Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Pemanfaatan Batu Pumice Dalam Mengurangi Penurunan Performa Beton Pasca Kebakaran Thoyfurrohman, Muhammad Akhis; Cahyo, Bagas Indra; Yulianti, Erika; Nuroji, Nuroji; Priastiwi, Yulita Arni
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 12 No. 1 (2022): Volume 12 Nomor 1, Maret 2022
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v12i1.569

Abstract

Abstrak Beton yang mengalami kebakaran pada suhu 400ËšC akan mengalami degradasi kekuatan hingga kuat tekan sisa 58,40% Hal ini akan mempengaruhi kualitas/kekuatan struktur beton tersebut dan akan menyebabkan beton menjadi getas, dan memungkinkan struktur mengalami kegagalan. Diperlukan upaya proteksi pasif kebakaran dengan menggunakan material yang memiliki ketahanan terhadap api. Salah satu material yang memiliki ketahanan terhadap api yang baik adalah batu pumice. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan dan laju penurunan kekuatan beton pumice yang menggunakan Pasir Muntilan sebagai agregat halus akibat perubahan suhu pembakaran pada 27°C, 300°C, dan 600°C. Penelitian menggunakan 45 buah benda uji silinder beton berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Dengan variasi penggantian batu pumice 0% , 25%, 50%, 75% dan 100% dari volume agregat kasar dan Faktor Air Semen (FAS) sebesar 0,5. Pengujian kuat tekan dengan alat compression saat umur 28 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pembakaran mempengaruhi kuat tekan beton pumice dengan pasir Muntilan pada semua komposisi proporsi. Semakin tinggi suhu pembakaran maka semakin besar penurunan yang terjadi. Besaran penurunan kuat tekan akibat kenaikan suhu pembakaran berkisar antara 0,16% hingga 55,38% lebih lambat dibandingkan dengan beton tanpa menggunakan batu pumice Kata kunci: Beton, Batu Pumice, Performa Beton  Abstract Concrete that has been burned at 400° C will experience degradation to a residual compressive strength of 58.40%. This will affect the strength of the concrete structure and will cause the concrete to become brittle, thus allowing the structure to fail. Then it will require passive fire protection by using materials that have some resistance to the fire. One material that has the potential to create fire resistance is pumice stone. The purpose of this study was to determine the value of compressive strength and the rate of reduction in compressive strength of Muntilan sand pumice concrete due to the changes in combustion temperature of 27ËšC,300ËšC, and 600ËšC. In this study, used a 45 pieces concrete cylinder with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm. with variations of pumice stone proportion of 0%, 25%, 50%,75% and 100% of the volume of coarse aggregate with a water cement ratio of 0.5. Compressive strength test with a compression device at the age of 28 days. The results of this study indicate that the combustion temperature affects the compressive strength of pumice concrete. The higher the combustion temperature, the higher the strength reduction that occurs. The amount of reduction in compressive strength due to an increase in combustion temperature ranged from 0.16% to 55.38% of the control specimens. Keywords: Pumice, Compressive Strength, Temperature
Data Center Room Monitoring Based on Temperature and Humidity with Internet of Things Rizkiawan, M. Asep; Ramza, Harry; Nuroji, Nuroji; Sofwan, Agus
Jambura Journal of Electrical and Electronics Engineering Vol 6, No 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Electrical Engineering Department Faculty of Engineering State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjeee.v6i2.23344

Abstract

The idea of the Internet of Things (IoT) encompasses the application of technologies such as sensors and software to an object for the purpose of communicating, controlling, connecting, and exchanging data with other devices while connected to the Internet. In this study, the IoT concept developed was used to monitor and regulate conditions within the data center. The development method used is the life cycle method of system development. The development process involved modifying the Arduino Uno with an esp8266 microcontroller and a DHT-22 sensor to detect temperature and humidity in real time. The testing of IoT development was done using the black box and white box methods. Research results show that the prototyped IoT network can operate well and successfully improve data center performance. In addition, users can also access the system through websites and mobile applications to facilitate the monitoring process.
Daya Tahan Mortar Geopolimer dan Mortar Semen Portland Pozzolan (PPC) terhadap Larutan Asam Sulfat Nurhuda, S.T., M.T., Ph.D., Ilham; Priastiwi, Yulita Arni; Nuroji, Nuroji; Ardidawa, Variandi; Nizami, Chazaidhan AlFahd
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 28, Nomor 2 (2022)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v28i2.46324

Abstract

Penggunaan semen dalam beton sering dikritik karena pembuatan semen menghasilkan emisi CO2 yang tinggi ke lingkungan. Pengurangan semen dalam konstruksi atau mengganti semen dengan material lain yang lebih ramah lingkungan diyakini dapat menjadi solusi untuk lingkungan yang lebih baik. Semen portland pozzolan (PPC) dikenal sebagai semen yang lebih ramah lingkungan yang menggantikan sebagian klinker semen dengan bahan pozzolan seperti fly ash. Bahan ramah lingkungan lainnya adalah geopolimer yang sepenuhnya menggantikan semen dengan bahan pozzolan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui durabilitas mortar berbahan PPC dan geopolimer pada lingkungan korosif. Mortar geopolimer terbuat dari fly ash dengan substitusi tanah putih 25%, serta aktivator NaOH 8M dan Na2SiO3. Kondisi korosi disimulasikan dengan larutan Asam Sulfat (H2SO4) dengan pH 4. Durabilitas mortar diamati pada umur perendaman 14, 28, 56, dan 100 hari. Keawetan kedua jenis mortar diperiksa dengan menguji kuat tekan, kuat tarik langsung, porositas, densitas dan mengamati perubahan massa dan bentuk  fisik setelah perendaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman mortar dalam larutan Asam Sulfat pH 4 tidak berpengaruh besar terhadap kinerja mortar PPC. Namun, kinerja mortar geopolimer dengan substitusi tanah putih 25% menurun setelah direndam dalam larutan asam sulfat. 
Pengekang Crossties di Zona Tekan Balok dengan Pembebanan Siklik Priastiwi, Yulita Arni; Imran, Iswandi; Nuroji, Nuroji; Hidayat, Arif
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 24, Nomor 2, (2018)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.852 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v24i2.18980

Abstract

Crossties that was installed as a confinement in the compression zone of the beam is proven can increase the ductility, especially when receiving the earthquake load. Using an experimental study, this paper  explains  the effect of crossties which was installed in compression zone of the beam. The model was a simplification of the plastic hinge of the beam. The beam was enlarged in the center of the span and would be loaded with a cyclic of point load, so as to produced the largest moment and shear fields in the face beam of the column. Moreover, the loading was provided by the displacement control system to achieve the ultimate condition. The results show that the crossties significantly increases the displacement and curvature ductility of the beams of 58.7% and 78.2%, respectively, compared to the beam without confinement. In addition, the load cycle formed by cyclic loading increases to 43 cycles in beam with crossties, meanwhile the beam without confinement can only survive up to 33 cycles. The crossties could also increase the cumulative value of inelastic displacement that occurs up to 98%, whereas its  energy dissipation value is six times than the beam without confinement. On the other hand, the maximum load and capacity moment only increase about 6.5%.
KINERJA SAMBUNGAN MEKANIS JENIS COUPLING SLEEVE AKIBAT BEBAN MONOTONIK Eko Riyanto Riyanto; Nuroji Nuroji; Yulita Arni Priastiwi Priastiwi
Journal of Economic, Business and Engineering (JEBE) Vol. 7 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32500/jebe.v7i2.11027

Abstract

Sambungan tulangan merupakan elemen penting dalam konstruksi bangunan beton bertulang. Salah satu alasan penggunaan sambungan tulangan adalah ketersediaan tulangan yang diproduksi memiliki keterbatasan panjang. Penyambungan tulangan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu sambungan lewatan, sambungan las, dan sambungan mekanis. Penelitian ini diusulkan inovasi model sambungan mekanis berupa sistem coupling sleeve yaitu sambungan dua batang tulangan dengan selongsong berbentuk silinder yang mempunyai sayap terpisah berlubang dengan fungsi sebagai wadah untuk menancapkan baut pengencang. Penelitian bertujuan menganalisis inovasi model sambungan mekanis dengan tidak adanya eksentrisitas, serta meningkatkan efisiensi panjang sambungan, tanpa mengurangi luas penampang pada batang yang disambung. Metode penelitian pengujian sambungan mekanis berdasarkan ASTM A1034-10a yaitu metode uji tarik untuk mengevaluasi kinerja sambungan mekanis pada batang tulangan baja dengan memvariasikan panjang dan diameter coupler yang digunakan. Sebelum pengujian eksperimental di laboratorium, terlebih dahulu dilakukan simulasi menggunakan perangkat lunak ANSYS untuk menentukan panjang sambungan mekanis yang optimum dalam menahan beban serta mengetahui konsentrasi tegangan yang terjadi pada benda uji. Hasil penelitian bahwa penggunaan coupling sleeve dengan panjang 200 mm memberikan kinerja yang paling optimal dibandingkan variasi panjang lainnya. Distribusi tegangan maksimum pada sistem sambungan terjadi pada daerah baut akibat pengaruh gaya tarik dan torsi pengencangan, sedangkan tegangan pada tulangan dan selongsong relatif lebih merata. Selain itu, hasil simulasi menunjukkan bahwa gaya penjepit dari baut mampu meningkatkan gaya cengkeram selongsong terhadap tulangan sehingga transfer gaya tarik dapat berlangsung secara efektif tanpa terjadi slip. Dengan demikian, sistem coupling sleeve yang dikembangkan berpotensi menjadi alternatif sambungan mekanis yang efisien dan aplikatif pada konstruksi beton bertulang.
Pemanfaatan Batu Pumice Dalam Mengurangi Penurunan Performa Beton Pasca Kebakaran Muhammad Akhis Thoyfurrohman; Bagas Indra Cahyo; Erika Yulianti; Nuroji Nuroji; Yulita Arni Priastiwi
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 12 No. 1 (2022): Volume 12 Nomor 1, Maret 2022
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v12i1.569

Abstract

Abstrak Beton yang mengalami kebakaran pada suhu 400ËšC akan mengalami degradasi kekuatan hingga kuat tekan sisa 58,40% Hal ini akan mempengaruhi kualitas/kekuatan struktur beton tersebut dan akan menyebabkan beton menjadi getas, dan memungkinkan struktur mengalami kegagalan. Diperlukan upaya proteksi pasif kebakaran dengan menggunakan material yang memiliki ketahanan terhadap api. Salah satu material yang memiliki ketahanan terhadap api yang baik adalah batu pumice. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan dan laju penurunan kekuatan beton pumice yang menggunakan Pasir Muntilan sebagai agregat halus akibat perubahan suhu pembakaran pada 27°C, 300°C, dan 600°C. Penelitian menggunakan 45 buah benda uji silinder beton berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Dengan variasi penggantian batu pumice 0% , 25%, 50%, 75% dan 100% dari volume agregat kasar dan Faktor Air Semen (FAS) sebesar 0,5. Pengujian kuat tekan dengan alat compression saat umur 28 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pembakaran mempengaruhi kuat tekan beton pumice dengan pasir Muntilan pada semua komposisi proporsi. Semakin tinggi suhu pembakaran maka semakin besar penurunan yang terjadi. Besaran penurunan kuat tekan akibat kenaikan suhu pembakaran berkisar antara 0,16% hingga 55,38% lebih lambat dibandingkan dengan beton tanpa menggunakan batu pumice Kata kunci: Beton, Batu Pumice, Performa Beton  Abstract Concrete that has been burned at 400° C will experience degradation to a residual compressive strength of 58.40%. This will affect the strength of the concrete structure and will cause the concrete to become brittle, thus allowing the structure to fail. Then it will require passive fire protection by using materials that have some resistance to the fire. One material that has the potential to create fire resistance is pumice stone. The purpose of this study was to determine the value of compressive strength and the rate of reduction in compressive strength of Muntilan sand pumice concrete due to the changes in combustion temperature of 27ËšC,300ËšC, and 600ËšC. In this study, used a 45 pieces concrete cylinder with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm. with variations of pumice stone proportion of 0%, 25%, 50%,75% and 100% of the volume of coarse aggregate with a water cement ratio of 0.5. Compressive strength test with a compression device at the age of 28 days. The results of this study indicate that the combustion temperature affects the compressive strength of pumice concrete. The higher the combustion temperature, the higher the strength reduction that occurs. The amount of reduction in compressive strength due to an increase in combustion temperature ranged from 0.16% to 55.38% of the control specimens. Keywords: Pumice, Compressive Strength, Temperature
Sistem Klasifikasi Lima Jenis Lesi Jerawat Berbasis Web dengan Transfer Learning MobileNetV2 Ramadhan, Syauqi Thoriq; Nuroji
Journal of Computers and Digital Business Vol. 5 No. 3 (2026): Articles in Press
Publisher : PT. Delitekno Media Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56427/jcbd.v5i3.1042

Abstract

Identifikasi jenis lesi jerawat secara visual sulit dilakukan karena beberapa kelas memiliki karakteristik yang serupa. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem berbasis web untuk mengklasifikasikan lima jenis lesi jerawat menggunakan MobileNetV2 dengan transfer learning. Dataset Acne Dataset Image dari Kaggle berisi 2.778 citra yang mencakup blackheads, whiteheads, papules, pustules, dan cysts. Seluruh citra diubah ukurannya menjadi 224 × 224 piksel, sedangkan augmentasi hanya diterapkan pada data pelatihan. Model menggunakan bobot awal ImageNet dan fine-tuning pada 50 lapisan terakhir, kemudian dilatih selama 50 epoch dengan optimizer Adam, learning rate 0,00007, dan batch size 32. Kinerja model dievaluasi menggunakan akurasi, presisi, recall, F1-score, dan confusion matrix. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model mencapai akurasi 99%, dengan presisi, recall, dan F1-score sebesar 0,98–1,00 pada lima kelas. Model selanjutnya diintegrasikan ke dalam aplikasi berbasis web untuk mengklasifikasikan citra yang diunggah pengguna dan menampilkan probabilitas setiap kelas. Hasil ini menunjukkan potensi MobileNetV2 sebagai pendukung klasifikasi awal lesi jerawat berbasis citra. Namun, pengujian pada data eksternal yang lebih beragam masih diperlukan untuk menilai kemampuan generalisasi model.