly to be a priority. At Panti Werdha Pangesti Lawang currently has 13 elderly caregivers of which only 1 person has a nursing background. Nurses have a role as caregiver which is the main role where nurses will be actively involved for 24 hours in providing nursing care to patients. In addition, nurses also act as educators in charge of providing health education to patients undergoing isolation, families, and the general public including special groups of people living in nursing homes. The elderly health improvement program during the pandemic has been carried out routinely by elderly caregivers at Pangesti Lawang Panti, but has not been maximized because the caregivers have not received direct and programmed briefing on how to carry out their role as educators. This community service activity was attended by 14 participants consisting of 13 carers for the elderly and 1 leader of the Pangesti Lawang Nursing Home. The purpose of this community service activity is to increase the insight and knowledge of the elderly caregivers in educating through general information media in the form of posters and banners that will be affixed in places that are easily known by the elderly and visitors, such as washing hands with soap and running water, maintaining distance, using masks and avoid close physical contact. After carrying out this community service activity, it is known that the knowledge changes of the elderly caregivers through pre-test and post-test evaluations. During the pre-test, there were still 9 participants out of the total number of participants, namely 14 or 64% who answered correctly on the questionnaire that had been distributed. Meanwhile, during the post-test there were 13 participants out of a total of 14 or 93% of participants who answered correctly. So there is a significant increase in this community service activity..Keywords:  educator; elderly; elderly caregiver
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PENERAPAN PRINSIP 5 BENAR PEMBERIAN OBAT PADA PENGASUH LANSIA DALAM PENDISTRIBUSIAN SEDIAAN FARMASI DI PANTI PENGESTI LAWANG Sr. Felisitas A Sri S.; Devanus Lahardo; Oktavia Indriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i1.7194

Abstract

ABSTRAKPanti Lansia Pangesti Lawang merupakan suatu tempat untuk menampung lansia dan jompo dengan memberikan pelayanan sehingga mereka merasa aman, tentram senang dan tidak ada perasaan gelisah maupun khawatir dalam menghadapi usia tua. Pengasuh lansia adalah individu yang mempunyai tugas memberikan perhatian, perawatan dan perlindungan kepada lansia yang mengalami ketidak mampuan fisik atau psikis kronis. Di Panti Pangesti Lawang pengasuh lansia memegang peranan penting dalam keamanan pasien terutama pada pemberian obat. Tujuan pengabdian masyarakat ini agar pengasuh lansia mampu menerapan prinsip 5 benar dalam pemberian obat kepada para lansia sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja, meningkatkan efisiensi, dan memastikan kualitas pelayanan telah sesuai dengan Standar Posedur Operasional (SPO). Kegiatan ini telah terlaksana selama bulan Nopember dan Desember 2021 dengan metode daring dan luring. Dari 14 pengasuh lansia dalam menerapakan pinsip 5 benar dalam memberikan obat ditemukan 9 atau 64% pengasuh lansia yang masih mampu menerapkan 5 prinsip benar dalam melakukan aktivitas pelayanan obat. Setelah dilaksanakan pengabdian masyarakat ini sebanyak 13 atau 92% pengasuh lansia telah mampu menerapkan 5 prinsip benar dalam pemberian obat. Sehingga terjadi peningkatan yang signifikan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kata Kunci : pemberian obat; pengasuh lansia; prinsip 5 benar. ABSTRACTPangesti Lawang Nursing Homeis a place to accommodate the elderly and the elderly by providing services so that they feel safe, peaceful and happy and there are no feelings of anxiety or worry in the face of old age. Elderly caregivers are individuals who have the task of providing attention, care and protection to the elderly who experience chronic physical or psychological disabilities. At Pangesti Lawang Panti, elderly caregivers play an important role in patient safety, especially in drug administration. This activity has been carried out during November and December 2021 using online and offline methods. Of the 14 elderly caregivers in applying the correct 5 principles in giving drugs, it was found that 9 or 64% of elderly caregivers were still not right in carrying out drug service activities which referred to 5 correct principles. After carrying out this community service, as many as 13 or 92% of elderly caregivers have been able to apply the 5 correct principles in drug administration. Where this community service activity aims to increase the knowledge of elderly caregivers in applying the 5 correct principles when administering drugs. So there is a significant increase in this community service activity. Keywords:  drug administration; elderly caregivers; principle 5 is correct
PEMBERDAYAAN CAREGIVER UNTUK MERUBAH PERILAKU NEGATIF LANSIA DENGAN TERAPI TOKEN EKONOMI Felisitas A Sri S; Yafet Pradikatama Prihanto; Devanus Lahardo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i3.9461

Abstract

ABSTRAKCaregiver lansia mengatakan bahwa tidak semua lansia bersedia mengikuti terapi-terapi yang diadakan oleh Panti, selain itu beberapa lansia juga tidak bersedia bersosialisasi dengan lansia lain maupun hanya berbicara seperlunya dengan caregiver dan perawat.Terapi token ekonomi merupakan jenis terapi yang dapat digunakan untuk mengubah perilaku lansia. Tujuan pelatihan ini untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dengan pemberian token yang dapat ditukar dengan sesuatu yang berguna dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Kegiatan ini dilakukan 3 tahap yang meliputi tahapan persiapan yaitu melakukan perijinan dan menyusun pelaksanaan. Tahap kedua pemberian materi dan praktik token ekonomi yang meliputi pengertian dan jenis terapi CBT serta teori terapi token ekonomi.Tahap ke tiga evaluasi kegiatan yang meliputi evaluasi perasaan caregiver setelah melakukan terapi token ekonomi dan evaluasi pre tes serta post tes. Kegiatan ini telah terlaksana selama bulan Mei - Juni 2022, dan diikuti oleh  14 pengasuh lansia Hasil kegiatan pengabdian ini pada awal pre tes masih terdapat 9 peserta atau 64% yang mampu melakukan praktikum terapi token ekonomi.  Setelah dilakukan pelatihan dan dilakukan evaluasi akhir atau post test terdapat 12 peserta atau 85% yang mampu melakukan praktikum  terapi token dengan baik dan tepat. Secara keseluruhan kegiatan berjalan lancar serta antusias.   Kata Kunci : caregiver; lansia; terapi token ekonomi ABSTRACTThe elderly caregiver said that not all the elderly were willing to participate in the therapies held by the orphanage, in addition some of the elderly were also not willing to socialize with other elderly people or only talk as necessary with caregivers and nurses. Economic token therapy is a type of therapy that can be used to change the behavior of the elderly. . The purpose of this training is to increase desired behavior and reduce unwanted behavior by giving tokens that can be exchanged for something useful within a predetermined time. This activity is carried out in 3 stages which include the preparation stage, namely licensing and arranging implementation. The second stage is providing material and token economy practice which includes the understanding and types of CBT therapy and the theory of token economy therapy. The third stage is activity evaluation which includes evaluating the caregiver's feelings after doing token economy therapy and evaluating pre-test and post-test. This activity has been carried out during May - June 2022, and was attended by 14 elderly caregivers. The results of this service activity at the beginning of the pre-test there were still 9 participants or 64% who were able to do economic token therapy practicum. After the training and the final evaluation or post test were carried out there were 12 participants or 85% who were able to carry out the token therapy practicum properly and precisely. Overall the activity went smoothly and enthusiastically. Keywords: caregiver; elderly; economic token therapy
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Untuk Menciptakan Lansia Sehat Dan Mandiri Di Desa Banjararum Kec. Singosari Kab, Malang Sr. Felisitas A. Sri S Misc; Devanus Lahardo
Jurnal Humanis ( Jurnal Pengabdian Masyarakat ISTeK ICsada Bojonegoro) Vol. 6 No. 2 (2021): Jurnal HUMANIS
Publisher : LP2M STIKes ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.941 KB)

Abstract

ABSTRAK Desa Banjararum merupakan salah satu desa yang yang terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Posyandu Lansia dikelola oleh Kader kesehatan, dimana Kader tersebut diharapkan senantiasa menambah wawasan melalui berbagai pelatihan ataupun workshop. Dimana sebagian besar para lansia di Posyandu Lansia Sri Untari memiliki riwayat penyakit. Manajem Manajemen hipertensi dapat dilakukan dari pengetahuan lansia mengenai hipertensi serta pengaturan diet hipertensi. Dari segi pengetahuan, lansia belum sepenuhnya memahami terkait hipertensi dan penanganan non farmakologis untuk menurunkan hipertensi. Kegiatan yang akan dilakukan yaitu pembekalan penatalaksanaan hipertensi, demonstrasi dan pembuatan rebusan daun salam serta aromaterapi. Kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENATALAKSANAAN HIPERTENSI PADA LANSIA UNTUK MENCIPTAKAN LANSIA SEHAT DAN MANDIRI DI DESA BANJARARUM KEC. SINGOSARI KAB. MALANG” telah terlaksana pada hari Senin, 15 Februari 2021 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Dari 25 lansia yang hadir ditemukan 12 orang lansia yang memiliki tekanan darah diatas normal (>140-90 mmHg). Hal ini dapat dikatakan prevalensi yang memiliki hipertensi cukup besar yaitu 48%, dikarenakan lansia kurang tertib dalam pengukuran tekanan darah sehingga mengkonsumsi obat hipertensi berdasarkan kondisi yang dialami. Serta posyandu lansia masih belum memiliki alat ukur tekana darah Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan lancar serta antusiasme dari lansia juga sangat baik. Kegiatan semacam ini masih dibutuhkan oleh lansia dengan materi yang menyesuaikan dengan permasalahan yang dialami lansia di Desa Banjararum Kec. Singosari Kab. Malang
Pemberdayaan Pengasuh Lansia Dalam Pemanfaatan Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai Upaya Preventif Menghadapi Pandemi Covid-19 Melalui Pembuatan Produk Sabun Dan HS Di Panti Werdha Pangesti Lawang Wibowo; Ellyvina Setya Dhini; Devanus Lahardo
Jurnal Humanis ( Jurnal Pengabdian Masyarakat ISTeK ICsada Bojonegoro) Vol. 6 No. 2 (2021): Jurnal HUMANIS
Publisher : LP2M STIKes ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.154 KB)

Abstract

ABSTRAK Dengan pertambahan usia, tubuh akan mengalami berbagai penurunan akibat proses penuaan, hampir semua fungsi organ dan gerak menurun, diikuti dengan menurunnya imunitas sebagai pelindung tubuh pun tidak bekerja sekuat ketika masih muda. Inilah alasan mengapa orang lanjut usia (lansia) rentan terserang berbagai penyakit, termasuk COVID-19 yang disebabkan oleh virus Sars-Cov-2. Pemerintah, lewat Gugus Tugas untuk Penanganan COVID-19, telah mewanti-wanti agar kelompok lansia diperhatikan betul selama pandemi. Apalagi yang memiliki riwayat penyakit kronis. Kalau mereka terpaksa keluar rumah, moda transportasi yang penuh sesak harus dihindari. Ketika sampai di rumah harus segera melepas masker, mencuci tangan dengan sabun serta air mengalir selama 20 detik, serta berganti pakaian. Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat “Pemberdayaan Pengasuh Lansia Dalam Pemanfaatan Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai Upaya Preventif Menghadapi Pandemi Covid 19 Melalui Pembuatan Produk Sabun Dan HS di Panti Werdha Pangesti Lawang adalah 0% dari total 60 total pengguninya yang berarti sampai saat ini tidak ada lansia yang tertular covid 19.Pengasuh lansia yang dihubungi menjelaskan setidaknya ada empat masalah krusial yang dihadapi para lansia di situasi pandemi saat ini. Tanaman aloe vera menjadi semakin populer karena manfaatnya yang semakin luas diketahui sebagai sumber penghasil bahan baku untuk aneka produk dari industri, kosmetik, makanan, dan farmasi. Pemanfaatan tersebut sayangnya masih kurang dalam produksi pembuatan sabun cuci tangan dan hand sanitizer di masyarakat. Hal ini dapat disebabkan karena adanya bahan kimia gliserin yang dirasa lebih praktis dibanding tanaman aloe vera. Padahal aloe vera di Indonesia sangat berlimpah karena bisa tumbuh tanpa persiapan khusus. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, Pada saat studi pendahulkuan tanggal 20 November 2020 di Panti Pangesti diadapatkan bahwa panti werdha tersebut memiliki lahan yang luas, namun tidak dilakukan pemenfaatan lahan untuk menanam Aloe vera dengan alasan tanaman tersebut manfaatnya tidak banyak diketahuai oleh para pendamping lansia. Saat ditanya tentang manfaat tanaman tersebut untuk digunakan sebagai sabun dan Hand Sanitizer dalam rangka sarana pencuci tangan untuk pencegahan covid 19, 10 orang yang ditanya semuanya belum mengetahui dan belum tahu proses pembuatannya. Kegiatan pengabdian ini dilakukan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2021 dengan tujuan agar masyarakat, khususnya para pengasuh, mampu menambah wawasan dan pengetahuan dalam memanfaatkan gel aloe vera sebagai pengganti gliserin dalam pembuatan sabun cuci tangan dan hand sanitizer. Selain itu, khalayak sasaran juga mampu membuat sabun cuci tangan dan hand sanitizer sendiri menggunakan bahan-bahan yang diberikan dengan memanfaatkan gel aloe vera sehingga bisa menekan biaya pengadaan sabun dan hand sanitizer.
Pembentukan pojok herbal dan produk herbal (teh dan sirup) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Desa Bengkaung, Kecamatan Batulayar, NTB Aty Widyawaruyanti; Suciati Suciati; Tri Widiandani; Agriana Rosmalina Hidayati; Achmad Fuad Hafid; Djoko Agus Purwanto; Neny Purwitasari; Riesta Primaharinastiti; Sukardiman Sukardiman; Retno Widyowati; Devanus Lahardo; Hilkatul Ilmi; Maylisa Natalia Corry; Firman Wicaksana; Narendrani Sasmitaning Edhi; Muhammad Amir Hasan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30199

Abstract

Abstrak Desa Bengkaung adalah desa yang terletak di kecamatan Batu Layar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.  Banyak potensi pada desa Bengkaung yang masih bisa dikembangkan diantaranya adalah sumber daya alam yang berlimpah. Namun, pemanfaatan sumber daya alam ini belum maksimal, yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan  pengolahannya. Maka dilakukan pengabdian masyarakat yang berlangsung 2 tahap yaitu seminar terkait pojok herbal dan pelatihan pembuatan teh dan sirup dengan bahan kayu manis, kunyit, temu lawak, asam jawa, kapulaga untuk sediaan sirup serta bangle pada sediaan teh herbal yang berfungsi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan  pada 25 Oktober 2024 dengan mitra terdiri dari  anggota IAI  kota Mataram dan kader PKK desa Bengkaung. Adapun materi pelatihan diberikan dengan metode ceramah dan metode praktik. Evaluasi dilakukan dengan cara pemberian pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara kuantitatif. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, diperoleh nilai rata-rata sebesar 60,94 dan 79.37, yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mitra terhadap materi penyuluhan yang diberikan. Teh daun salam dan JKP-Bangle dievaluasi dengan pengukuran kadar antioksidan dengan DPPH dan FRAP assay. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar antioksidan the daun salam dan JKP-Bangle dengan FRAP assay memperoleh kadar tertinggi tertinggi nilai masing-masing sebesar 1359.84±13.47 mg GAE/g berat kering dan 396.73±16.79 mg GAE/g berat kering. Aktivitas antioksidan yang tinggi ini mengindikasikan potensi manfaat kesehatan dalam menangkal stres oksidatif yang berhubungan dengan penyakit neurodegeneratif, kardiovaskular, dan diabetes. Kata kunci: Desa Bengkaung; pojok herbal; tanaman obat; antioksidan. Abstract Bengkaung Village is a village located in Batu Layar sub-district, West Lombok, West Nusa Tenggara.  There is a lot of potential in Bengkaung Village that can still be developed, including abundant natural resources. However, the utilization of these natural resources has not been maximized, this is caused by a lack of public knowledge regarding their benefits and processing. So community service was carried out which took place in 2 stages, namely seminars related to the herbal corner and training in making tea and syrup using cinnamon, turmeric, ginger, tamarind, cardamom for syrup and bangle preparations, as well as bangles for herbal tea preparations which function to improve health. public. This activity was carried out on 24-26 October 2024 with partners consisting of IAI members from Mataram city and PKK cadres from Bengkaung village. The training material is provided using the lecture method and the Experimental Learning method (direct implementation learning). Evaluation is carried out by giving a pre-test and post-test, then analyzed quantitatively. Based on the results of the pre-test and post-test, an average score of 60.94 and 79.37 was obtained, which indicates an increase in partners' knowledge of the extension material providedrn how to make innovative products from mangosteen fruit so that they can be produced commercially. Thus, in the long term it is expected to increase the income of the Songgon Village residents. Antioxidant levels of bay leaf tea and JKP-Bangle were evaluated using DPPH and FRAP assays. Analysis results showed that the highest antioxidant levels measured by the FRAP assay were 1359.84±13.47 mg GAE/g dry weight for bay leaf tea and 396.73±16.79 mg GAE/g dry weight for JKP-Bangle. This high antioxidant activity indicates potential health benefits in combating oxidative stress associated with neurodegenerative, cardiovascular, and diabetes-related diseases. Keywords: Songgon Village; herbal corner; medicinal plants; antioxidants.
Pemberdayaan pengasuh lansia dalam pemanfaatan pojok herbal sebagai upaya menigkatkan kesehatan lansia di LKS-LU Pangesti lawang Wibowo Wibowo; Sirilus Deodatus Sawu; Devanus Lahardo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.29411

Abstract

AbstrakPerkembangan jumlah lansia di Indonesia terjadi dalam jangka waktu kurang lebih 50 tahun. Dalam periode tersebut, persentase penduduk lansia Indonesia mengalami lonjakan dua kali lipat dibanding sebelumnya. Pada tahun 2020, persentase lansia mencapai 9,92 persen atau sekitar 26,82 juta orang. Penyakit ataupun masalah- masalah kesehatan lainnya yang sering dialami oleh lansia sangat berbeda dari orang dewasa, yaitu adanya masalah gangguan tidur, imobilisasi, inkontinensia, depresi, kekurangan nutrisi, menurunnya kekebalan tubuh. Potensi yang bisa dioptimalkan LKS-LU Pangesti Lawang adalah kebun yang luas yang ditanami berbagai tanaman seperti sayuran, buah buahan dan tanaman obat yang bisa memberikan manfaat untuk peningkatan kesehatan lansia penguni LKS- LU. Tahap kegiatan pengabdian kepada masyarakat dibagi menjadi 3 tahap yang  meliputi tahap persiapan administratip, pelaksanaan dan evaluasi. Waktun yang dibutuhkan untuk kegiatan ini adalah selama 3 hari yaitu pada tanggal Edukasi ini akan dilaksanakan selama 3x pertemuan pada tanggal 19 November, 2 dan 5 Desember 2024 dengan jumlah peserta 11 orang di aula LKS LU Pangesti Lawang. pukul 12.30-15.00. Pada pertemuan hari pertama  di diawali dengan kegiatan pre test, dan didapatkan nilai rata-rata 5,4. Setelah peserta diberi penjelasan tentang pojok herbal sebagai upaya meningkatkan kesehatan lansia dilanjutkan dengan post test untuk mengetahui materi yang telah diberikan didapatkan nilai post test sebesar 8,2 penanaman tanaman herbal dilakukan pada hari ke tiga pada tempat yang sesuai dengan karakteristik tanaman. Kata kunci: kesehatan lansia; pengasuh lansi; pojok herbal; tanaman obat. AbstractThe development of the number of elderly people in Indonesia has occurred over a period of approximately 50 years. In this period, the percentage of Indonesia's elderly population has doubled compared to before. In 2020, the percentage of elderly people reached 9.92 percent or around 26.82 million people. The illnesses or other health problems often experienced by the elderly are very different from those of adults, namely problems with sleep disorders, immobilization, incontinence, depression, nutritional deficiencies, decreased immunity. The potential that can be optimized by LKS-LU Pangesti Lawang is a large garden planted with various plants such as vegetables, fruit and medicinal plants which can provide benefits for improving the health of elderly residents of LKS-LU. The community service activity stage is divided into 3 stages which include the administrative preparation, implementation and evaluation stages. The time required for this activity is 3 days, namely on the date. This education will be held during 3 meetings on 19 November, 2 and 5 December 2024 with a total of 11 participants in the LKS LU Pangesti Lawang hall. 12.30-15.00. The first day of the meeting began with pre-test activities, and an average score of 5.4 was obtained. After the participants were given an explanation about the herbal corner as an effort to improve the health of the elderly, it was continued with a post test to find out the material that had been given. The post test score was 8.2. The planting of herbal plants was carried out on the third day in a place that suited the characteristics of the plants. Keywords: elderly caregivers; elderly health; herbal corne; medical plants