Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Analisis Sebaran Total Suspended Matter dan Klorofil-a di Wilayah Pesisir Prigi dengan Menggunakan Penginderaan Jauh Zakiyah, Umi; Darmawan, Arief; Lazuardi, Dian Senja
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 25, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.25.2.88-93

Abstract

Total Suspended Matter (TSM) dan klorofil-a merupakan parameter kualitas air yang dapat dipetakan dengan penginderaan jauh. Nilai TSM yang tinggi dapat mempengaruhi klorofil-a dalam fitoplankton untuk berfotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran, akurasi, serta hubungan antara parameter TSM dan klorofil-a berdasarkan data in situ dan data citra di perairan Pesisir Prigi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Data yang digunakan adalah citra Landsat 8 tanggal 20 Mei 2018 dan sampel in situ yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling di 9 lokasi pada tanggal 19 Mei 2018. Dari penelitian ini didapatkan hasil nilai TSM in situ berkisar 41-64 ppm, nilai TSM citra berkisar 44–65 ppm, nilai klorofil-a in situ berkisar 1,15-2.68 mg/m3, dan nilai klorofil-a citra berkisar 1,24-2,41 mg/m3. Dari hasil data in situ dan citra didapatkan akurasi sebesar 74,37% untuk TSM dan 80,33% untuk klorofil-a. Nilai hubungan TSM dan klorofil-a adalah y= -0.045x + 3.9103 dengan nilai koefisien 85%, yang artinya variabel X yaitu TSM mempengaruhi variabel Y yaitu klorofil-a. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah perairan Pesisir Prigi memiliki nilai yang berada pada ambang batas masing – masing parameter, sehingga perairan Pesisir Prigi tergolong baik. Akurasi yang tinggi antara data citra dan data in situ menunjukkan metode penginderaan jauh sesuai untuk digunakan di wilayah perairan Pesisir Prigi.
Assessment Of Trophic Status In Bali Strait Umi Zakiyah; Endang Yuli Herawati; Kusriani Kusriani
Research Journal of Life Science Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.07 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2016.002.03.6

Abstract

The nutrient content in Banyuwangi coastal environment mostly caused by human activities along the coastal area of Bali strait especially in Banyuwangi surrounding areas. The change of organic element content in waters will directly affect plankton community structure and the aquatic trophic level. The aimed of this research were to analyze the plankton community structure, and to observe the quality of aquatic and determine Bali Strait especially Banyuwangi coastal area trophic level. This research was done in October 2015 at Banyuwangi coastal area. Methods used in this research was descriptive with seawater sampling for water quality analysis of several parameter such as nitrates (NO3), phosphates (PO4), TOM (Total Organic Matter) and Chlorophyll-a, meanwhile other parameters were, temperature, pH, Dissolved Oxygen dan salinity from three different depth of three different stations, coastal area of Bangsring, Tandjung Wangi and Muncar. The results for water quality parameters showed that Bangsring coastal area was the most  healthy waters compared to Bangsring and Muncar. Meanwhile, there were tendency that the concentration mostly high in the surface and decrease along with the deeper depth. This condition presumed caused by the ARLINDO current that passed through Bali strait. Phytoplankton identified and calculated consisted of 3 division, namely Chlorophyta, Chrysophyta, and Cyanophyta with total density ranges between 4-2888 ind/ml. The value of diversity index phytoplankton (H’) ranges between 0,3-0,7. Based on the result it can be concluded that Banyuwangi coastal areas were at throphic level of  oligotrophic tended to mesotrophic in northern part and eutrophic especially in Muncar. Thus, it was suggested for the Government to prevent this area becoming more polluted in the future.
Peta Biodiversitas Zooplankton di Area Pesisir Utara dan Selatan Madura, Jawa Timur Umi Zakiyah; Mulyanto Mulyanto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.60080

Abstract

Kelimpahan serta biodiversitas zooplankton sangat tergantung pada keberadaan fitoplankton sebagai makanan utamanya. Fitoplakton berperan penting sebagai produsen primer di perairan. Keberadaan fitoplankton sendiri selain bergantung faktor fisika-kimiawi perairan, juga nutrien seperti  nitrat dan fosfat. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran biodiversitas zooplankton serta faktor yang mempengaruhinya di pesisir utara dan selatan Madura, Jawa Timur. Lokasi pengambilan sampel dilakukan secara purposive di Pantai Pasongsongan, Sumenep dan pantai Pantai Branta Pamekasan di tiga stasiun yang berbeda. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan secara in situ dan ex situ, dan analisis biodiversitas zooplankton dilakukan dengan indeks biologi meliputi indeks keanekaragaman, indeks dominansi dan juga dilakukan analisis distribusi spasial menggunakan QGIS Las Palmas 3.10.2 untuk mengetahui peta distribusi kelimpahan nitrat, fosfat, fitoplankton dan zooplankton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan nitrat di pesisir utara Madura berkisar 0,0973 - 0,1124 ppm, sedikit lebih rendah dari pantai selatan Pamekasan yang berkisara antara 0,008 - 0,11 ppm. Konsentrasi fosfat berkisar antara 0,0388 - 0,0685 ppm di pantai utara dan 0,05 - 0,06 ppm di pantai selatan. Selama penelitian ditemukan zooplankton sebanyak 19 genera dari 7 filum. Sub kelas yang paling banyak ditemukan adalah Copepoda dari filum Arthopoda. Densitas zooplankton berkisar antara 48,408 - 57,325 Ind./L di pesisir utara Madura dan antara 210,191 - 314,650 Ind./L di pesisir selatan. Sebaran tertinggi zooplankton didapatkan pada stasiun satu di setiap lokasi sampling baik di pesisir utara maupun selatan Madura. Hal ini sesuai dengan data densitas fitoplankton yang juga menunjukkan nilai yg tinggi di stasiun tersebut. Nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh di pesisir selatan sedikit lebih tinggi yaitu berkisar antara 1,6 - 2,05, dibandingkan nilai di pesisir utara berkisar antara  1,2 - 1,4 meskipun nilai tersebut termasuk kedalam kategori keanekaragaman sedang.  Hal ini diikuti nilai indeks dominansi berkisar antara 0,17 - 0,39 di pesisir utara  dan selatan berkisar antara 0,3 – 0,4 atau dengan kata lain tidak ada genus zooplankton yang mendominasi. Berdasarkan peta sebaran biodiversitas zooplankton disimpulkan bahwa pesisir selatan memiliki biodiversitas zooplankton yang relatif lebih rendah dengan dominansi relatif lebih tinggi dibandingan dengan pesisir utara Madura yang memiliki biodiversitas lebih tinggi dan dominansi spesies yangg lebih  rendah.
DISTRIBUSI SPASIAL KLOROFIL- A DI PERAIRAN PANTAI KABUPATEN TULUNGAGUNG JAWA TIMUR MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH Umi Zakiyah; Gema Ayu Rohani; Arief Darmawan
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 3 (2019): JFMR VOL 3 No. 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.501 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.03.5

Abstract

AbstrakWilayah pesisir merupakan daerah yang sangat intensif dimanfaatkan untuk kegiatan dan aktifitas manusia seperti transportasi, agribisnis, pariwisata, serta kawasan permukiman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sebaran spasial kandungan klorofil-a di perairan  Kabupaten Tulungagung dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Selain itu juga untuk memvalidasi data citra dengan data in situ. Secara in situ dilakukan pengukuran klorofil-a, dan pengukuran kualitas air seperti: suhu, kecerahan, pH, nitrat dan fosfat. Kemudian dengan metode penginderaan jauh, citra Landsat 8 diekstraksi untuk mendapatkan sebaran spasial klorofil-a menggunakan Jaelani Log (Chl-a) = -0,9889 x (Rrs4/Rrs5) + 0,3619. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah  metode deskriptif dan dilakukan pada 10 titik stasiun secara purposive. Hasil penelitian analisis sebaran spasial Klorofil-a dengan penginderaan jauh di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur diperoleh nilai sebaran klorofil-a in situ berkisar 1,62-3,69 mg/m3, nilai klorofil-a citra  berkisar 0,86-1,31 mg/m3 dengan nilai akurasi untuk klorofil-a sebesar 46%. Didapatkan nilai kualitas air yakni suhu berkisar 29,22-29,830C, kecerahan berkisar 40,5-53 cm, pH didapatkan nilai 7,92-8,07 dari semua stasiun, nitrat berkisar 0,009-0,052 mg/l dan fosfat berkisar 0,017-0,342 mg/l yang masih dalam batas optimal untuk perairan.Kata Kunci : pesisir, sebaran klorofil-a, penginderaan jauh  (1)   Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang(2)   Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang(3)   Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang 
VARIABILITAS KLOROFIL-a PERIODE INDIAN OCEAN DIPOLE DI SELAT BALI BERDASARKAN ANALISIS EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION Adi Wijaya; Umi Zakiyah; Abu Bakar Sambah; Daduk Setyohadi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 5, No 2 (2021): JFMR VOL 5 NO.2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.4

Abstract

Perairan Selat Bali secara tidak langsung dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa. Variabilitas musim dan antar-tahunan dari konsentrasi klorofil-a permukaan (SSC) di Selat Bali, berhubungan erat dengan periode Indian ocean dipole (IOD) dan upwelling kuat yang terjadi di sepanjang Pantai Selatan Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas musiman dan antar-tahunan secara spasial dan temporal dari klorofil-a periode IOD di Selat Bali. Data oseanografi diperoleh dari Satelit Aqua/Terra MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) level 2 harian, selama periode Maret 2000-Mei 2020, dan analisis data menggunakan Empirical Orthogonal Function (EOF). Analisis EOF dilakukan pada data harian yang dikomposit menjadi bulanan dan dinormalisasi untuk mengisi data kosong. Hasil analisis EOF variasi temporal yang koheren dalam pemompaan klorofil-a di Selat Bali. Deret waktu dari mode pertama yang terbentuk mengungkapkan variasi musiman yang kuat dan variasi antar-tahunan yang relatif lemah. Mode kedua menunjukkan variasi antar-tahunan yang berbeda dengan klorofil-a yang tinggi di sepanjang pantai Selat Bali. Klorofil-a tinggi bersama dengan suhu permukaan laut yang rendah terjadi pada saat musim tenggara. Pola musiman berdasarkan analisis EOF menunjukkan mode pertama selama puncak IOD September hingga November (SON) menunjukkan klorofil-a tinggi di pantai Selat Bali. Deret waktu dari mode EOF menunjukkan korelasi yang signifikan dengan IOD. Kondisi ini terlihat selama fase puncak periode IOD bersamaan dengan monsun tenggara konsentrasi klorofil-a meningkat di sepanjang pantai Selat Bali dibandingkan pada musim sebelumnya.
Biodiversitas dan sebaran mikroalga berbasis sistem informasi geografis (SIG) di Perairan Selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur Umi Zakiyah; Mulyanto Mulyanto
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.305 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.17772

Abstract

The coastal region is a meeting point of land and sea. The coastal area utilization has developed intensively, which causes the sustainability or capacity of coastal ecosystems, and the pollution potential in this area exceeded due to various human activities. This condition affects the existence of microalgae, which play an important role not only in the food chain in the aquatic environment but also in humans at the end. This research was carried out in Sendang Biru Waters, South Malang Regency. The purpose of this study was to map and determine the biodiversity as well as the distribution of microalgae in coastal waters using in situ data. The data were analyzed using geographic information system techniques in the form of microalgae distribution and biodiversity maps. The results showed that the microalgae identified from the genera Chaetoceros and Navicula showing the highest frequency. The biodiversity index value at station 1 was 3,312, at station 2 was 3,184. These values indicate that the Sendang Biru waters were highly diverse in microalgae composition. The results of the temperature-water quality parameters are 27-29 ° C, salinity 32-35 ppt, and pH 7.8-8.2. The range of nitrate nutrients ranges from 0.0142 to 0.082 mg/l, while phosphate from 0.024 to 0.074 mg/l, silica showed values between 1.249 to 1.393 mg/l. Based on the analysis of chlorophyll-a, the range of chlorophyll-a values was between 1.773-1.777 mg/l. All parameters of water quality were classified as suitable for microalgae growth. Therefore, the microalgae biodiversity in this location can still be considered relatively high.Keywords:Coastal AreaBiodiversityMicroalgaeABSTRAKWilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan. Pemanfaatan wilayah pesisir secara intensif mengakibatkan terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan dari ekosistem pesisir dan meningkatnya potensi pencemaran pada perairan pesisir yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas manusia. Pencemaran ini akan mempengaruhi keberadaan mikroalga yang mempunyai peranan penting bukan saja dalam rantai makanan di perairan namun manusia juga pada akhirnya.  Penelitian ini dilakukan di Perairan Sendang Biru, Kabupaten Malang. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan memetakan biodiversitas dan sebaran mikroalga di perairan pantai selatan Kabupaten Malang, dengan data in situ. Data dianalisis menggunakan peta yang dihasilkan dari teknik sistem informasi geografis dari biodiversitas dan sebaran mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroalga yang teridentifikasi genus Chaetoceros dan Navicula memiliki kelimpahan tertinggi. Nilai index diversitas pada stasiun 1 adalah 3,312, sedangkan pada stasiun 2 adalah 3,184. Nilai tersebut menunjukkan bahwa mikroalga di perairan Sendang Biru memiliki keanekaragaman tinggi. Hasil parameter kualitas air suhu yaitu 27-29 0C, salinitas 32-35 ppt, dan pH 7,8-8,2. Kisaran nutrien nitrat adalah 0,0142 – 0,082 mg/l, fosfat 0,024 – 0,074 mg/l, dan silica berkisar 1.249 – 1.393 mg/l. Berdasarkan hasil analisis klorofil-a didapatkan kisaran nilai klorofil-a 1,773-1,777 mg/l. Seluruh parameter kualitas air masih tergolong dalam kategori baik untuk kehidupan mikroalga sehingga dapat disimpulkan biodiversitas mikroalga di lokasi penelitian relatif tinggi.Kata kunci:Wilayah PesisirKeanekaragamanMikroalga
Biodiversitas dan sebaran mikroalga berbasis sistem informasi geografis (SIG) di Perairan Selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur Umi Zakiyah; Mulyanto Mulyanto
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.17772

Abstract

The coastal region is a meeting point of land and sea. The coastal area utilization has developed intensively, which causes the sustainability or capacity of coastal ecosystems, and the pollution potential in this area exceeded due to various human activities. This condition affects the existence of microalgae, which play an important role not only in the food chain in the aquatic environment but also in humans at the end. This research was carried out in Sendang Biru Waters, South Malang Regency. The purpose of this study was to map and determine the biodiversity as well as the distribution of microalgae in coastal waters using in situ data. The data were analyzed using geographic information system techniques in the form of microalgae distribution and biodiversity maps. The results showed that the microalgae identified from the genera Chaetoceros and Navicula showing the highest frequency. The biodiversity index value at station 1 was 3,312, at station 2 was 3,184. These values indicate that the Sendang Biru waters were highly diverse in microalgae composition. The results of the temperature-water quality parameters are 27-29 ° C, salinity 32-35 ppt, and pH 7.8-8.2. The range of nitrate nutrients ranges from 0.0142 to 0.082 mg/l, while phosphate from 0.024 to 0.074 mg/l, silica showed values between 1.249 to 1.393 mg/l. Based on the analysis of chlorophyll-a, the range of chlorophyll-a values was between 1.773-1.777 mg/l. All parameters of water quality were classified as suitable for microalgae growth. Therefore, the microalgae biodiversity in this location can still be considered relatively high.Keywords:Coastal AreaBiodiversityMicroalgaeABSTRAKWilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan. Pemanfaatan wilayah pesisir secara intensif mengakibatkan terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan dari ekosistem pesisir dan meningkatnya potensi pencemaran pada perairan pesisir yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas manusia. Pencemaran ini akan mempengaruhi keberadaan mikroalga yang mempunyai peranan penting bukan saja dalam rantai makanan di perairan namun manusia juga pada akhirnya.  Penelitian ini dilakukan di Perairan Sendang Biru, Kabupaten Malang. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan memetakan biodiversitas dan sebaran mikroalga di perairan pantai selatan Kabupaten Malang, dengan data in situ. Data dianalisis menggunakan peta yang dihasilkan dari teknik sistem informasi geografis dari biodiversitas dan sebaran mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroalga yang teridentifikasi genus Chaetoceros dan Navicula memiliki kelimpahan tertinggi. Nilai index diversitas pada stasiun 1 adalah 3,312, sedangkan pada stasiun 2 adalah 3,184. Nilai tersebut menunjukkan bahwa mikroalga di perairan Sendang Biru memiliki keanekaragaman tinggi. Hasil parameter kualitas air suhu yaitu 27-29 0C, salinitas 32-35 ppt, dan pH 7,8-8,2. Kisaran nutrien nitrat adalah 0,0142 – 0,082 mg/l, fosfat 0,024 – 0,074 mg/l, dan silica berkisar 1.249 – 1.393 mg/l. Berdasarkan hasil analisis klorofil-a didapatkan kisaran nilai klorofil-a 1,773-1,777 mg/l. Seluruh parameter kualitas air masih tergolong dalam kategori baik untuk kehidupan mikroalga sehingga dapat disimpulkan biodiversitas mikroalga di lokasi penelitian relatif tinggi.Kata kunci:Wilayah PesisirKeanekaragamanMikroalga
Sosialisasi PP No. 38 Tahun 2011 untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya Sumberdaya Sungai di Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Batu Umi Zakiyah; Andi Andi Kurniawan; Mulyanto Mulyanto; Supriatna Supriatna; Mohammad Mahmudi; Sri Surdayanti; Nanik Retno Buwono; Lutfi Ni’matus Salamah; Alivia Salsabila K.T.S; Riska Ayu Lestari
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 4 No 1 (2024): I-Com: Indonesian Community Journal (Maret 2024)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/icom.v4i1.4063

Abstract

River water quality is getting worse due to lack of public awareness about the importance of river water quality. Efforts that can be made to increase public awareness are through law enforcement. This is done to instill a basic foundation in preserving the environment, and refers to the implementation of Government Regulation Number. 38/2011 which regulates rivers. Awareness raising is done by socialization method to the community about the existence of the government regulation. The area used as a socialization study is the community of Sumber Brantas Village, Batu, which is located near the upstream of the Brantas River. Some of these communities are not aware of the existence of government regulations governing rivers. In addition, there is a laij problem, namely the existence of environmentally unfriendly waste. So to realize the environment around river resources, there needs to be cooperation between various parties, including the community, government, and industry players. Cooperation is carried out to build a foundation in implementing the applicable law. In addition, synergy is also needed in providing sustainable solutions to problems faced around the river area.
Biodiversitas dan sebaran mikroalga berbasis sistem informasi geografis (SIG) di Perairan Selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur Umi Zakiyah; Mulyanto Mulyanto
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.17772

Abstract

The coastal region is a meeting point of land and sea. The coastal area utilization has developed intensively, which causes the sustainability or capacity of coastal ecosystems, and the pollution potential in this area exceeded due to various human activities. This condition affects the existence of microalgae, which play an important role not only in the food chain in the aquatic environment but also in humans at the end. This research was carried out in Sendang Biru Waters, South Malang Regency. The purpose of this study was to map and determine the biodiversity as well as the distribution of microalgae in coastal waters using in situ data. The data were analyzed using geographic information system techniques in the form of microalgae distribution and biodiversity maps. The results showed that the microalgae identified from the genera Chaetoceros and Navicula showing the highest frequency. The biodiversity index value at station 1 was 3,312, at station 2 was 3,184. These values indicate that the Sendang Biru waters were highly diverse in microalgae composition. The results of the temperature-water quality parameters are 27-29 ° C, salinity 32-35 ppt, and pH 7.8-8.2. The range of nitrate nutrients ranges from 0.0142 to 0.082 mg/l, while phosphate from 0.024 to 0.074 mg/l, silica showed values between 1.249 to 1.393 mg/l. Based on the analysis of chlorophyll-a, the range of chlorophyll-a values was between 1.773-1.777 mg/l. All parameters of water quality were classified as suitable for microalgae growth. Therefore, the microalgae biodiversity in this location can still be considered relatively high.Keywords:Coastal AreaBiodiversityMicroalgaeABSTRAKWilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan. Pemanfaatan wilayah pesisir secara intensif mengakibatkan terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan dari ekosistem pesisir dan meningkatnya potensi pencemaran pada perairan pesisir yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas manusia. Pencemaran ini akan mempengaruhi keberadaan mikroalga yang mempunyai peranan penting bukan saja dalam rantai makanan di perairan namun manusia juga pada akhirnya.  Penelitian ini dilakukan di Perairan Sendang Biru, Kabupaten Malang. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan memetakan biodiversitas dan sebaran mikroalga di perairan pantai selatan Kabupaten Malang, dengan data in situ. Data dianalisis menggunakan peta yang dihasilkan dari teknik sistem informasi geografis dari biodiversitas dan sebaran mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroalga yang teridentifikasi genus Chaetoceros dan Navicula memiliki kelimpahan tertinggi. Nilai index diversitas pada stasiun 1 adalah 3,312, sedangkan pada stasiun 2 adalah 3,184. Nilai tersebut menunjukkan bahwa mikroalga di perairan Sendang Biru memiliki keanekaragaman tinggi. Hasil parameter kualitas air suhu yaitu 27-29 0C, salinitas 32-35 ppt, dan pH 7,8-8,2. Kisaran nutrien nitrat adalah 0,0142 – 0,082 mg/l, fosfat 0,024 – 0,074 mg/l, dan silica berkisar 1.249 – 1.393 mg/l. Berdasarkan hasil analisis klorofil-a didapatkan kisaran nilai klorofil-a 1,773-1,777 mg/l. Seluruh parameter kualitas air masih tergolong dalam kategori baik untuk kehidupan mikroalga sehingga dapat disimpulkan biodiversitas mikroalga di lokasi penelitian relatif tinggi.Kata kunci:Wilayah PesisirKeanekaragamanMikroalga
Riparian Plant and Fish in Klampok Swamp, Senggreng Village, Malang District, East Java Arfiati, Diana; Zakiyah, Umi; Anitasari, Septi; Prabandani, Alfurena; Orchida, Kharisma; Inayah, Zakiyyah Nur; Pratiwi, Rizky Kusma
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.11

Abstract

Riparians vegetation can improve water quality, feeding grounds, spawning grounds, nursery grounds, and shelter grounds for fish. The aim of this research is to determine the types of riparian plants, types of fish and water quality in Klampok Swamp, Senggreng Village, Malang Regency, East Java. This research was conducted using the survey method to determine the types of riparian plants, types of fish, and water quality in Klampok Swamp, Senggreng Village, Malang Regency, East Java. The data is taken from 4 stations determined by the riparian cover. The station I with 100% riparian cover, station II (70%), station III (40%), and station IV (5%). The fish obtained from the research results in Klampok Swamp are betta fish (Osphronemidae), blue panchax (Aplocheilidae), snakehead (Channidae), marble goby (Eleotridae), guppy (Poeciliidae) or million fish, tilapia and the red devil (Cichlidae), goby fish and transparent goby fish (Gobiidae). Found 14 families of riparian, with the most species being Asteraceae (7 species of cosmos). The families in all stations are Poaceae or grains and Amaranthaceae (spinach). Water quality indicates waters that are good for fish and other organisms.