Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENDAMPINGAN KADER LANSIA DALAM PEMANFAATAN TOGA UNTUK MENGATASI NYERI SENDI PADA LANSIA Syukkur, Achmad; Handini, Febrina Secsaria
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.17777

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki hutan tropis terkaya kedua di dunia setelah Brazil, dan potensi hayatinya merupakan sumber pangan dan obat-obatan dengan 25.000 sampai 30.000 tanaman yang berpotensi dijadikan sebagai tanaman obat. Namun demikian, pemanfaatan tanaman obat sebagai bahan pengobatan khususnya pada lansia di Indonesia masih belum optimal, begitu pula di Desa  Pandansari. Masyarakat di desa ini masih sering menggunakan obat-obatan bebas dalam mengatasi masalah kesehatan, sedangkan banyak tanaman obat di desa ini yang dapat dimanfaatkan. Tujuan kegiatan PkM ini yaitu memberikan pendampingan kepada kader lansia dengan memberikan edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) dan pembuatan kebun TOGA. Kegiatan PkM yang dilaksanakan meliputi edukasi kesehatan kepada kader tentang pengelolaan dan pemanfaatan TOGA, mempraktikkan cara penggunaan atau pemanfaatan TOGA, dan membuat kebun tanaman TOGA. Evaluasi dilakukan dengan melakukan pre test dan post test pengetahuan kader tentang pemanfaatan dan pengelolaan TOGA. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan praktik penggunaan TOGA untuk pengobatan nyeri. Hasil evaluasi terhadap pengetahuan kader lansia tentang TOGA dan pemanfaatannya mengalami peningkatan sejumlah 60,2% dari nilai rata-rata 53 (kategori kurang) menjadi rata-rata 88 (kategori baik). Begitu pula hasil evaluasi terhadap kemampuan kader lansia dalam melakukan praktik pemanfaatan TOGA untuk nyeri sendi juga mengalami peningkatan 55,1%.  Selain itu, kegiatan ini juga menghasilkan sebuah taman TOGA yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dalam mengatasi masalah kesehatan khususnya nyeri sendi pada lansia. Kata kunci: kader lansia; lanjut usia; nyeri sendi; pengobatan; TOGA. ABSTRACTIndonesia has the second richest tropical forest in the world after Brazil, and its biological potential is a source of food and medicine with 25,000 to 30,000 plants that have the potential to be used as medicinal plants. However, the use of medicinal plants as medicinal ingredients, especially for the elderly in Indonesia, is still not optimal, as is the case in Pandansari Village. People in this village still often use over-the-counter medicines to treat health problems, while many medicinal plants in this village can be used. The purpose of this PkM activity is to assist elderly cadres by providing education about the use of family medicinal plants (TOGA) and making TOGA gardens. The PkM activities carried out include health education to cadres about the management and use of TOGA, cleaning up the way TOGA is used or utilized, and creating a TOGA plantation. The evaluation was carried out by conducting a pre-test and post-test on the cadre's knowledge of the use and management of TOGA. The results of this activity indicate that there has been an increase in knowledge and practice of using TOGA for the treatment of pain. The results of this activity show that there has been an increase in knowledge and practice of using TOGA for pain treatment. The evaluation results of elderly cadres' knowledge about TOGA and its use increased by 60.2% from an average score of 53 (poor category) to an average of 88 (good category). Likewise, the results of the evaluation of the ability of elderly cadres to practice using TOGA for joint pain also increased by 55.1%. In addition, this activity produces a TOGA garden that can be utilized by the community in overcoming health problems, especially joint pain in the elderly. Keywords: elderly cadres; elderly; joint pain; medication; TOGA.
Joint Pain with Activity of Daily Living (ADL) Levels in Elderly People in Sempalwadak Village, Bululawang Community Health Center Working Area Dwi Agustina, Sisilia; Ariesti, Ellia; Setyobudi, Yustina Emi; Handini, Febrina Secsaria
Journal Keperawatan Vol. 4 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58774/jourkep.v4i2.123

Abstract

Background: Elderly individuals are individuals entering the final stages of human development. As they age, they experience functional decline, particularly in the musculoskeletal system, leading to conditions such as osteoarthritis, rheumatoid arthritis, and gout, which can cause joint pain. Frequent, persistent joint pain can lead to a decline in daily living activities. Purpose: To determine the relationship between joint pain and the level of Activity of Daily Living (ADL) ability in the elderly in Sempalwadak Village, Bululawang Health Center working area. Methods: This study used a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The study population was all elderly residents of Sempalwadak Village who were patients at the Bululawang Community Health Center. The sampling technique was total sampling, with a total sample size of 70 elderly residents. The instruments used included the Numeric Rating Scale (NRS) pain scale and the Activity of Daily Living (ADL) form using the Bathel Index, which consists of ten activities. Data analysis used the Spearman rank test. Results: Based on the Spearman rank test, the p value was obtained = 0.00 (<0.05), which means there is a relationship between joint pain and the level of Activity of Daily Living (ADL) ability in the elderly in Sempalwadak Village, Bululawang Community Health Center working area. Conclusion: Joint pain is significantly associated with functional independence in carrying out daily activities in older adults. Pain management should be prioritized to maintain ADL capacity in older adults.
Analisa Tingkat Kepuasan Pasien Tentang Pelayanan Kesehatan Lansia Sakti, Ifa Pannya; Handini, Febrina Secsaria; Sulartri, Anastasia Sri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 21, No 2 (2025): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v21i2.1847

Abstract

pasien lansia merupakan indikator utama dalam menilai mutu pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pasien lansia terhadap pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Tajinan, Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Tajinan, menggunakan teknik sampling accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangibles, empathy, reliability, responsiveness, dan assurance. Proses pengumpulan data dilaksanakan pada 7 – 12 Juli 2025 dengan jumlah responden yang didapat sebanyak 97 lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi tangibles, mayoritas responden merasa puas (78,4%). Pada dimensi tangibles sebesar 78,4%, empathy sebesar 75,3%, reliability sebesar 85,6%, responsiveness sebesar 75,4%, dan assurance sebesar 76,3% lansia menyatakan puas terhadap pelayanan yang diterima. Secara umum, tingkat kepuasan lansia berada pada kategori tinggi, yaitu sebanyak 83,5% responden merasa puas, dan 12,4% merasa sangat puas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Tajinan sudah berjalan dengan cukup baik, namun tetap perlu dilakukan evaluasi dan peningkatan berkelanjutan terutama pada dimensi dengan skor terendah. Pada penelitian ini untuk memperoleh gambaran umum mengenai persepsi dan penilaian lansia terhadap mutu pelayanan yang mereka terima. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi pihak puskesmas dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan lansia ke depan. 
Program Pendampingan Caregiver Formal dalam Pengenalan dan Tata Laksana Kegawatdaruratan Lansia Debora, Oda; Anugrahanti, Wisoedhanie Widi; Handini, Febrina Secsaria
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 1 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i1.757

Abstract

Introduction: Older people in nursing home can experience emergency condition due to trauma or non-trauma. Meanwhile, caregivers acted as first responder whom provide immediate assistance to reduce morbidity and mortality rates for the elderly in care. Furthermore, regularly documenting the examination results online will facilitate monitoring of the elderly's condition. Objective: This community service aims to educate and train caregivers to provide first aid in emergency situations, as well as the application of periodic documentation of elderly vital signs through website-based medical record. Method: This community service was implemented by the Community Service Team from STIKes Panti Waluya Malang and fully funded by the Ministry of Education, Culture, and Technology in the 2025 funding year at LKS-LU Pangesti Lawang, the partner in this activity was their 14 formal caregivers.  This activities was designed to be implemented in eight meetings to improve caregiver’s knowledge and skills. In order to improve caregiver’s knowledge, lecture, discussion, question and answer method was used. Meanwhile to improve caregiver’s skill, demonstration, and simulation methods was used. The community provider was use questionnaire to evaluate the knowledge, and observation sheet to evaluate caregiver’s skill. The pre and post-test score were calculated, and categorized using N-Gain score. Result: Based on the calculation of the pre- and post-test score, the average N-Gain was 0.81 (N-Gain >0.7) for the theory, so it can be concluded that this activity has high effectiveness in improving caregiver knowledge. In addition, the average N-Gain for BHD performance was 0.8 and the N-Gain for choking performance was 0.9. Both have N-Gain >0.7, which means this simulation activity has high effectiveness in improving caregiver skills. To support E-RM documentation, the service team designed a website-based elderly development record system at https://pangesti.mikspwm.com, which was tested using the Blackbox method.  Conclusion: Providing education on first aid for emergency situations in the elderly through lectures, question-and-answer sessions, and discussions can improve caregivers' knowledge. Demonstrations, including simulations and demonstrations, can improve caregiver skills.
Pemberdayaan kader kesehatan melalui pelatihan caregiver informal dalam Perawatan Jangka Panjang (PJP) lansia Oda Debora; Venny Kurnia Andika; Febrina Secsaria Handini
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27449

Abstract

Abstrak Saat ini Indonesia sedang menghadapi peningkatan morbiditas akibat penyakit tidak menular dan penyakit degeneratif. Menurut Riskesdas 2018, penyakit tidak menular terbanyak yang dialami lansia adalah tekanan darah tinggi (hipertensi). Sama halnya di Kota Malang, hipertensi dan diabetes mellitus adalah penyakit tidak menular yang paling banyak ditemukan. Menurut survei yang dilakukan tahun 2028, 74,3% lansia masih tergolong mampu melakukan aktivitas secara mandiri, sedangkan sisanya memiliki tingkat ketergantungan ringan hingga berat. Kondisi ini juga ditemukan di salah satu wilayah kerja Puskesmas Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang, yaitu Kelurahan Sukoharjo. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyelesaikan permasalahan terkait penyakit tidak menular di Sukoharjo. Kegiatan ini bermitra dengan kader kesehatan Kelurahan Sukoharjo, kecamatan Klojen, kota Malang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi edukasi, praktik, demonstrasi, dan pelatihan yang terbagi kedalam 9 kali pertemuan tatap muka. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan yang semula banyak berpengetahuan kurang sebesar 84,2%, setelah dilakukan kegiatan meningkat menjadi baik sebesar 100%. Begitupun dengan praktik dan demonstrasi yang dilakukan, seluruh kader kesehatan memahami dan dapat melakukan demonstrasi secara mandiri. Dengan dilaksanakannya kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan kader dapat menyebarluaskan ilmu yang telah didapatkan kepada caregiver informal di wilayahnya masing-masing. Kata kunci: caregiver informal; lansia; perawatan jangka panjang Abstract Currently, Indonesia is facing an increase in morbidity due to non-communicable diseases and degenerative diseases. According to Riskesdas 2018, the most non-communicable disease experienced by the elderly is high blood pressure (hypertension). Similarly in Malang, hypertension and diabetes mellitus are the most common non-communicable diseases. According to a survey conducted in 2028, 74.3% of the elderly are still classified as able to carry out activities independently, while the rest have a mild to severe dependency rate. This condition was also found in one of the working areas of the Bersama Health Center, Klojen District, Malang City, namely Sukoharjo Village. The purpose of this activity is to solve problems related to non-communicable diseases in Sukoharjo. This activity partners with health cadres of Sukoharjo Village, Klojen District, Malang City. Methods used in this activity include education, practice, demonstration, and training divided into 9 face-to-face meetings. The results of this activity show that there is an increase in the knowledge and ability of health cadres who originally had a lot of knowledge, which was less than 84.2%, after the activity was carried out, it increased to a good level of 100%. Along with the practices and demonstrations carried out, all health cadres understand and can carry out demonstrations independently. With the implementation of this community service activity, it is hoped that cadres can disseminate the knowledge that has been obtained to informal caregivers in their respective regions. Keywords: elderly; informal caregiver; long-term caregiving