Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Production of N-acetylglucosamine from Semi Purified Chitinase of Mucor circinelloides that Immobilized by using Agar Lucia Crysanthy Soedirga; Hardoko Hardoko; Natasha Vania Widianto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.644 KB) | DOI: 10.22146/jfs.45886

Abstract

Hydrolysis of chitin into N-acetylglucosamine (NAG) can be done enzymatically by using chitinase enzyme that obtained from the fermentation with chitinolytic molds. Mucor circinelloides is one example of chitinolytic mold that can produce semi purified chitinase enzyme during the fermentation of chitin from black tiger shrimp (Penaeus monodon) shell. The semi purified chitinase enzyme that obtained in this research will be immobilized into the agar polymer to the extent of its stability during NAG production. This research was aimed to investigated the best concentration of agar (3,4,5, and 6%) and the best amount of added enzyme (0.2; 0.4; 0.6; 0.8; and 1 mL) toward the production of NAG. The result showed 0.6 ml of semi purified chitinase that immobilized into 3% of agar can produced NAG within the concentration 1111.667 ppm. Moreover, this enzyme considerably stable before and after immobilization within the value of 4.78 U/mL.
Pelatihan Pembuatan Pasta Bumbu Dapur Di Forum Kelompok Wanita Tani Sekar Arum Tangerang Selatan Tagor M. Siregar; Lucia Soedirga; Weny Sinaga; Yuniwati Halim
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 3 (2020): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Menyongsong
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.247 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v3i0.1074

Abstract

Forum kelompok wanita tani (KWT) Sekar Arum merupakan kelompok masyarakat di Tangerang Selatan yang kegiatan utamanya membudidayakan tanaman rempah-rempah dan tanaman hidroponik seperti sereh, jahe, kunyit, lengkuas, kencur dan bayam merah. Saat ini para anggota Forum KWT Sekar Arum Tangerang Selatan belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang teknologi pengolahan pangan. Sebagai respon atas kondisi ini, Program Studi Teknologi Pangan UPH memberikan solusi berupa pelaksanaan pelatihan pembuatan pasta bumbu dapur. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat mampu memberdayakan bahan pangan lokal menjadi produk pangan yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan bernilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini dilakukan melalui tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan dilakukan proses diskusi secara daring dengan pengurus Forum KWT Sekar Arum, proses uji coba di Laboratorium Pengolahan Pangan Program Studi Teknologi Pangan UPH dan persiapan akhir berupa pembuatan video pelatihan dan slide presentasi. Pelaksanaan pelatihan dilakukan secara webinar pada tanggal 18 Juni 2020 dan diikuti oleh 26 orang peserta. Sebagai dampak pelatihan, pembuatan pasta bumbu dapur dengan bahan pangan lokal menjadi salah satu alternatif kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh para anggota Forum KWTdi masa pandemi Covid 19. Pelatihan di Forum KWT Sekar Arum yang merupakan bentuk kerjasama antara Program Studi Teknologi Pangan UPH dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tangerang Selatan diharapkan dapat dilakukan secara berkala dan berkelanjutan dalam memberdayakan masyarakat.
PENYULUHAN TENTANG PEMANFAATAN PANGAN FUNGSIONAL PADA MASA PANDEMI COVID 19 DI FORUM KELOMPOK WANITA TANI SEKAR ARUM TANGERANG SELATAN Tagor M Siregar; Lucia Soedirga; Wenny Sinaga; Yuniwaty Halim
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.929 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1155

Abstract

Forum kelompok wanita tani (KWT) Sekar Arum merupakan kelompok masyarakat di Tangerang Selatan yang melakukan budidaya tanaman pangan. Pada masa pandemi Covid-19 masyarakat diharapkan memiliki asupan makanan sehat yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Pangan fungsional adalah pangan dengan kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Sebagian besar anggota Forum KWT Sekar Arum Tangerang Selatan masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai manfaat kesehatan bahan pangan yang telah dibudidayakan. Sebagai respon atas kondisi ini, Program Studi Teknologi Pangan UPH melaksanakan kegiatan penyuluhan pemanfaatan pangan fungsional yang bertujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan pangan lokal yang dibudidayakan sebagai sumber pangan fungsional. Pada tahap persiapan dilakukan proses diskusi dengan pengurus Forum KWT Sekar Arum dan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tangerang Selatan untuk memastikan kesesuaian materi dan teknis pelaksanaan penyuluhan. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan secara webinar menggunakan platform zoom meeting. Materi penyuluhan meliputi definisi, jenis komponen aktif dan manfaat fisiologis pangan fungsional. Penyuluhan diikuti oleh 87 peserta yang mewakili beberapa KWT di Tangerang Selatan. Evaluasi berdasarkan pengisian kuesioner menunjukkan 98,85% peserta menyatakan penyuluhan dapat diikuti dengan baik dan sangat bermanfaat serta menginginkan adanya penyuluhan atau pelatihan berkelanjutan dengan topik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi sumber daya yang ada.
Pelatihan Secara Daring Mengenai Pembuatan Produk Makanan Fermentasi Di Sekolah Dian Harapan (SDH) Adolf J.N. Parhusip; Yuniwaty Halim; W. Donald R. Pokatong; Titri S. Mastuti; Lucia C. Soedirga
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.22 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1421

Abstract

Siswa/i sekolah tingkat SMA merupakan siswa/i yang dipersiapkan untuk menempuh pendidikan tinggi lanjut, yaitu di tingkat Universitas. Kegiatan elektif di sekolah yang memperkenalkan program studi di tingkat Universitas akan membantu siswa/i untuk memahami dan mempertimbangkan program studi yang akan ditempuh pada saat mereka masuk ke dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, kegiatan elektif juga berguna untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan pengetahuan siswa/i. Di sisi lain, kegiatan ini merupakan wadah bagi dosen untuk melaksanakan salah satu Tridharma perguruan tinggi, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kegiatan PkM ini dilakukan bagi siswa/i tingkat SMA (kelas 10 sampai 12) secara daring di 11 Sekolah Dian Harapan (SDH) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kegiatan ini diawali dengan melakukan diskusi dan penyusunan modul oleh tim PkM dengan guru-guru pendamping di SDH yang akan membantu mengevaluasi aktivitas siswa/i nantinya. Tim PkM kemudian memberikan penjelasan dan pelatihan secara daring mengenai salah satu teknologi pengolahan produk pangan, yaitu fermentasi. Tim PkM juga memberikan penjelasan berupa video pembuatan produk fermentasi sederhana untuk mendorong siswa/i melakukan eksperimen di rumah masing-masing. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan baik disertai dengan respon positif dari siswa/i maupun guru pendamping yang turut serta dalam kegiatan PkM ini.
PENYULUHAN PENGOLAHAN TEH DI SMP MAWAR SARON, TANGERANG Nuri Arum Anugrahati; Lucia C. Soedirga; Natania Natania; Aileen Widyapranata
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 5 (2022): PERAN PERGURUAN TINGGI DAN DUNIA USAHA DALAM AKSELERASI PEMULIHAN DAMPAK PANDEMI
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v5i0.1500

Abstract

Konsumsi teh di Indonesia masih tergolong stagnan padahal Indonesia merupakan salah satu negara eksportir teh di dunia dan teh diketahui merupakan salah satu minuman fungsional yang mengandung antioksidan berupa polifenol. Salah satu penyebab stagnannya konsumsi teh di Indonesia adalah masih minimnya informasi yang diperoleh masyarakat tentang proses pengolahan teh, termasuk kurangnya promosi, pemasaran, dan distribusi produk teh. Proses pengolahan teh merupakan topik penyuluhan PkM Program Studi Teknologi Pangan UPH yang dilakukan di SMP Mawar Saron Tangerang pada tanggal 11 Juli 2022 sebagai upaya untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat umum. Kegiatan PkM diikuti oleh 40 orang siswa dan telah terlaksana dengan baik. Hasil kuesioner menunjukkan respon positif dari para siswa dan guru yaitu sebanyak 100% peserta menyatakan kegiatan PkM bermanfaat dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pengolahan teh.
PRODUKSI N-ASETILGLUKOSAMIN DARI KITIN KULIT UDANG DENGAN FERMENTASI MENGGUNAKAN Salmonella enterica STRAIN LT2 [PRODUCTION OF N-ACETYLGLUCOSAMINE FROM SHRIMP SHELLS’ CHITIN BY FERMENTATION USING Salmonella enterica STRAIN LT2] Yuniwaty Halim; Lucia Crysanthy Soedirga; Valentina Michelle
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 6, No 2 (2022): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i2.5920

Abstract

Chitin is found abundantly in shrimp shells and can be converted into N-acetylglucosamine, which has a wide range of uses in the biomedical and industrial fields. Chitin can be produced using chitinase produced by bacteria through the fermentation process. Salmonella enterica strain LT2 was one of the chitinolytic bacteria that was isolated from shrimp shells. This research aimed to determine the best pH (5, 6, 7, 8, and 9) and temperature (32oC, 37oC, and 42oC) of fermentation, as well as fermentation time (2, 3, 4, 5, and 6 days) for the production of N-acetylglucosamine using the S. enterica strain LT2. Results showed that the highest production of N-acetylglucosamine occurred at the temperature of 37oC, pH of 8, and 4 days of fermentation, which produced 69.62 ± 1.00 g/L of N-acetylglucosamine. Furthermore, the highest N-acetylglucosamine production for the fermentation time occurred on the third day which produced 73.19 ± 1.63 g/L of N-acetylglucosamine.Bahasa Indonesia Abstract:Kitin banyak ditemukan pada cangkang udang dan dapat dipecah menjadi N-asetilglukosamin, yang banyak digunakan dalam dunia biomedik maupun industri lainnya. Kitin dapat diproduksi menggunakan kitinase yang dihasilkan oleh bakteri melalui proses fermentasi. Salmonella enterica strain LT2 merupakan salah satu bakteri kitinolitik yang diisolasi dari cangkang udang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pH (5, 6, 7, 8, dan 9) dan suhu fermentasi (32oC, 37oC, dan 42oC) terbaik, serta lama fermentasi terbaik (2, 3, 4, 5, dan 6 hari) untuk produksi N-asetilglukosamin menggunakan S. enterica LT12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi N-asetilglukosamin diperoleh pada suhu fermentasi 37oC, pH 8, dan waktu fermentasi 4 hari, yang menghasilkan N-asetilglukosamin sebesar 69,62 ± 1,00 g/L. Selain itu, produksi N-asetilglukosamin tertinggi terjadi setelah fermentasi pada hari ketiga, yaitu sebesar 73,19 ± 1,63 g/L.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA NUGET NABATI BERBASIS KACANG ARAB DAN AKAR LOTUS DENGAN VARIASI JENIS FILLER [PHYSICOCHEMICAL CHARACTERISTICS OF CHICKPEA AND LOTUS ROOT PLANT-BASED NUGGETS WITH A VARIETY OF FILLER TYPES] Lucia Crysanthy Soedirga; Melanie Cornelia
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 6, No 2 (2022): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i2.5881

Abstract

Chicken nuggets are the most common type of meat-based product that is commonly sold in the market, however, chicken nuggets are not suitable for vegetarian groups. Therefore, it is necessary to find another raw material as an alternative in the making of plant-based nuggets. However, the selection of raw materials in the making of plant-based products often does not emphasize the diversification aspect. Food diversification needs to be improved as an effort to encourage people to diversify their food so that they do not focus on only one type. Chickpeas and lotus root, as well as local starch sources such as tapioca, sago, and corn-starch, are examples of alternative materials that can be used to enhance the diversification aspect in the making of plant-based nuggets. The aim of this study was to determine the selected ratio of chickpea paste and lotus slices along with other types of fillers to make plant-based nuggets based on the physicochemical characteristics. The results showed chickpea paste and sliced lotus root at a ratio of 75:25 with corn-starch as a filler produced plant-based nuggets with physicochemical characteristics: hardness 165.21±7.82 g.force; springiness 0.37±0.01 mm; cohesiveness 0.59±0.03 kg.sec., lightness of 52.71±2.11 and a frying loss of 8.21±2.15%. The moisture, fat, protein, ash, carbohydrate (by difference), and fiber content of selected formulation of nuggets were 40.20±0.42%, 6.73±0.04%; 7.38±0.15%, 3.44±0.02%, 42.16±0.54%, 8.49%; respectively.BAHASA INDONESIA ABSTRACT:Nuget ayam merupakan jenis olahan daging yang banyak dijual di pasaran namun tidak cocok untuk dikonsumsi oleh kelompok vegetarian. Hal ini mendorong adanya alternatif mencari bahan baku lain dalam pembuatan produk nuget nabati, tetapi, pemilihan alternatif bahan pada produk non-daging seringkali tidak memperhatikan aspek diversifikasi. Diversifikasi pangan perlu ditingkatkan sebagai upaya untuk mendorong masyarakat dalam memvariasikan makanan agar tidak terfokus pada satu jenis saja. Kacang arab dan akar lotus serta sumber pati lokal seperti tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung maizena merupakan contoh alternatif bahan yang dapat digunakan sekaligus meningkatkan aspek diversifikasi dari pembuatan nuget nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan rasio pasta kacang arab dan irisan lotus serta jenis filler terpilih dalam pembuatan nuget nabati berdasarkan karakteristik fisikokimianya. Hasil penelitian menunjukkan pasta kacang arab dan irisan akar lotus pada rasio 75:25 dengan tepung maizena sebagai filler menghasilkan nuget nabati dengan karakteristik fisikokimia, yakni hardness 165,21±7,82 g.force; springiness 0,37±0,01 mm; cohesiveness 0,59±0,03 kg.sec., lightness 52,71±2,11  dan frying loss 8,21±2,15%. Kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar abu, kadar karbohidrat (by difference), dan kadar serat pangan nuget nabati formulasi terpilih masing-masing sebesar 40,20±0,42%; 6,73±0,04%; 7,36±0,02%, 3,44±0,02%, 42,24±0,54%, 8,49%.
PEMANFAATAN PUREE NANAS DALAM PEMBUATAN SELAI LEMBARAN DENGAN PENAMBAHAN KONJAK DAN KARAGENAN PADA BERBAGAI RASIO DAN KONSENTRASI [UTILIZATION OF PINEAPPLE PUREE IN THE PRODUCTION OF SHEET JAM WITH THE ADDITION OF KONJAC AND CARRAGEENAN AT VARIOUS RATIO AND CONCENTRATIONS] Lucia Crysanthy Soedirga
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 7, No 1 (2023): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v7i1.6588

Abstract

Sheet jam is one of the processed products from pineapple puree. Sliced pineapple jam is a modified product of conventional jam products which generally has to be smeared before use, so it is considered impractical. Sheet jam has a denser texture, is not sticky and does not break when folded. Hence, the correct hydrocolloid ratio and concentration affect the characteristics of the sheet jam produced. This study aimed to determine ratios (1:0, 0:1, 2:1, 1:1, 1:2) and concentrations (1%; 1.25%; 1.5%; 1.75%) konjac with carrageenan on the physicochemical characteristics of sliced pineapple jam. The combination of konjac and carrageenan, at a ratio of 2:1 at a concentration of 1%, is the best ratio and concentration in producing pineapple jam. These sheet pineapple jams have hardness and cohesiveness values of 2337.44 ± 218.612 and 0.80 ± 0.04, respectively. This sheet of pineapple jam has a pH value of 3.73 ± 0.01, so it is included in high-acid food products and has total dissolved solids of 28.70 ± 0.01°Brix. Pineapple jam made with a combination of konjac-carrageenan at a concentration of 1% and a ratio of 2:1 has a yellow colour (80.85 ± 4.60) and a lightness of 46.09 ± 2.80.Bahasa Indonesia Abstract:Selai lembaran merupakan salah satu produk olahan dari puree nanas. Selai nanas lembaran merupakan produk modifikasi dari produk selai konvesional yang umumnya harus dioles ketika akan digunakan sehingga dianggap kurang praktis. Selai lembaran memiliki tekstur yang lebih padat, tidak lengket serta tidak mudah patah ketika dilipat sehingga rasio dan konsentrasi hidrokoloid yang tepat berpengaruh terhadap karakteristik selai lembaran yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan rasio (1:0, 0:1, 2:1, 1:1, 1:2) dan konsentrasi (1%; 1,25%; 1,5%; 1,75%) konjak dengan karagenan terhadap karakteristik fisikokimia selai nanas lembaran. Kombinasi konjak dengan karagenan pada rasio 2:1 yang dibuat pada konsentrasi 1% merupakan rasio dan konsentrasi terbaik dalam menghasilkan selai nanas lembaran. Selai nanas lembaran ini memiliki nilai hardness dan cohesiveness sebesar 2337,44±218,612 dan 0,80±0,04. pH selai nanas lembaran sebesar 3,73±0,01 sehingga termasuk ke dalam produk pangan tinggi asam dan memiliki warna kuning (80,85±4,60) serta lightness sebesar 46,09±2,80. Total padatan terlarut selai nanas lembaran lebih rendah (28,70±0,01°Brix) dibandingkan dengan SNI 3746-2008 (minimal 65°Brix).
Physicochemical Characteristics of Butterfly Pea Flower Petals Steep Obtained at Different Steeping Temperature and Time Lucia Soedirga; Intan C Matita; Jessica Sidharta
Reaktor Volume 23 No.1 April 2023
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.1.1.9-15

Abstract

Flower is an important part of the plant containing phytochemical compounds, especially the phenolic acids, flavonoids, and anthocyanin that can be used as natural antioxidants. Phytochemical compounds are usually drawn by steeping the flower petals in hot water. Indeed, different temperatures and steeping times would affect the yield of phytochemicals obtained. The butterfly pea flower is one of edible flowers that brings antioxidant activity due to the presence of phytochemical compounds, namely flavonoids and phenolic acids. Nevertheless, there have been limited studies dedicated to the search of steeping condition of butterfly pea flower petals in water. Thus, this study aimed to determine the time and temperature of steeping to produce the butterfly pea step with preferred physicochemical characteristics. The result indicates that butterfly pea flower petals which undergo steeping at 60°C for 45 minutes produce antioxidant activity with an IC50 value of 251.89 ± 32.02 ppm. Furthermore, the butterfly pea flower steep produced had blue to purple color with °Hue of 277.06 ±2.55, 1.23 ± 0.07 mg/L of total monomeric anthocyanin content, 6.83 ± 0.02 of pH and 138.42 ± 15.88 mg GAE / g sample of total phenolic content. Keywords: antioxidant; butterfly pea flower; steep; temperature; time
Utilization of Cassava-Jicama Composite Flour in Making Gluten-Free Biscuits with Different Types of Fats Richirose Richirose; Lucia Crysanthy Soedirga
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 38, No 2 (2023): October
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/carakatani.v38i2.71993

Abstract

Biscuits are a commonly consumed bakery product typically using wheat flour as a primary ingredient, rendering them unsuitable for gluten-intolerant consumers. Using cassava as a gluten-free alternative for composite flour in bakery products has been proven effective. Furthermore, jicama, which has high total dietary fiber contents, including inulin, can enhance total dietary fiber content. However, high-fiber ingredients can often produce a tough texture. To address this, fats such as butter and margarine are typically used to enhance the texture of baked products, although the use of shortening still needs to be explored. Both margarine and shortening are vegetable-based, making them more widely consumable. The production of jicama flour and gluten-free biscuits was the focus of this study. This study uses a completely randomized design with two factors: the ratio of composite flour (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40) and the type of fat (margarine and shortening). Analyses were performed on the gluten-free biscuits to determine the total dietary fiber, inulin, fat, moisture, spread ratio, color and hardness. Results indicated that biscuits made with shortening with a flour ratio of 90:10 of cassava to jicama flour are the best formulation, yielding 2.54±0.00% inulin, 6.50±0.10% total dietary fiber, 19.88±0.17% fat, 2.20±0.10% moisture content, 10.03±0.20 spread ratio, lightness (L*) value of 52.53±0.37, °Hue value of 66.78±0.51, and 869.88±16.07 g hardness. This study shows that jicama flour can be an alternative to producing composite flour for gluten-free products. Shortening, which is not commonly used in biscuit making, may be considered an alternative fat source.