Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

WORKSHOP PERANAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DALAM MENGATASI BURNOUT Dwi Hurriyati; Tiara Khairunisa
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2025): Vol.6 No. 5 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i5.51370

Abstract

Workshop menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, di mana karyawan dapat berbagi pengalaman dan perspektif, sehingga memperkaya pemahaman mereka. Selain itu, hasil dari Workshop sering kali dapat diaplikasikan langsung dalam proyek atau tugas sehari-hari, memberikan dampak yang nyata. Seperti hal nya yang akan di lakukan oleh penulis untuk mengatasi situasi yang sedang di alami di Perumda Tirta Musi Palembang Mengenai Peran Psychological Well-Being dalam mengatasi Burnout. Metode yang digunakan penulis yaitu workshop. Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologi karyawan (PWT) untuk mengatasi Burnout, dengan fokus pada dukungan sosial dan Teknik mindfulness. hasil kegiatan pengabdian Masyarakat di Perumda Tirta Musi Palembang memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dan menyoroti pentingnya kesejahteraan psikologis karyawan. Workshop tentang kesehatan mental menjadi solusi untuk mengelola stres dan meningkatkan motivasi kerja, guna mendukung terciptanya lingkungan kerja yang positif dan kinerja perusahaan yang berkelanjutan.
The Role of Positive Leadership in Improving Employee Psychological Wellbeing in the Assessment Center of PT Bukit Asam Tbk. Dwi Hurriyati; Aldy Anugrah
ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities Vol. 8 No. 2 (2025): JUNE
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/els-jish.v8i2.44978

Abstract

This study examines the impact of positive leadership on improving employee psychological well-being, particularly in the mining industry work environment. The study uses positive leadership theory and PERMA-V theory as conceptual frameworks to analyze how leadership styles can create a supportive work environment and enhance employee psychological well-being. The research employs a descriptive qualitative method through participatory observation, informal interviews, and literature review in the workplace of the Assessment Center at PT Bukit Asam. The findings reveal that while financial well-being has been achieved, psychological stress levels due to workloads and deadlines remain high. Therefore, the application of positive leadership has proven effective in creating a more supportive work environment, boosting work morale, and strengthening employees' mental health. This study underscores the importance of integrating positive leadership principles into human resource management strategies to achieve holistic employee well-being.
MAKNA HIDUP SEBAGAI FAKTOR DALAM MENGHADAPI KESEPIAN PADA LANSIA DI PANTI JOMPO PANTI SOSIAL LANJUT USIA HARAPAN KITA INDRALAYA Dwi Hurriyati; Velza Indita Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13065

Abstract

ABSTRACT Loneliness among older adults living in residential social care institutions is influenced not only by reduced social interaction but also by how individuals interpret and assign meaning to their life experiences after encountering various changes associated with aging. This condition suggests that meaning in life may serve as an important psychological resource associated with the experience of loneliness, although empirical evidence within the context of Indonesian residential care facilities remains limited. Accordingly, this study examined the relationship between meaning in life and loneliness among older adults residing at Harapan Kita Elderly Social Care Center, Indralaya. A quantitative approach with a correlational design was employed involving 20 participants selected through purposive sampling. Data were collected using valid and reliable questionnaires and analyzed with the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) through descriptive statistics, assumption testing, and correlation analysis. The findings revealed a correlation coefficient of r = −0.462 with a significance value of p = 0.040 (p < 0.05), indicating a significant negative relationship between meaning in life and loneliness. Older adults with higher levels of meaning in life tended to report lower levels of loneliness. These findings highlight the importance of developing psychosocial interventions that integrate social engagement, spiritual activities, and the enhancement of meaning in life to promote psychological well-being among older adults living in residential social care institutions. ABSTRAK Kesepian pada lansia yang menetap di panti sosial tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya interaksi sosial, tetapi juga dipengaruhi oleh cara individu memaknai perjalanan hidupnya setelah menghadapi berbagai perubahan pada masa lanjut usia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meaning in life berpotensi menjadi sumber daya psikologis yang berkaitan dengan pengalaman loneliness, meskipun bukti empiris pada konteks panti sosial di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis hubungan antara makna hidup dan kesepian pada lansia yang tinggal di Panti Sosial Lanjut Usia Harapan Kita Indralaya. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional diterapkan pada 20 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis dengan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) melalui statistik deskriptif, pengujian prasyarat analisis, dan uji korelasi. Analisis menghasilkan koefisien korelasi sebesar -0,462 dengan nilai signifikansi 0,040 (p < 0,05), yang memperlihatkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara makna hidup dan kesepian. Temuan ini mengindikasikan bahwa lansia yang memiliki tingkat kebermaknaan hidup lebih tinggi cenderung mengalami kesepian yang lebih rendah. Bukti tersebut memperkuat pentingnya pengembangan program psikososial yang mengintegrasikan aktivitas sosial, spiritual, dan penguatan makna hidup sebagai upaya mendukung kesejahteraan psikologis lansia di lingkungan panti sosial.