Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Euthanasia Dalam Epos Wiracarita Ramayana Sebagai Jalan Pembebasan Arta, I Gede Arya Juni; Handoko, Handoko; Pernando, Pernando
Dharma Duta Vol 19 No 01 (2021): Dharma Duta : Jurnal Penerangan agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/dd.v19i01.697

Abstract

Euthanasia means a gentle, comfortable and good death process, especially for patients who are full of suffering and do not have the potential to recover. Euthanasia has become a world discourse, where various groups in various scientific fields have discussed this problem, but until now it has not been completely and objectively resolved. The issue of euthanasia has always been an actual problem, and immediately caused various kinds of debate. This research is a library research, and is focused on qualitative research. Based on the results of research that has been carried out, it can be seen that euthanasia has occurred long before modern medical science developed, and is explicitly explained in Hindu literature, namely in the Rāmāyaṇa epic chapter or part of the 4th book called Kiskinda Kanda. Where the act of euthanasia carried out on Vālī, the king of the Kiskinda kingdom, was passive euthanasia or usually more accepted as "letting person to die”. The implementation of euthanasia is carried out consciously at the request and willingness of the patient to end his life. In Hinduism, every action one does consciously without attachment is the path to liberation.
Pengembangan Fasilitas Dalam Menarik Minat Wisatawan Ke Objek Wisata Kahui Di Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya Sulastri, Wayan; Handoko, Handoko; Griya Danika, I Wayan Sindia
Dharma Duta Vol 21 No 2 (2023): Dharma Duta : Jurnal Penerangan Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/dd.v21i2.1070

Abstract

Pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian upaya untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya pariwisata mengintegrasikan segala bentuk aspek diluar pariwisata yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung. penelitian ini terdapat dua perumusan masalah dalam skripsi ini adalah, (1) Bagaimana pengembangan fasilitas dalam menarik minat wisatawan ke objek wisata kahui di kecamatan bukit batu kota palangka raya, (2) bagaimana kendala pengembangan fasilitas dalam menarik minat wisatawan ke objek wisata kahui di kecamatan bukit batu kota palangka raya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Teori-teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah, (1) Teori pengembangan pariwisata (2) Teori kendala. Subjek penelitian ini adalah mulai dari: pemilik objek wisata kahui, penjaga objek wisata kahui, lurah kelurahan sei gohong, masyarakat lokal yang ada di sekitar objek wisata kahui, dan wisatawan yang berkunjung ke objek wisata kahui. Hasil penelitian ini adalah, (1) untuk mengetahui pengembangan fasilitas objek wisata kahui, (2) untuk mengetahui kendala dalam pengembangan fasilitas objek wisata kahui. Hasil penelitian menjelaskan pengembangan fasilitas dalam menarik minat wisatawan ke objek wisata kahui meliputi pengembangan atraksi wisata, fasilitas wisata, infrastruktur wisata, transportasi wisata dan hospitality (keramah-tamahan). Kendala yang di alami dalam pengembangan wisata kahui yaitu kurang flaying fox, dermaga tepi sungai, penampilan tarian daerah dayak Kalimantan tengah, tracking malam, paket wisata penelitian tumbuhan dan binatang, warung, penginapan, toilet, jalan, bus pariwisata dan kemanan serta pelayanan yang masih akan dikembangkan untuk meningkatkan daya tarik wisatawan.
Nilai Sosial dalam upacara perkawinan Umat Hindu Kaharingan di Desa Jaman Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara Propinsi Kalimantan Tengah Handoko, Handoko
Widya Katambung Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i1.995

Abstract

Kalimantan tengaah terdiri dari berapa adat tradisi budaya yang turun temurun dilaksanakan pada masyarakat. Pelaksanaan upacara-upacara ritual Keagamaan merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada di Kalimantan Tengah sangat perlu di pertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, ia lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali Tuhan Yang Maha Esa, selalu dilaksanakan dengan dengan upacara Ritual Keagamaan.Salah satu upacara Ritual Keagamaan yang selalu dilaksanakan dan perlu dipertahankan adalah Upacara Ritual Keagamaan Perkawinan Masyarakat Kalimatan Tengah (Dayak) yang mendiami Daerah Kabupaten Barito Utara merupakan penduduk asli yang telah turun tumurun mendiami wilayah tersebut. Selama berabad-abad mereka hidup dengan budaya dan tradisi serta keyakinan yang mereka laksanakan secara turun-temurun. Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, mereka selalu
SIKAP MODERASI BERAGAMA DALAM MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL Arsana, I Nyoman Alit; Purnawati, Ni Wayan; Handoko, Handoko; Evriani, Yulis
Widya Katambung Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v14i2.1124

Abstract

Internet kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Selama ini Internet hanya digunakan untuk bertukar informasi melalui email dan chatting, serta untuk mencari informasi menggunakan mesin pencari Google. Salah satu bentuk perkembangan teknologi dan informasi saat ini dapat dirasakan dengan hadirnya berbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, WhatsApp, dan Telegram. Kehadiran media sosial saat ini memberikan dampak dan manfaat tidak langsung bagi masyarakat baik dari sudut pandang positif maupun negatif. Dampak negatif media sosial antara lain penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian. Tujuan penyebaran berita palsu bermacam-macam, namun umumnya berita palsu disebarkan di media sosial sebagai lelucon atau sekedar iseng untuk meremehkan pesaing (black campaign). Mulai dari periklanan melalui penipuan, provokasi, propaganda, atau pembentukan opini publik, hingga upaya yang ditargetkan untuk menutupi kesalahan tertentu. Dengan bersikap waspada, mengaitkannya dengan kehidupan sosial diantara kita, serta mengkategorikan dan memilih konten media sosial yang dapat diterima dan konten media sosial yang sebaiknya ditolak, kita akan dapat memfilter konten media sosial. Dan dengan penguatan kepemimpinan keagamaan melalui Kementerian Agama, kita dapat memperkuat moderasi beragama.
Belom Bahadat Sebagai Strategi Kultural Berbasis Pendidikan Multikultural Dalam Mitigasi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Pada Masyarakat Dayak Ngaju Handoko Handoko; I Wayan Suasta; I Wayan Salendra; I Gusti Agung Dharmawan
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 10 No 2 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v10i2.5267

Abstract

Violence against women and children is still a social problem that requires a mitigation strategies. The solution was lies in local wisdom, such as that of Belom Bahadat in the Dayak Ngaju community, which has not been widely studied. This research aims to analyze the practice of Belom Bahadat values, the role of customary institutions as mechanisms of social control and community-based protection, and their integration with multicultural education. A qualitative, descriptive-interpretive approach was chosen for the research. Research data were obtained from two sources: primary data from semi-structured interviews and participatory observation, and secondary data from customary documents, local archives etc. To ensure the validity of the research data, triangulation of sources and methods, member checks, and the preparation of trial audits. The research data were then analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that Belom Bahadat functions as a moral regulatory framework that affirms human dignity, gender respect, and communal responsibility; the preventive mechanism is seen in the internalization of values through communal life (Huma Betang) and socialization by customary institutions, while the restorative mechanism is manifested through customary deliberation and the imposition of symbolic and material sanctions. The integration of Belom Bahadat’s values with a multicultural education approach also shows that local value systems can be operationalized in educational practices within families, schools, and communities. This research provides implications for adopting a violence-mitigation model based on local wisdom that can be adapted and replicated in similar contexts.
UPACARA MENYANGGAR DAYAK MARATUS DESA ATIRAN KECAMATAN BATANG ALAI TIMUR KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN Handoko Handoko
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 3 No 2 (2019): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Kalimatan selatan (Dayak maratus ) mempunyai tradisi dan budaya yang sangat kental yang mempercayai alam semesta ini ciptaan yang maha kuasa. Ajaran Tri Hita Karana yaitu melakukan hubungan manusia dengan Tuhan , manusia dengan alam Semesta danhHubungan manusia dengan Leluhur. Upacara ritual Menyanggar ini makin langka dilaksanakan, karena pemahaman umat Hindu Kaharingan terhadap Upacara ritual tersebut sangat kurang. Keadaan demikian perlu mendapat perhatian khusus oleh lembaga agama Hindu/Hindu Kaharingan, karena Upacara Menyanggar mengandung nilai yang sangat tinggi dan sangat bermanfaat dalam kehidupan masyarakat pada umumnya dan umat Hindu/Hindu Kaharingan pada khususnya. Peneliti ingin mengetahui bagamana upacara menyanggar yang berada di desa Atiran Kecamatan Batang alai Timur.kabupaten Hulu sungai Tengah Kalimantan Selatan . Menegenai pelaksanaan Upacara Menyanggar ini dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu:1.Tahap awal atau tahap persiapan upacara Menyanggar 2. Tahap Puncak upacara Pelaksanaan 3. Tahap akhir upacara Menyanggar ‘Sebelum upacara manyanggar ini dimulai, lebih dahulu dilaksanakan penyembelihan hewan korban. Setelah segalanya siap, hewan korban sudah dipapah (dipanggang di atas api) dan pembuatan wadai-wadai sesajen sudah selesai semuanya, maka upacara pun siap dilaksanakan. Upacara Menyanggar merupakan bentuk atau wujud bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dan roh suci leluhur,dan alam semesta ini hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan upacara Tersebut dimohon menganugrahkan rakhmat dan karunia-Nya kepada umat manusia.