Asrul
Agrotechnology Study Program At The Faculty Of Agriculture, Tadulako University

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

POPULASI WALANG SANGIT Leptocorisa acuta Thunberg. (HEMIPTERA:ALYDIDAE) SERTA PRODUKSI DUA VARIETAS TANAMAN PADI DI KECAMATAN TORIBULU Nasrah K Bajber; Moh. Hibban Toana; Asrul Asrul
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 8 No 6 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Walang sangit merupakan hama penting tanaman padi pada fase generative. Hama ini menyerang pertanaman padi yang berbunga samapi padi menjelang panen. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan hasil tanaman padi rata-rata 40% dan serangan berat dapat mencapai 100%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui populasi danintensitas serangan hama walang sangit (Leptocorisa acuta. Thunberg.) sertap roduksinya pada varietas padi Inapri 12 dan Mekongga di KecamatanToribulu. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2018 sampai Januari 2019 di desa Sienjo, KecamatanToribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survei purposive sampling. Data pengamatan yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan Uji- t.(Two sample assuming equal variance). Hasil penelitian menujukan Kepadatan populasi telur L. acuta tertinggi pada varietas inpari 12 yaitu 1447 butir telur dengan rata-rata 289,4 per petak pengamatan. Kepadatan populasi nimfa L.acuta tertinggi pada varietas inpari 12 yaitu 638 dengan rata-rata 127,6 ekor pertitik pengambilan sampel dan kepadatan popualsi imago L. acuta tertinggi pada varietas inpari 12 yaitu 701 dengan rata-rata 140,2 6 ekorpertitik pengambilan sampel. Intensitas serangan walang sangit per 10 rumpun yang tertinggi pada padi pengamatan 3 yaitu 54% varietas inpari 12 pada varietas mekongga yaitu 38% Hasil produksi tertinggi terdapat pada varietas mekongga dengan rata-rata 5,54 kg/plot pengamatan dan pada varietas inpri 12 dengan rata-rata 4,46 kg/plot pengamatan. Tingginya populasi hama walang sangit juga berpengaruh pada intensitas serangan serta hasil produksi tanaman padi. Semakin tinggi populasi hama walang sangit intensitas serangannya akan semakain tinggi sehingga produksi padi yang didapatkan rendah.
PENGENDALIAN HAYATI LARVA Spodoptera frugiperda J.E. SMITH DENGAN MENGGUNAKAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Metarhizium anisopliae DI LABORATORIUM Rohman Lugito; Moh. Yunus; Asrul Asrul
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 11 No 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman jagung di Indonesia telah mengalami kerusakan akibat serangan hama. Spodoptera frugiperda termasuk hama yang menjadi salah satu penyebab utama turunnya produktivitas jagung di berbagai belahan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi yang efektif dari cendawan entomopatogen M. anisopliae terhadap mortalitas hama S. frugiperda. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan larva S. frugiperda instar 3 yang diujikan dengan perlakuan kerapatan konidia 104, 106, 108, 1010 dan kontrol untuk melihat deskrisi gejala infeksi yang timbul masa inkubasi cendwan, dan mortalitas larva. Hasil penelitian menujukan perlakuan yang paling efektif yaiu kerapatan 1010 menunjukkan angka mortalitas tertinggi sebesar 77.5% dan masa inkubasi tercepat selama 1.5 Hari. Gejala infeksi yang timbul pada larva pada 1 – 3 HSA mulai muncul hifa berwarna putih pada bagian tubuh larva yang menyebabkan lambatnya aktivitas larva, hifa memenuhi tubuh larva dan berubah warna menjadi hijau gelap, pada fase ini tubuh larva telah mati dan kaku. Perlakuan kerapatan konidia sangat berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva. Mortalitas tertinggi terdapat pada perlakuan kerapatan 1010 sebesar 77.5 % dan kerapatan 108 sebesar 45%.
UJI ANTAGONIS Trichoderma sp. dan BAKTERI Bacillus sp. DB12 TERHADAP Alternaria porri PENYEBAB BERCAK UNGU PADA BAWANG WAKEGI (Allium x wakegi Araki) SECARA IN VITRO Meika Meika; Asrul Asrul; Rosmini Rosmini
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 11 No 3 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrotekbis.v11i3.1728

Abstract

Tujuan penelitian untuk melihat dan mengetahui daya hambat Trichoderma sp. dan Bacillus sp. db12 dalam menekan pertumbuhan A.porri penyebab bercak ungu bawang wakegi secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako yang berlangsung pada bulan Mei 2021 sampai Juli 2022. Penelitian menggunakan analisis uji T kepercayaan 5% dengan dua perlakuan, yaitu Trichoderma sp. dan Bacillus sp. db12, setiap perlakuan diulang sebanyak 10 kali sehingga menghasilkan 20 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan daya hambat masing-masing agen hayati pertumbuhan A. porri menunjukkan pengaruh nyata pada persentase daya hambat Trichoderma sp. 72,85%, dibandingkan dengan Bacillus sp. db12 yang hanya mencapai 62,94% secara in vitro pada media NA dibuktikan dengan analisis uji T dengan nilai t-hitung 5,64 > t-tabel 2,44.
Pertumbuhan Aspergillus sp pada Media Limbah Cair Tempe dan Air Kelapa Abdul Rahim Thaha; Damayanti Damayanti; Asrul Asrul; Umrah Umrah
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 27 No 3 (2020): Desember
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrolandnasional.v27i3.601

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan fungi pada media limbah cair tempe (TLW) dan limbah air kelapa (CW) telah dilakukan di unit laboratorium bioteknologi, departemen biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Alam Universitas Tadulako. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan Aspergillus sp pada media limbah cair tempe dan air kelapa di laboratorium. Dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), jika Uji F nyata, nilai tengah perlakuan diuji dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Data dianalisis dengan analisis monovariat dengan program excel 2018. Terdiri dari enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan-perlakuan tersebut meliputi perlakuan media P1 (100% TLW, tanpa CW), P2 (80% TLW+20%), P3 (60% TLW+ 40% CW), P4 (40% TLW+60% CW), P5 (20% TLW + 80% CW) dan P6 (100% CW, tanpa TLW). Parameter pengamatan adalah pH, jumlah koloni, biomassa basah dan kering. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa Aspergillus sp dapat tumbuh baik pada semua perlakuan media, namun perlakuan terbaik adalah P2 (80% TLW+ 20% CW) dengan jumlah koloni 19 x 1010 CFU/ml, pH 6,2 , biomassa basah 9,57 g dan biomassa kering 3,87 g.
Karakterisasi Patogen Hawar Daun Bakteri Secara Fenotipik Pada Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) Asrul Asrul; Triwidodo Arwiyanto; Bambang Hadisutrisno; Jaka Widada
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 26 No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrolandnasional.v26i1.735

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis patogen yang berasosiasi dengan bawang merah sakit hawar daun bakteri.Penelitian dilakukan dengan metode isolasi dan karakterisasi bakteri berdasarkan sifat morfologi koloni dan sel bakteri, serta biokimiawi dan fisiologis. Hasil isolasi dan karakterisasi diperoleh 8 isolat murni bakteri patogenik yang berasosiasi dengan bawang merah sakit.Umumnya isolat memiliki sifat gram negatif, sel berbentuk batang pendek, mempunyai flagel peritrikus, koloni berwarna kuning, atau krem, berbentuk bundar, cembung, rata, mucoid dan mengkilap. Isolat bereaksi positif terhadap uji katalase, urease, levan, produksi indol, tween 80, dapat hidup pada suhu antara 20 - 37OC, ph 5 - 7 dan toleran pada kandungan NaCl 0 - 8,5%. Isolat bereaksi negatif terhadap oksidase, reduksi nitrat, pigmen fluorescen, arginine, gelatin dan pati.Berdasarkan sifat-sifat tersebut, isolat yang ditemukan umumnya memiliki kemiripan lebih dekat dengan sifat-sifat bakteri P. ananatis (koofisien kemiripan 88%) dibanding bakteri X. axonopodis pv. allii (koofisien kemiripan 78%). Gejala yang ditimbulkan berupa daun layu kebasah-basahan (water soaked), mengkerut, melekuk kebawah, klorosis, nekrosis, dan mati pucuk.
HOST RANGE PANTOEA ANANATIS THE CAUSAL AGENT OF BACTERIAL LEAF BLIGHT ON ALLIUM SPP. Asrul Asrul; Umrah Umrah
AGROLAND The Agricultural Sciences Journal (e-Journal) Vol 6 No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agroland.v6i1.8

Abstract

Bacterial leaf blight disease caused by Pantoea ananatis has been reported affects some species of Allium spp. Here, we determined the species of Allium spp. that are not the hosts of the P.ananatis through a host range test. The study designed as a completely randomized design with five replications. Pathogenic bacteria of P. ananatis inoculated to shallot, onion, spring onion, garlic, chives, leek, and cung spring onion in the greenhouse of the Faculty of Agriculture Tadulako University. The incubation period and symptoms of after inoculated by P. ananatis then observed. The results showed that four llium species (onion, onion, scallion, and garlic) were hosts of P. ananatis while the other three species (chives, leek, and cung spring onion) were not hosts of P. ananatis.
INDIGENOUS TRICHODERMA SPP. COLLECTED FROM SHALLOT FIELDS SUPPRESS FUSARIUM ROT DISEASE Mohammad Yunus; Nur Edy; Vinsensia Pato; Moh. Hibban Toana; Johanis Panggeso; Flora Pasaru; Asrul Asrul
AGROLAND The Agricultural Sciences Journal (e-Journal) Vol 6 No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agroland.v6i2.179

Abstract

Antagonist fungi have enormous potential to be a biological agent to control Fusarium basal rot (FBR) disease in shallot. This study aims to explore, isolated, and tested the antagonistic of Trichoderma sp. indigenous isolated from shallot fields against FBR disease. Exploration of isolates was carried out at the shallot planting center in Sigi Regency. The isolation characterization and inhibition tests were carried out at the Laboratory of Plant Pathology Tadulako University. The inhibition test was using two culture methods. The results showed that there were Trichoderma sp. obtained from shallot fields in the village of Sidera. In vitro test results showed Trichoderma sp., which was found to be able to inhibit the growth of the fungus F. oxysforum. The highest inhibition reached 69.18% within six days. As a comparison of inhibition of Trichoderma harzianum, a laboratory collection, within 6 days only reached 61.06%. Trichoderma sp. the origin of shallot fields was more effectively used as a biological agent in controlling FBR disease.